NovelToon NovelToon
Duke, Tolong Minggir

Duke, Tolong Minggir

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Menjadi NPC / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Masuk ke dalam dunia novel seharusnya menjadi impian setiap pembaca. Kecuali jika novel itu adalah "Tears of the Caged Bird"—sebuah kisah dark romance di mana pemeran utamanya adalah Duke sosiopat yang hobi meneror gadis yatim piatu.

Sialnya, itulah nasib Vivienne.

Terbangun sebagai sepupu miskin dari tunangan sang Duke, Vivienne seharusnya hanya menjadi figuran yang diam dan mati muda. Tapi, melihat Freya Lark (si female lead) terus-terusan menangis dan Damian von Hart (si male lead) terus-terusan bertingkah seperti penguntit elit, kesabaran Vivienne habis.

Persetan dengan alur asli!

Jika penulis aslinya ingin drama, Vivienne akan memberinya komedi.
Jika Duke ingin bermain dark romance, Vivienne akan menyiramnya dengan air pel.

"Maaf, Duke. Anda menghalangi jalan saya menuju kebebasan finansial. Tolong minggir, atau saya tagih biaya parkir."

Selamat datang di Hartfield, di mana romansa sudah mati, dan digantikan oleh chaos yang sangat menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sabotase Lantai Dansa

Dansa pertama berakhir dengan tepuk tangan yang sopan namun singkat. Sangat singkat. Seolah-olah para tamu takut kalau tepuk tangan terlalu lama, virus di tubuh Damian akan terbang ke arah mereka.

Damian melepaskan tangan Bianca. Wajahnya terlihat semakin frustrasi. Dia tidak bodoh; dia tahu ada yang salah. Dia tahu orang-orang menghindarinya. Tapi karena tidak ada yang berani bicara langsung, dia terjebak dalam kebingungan yang menyiksa.

Dan tentu saja, dalam kebingungannya, kompas moralnya mengarah ke satu-satunya tempat yang "aman" baginya: Freya.

Dari sudut mataku, aku melihat Damian membetulkan kerah seragamnya, menarik napas dalam, lalu mulai berjalan lurus membelah kerumunan.

Tujuannya jelas. Kami.

"Arah jam 12," bisikku pada Freya. "Siapkan mental. Dia datang."

Freya mengencangkan pegangannya pada gelas jus. "Siap, Nona."

Ini adalah momen "kanon" di novel aslinya. Damian akan menghampiri Freya di tengah pesta, mengajaknya berdansa di depan semua orang, menyebabkan skandal besar, dan membuat Bianca cemburu setengah mati.

Tapi malam ini? Skenarionya sudah kurevisi.

"Bianca, posisimu," perintahku.

Bianca mengangguk. Dia meluncur pergi ke arah sekelompok ibu-ibu pejabat tinggi. Para Istri Menteri dan Duchess senior yang sedang berkerumun di dekat pilar.

Sementara itu, aku memberi kode tangan rahasia kepada pelayan sewaan yang berdiri di dekat jalur yang akan dilewati Damian.

Damian melangkah dengan percaya diri. Dia mengabaikan tatapan orang-orang. Matanya terkunci pada Freya.

Tiga... Dua... Satu.

Saat Damian melewati sekelompok pemusik biola, tiba-tiba salah satu pemain biola yang sudah kusogok dengan dua botol anggur mahal, terbatuk keras.

"UHUK! UHUK! HOEEEK!"

Batuknya sangat dahsyat, basah, dan terdengar menjijikkan.

Damian berhenti mendadak, kaget.

Para tamu di sekitar pemain biola itu langsung mundur serempak.

"Ya ampun! Apakah itu menular?" teriak seseorang yang juga sudah kubayar.

"Hati-hati! Spora!" teriak yang lain.

Suasana menjadi chaos. Orang-orang mulai panik kecil, menutupi hidung dan mulut mereka dengan sapu tangan. Damian, yang berdiri tepat di tengah keributan itu, terlihat seperti sumber wabah.

