Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.
Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.
Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Kesadaran kembali perlahan, disertai rasa pening yang membuat kepala Xerra terasa berat.
Matanya terbuka.
Langit-langit asing berwarna abu-abu gelap menyambut pandangannya.
Xerra tersentak dan refleks hendak bangkit, namun tubuhnya terasa lemas. Ia terdiam, mengatur napas, memaksa pikirannya bekerja. Aroma khas perpaduan kayu mahal dan parfum maskulin mengisi udara kamar itu.
Ini bukan mansion Evans.
Pandangan Xerra menyapu sekeliling.
Sebuah kamar luas bernuansa monokrom. Dinding hitam keabu-abuan, jendela tinggi tertutup tirai tebal, ranjang besar dengan seprai gelap yang terasa terlalu empuk untuk sebuah tempat aman.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Tenang. Jangan panik.
Ia menurunkan kaki ke lantai marmer yang dingin, mencoba berdiri, namun langkahnya belum stabil. Xerra kembali duduk, menggenggam seprai, memaksa wajahnya tetap tenang meski rasa takut perlahan merayap.
Pintu kamar terbuka.
Seorang pria masuk dengan langkah santai.
Rambutnya keriting cokelat, kulitnya pucat bersih, wajahnya tampan namun aura dingin dan mematikan terpancar jelas dari sorot matanya. Tatapan itu menempel pada Xerra, tajam, seolah sedang menilai barang berharga.
Xerra menelan ludah, tapi tidak menunduk.
Pria itu melangkah lebih dekat.
“Akhirnya bangun,” ucapnya pelan, suaranya rendah dan tenang. “Aku sempat berpikir kau akan tidur lebih lama.”
“Di mana aku?” tanya Xerra, suaranya stabil meski tenggorokannya kering.
Pria itu tersenyum tipis,senyum yang tidak membawa kehangatan apa pun.
“Di rumahku,” jawabnya singkat. “Mansion Gagak Hitam.”
Xerra menelan ludah.
“Kau tidak perlu takut,” lanjutnya sambil berjalan mendekat, berhenti di sisi ranjang. “Tidak ada yang akan menyentuhmu tanpa izinku.”
Kalimat itu sama sekali tidak menenangkan.
“Kalau begitu lepaskan aku,” balas Xerra dingin. “Aku tidak seharusnya berada di sini.”
Bryan memiringkan kepala, menatapnya seolah menilai sebuah lukisan mahal.
“Kau tahu,” katanya, “banyak wanita akan menangis, berteriak, atau pingsan lagi ketika bangun di tempat seperti ini.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit.
“Tapi kau tidak.”
Xerra mengangkat dagu. “Karena aku tahu menangis tidak akan menyelamatkanku.”
Mata Bryan menyipit. Ada kilatan ketertarikan yang tak ia sembunyikan.
“Evans memilihmu karena ini, ya?” gumamnya. “Kepala dingin di situasi buruk.”
Mendengar nama itu, dada Xerra menghangat sekaligus nyeri.
“Apa yang kau inginkan dari suamiku?” tanyanya tegas.
Bryan tertawa kecil, lalu berjalan menuju kursi di dekat jendela dan duduk santai, satu kaki menyilang.
“Awalnya?” jawabnya jujur. “Wilayahku. Nama baikku. Kekuasaan yang dia rampas.”
Ia menatap Xerra kembali.
“Tapi setelah melihatmu…”
Xerra menegang. “Jangan lanjutkan.”
Bryan tersenyum, kali ini lebih jelas.
“Aku ingin kau tetap di sini.”
Hening.
“Kau gila,” ucap Xerra lirih namun tajam.
“Mungkin,” sahut Bryan tanpa tersinggung. “Tapi aku bukan pria bodoh. Aku tahu apa yang kuinginkan.”
Ia berdiri, berjalan mendekat lagi, namun menjaga jarak satu meter darinya.
