NovelToon NovelToon
Katakan, Aku Villain!

Katakan, Aku Villain!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Keluarga / Antagonis / Romantis / Romansa / Balas Dendam
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Amha Amalia

*
"Tidak ada asap jika tidak ada api."

Elena Putri Angelica, gadis biasa yang ingin sekali memberi keadilan bagi Bundanya. Cacian, hinaan, makian dari semua orang terhadap Sang Bunda akan ia lemparkan pada orang yang pantas mendapatkannya.

"Aku tidak seperti Bunda yang bermurah hati memaafkan dia. Aku bukan orang baik." Tegas Elena.

"Katakan, aku Villain!"

=-=-=-=-=

Jangan lupa LIKE, COMMENT, dan VOTE yaaa Gengss...
Love You~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Villain Chapter 34

.

"Assalamu'alaikum." Ucap salam Elena saat memasuki rumah.

"Wa'alaikumsalam." Balas Nayla menyambut tangan Elena yang ingin menyalaminya "Kenapa pulang sampai malam? Ini sudah pukul setengah sembilan."

"Maaf Bun, aku terlalu asik main sama Keyra sampai lupa waktu." Elena tersenyum, tak sepenuhnya bicara jujur.

"Kamu sudah makan?" Tanya Nayla.

"Sudah. Bunda sendiri sudah makan belum?" Balas tanya Elena.

"Baru selesai makan." Jawab Nayla tersenyum "Sudah sana kamu istirahat, pasti kamu belum mandi nih."

"Ishh Bunda, tapi... Iya sih." Sedikit mencebik kesal namun berakhir menyengir dan membuat Nayla terkekeh "Yaudah, aku mandi dulu."

Setelah mengatakan itu, Elena segera membersihkan diri lalu bersantai di kamarnya untuk melepas lelah. Merebahkan diri menatap langit kamar.

Memori ingatan saat bermain bersama Keyra kembali berputar, tak lagi duduk, ia berdiri mendekat ke ujung kamar yang terdapat beberapa lukisan hasil karyanya. Rasanya masih antara percaya dan tidak saat mengetahui jika Keyra melukis dirinya. Keyra sangat baik, bahkan Keyra menganggapnya sahabat dengan tulus, sedangkan dia sendiri tidak. Justru Elena memanfaatkan Keyra sebagai jalan pintas balas dendamnya.

"Kamu terlalu baik untuk hadir dalam keluarga yang tidak punya hati." Gumam Elena tersenyum miris. Andai saja Keyra bukan dari keluarga itu, mungkin ia akan senang mendapat sahabat sebaik dirinya.

Suara deringan ponsel membuyarkan lamunannya, di raihnya benda itu lalu membaca nama kontak yang tertera. Keningnya sedikit berkerut memikirkan apa tujuan orang itu menelfonnya namun tak butuh waktu lama ia mungkin sedikit tahu apa yang ingin di bicarakan.

"Assalamu'alaikum." Sapa seseorang di seberang sana setelah Elena mengangkatnya.

"Wa'alaikumsalam, ada apa Leo?" Balas Elena kemudian bertanya. Ia pun duduk di pinggiran kasur.

"Kamu ini tipe yang tidak suka basa basi ya? To the point sekali." Gerutu Leo yang kini sedang berdiri di balkon kamarnya.

"Maaf, tapi inilah diriku." Ujar Elena menjelaskan, tak ada rasa rasa tersinggung sedikitpun.

"Aku mengerti." Ucap Leo. Hening beberapa saat, dia seperti bingung bagaimana harus berbicara "Jadi bagaimana keputusanmu?"

Bibir Elena sedikit melengkung, ia sudah menebak apa yang ingin Leo bicarakan.