"Apa yang terjadi di sini?" tanya Damian tajam, berusaha mengembalikan ketertiban.

Tapi suaranya tenggelam oleh suara Bianca.

Dari arah kerumunan Ibu-Ibu Pejabat, suara Bianca terdengar lantang dan jelas, menembus kebisingan pesta.

"Ah, iya, Nyonya Menteri," kata Bianca dengan nada prihatin yang dibuat-buat. "Saya sedang berinvestasi pada pabrik obat salep baru. Sulfur murni dari pegunungan berapi. Sangat ampuh untuk gatal-gatal, kudis, dan... penyakit kulit menahun yang susah sembuh karena lembab."

Bianca sengaja memberi jeda dramatis saat Damian lewat di dekat mereka.

Para Nyonya Pejabat itu langsung menoleh ke arah Damian, lalu menoleh ke Bianca, lalu mengangguk-angguk paham dengan wajah ngeri.

"Oh, malangnya..." bisik Duchess senior sambil menatap punggung Damian. "Pantas saja dia belum menikah. Penyakit seperti itu pasti sulit bagi istri mana pun."

"Saya dengar itu keturunan," tambah Bianca, berbohong dengan lancar. "Sangat sedih. Tapi saya akan tetap mendukungnya. Sebagai tunangan, saya harus menerima segala... kekurangannya. Termasuk bau belerangnya."

BOOM.

Harga saham reputasi Damian jatuh ke titik minus.

Damian, yang tidak mendengar detail percakapan itu tapi merasakan tatapan menusuk di punggungnya, mempercepat langkahnya. Dia ingin segera sampai ke Freya. Dia butuh melarikan diri dari kegilaan ini.

Tapi aku belum selesai.

Saat Damian tinggal lima langkah lagi dari kami, aku "tidak sengaja" menyenggol seorang pelayan yang membawa nampan penuh gelas punch buah yang lengket.

"Ups!"

PRANG!

Nampan itu jatuh tepat di jalur Damian. Cairan merah lengket tumpah membanjiri lantai marmer putih itu, menciptakan danau punch yang luas.

Damian berhenti mendadak. Ujung sepatu bot militernya yang mengkilap terciprat cairan merah.

"Maaf, Yang Mulia!" Pelayan itu bersujud ketakutan.

Damian menatap genangan lengket itu, lalu menatapku. Matanya menyipit. Dia tahu. Dia sadar ini ulahku.

Aku hanya tersenyum polos dan mengangkat bahu. 'Jalanan macet, Mas Duke. Puter balik gih.'

Tapi Damian keras kepala. Bukannya mundur atau memanggil pelayan untuk membersihkan, dia malah melangkahi genangan itu dengan kaki panjangnya. Dia tidak peduli sepatunya lengket. Dia terus maju sampai berdiri tepat di hadapan Freya.

Musik berhenti. Semua orang menahan napas. Lagi.

"Freya," kata Damian. Suaranya rendah, serak, dan sedikit putus asa. Dia mengulurkan tangannya yang bersarung tangan putih. "Berdansalah denganku."

Ini dia. Momen penentuan.

Di novel, Freya akan gemetar, takut menolak, lalu menerima tangannya dengan pasrah.

Tapi Freya yang sekarang?

Freya menatap tangan Damian. Lalu dia menatap wajah Damian. Lalu dia melakukan sesuatu yang membuatku ingin memberinya piala Oscar.

Dia mundur selangkah.

Dia mengeluarkan sapu tangan renda dari saku gaunnya, lalu menutupi hidung dan mulutnya dengan gerakan cepat.

"Maaf, Duke," kata Freya, suaranya teredam di balik sapu tangan tapi cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitar. "Saya... saya sedang tidak enak badan. Tenggorokan saya gatal."

Damian terpaku. Tangannya masih menggantung di udara. "Apa?"

"Saya takut menularkan flu saya pada Anda," lanjut Freya, matanya memancarkan keprihatinan palsu yang brilian. "Apalagi saya dengar... kondisi imun Anda sedang tidak baik karena... alergi itu. Saya tidak ingin memperparah keadaan kulit Anda."