“Kau akan diperlakukan dengan baik,” katanya. “Kamar terbaik. Keamanan penuh. Tidak ada rantai, tidak ada kunci di pintu.”
“Dan sebagai gantinya?” tanya Xerra.
Bryan menatapnya dalam-dalam.
“Kau menjadi milikku.”
Xerra tertawa kecil,bukan karena lucu, tapi karena muak.
“Aku istri Evans Pattinson.”
“Aku tahu,” jawab Bryan cepat. “Justru itu yang membuat nya semakin menarik.
“Aku istri orang,” ucap Xerra tenang, menatap lurus ke arahnya. “Dan suamiku tidak suka kehilangan apa yang menjadi miliknya.”
Tatapan pria itu tidak menggelap,ia tersenyum
“Justru itu yang membuatmu menarik,” katanya. “Kau tidak menangis. Tidak memohon. Tidak pingsan histeris.”
Ia melangkah mendekat lagi.
Setiap langkahnya membuat udara di kamar terasa lebih berat.
“Wanita lain biasanya gemetar saat melihatku.”
Xerra mengangkat dagu sedikit.
“Mungkin karena mereka tahu siapa dirimu,” jawabnya jujur. “Aku tidak.”
Itu membuat pria itu berhenti.
Ekspresinya berubah bukan marah, bukan tersinggung, melainkan… terhibur.
“Kau tidak tahu siapa aku?” tanyanya pelan.
Xerra menggeleng.
“Aku hanya tahu aku diculik. Dan kau bukan orang baik.”
Pria itu tertawa kecil. Suara rendah, tidak keras, tapi cukup membuat bulu kuduk merinding.
“Jawaban yang cerdas.”
Ia berbalik, mengambil segelas air dari meja, lalu meletakkannya di dekat Xerra.
“Minum. Kau pingsan cukup lama.”
Xerra menatap gelas itu, lalu menatapnya kembali.
“Aku tidak minum sesuatu dari orang asing.”
“Waspada,” gumam pria itu. “Bagus.”
Ia duduk di kursi di seberang ranjang, menyilangkan kaki dengan santai, seolah mereka sedang berbincang biasa.
“Tenang saja. Aku tidak akan menyakitimu.”
Xerra tidak langsung percaya.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “kenapa aku ada di sini?”
Pria itu mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
“Karena suamimu.”
Nama itu tidak disebut, tapi Xerra tahu.
Dadanya mengencang.
“Apa yang kau inginkan darinya?”
Pria itu terdiam beberapa detik. Tatapannya turun menyusuri wajah Xerra bukan rakus, bukan kasar… tapi terlalu fokus.
“Awalnya?” jawabnya perlahan. “Keseimbangan.”
“Sekarang?”
Ia tersenyum lagi. Kali ini berbeda. Lebih pribadi. Lebih berbahaya.
“Sekarang aku ingin tahu… bagaimana caranya Evans Pattinson bisa memiliki wanita sepertimu.”
Xerra menyadari satu hal yang membuat napasnya semakin terjaga.
Pria ini tidak melihatnya sebagai alat tawar-menawar.
Ia melihatnya sebagai keinginan.
Dan itu jauh lebih berbahaya.
Evans merasakan ada yang salah bahkan sebelum laporan pertama masuk.
Meja kerjanya dipenuhi layar rekaman CCTV, peta wilayah, jalur kendaraan semuanya berhenti pada satu titik kosong.
Kosong yang terlalu rapi.
“Tidak ada jejak tabrakan. Tidak ada teriakan. Tidak ada saksi,” gumam Gerry, suaranya pelan tapi tegang.
“Itu bukan penculikan amatir.”
Evans berdiri, rahangnya mengeras.
“Bukan,” jawabnya dingin. “Ini penculikan terencana.”
Ben menelan ludah.
“Bos… targetnya bukan wilayah. Bukan uang.”
Evans mengangkat kepala perlahan.
“Targetnya istriku.”
