Joko Tenang didedikasikan oleh ayahnya sebagai pendekar pembela kebenaran di dunia persilatan. Menjadi murid tokoh sakti aliran putih Ki Ageng Kunsa Pari membuatnya memiliki kesaktian pilih tanding.
Namun, penyakit keturunan dari kakeknya menjadi kelemahan terbesarnya sebagai seorang pendekar. Ia akan mengalami kelemahan hingga pingsan jika didekati oleh wanita kurang dari tiga langkah, terlebih jika sampai bersentuhan kulit.
Joko Tenang yang masih remaja turut ambil bagian dalam misi penumpasan gerombolan perampok yang suka menyerang desa, merampok harta, dan menculik gadis-gadis perawan desa. Namun, kelompok perampok itu sangat sulit ditemukan dan ditumpas.
Mampukah Joko Tenang menjalani misi pertamanya dalam dunia persilatan? Temukan jawabannya di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Tragedi Patah Hati di Jembatan Gantung
Di salah satu sudut lain di daerah liar itu, ketegangan terjadi.
Bermula ketika Kusuma Dewi yang berlari patah hati menemukan satu jalan di bibir jurang. Ada seuntai jembatan gantung terbuat dari tali dan papan. Jembatan itu cukup panjang. Kencangnya angin membuat jembatan itu bergoyang-goyang mengikuti hembusan angin jurang.
Kusuma Dewi tidak sedikit pun takut dengan medan seperti itu. Ia tetap berlari menaiki jembatan menapaki papan-papannya yang sudah terlihat tua dan lapuk.
“Dewi! Jangan terus lari! Kau mau ke mana?” teriak Limarsih yang berlari mengejar di belakang bersama Curaina.
Meski mendengar teriakan kakaknya, tapi Kusuma Dewi tidak mendengarkannya. Ia terus berlari sambil berpegangan dengan tali. Sesekali ia berhenti, karena jembatan bergoyang kuat oleh angin.
Melihat kondisi jembatan yang tidak meyakinkan, terlebih sudah ada beberapa papannya yang patah sejak lama, Limarsih sempat berhenti di ujung jembatan.
“Dewi, berbahaya!” teriak Curaina sambil melalui Limarsih dan turut masuk ke atas jembatan.
Melihat Curaina terus mengejar, Limarsih akhirnya turut menyusul Kusuma Dewi yang sudah sampai di tengah jembatan.
Sementara di bawah sana, jurang batu menganga lebar berhias tumbuhan liar. Namun, tidak jelas dasar jurangnya seperti apa, sebab kabut tebal menutupi dasar jurang.
“Dewi! Limarsih! Cucur! Jangan terus ke sana!” teriak Parsuto yang baru muncul dari balik tikungan tebing.
Krakr!
“Aaa...!”
“Dewiii!” teriak Limarsih, Curaina dan Parsuto bersamaan, ketika tubuh Kusuma Dewi di depan sana terperosok setelah papan kayu yang dipijaknya patah.
Posisi tubuh Kusuma Dewi bergantung. Separuh batang tangan kanannya mengait papan jembatan yang masih utuh.
Jatuhnya Kusuma Dewi membuat Curaina dan Limarsih terkejut dan tanpa pikir panjang lagi, keduanya mempercepat langkahnya, buru-buru hendak mencapai Kusuma Dewi sebelum tubuhnya jatuh ke bawah.
Krakr!
“Aak!” pekik Curaina terkejut seiring tubuhnya terperosok turun, sebab papan yang dipijaknya juga patah, berjarak tiga bilah papan dari posisi Kusuma Dewi. Namun, tangan Curaina tidak bershasil memegang apa pun. Tubuhnya meluncur terus jatuh ke bawah.
“Curaina....!” jerit panjang Limarsih dan Kusuma Dewi bersamaan.
“Cucuuur!” teriak Parsuto pula. Pemuda itu seketika berhenti di mulut jembatan dengan perasaan syok. Wajahnya seketika berair mata.
