Semua berawal dari rasa percayaku yang begitu besar terhadap temanku sendiri. Ia dengan teganya menjadikanku tumbal untuk naik jabatan, mendorongku keseorang pria yang merupakan bosnya. Yang jelas, saat bertemu pria itu, hidupku berubah drastis. Dia mengklaim diriku, hanya miliknya seorang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusi Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33
Pria bernama Alex itu sudah keluar, meninggalkan aku sendirian disini. Kuamati sekitar, tak ada yang aneh. Luasnya sama seperti apartementku dulu, dengan sebuah kasur, sofa dan lemari.
Aku beranjak lalu melangkah ke sebuah pintu yang kuyakini adalah kamar mandi. Aku membasuh wajahku berulang kali, berharap ini semua hanyalah mimpi.
Namun sebanyak apapun aku melakukannya, tak ada yang berubah. Aku masih berdiri tegak di depan wastafel sambil memandangi wajahku dari pantulan kaca.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar mandi. Dengan waspada aku berjalan hati-hati lalu membuka pintu itu pelan.
"Hallo, Nona. Saya Rosemary, saya membawakan pakaian ganti untukmu."
Sepertinya ia pelayan senior disini, sama seperti Mia. pikirku.
Aku menerima pakaian tersebut, "Terima kasih.."
Wanita itu tersenyum sopan, "Anda bisa memanggil saya Rosie. Jika butuh sesuatu, anda bisa memanggil saya di bawah."
Meskipun ragu, aku memilih untuk mengangguk. Dia berbalik dan hendak pergi, buru-buru aku menahan lengannya.
"Tunggu, Rosie. Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
"Apa yang ingin ada katakan, Nona?"
Aku tak langsung menjawab. Kutarik tangannya agar mengikutiku untuk duduk di sofa. "Siapa sebenarnya Alex? Kenapa dia membawaku kesini?"
Entah apa yang dia pikirkan, Rosie justru bergeming seraya tersenyum kepadaku. "Namanya Alexander Timothy. Dia adalah Tuanku, pemilik rumah ini."
"Apa kau tahu alasannya menculikku?"
Rosie menggeleng, "Soal itu, saya tidak tahu, Nona. Itu urusan pribadi Tuan, saya tidak ingin ikut campur."
Huh, dia sama sekali tidak membantu.
"Yasudah..." balasku lesu.
"Jika anda merasa bosan, anda bisa turun kebawah bersama saya."
Ah, benar juga. Walaupun aku 'diculik', tapi setidaknya aku masih memiliki sedikit kebebasan.
"Baiklah, ayo keluar." Aku menarik tangan Rosie dengan semangat.
Rumahnya memang luas, tapi tidak seluas rumah suamiku. Rumah ini berlantaikan dua, tanpa lift. Setibanya di ruang tamu, ternyata ada Alex dengan seorang wanita dan pria. Mereka nampak sibuk mengobrol, hingga menyadari kedatanganku.
"Nyonya De Sanders," sapa wanita yang duduk di antara mereka.
Aku tak mengenalnya, jadi aku hanya mengangguk sebagai balasan.
"Bisa kita bicara?" ucapku pada Alex yang sedang menikmati minumannya. Entah mengapa dia suka sekali minuman beralkohol itu.
"Katakan!"
Dahiku mengkerut, "Disini?"
Pria tersebut mengangguk singkat. Yang benar saja! Tapi Alex tipikal pria yang tidak mudah di intimidasi. Percuma memohon, ia tak akan mendengarkan.
"Kapan kau akan membebaskanku?"
"Tergantung suasana hatiku."
Tanganku mengepal seraya memandangnya tajam. Dasar pria gila, tidak waras, tidak berperasaan, kejam. Aku hanya mampu mengatakannya dalam hati, jika kusampaikan langsung, ia pasti akan memotong lidahku. Membayangkannya saja aku bergidik ngeri.
"Hallo, Nyonya. Aku Gemma..." Wanita yang duduk di depan Alex berjalan menghampiriku, lalu mengulurkan tangannya.
Wanita ini pasti tidak jauh berbeda dengan Alex, toh mereka satu komplotan.
Tanpa memperdulikan tangannya yang mengambang di udara, bergegas aku pergi dari sana. Aku tidak tahu tujuanku kemana, yang penting jalan saja.
Sambil melangkah, aku mengumpati semua orang yang ada disini, kecuali Rosie. Hanya dia yang baik dan mengerti diriku.
Sampai akhirnya kaki-ku terhenti di depan kolam. Hampir saja kaki ini masuk ke kolam tersebut, jika tidak ada seseorang yang menarik lenganku.
"Apa kau tidak melihat langkahmu?" hardiknya.
Dalam sekali hentakkan, cengkeraman di lenganku terlepas. "Bukankah bagus jika aku tenggelam?"
Alex menyeringai, "Kau benar. Dengan seperti itu, balas dendamku akan tercapai."
Tunggu dulu. Balas dendam? Dia memiliki dendam terhadap siapa? Seingatku, aku tidak pernah mencari masalah dengannya.
Aku masih berperang dalam pikiranku, sampai aku tidak menyadari bahwa Alex mendorongku hingga terjatuh ke kolam.
"Tolonggg!!!" teriakku sampai berusaha menggapai sesuatu. Sayangnya, tidak ada yang bisa kugapai.
"Nonaaa!!!" Rosie hendak menolongku, namun satu kalimat dari Alex menghentikannya.
"Aku akan mematahkan tanganmu jika kau berani menolongnya!"