Ruangan langsung sunyi.
Tangannya mengepal di atas meja kaca hingga urat-uratnya menonjol.
“Cari semua kelompok yang pernah kehilangan wilayah karena aku,” perintahnya.
“Mulai dari yang paling pendiam.”
Gerry menatap layar lain.
“Ada satu nama yang baru muncul lagi… Setelah lama menghilang.”
Evans menoleh tajam.
“Siapa.”
“Bryan Adams,” jawab Gerry.
“Pemimpin kelompok Gagak hitam.”
Udara seolah membeku.
Evans tersenyum tipis bukan senyum bahagia.
“Akhirnya.”
Di tempat lain, di mansion bernuansa monokrom itu, Xerra duduk di tepi ranjang dengan postur tenang,terlalu tenang untuk seseorang yang diculik.
Bryan kembali datang, kali ini tanpa jas. Kemeja hitamnya terbuka satu kancing, terlihat santai, seolah ini rumah bersama.
Ia meletakkan sebuah kotak kecil di meja.
“Makan malam,” katanya. “Aku minta koki membuatkan yang ringan.”
Xerra menatap kotak itu.
“Kau tidak perlu bersusah payah.”
Bryan tersenyum.
“Aku ingin.”
Jawaban itu sederhana. Tapi justru membuat Xerra semakin waspada.
Ia membuka kotak itu perlahan. Aromanya lembut, tidak mencurigakan.
“Kau tidak bertanya siapa aku,” ujar Bryan sambil bersandar di dinding.
Xerra mengangkat sendoknya.
“Kalau aku bertanya, apa kau akan menjawab jujur?”
Bryan tertawa kecil.
“Kau cerdas.”
Xerra makan sedikit. Ia harus menjaga tenaga.
“Kau tidak mengikatku,” katanya datar.
“Tidak mengurungku di ruang bawah tanah. Bahkan kamarku mewah.”
Bryan menatapnya, sorot matanya menggelap lembut.
“Aku tidak menculik wanita untuk disakiti,” jawabnya.
“Aku menculik untuk dimiliki.”
Xerra berhenti makan.
“Aku bukan barang.”
“Justru itu,” kata Bryan pelan. “Kau berbeda.”
Ia melangkah mendekat, berhenti dengan jarak aman. Tidak menyentuh.
“Kau istri Evans Pattinson,” lanjutnya.
“Wanita yang membuatnya pulang lebih cepat. Yang membuatnya menurunkan senjata lebih dulu.”
Xerra menatapnya lurus.
“Kau mengamatiku.”
“Aku mengamatinya,” koreksi Bryan. “Dan kau… efeknya.”
Xerra menahan napas.
“Kau salah memilih cara,” katanya tenang.
“Jika ini untuk melukai Evans, menculikku hanya akan membuatnya menghancurkanmu.”
Bryan tersenyum.
“Aku tahu.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya rendah.
“Dan justru itu yang membuatku penasaran.”
Xerra merasakan sesuatu yang lebih berbahaya dari ancaman.
Ketertarikan.
Bryan meluruskan tubuhnya.
“Beristirahatlah,” katanya. “Kau aman di sini.”
Xerra menatapnya tajam.
“Aman versi siapa?”
Bryan berhenti di pintu, menoleh.
“Versiku.”
Pintu tertutup pelan.
Klik.
Xerra menghembuskan napas perlahan, jemarinya mengepal di atas lutut.
“Evans…” bisiknya dalam hati.
“Cepatlah.”
Di sisi lain kota, Evans menatap peta besar di dinding.
“Siapkan pasukan,” katanya dingin.
“Tidak untuk negosiasi.”
Gerry ragu.
“Bos… kalau Nyonya ada di sana...”
Evans memotongnya, matanya gelap.
“Siapa pun yang menyentuhnya,” ucapnya pelan namun mematikan,
“tidak akan hidup cukup lama untuk menyesal.”