Skakmat.

Mata Damian membelalak. Mulutnya terbuka sedikit, tapi tidak ada kata yang keluar. Dia ditolak. Di depan umum. Dengan alasan kesehatan yang mempermalukannya dua kali lipat.

Bisik-bisik di ruangan itu meledak.

"Ya ampun, gadis itu menolaknya karena takut ketularan!" 

"Bahkan anak yatim piatu pun tidak mau dekat-dekat!"

"Berarti penyakitnya benar-benar parah!"

Damian menurunkan tangannya perlahan. Wajahnya yang biasanya pucat dingin kini memerah padam karena malu dan marah. Dia melihat sekeliling. Ratusan pasang mata menatapnya dengan jijik. Dia melihat Bianca yang sedang 'menjelaskan' sesuatu pada Duchess senior dengan wajah sedih. Dia melihat aku yang sedang menahan tawa di balik gelas.

Dan dia melihat Freya, yang masih menutup hidungnya dengan sapu tangan, menatapnya seolah dia adalah limbah beracun.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Duke Damian von Hart yang agung, penguasa Hartfield, sang predator puncak... merasa kotor.

Dia tidak tahan lagi.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Damian berbalik. Dia berjalan cepat, hampir seperti berlari, meninggalkan ballroom. Sepatunya yang lengket berbunyi crak-crak-crak di lantai marmer, meninggalkan jejak merah yang memalukan di belakangnya.

Pintu ganda tertutup di belakangnya.

Hening sejenak.

Lalu, musik orkestra kembali bermain seolah tidak terjadi apa-apa. Orang-orang kembali berdansa, tapi topik pembicaraan malam itu sudah terkunci: Penyakit Kulit Sang Duke.

Aku merangkul bahu Freya. "Gokil. Lo barusan nge-gaslighting—eh, maksudnya, mempermainkan mental Duke di depan satu negara. Gimana rasanya?"

Freya menurunkan sapu tangannya. Bibirnya gemetar, tapi kemudian dia tersenyum lebar.

"Rasanya..." Freya menarik napas panjang. "Lega. Sangat lega."

Bianca bergabung dengan kami, wajahnya berseri-seri seperti baru menang lotre, yang memang secara teknis benar adanya.

"Kalian lihat wajah Duchess senior tadi?" bisik Bianca antusias. "Dia baru saja memesan 50 pot salep sulfur dariku! Dia bilang mau menyumbangkannya ke panti asuhan, tapi aku yakin itu buat suaminya sendiri."

Kami bertiga tertawa di tengah pesta dansa yang megah itu.

Malam ini, kami tidak hanya merusak pesta. Kami merusak mitos. Damian bukan lagi pangeran impian. Dia sekarang hanyalah pasien dermatologi yang kesepian.

1
dunia isekai
lucuuu
dunia isekai
halo kak! ceritanya lucu banget! Mau saling mampir like dan komen di cerita masing masing? Mampir di ceritaku The Legend Of Roseanne ya!
takeru lukcy
lanjut thorrrrrr kl gak lanjut aku samper nihh kerumah🤭🤭bagusss 👍
takeru lukcy
baguss cokk bacaa ajaa dehh dijamin gak bakal nyesel
takeru lukcy
thorrr lanjutin gak bagus lohhh😍😍gak bosen aku bacanyaaa
Leel K: aaaa makasih bangetttt 😆😍
total 1 replies
takeru lukcy
lanjut thor
takeru lukcy
anjayy otw bacaa sampe habis nihh😍
takeru lukcy
thorrr bagusss lanjutinn ahh 😍😍😍
Puch🍒❄
astaga akhirnya aku mendapatkan novel yg kusukaaaaaaaaaaaaa yg konyol2 gini nih yg kusuka tp sisi romantisnya jg harus ada pokoknya seru deh bikin gk bosen😌
takeru lukcy: pliss ini novel ke4 yang gue suka suka bangett😍😍
total 1 replies
Puch🍒❄
anjg lucu lg bangke😂🤣😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!