"Aku hanya megingatkan tentang ajakanku beberapa hari lalu, takut kamu lupa. Aku menantikan keputusanmu." Leo kembali mengingatkan, ia pikir Elena lupa karena belum menghubunginya "Ini momen langka, apa kamu akan menyia-nyiakannya? Disana juga pasti banyak pelukis terkenal, kamu bisa mencoba untuk mempromosikan karyamu. Aku yakin kamu pasti memiliki beberapa lukisan bagus, itu bisa di tunjukkan pada mereka dan siapa tahu tertarik. Kamu bisa jadi pelukis hebat Elena." Leo berusaha membujuk Elena agar ikut bersamanya.

Leo terus bicara panjang lebar, mengeluarkan semua rayuan yang bisa menarik minat Elena agar mau pergi bersamanya. Tanpa ia tahu, Elena sendiri mungkin mendengarkan namun pikirannya tidak disana.

Teringat saat Keyra yang sering bertanya tentang kedekatan dia pada Leo. Elena bukan orang bodoh yang tidak paham situasi, dia tahu jika Keyra menyukai Leo namun enggan jujur padanya yang mungkin karena malu atau belum siap saja.

Tak hanya itu, Elena mengingat perlakuan ayah kandungnya sendiri juga termasuk ayah dari Keyra yang selalu memakinya dan sudah menghancurkan kehidupan Bundanya.

"Aku mau." Ucap Elena setelah berpikir panjang.

"Sungguh?" Suara Leo terdengar antusias.

"Iya, aku mau pergi ke pameran bersamamu." Elena kembali menegaskan.

Di seberang sana Leo hampir saja berteriak jika ia tidak segera menutup mulut dengan tangannya. Mencoba diam, tapi hati bersorak senang "Aku akan menyiapkan tiketnya."

"Hari minggu pukul sembilan pagi aku akan menjemputmu." Lanjut Leo bersemangat.

"Kita bisa bertemu disana." Tolak Elena secara halus.

"Tidak tidak, aku tidak mengijinkannya." Seru Leo kekeh.

"Heii siapa kamu, kenapa aku memerlukan ijinmu?" Sarkas Elena terkekeh.

"Siapa aku? Heumm.." Leo berdehem panjang seolah berpikir "Mungkin seseorang yang penting di hidupmu."

"Benarkah? Kamu sangat percaya diri Tuan muda Leo Alessandro." Elena membaringkan tubuhnya di kasur dengan kedua kaki menggantung di lantai.

"Percaya diri itu harus." Leo sungguh tak bisa menahan senyum "Btw, kamu sedang apa?" Tanya Leo mencoba mencari topik lain agar lebih panjang untuk bertelfonan.

"Rebahan saja. Hari ini cukup melelahkan." Balas Elena berterus terang.

"Sayang sekali hanya rebahan. Padahal rembulan hari ini sangat terang dan indah." Ucap Leo menatap bulan di langit yang bulat sempurna.

"Benarkah? Kamu tidak membohongiku?" Tanya Elena.

"Apa wajahku mirip penipu? Lagian mana berani aku menipumu." Tukas Leo mendengus kesal "Jika tidak percaya, lihat saja sendiri."

Entah apa yang menggerakkan tubuhnya, Elena beranjak dari kasur lalu bergegas keluar rumah tanpa memutus sambungan telefon dari Leo. Mengedarkan pandangan pada langit malam di sekitar, matanya tertuju pada bulan purnama yang memancarkan sinar indah. Tak menyangka jika apa yang di lihat Leo ternyata terlihat juga olehnya meski rumah mereka berjauhan.

"Kamu benar. Indah." Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari bulan itu.

Leo tersenyum, cukup terkejut jika Elena mendengarkan ucapannya untuk melihat rembulan. Sedikit demi sedikit dia mengetahui apa yang di sukai Elena pertama Lukisan, kedua pemandangan alam. Mungkin dalam jangka waktu yang tak lama, ia akan lebih mengetahui tentangnya.

"Jadi bagaimana?" Tanya Leo.

"Bagaimana apa?" Elena bingung.