“Curainaaa! Curainaaa! Haaa...!” Kusuma Dewi menjerit-jerit histeris dan menangis meraung. Perasaannya sangat terpukul, sebab ia merasa, jatuhnya Curaina adalah karena salahnya. “Curaina...!”
Limarsih juga menangis seraya memandang ke bawah sana, seolah mencoba menembus lapisan kabut yang telah mengubur jasad Curaina yang cantik.
Tingkir telah muncul. Ia tidak sempat melihat peristiwa jatuhnya Curaina. Ia hanya mendengar jeritan-jeritan sahabatnya yang membuatnya berlari panik.
“Ada apa, Par?” tanya Tingkir dari belakang Parsuto.
“Cucur! Cucur jatuh!” jawab Parsuto dengan suara bergetar.
“Curaina? Curaina jatuh ke jurang?” tanya Tingkir terkejut, tapi kurang yakin dengan maksud Parsuto.
Tingkir cepat mencari Curaina. Namun, gadis anak Ki Lurah itu memang sudah tidak terlihat. Tingkir seketika tersadar panik, setelah melihat Kusuma Dewi masih bergantungan di bawah jembatan sambil menangis.
“Limarsih! Jangan diam, Kusuma bisa jatuh!” teriak Tingkir panik.
Limarsih pun seolah tersadar dari ketakutannya akibat jatuhnya Curaina.
“Kakak, talinya mau lepas!” teriak Kusuma Dewi tambah panik. Ia melihat, salah satu tali pengikat ujung papan bergeser hendak lepas.
“Diam! Jangan bergerak, Dewi!” teriak Tingkir mengingatkan.
Ia segera bergerak cepat ke tengah jembatan. Parsuto segera menyusul Tingkir. Sementara Limarsih, ia bergerak pelan dan sangat hati-hati melangkah satu dan dua. Ketakutannya kian meninggi saat ia hendak melangkahi celah lebar tempat Curaina jatuh. Sementara angin terus menggoyangkan jembatan, membuat proses lepasnya ikatan tali di papan yang direngkuh Kusuma Dewi semakin cepat.
“Buruan, Kak! Talinya mau lepas!” pekik Kusuma Dewi semakin panik.
“Bertahanlah, jangan panik. Aku akan meraihmu!” kata Limarsih mencoba menenangkan adiknya, padahal dirinya sendiri pun diliputi ketakutan.
Wuss!
“Aaa...!”
Tiba-tiba satu suara angin terdengar menderu mengerikan. Dalam sekejap, satu hembusan angin besar menghempas jembatan atas jurang itu. Jembatan itu pun bergoyang keras, tidak seperti sebelum-sebelumnya.
Tubuh Kusuma Dewi yang bergoyang keras oleh angin membuat tangannya yang mengait, menarik papan lebih kuat. Ujung papan dan tali pun terlepas. Melihat tali dan papan lepas, Limarsih refleks menyungkurkan tubuhnya di atas jembatan untuk lebih dulu menangkap tangan kanan adiknya. Tangan itu berhasil tertangkap oleh Limarsih, tapi tubuhnya justru turut tertarik ke bawah dan meluncur bebas menuju dinding kabut.
Goyangan jembatan yang tiba-tiba begitu kuat, membuat Tingkir dan Parsuto yang berlari hilang keseimbangan. Tubuh keduanya jadi terlempar ke samping. Pegangan tali jembatan yang hanya setinggi pinggang, tidak mampu menahan tubuh Parsuto yang terlempar. Parsuto terlempar keluar jembatan dan jatuh pula ke jurang.
Sementara Tingkir, tangannya masih sempat meraih tali pegangan jembatan, membuatnya bergelantungan di sisi luar jembatan.
“Parsutooo!” teriak Tingkir. “Apa itu?”
Teriakan Tingkir mendadak berhenti ketika ia menyaksikan sesuatu yang aneh di bawah sana. Samar-samar Tingkir melihat kelebatan kain putih lebar di dalam lapisan kabut. Namun, ia bisa dengan jelas melihat bahwa tubuh Parsuto ditimang oleh kain lebar itu dan hilang bersama ke dalam kabut.