Oh, Tuhan. Apakah ini takdirku? Haruskah aku mati karena tenggelam? Aku sangat menyesal, kenapa dulu aku tidak belajar berenang.
El, Eve, Daddy, Mommy.. Aku senang telah bertemu dan mengenal kalian. Dan Mama, maafkan aku karena harus pergi tanpa berpamitan denganmu.
...****************...
"Tuan, haruskah kita memanggil dokter? Nona Sisi belum sadarkan diri juga sejak tadi."
"Tidak perlu. Jika hidungnya masih bernafas, berarti dia masih hidup."
Aku mendengar suara itu, suara Rosie dan Alex. Bagaimana bisa aku mendengar suara mereka? Bukankah aku sudah mati?
Mataku perlahan terbuka. Ruangan putih yang tak asing. Aku mengenal ruangan ini, seketika aku langsung bangkit dan mengambil posisi duduk.
"Nonaaa..." Rosie berujar senang, "Syukurlah kau sudah sadar. Aku benar-benar merasa khawatir."
"Ba-bagaimana bisa aku disini?"
Wanita itu tersenyum lembut, "Tuan menolong anda."
Benarkah? Kenapa aku tidak bisa percaya?
"Dia masuk ke kolam, lalu menggendong anda keluar." sambungnya.
Bagus sekali. Kau yang mendorongku, lalu berpura-pura menyelamatkanku. Seolah kau ingin dianggap sebagai pahlawan.
"Dimana dia?" tanyaku karena tak mendapati pria kejam itu disini.
"Tuan baru saja keluar. Mungkin sedang di kamarnya."
"Yang mana kamarnya?" tanyaku lagi.
"Disamping kamar ini."
"Baiklah." Segera aku turun dari ranjang, kemudian berjalan keluar.
Aku harus menemuinya, bagaimanapun kondisinya. Tidak peduli jika dia akan menyakitiku nanti. Aku harus memintanya untuk melepaskanku, pasti saat ini Elbarra dan keluarganya tengah kebingungan mencari keberadaanku.
Pintu kayu berdiri kokoh dihadapanku. Aku ingin mengetuk pintu itu, tapi segera kuhentikan. Jika dia tahu bahwa aku yang datang, Alex pasti tidak akan membukakan pintu.
Pelan-pelan aku mendorong pintu tersebut, dan yaaa.. Dewi Fortuna sedang berpihak kepadaku. Pintunya terbuka tanpa mengeluarkan suara. Dengan hati-hati aku melangkah masuk sembari memperhatikan sekitar.
Gelap dan sunyi. Ini masih siang, tapi gorden sudah di tutup. Lampu pun tidak di nyalakan. Meskipun begitu, aku masih dapat melihat samar-samar benda disana.
Prang!
Aku tak sengaja menjatuhkan vas bunga diatas meja.
"Siapa disana?"
Disaat aku sedang menahan nafasku, mendadak leherku di cekik oleh seseorang, siapa lagi pelakunya jika bukan Alex.
"Alex, ini akuuu!!" jeritku ketakutan.
Pria kejam tersebut akhirnya melepaskanku lalu berjalan menjauh dariku. Ternyata ia sedang menyalakan saklar lampu. Sekarang sudah terlihat dengan jelas bagaimana penampakan kamar itu. Banyak sekali botol anggur yang tergeletak.
"Apa yang kau lakukan di kamarku, Sialan?" geramnya sambil memandangku tajam.
Kau pikir, aku ingin datang kesini?
Aku berdecak sebal dan memilih untuk tidak menanggapinya. Mataku memperhatikan setiap sudut, suram sekali kamar ini.
Sepasang mataku terfokus ke sebuah foto diatas nakas samping tempat tidur. Aku mendekatinya, lalu mengamati foto tersebut.
"Cantik sekali!" gumamku tanpa sadar.
"Dia memang yang tercantik."
Aku menoleh, "Dia kekasihmu?"
Alex menggeleng lirih, "Dia saudari kembarku."
"Benarkah?" Entah kenapa aku jadi antusias begitu, "Lalu, dimana dia?"
"Di Forest Lawn Memorial Park."
Seketika perasaan tidak enak muncul di dadaku. Kulirik wajah Alex yang terlihat sendu. Rasa kehilangannya begitu dalam.
Siapa yang tidak tahu Forest lawn Memorial Park, pemakaman elite yang banyak diisi oleh selebriti dan bangsawan kelas atas. Dan disana, ada saudari Alex yang terbaring.
"Namanya Alexandria, gadis ceria yang kumiliki. Kehilangannya sungguh berat bagiku, seolah dunia terasa berhenti.".
"Maafkan aku. Aku tidak tahu jika saudarimu---"
"Ini semua karena Elbarra!" pungkasnya yang memotong ucapanku.
Aku menatapnya bingung, "Apa kaitannya dengan suamiku?"
"Karena Elbarra lah yang telah membunuhnya!" teriak Alex padaku.
"Tidak mungkin!" Kepalaku menggeleng berulang kali, "Elbarra tidak mungkin melakukan itu."
Tiba-tiba Alex mencengkeram daguku kasar, "Kau tidak tahu apapun! Selama ini dia hanya menunjukkan kebaikannya, lalu kebusukannya dia tutup rapat-rapat."
"Tidakk!! Aku mengenal Elbarra, dia tidak mungkin melakukan hal sejahat itu."
"Hahaha..." Perlahan, Alex melepaskanku. Dia tertawa, namun air matanya mengalir begitu deras. "Kau wanita terbodoh yang pernah kutemui, Sisi."