Kisah Lyla, seorang make-up artist muda yang menjalin hubungan diam-diam dengan Noah, aktor teater berbakat. Ketika Noah direkrut oleh agensi besar dan menjadi aktor profesional, mereka terpaksa berpisah dengan janji manis untuk bertemu kembali. Namun, penantian Lyla berubah menjadi luka Noah menghilang tanpa kabar. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Lyla yang telah meninggalkan mimpinya sebagai make-up artist, justru terseret kembali ke dunia itu dunia tempat Noah berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Ingin selalu bersama
Pagi hari. Lyla bangun sedikit lebih awal, duduk di tepi ranjang sambil memeluk bantal kecilnya. Senyum kecil terlukis di wajahnya hari ini Noah berjanji akan menemaninya berangkat ke tempat les.
Di meja makan, aroma roti panggang dan susu hangat memenuhi ruangan. Ayah duduk membaca koran, sementara ibu sibuk menyiapkan bekal.
“Jangan lupa les-nya nanti sore, ya,” kata ayah tanpa menoleh. “Belajarnya sungguh-sungguh, jangan kebanyakan main.”
“Iya, Ayah…” jawab Lyla pelan, tersenyum.
Tapi di dalam hati, pikirannya bukan pada buku atau ujian melainkan pada seseorang yang mungkin akan menunggunya di depan gerbang sekolah nanti.
Namun siang itu, setelah pelajaran terakhir selesai, Lyla berdiri di dekat jendela kelas, menatap halaman depan.
Tak ada Noah
Ia menunggu beberapa menit, pura-pura sibuk merapikan bukunya.
Ponselnya bergetar pelan.
Pesan dari Noah.
"Maaf, Lyla. Hari ini aku ada pelajaran tambahan. Kayaknya nggak bisa nganter kamu ke tempat les."
Lyla menatap layar cukup lama sebelum membalas.
"Oh, nggak apa-apa. Semangat ya belajarnya."
Ia menekan tombol kirim lalu menarik napas pelan,
**
Di ruang les, Lyla duduk di bangku tengah. Beberapa siswa tampak serius memperhatikan papan tulis, tapi Lyla seperti tengelam dalam lamunan tangan kanannya bergerak pelan… menulis sesuatu tanpa sadar.
Nama Noah muncul di sudut halaman, di antara coretan tak jelas.
Hari ini… aku beneran rindu Noah, batinnya pelan.
Begitu kelas usai, langit sudah gelap dan hujan turun. Lyla membuka payung, melangkah kecil ke luar gedung les
Baru satu langkah ia ambil dari arah jalan, seseorang berlari cepat menembus hujan rambutnya basah, napasnya sedikit tersengal.
“Noah…?” Lyla tertegun
Noah berhenti tepat di depannya, tersenyum lelah tapi hangat "Maaf… aku telat. Tapi aku janji kan mau jemput kamu.”
“Noah…” Lyla masih terdiam, payungnya sedikit miring karena terkejut.
Noah tertawa kecil, mengusap rambutnya yang basah. “Hujannya deras banget. Yuk, kita neduh dulu.”
Mereka berjalan cepat ke arah sebuah kedai mie kecil di seberang jalan, bau kaldu yang hangat langsung menyambut begitu pintu kedai terbuka, membuat suasana jadi nyaman.
Mereka duduk berhadapan di meja dekat jendela. Hujan menetes pelan di luar, menciptakan irama yang lembut
Noah meniup tangannya yang dingin lalu tersenyum pada Lyla.
“Kamu udah lama nunggu, ya?”
Lyla menggeleng, pipinya memerah, “Enggak kok… aku juga baru selesai les.”
Tak lama, semangkuk mie panas datang. Uapnya mengepul di udara, membuat kaca jendela berembun.
Lyla menatap mangkuknya sambil tersenyum kecil. "Lucu ya… terakhir makan bareng di minimarket, sekarang di sini.”
Noah tertawa pelan, “Berarti habis ini harus cari tempat makan yang lebih enak lagi, biar jadi kebiasaan.”
Lyla menunduk, senyum tipis muncul di bibirnya. Entah karena mie panas atau karena tatapan Noah, tapi pipinya makin merah saja.
Tiga puluh menit kemudian hujan mulai reda. Sisa rintik masih jatuh pelan di jalanan yang basah.
“Noah, udah berhenti tuh…” Lyla menatap keluar jendela kedai.
Noah berdiri, meraih payung. “Yuk, pulang sebelum hujannya kambuh lagi.”
Begitu keluar, udara dingin langsung menyapa. Lyla membuka payung, dan Noah otomatis ikut menunduk di bawahnya mereka berjalan pelan, sepatu menyentuh genangan kecil.
Tanpa sadar, jari mereka bersentuhan,
Lyla refleks menoleh... dan malah menatap senyum Noah yang santai banget.
“T-tanganmu dingin banget…” gumam Lyla pelan.
Noah nyengir. “Makanya, pegangin aja terus.”
Wajah Lyla langsung merah
“Jangan ngomong gitu sembarangan!”
“Tapi kan bener.” Noah menahan tawa kecil.
Lyla cuma bisa cemberut kecil, tapi genggamannya nggak dilepas juga.
mereka jalan bareng di bawah satu payung, ketawa pelan tiap kali air hujan menetes di ujung payung. langit sore berubah gelap, tapi suasananya hangat banget.
*
Malam itu, Lyla duduk di meja belajarnya. Lampu kamar temaram, dan di luar jendela masih terdengar sisa hujan menetes pelan,
Ia membuka ponselnya, menatap layar beberapa detik sebelum mengetik pesan.
“Kamu udah sampai rumah?”
Ia menaruh ponselnya di meja, layar tiba-tiba menyala lagi. Nama Noah muncul di sana.
Lyla terlonjak kecil “Hah?! Dia nelpon…?!” bisiknya panik.
Ia cepat-cepat menoleh ke arah pintu, memastikan ayahnya nggak lewat, lalu mengangkat telepon dengan suara super pelan.
“H–halo… Noah?”
Suara Noah terdengar dari seberang, lembut dan sedikit berisik karena hujan di luar.
“Kamu udah sampai rumah juga, kan?”
“I-iya… udah,” jawab Lyla cepat, menutup mulutnya dengan tangan biar suaranya gak terlalu keras. “Tapi kenapa nelepon?”
Noah tertawa kecil. “Nggak apa-apa. Cuma… mau dengar suaramu aja.”
Lyla langsung membeku. Wajahnya panas “J-jangan ngomong aneh-aneh” bisiknya cepat.
Noah terkekeh pelan “Pokoknya, makasih udah mau nunggu aku tadi. Hati-hati jangan kehujanan lagi, ya.”
Lyla menggigit bibir, senyum kecil muncul tanpa sadar “Iya… kamu juga.”
Sebelum sambungan terputus, Lyla masih sempat dengar suara Noah pelan “Selamat malam, Lyla.”
Begitu telepon berakhir, Lyla menatap ponselnya lama sekali, wajahnya masih merah . Ia menutup mulut dengan bantal kecil dan berguling di kasur, menahan teriak kecil.
“Ah… kenapa dia manis banget sih…”