Joko Tingkir jadi diam berpikir dalam ketergantungannya.
“Tingkir!” seru Joko Tenang yang datang berlari bersama Gujara.
Joko tampak sudah sehat kembali.
“Apa yang terjadi, Tingkir?” tanya Gujara.
Angin kencang yang sudah hilang dan jembatan yang sudah berayun normal, membuat Tingkir bisa leluasa naik kembali ke atas jembatan. Ia berjalan dengan perasaan lemah dan wajah sedih.
“Apa yang terjadi? Mana mereka?” tanya Gujara.
“Tadi aku mendengar suara jeritan dari balik tebing,” kata Joko.
Dengan penuh kesedihan, Tingkir pun menceritakan apa yang terjadi. Gujara begitu terkejut. Joko Tenang merasa terguncang hatinya. Ia duduk dengan lemas, bukan karena penyakitnya, tapi karena begitu sedih kehilangan sahabat-sahabat yang dicintainya.
“Hanya satu harapan kita,” kata Gujara lemah.
“Apa itu, Paman?” tanya Joko dan Tingkir bersamaan, seolah ada pintu harapan baru.
“Tidak menutup kemungkinan, di tempat tersembunyi seperti ini tinggal seorang sakti. Mudah-mudahan saja, kain putih yang kau lihat menangkap tubuh Parsuto adalah milik orang sakti yang menyelamatkannya dari kematian,” kata Gujara.
“Benarkah, Paman?” tanya Joko penuh harap.
“Tapi, dugaan itu mungkin juga salah,” kata Gujara lagi, membuat Joko dan Tingkir kembali merasa putus harapan.
Set! Trek!
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba satu kelebatan hijau yang sangat samar melesat menyerang Gujara. Sigap Gujara memiringkan tubuhnya. Tahu-tahu sehelai daun hijau selebar tangan telah menancap di batu tebing di belakang Gujara. Sementara dada baju Gujara robek rapi teriris oleh lesatan daun itu.
Sehelai daun bisa menancap kokoh di batu tebing adalah hal yang tidak biasa.
“Wah, hebat sekali!” ucap Tingkir terpukau.
“Jelas, di sini ada orang sakti,” ucap Gujara sambil pandangannya beredar mencari orang yang melesatkan daun itu. Namun, ia tidak menemukan siapa pun atau melihat ada gerakan mencurigakan.
“Paman, ada tulisan di dalam daun,” kata Joko yang memperhatikan daun yang menancap di batu tebing.
Gujara dan Tingkir segera mendekati daun itu. Setelah dilihat, ternyata ada sekalimat tulisan.
Gadis-gadis ini selamat. Pergilah.
“Siapa orang itu?” ucap Gujara bertanya yang tidak bisa dijawab oleh Joko dan Tingkir.
“Hoi, orang sakti! Tunjukkan dirimu!” teriak Joko tiba-tiba dengan menghadap ke arah jurang.
Setelah berteriak, Joko diam. Gujara dan Tingkir pun diam. Mereka menunggu jawaban atau reaksi dari orang yang telah melesatkan daun itu. Namun, tidak ada sahutan dari siapa pun.
“Orang sakti! Siapa kau?!” teriak Tingkir kemudian.
Namun, tetap tidak ada jawaban dari siapa pun.
“Sudahlah, kita percayakan saja nasib mereka kepada orang sakti itu. Setidaknya kita tahu bahwa mereka tidak mati,” ujar Gujara.
“Iya, Paman,” kata Joko.
“Aku patah hati, Paman,” ucap Tingkir sedih. “Limarsih.”
“Masih banyak gadis desa yang harus kita pulangkan. Kau bisa pilih mereka satu,” kata Gujara.
Ketiga lelaki itu pun melangkah pergi meninggalkan bibir jurang itu. Mereka harus menuntaskan tugas, yaitu mengembalikan para gadis desa yang berhasil mereka selamatkan dari gerombolan Perampok Raja Gagah. (RH)