"Kamu tidak masalah jika aku jemput nanti kan?" Tanya Leo menggigit bibir bawah menunggu jawaban Elena.

"Karena kamu menunjukkan indahnya bulan malam ini, jadi boleh saja." Balas Elena kini duduk sambil memandangi bulan.

Lagi dan lagi Leo hampir menjerit bersorak senang, beruntung saja dia berada di balkon kamar jadi tidak ada yang melihat tingkah absurdnya itu. "Kamu sharelock, besok aku menjemputmu."

"Eh besok? Kamu bilang pamerannya hari minggu, ini masih hari kamis." Elena terkejut, berpikir dia yang salah informasi.

"Itu maksudku aku bisa menjemputmu dulu untuk berangkat ke kampus." Leo menjelaskan dengan pelan sambil memikirkan kata yang pas, tidak ingin Elena berpikiran buruk "Yaa kamu ke kampus bersamaku, berdua. Eh maksudku biar aku paham rumahmu dulu."

Elena menahan tawa mendengar penjelasan Leo yang terdengar kaku. Merasakan sesuatu yang tidak bisa di jelaskan, mengobrol bersama Leo membuat dirinya tenang setelah tadi ada yang menbuatnya badmood.

"Kan kita perginya hari minggu, jadi akan lebih baik aku mengetahui rumahmu lebih dulu. Biar aman, tidak tersesat." Masih belum berhenti Leo menjelaskan, dia sendiri tidak tahu kenapa saat bersama Elena mendadak sulit bicara dan jika berbicara akan spontan tanpa berpikir lebih dulu "Yang ku katakan benar kan? Maksudnya biar tahu lebih jelas saja, lebih cepat sampai nanti tanpa harus cari alamat lagi."

Masih belum terdengar balasan dari Elena. Leo memukul kening pelan dengan kepalan tangannya, sesekali merutuki dirinya dalam hati.

"Besok aku berangkat sendiri." Jawab Elena setelah terdiam beberapa saat "Aku akan sharelock sekarang, kamu bisa kesini hari minggu sesuai rencana awal." Sambungnya sebelum Leo protes.

"Baiklah." Leo pasrah "Tapi bisakah besok kita bertemu di kampus?"

"Oke." Jawab singkat Elena.

Leo mengulum senyum, rasa kecewa tak bisa menjemput Alana besok tergantikan rasa senang saat membayangkan akan bertemu Elena besok.

"Apa ada lagi yang mau kamu sampaikan?" Tanya Elena.

"Tidak ada." Balas Leo spontan.

"Yasudah aku tutup dul--..." Ucapan Elena tiba-tiba saja di potong Leo.

"Eh tunggu." Potong Leo cepat.

"Ada apa lagi?"

"Bukan apa-apa, tapi--..." Leo menjeda ucapan sejenak "Good night, see you tomorrow Elena." Lanjutnya terdengar sangat lembut di telinga Elena.

Elena diam, terpaku.

Leo langsung menutup sambungan tanpa menunggu jawaban Elena, giginya menggertak. Tangan kanan memegangi dada kiri yang merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. "Aku bisa gila." gumam Leo.

"Good night too, Leo." Lirih Elena dengan bibir sedikit melengkung.

Kembali menatap bulan indah di atas, memikirkan rencana tambahan yang akan ia lakukan untuk mencapai tujuan.

"Ini akan menarik." Gumamnya pelan. Senyuman tipis indah itu berubah jadi seringai devil khasnya.

.

~Bersambung~

*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

Jangan lupa LIKE, COMMENT, dan VOTE Yaaa Gengss...

Love You~

1
Fitri Purwanti
kak chat story ea kpn up nya😭😭😭
Nur Haswina
apa mungkin dia saudara kembar terpisah satu ikut mamanya satu lagi ikut papahnya
•🌻 𝓼𝓾𝓷𝓯𝓵𝓸𝔀𝓮𝓻𝓼 🌻•
yaa kukiri chatstory🥲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!