Arkan Bagaskara seorang duda yang dijodohkan dengan seorang mahasiswanya yang hobi membuat masalah dikelasnya. Arkan merasa diumurnya yang cukup matang menjalin hubungan dengan Febriana Indriana adalah hal yang sulit, dia ingin hubungan yang serius bukan seperti anak remaja yang baru jatuh cinta. Apalagi sifat kekanak-kanakan dan memberontak yang Febri miliki membuat kepalanya sakit. Tapi mau bagaimana lagi keluarganya memiliki hutang budi dengan keluarga Febri dan mau tak mau Arkan harus menikahi Febri. Namun apakah semua berjalan Lancar disaat Febri jatuh Cinta dengan pria yang lebih muda darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gulla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Febri mengangguk pelan, Dikau tersenyum senang melihat itu. Tanpa sadar Dikau mencium kening Febri lama dan dalam. Febri terkejut akan hal itu, muncul perasaan bersalah telah menghianati Arkan karena hal ini. Hati Febri gundah, ia merasa menjadi wanita jahat yang telah mempermainkan kedua pria itu. Apalagi statusnya yang sudah beristri, apakah Arkan akan membencinya jika mengetahui fakta ini, padahal kemarin dia sudah berjanji pada Arkan. Rasa bersalah itu menyelimuti hati Febri. Ia bingung, tidak ada rona bahagia dan jantung yang berdebar-debar setelah pengakuan cinta Dikau yang ada hanya rasa bersalah pada Arkan.
Apa ia mencintai Arkan? Tanya batinnya, hanya hembusan angin yang menjawab semua kegundahannya. Ini tak seindah yang ia bayangkan.
"Saya mencintai kamu," tiba-tiba suara bisikan Arkan yang mengatakan mencintai dirinya terdengar di inderanya. Febri terdiam, ini semua salah tapi ia sudah terlambat.
"Maafkan saya mas," bisik Febri pelan.
Arkan mengepalkan tangannya, ia tidak menyangka jika Febri akan melakukan hal itu. Febri menghianatinya, hatinya terluka, bahkan ia cemburu ia tidak menyukai istrinya melakukan hal ini membiarkan laki-laki lain menyentuhnya. Arkan ingin sekali menghampiri mereka berdua dan memakinya tapi Arkan menahannya. Tidak ada gunanya lagi, mungkin benar ia hanyalah sampah. Apakah benar-benar tidak ada kesempatan lagi untuknya? Ini juga salahnya andai dulu ia tidak menolak Febri dan meninggalkan Febri pasti mereka berdua akan saling mencintai satu sama lain hingga saat ini. Arkan menyesali kebodohannya, ia juga menyesali apa yang telah terjadi di masa lalu.
tergores luka indah yang telah lama kutafsirkan
menitih kehancuran yang telah meracuniku
rasa penat seakan mengarungi langkahku
yang membuatku terkapar dan membisu
berderai air mata membasahi pipiku
terlukis rasa perih menyayat relung sukmaku
saat kau hianati cinta didalam hatiku
rasa gundah terurai di jiwaku
Air mata Arkan jatuh tanpa disadarinya, apakah ini semua balasan dari cintanya. Namun apakah ia harus menyerah dengan semua ini. Baiklah jika ini yang diinginkan Febri, Arkan akan mengabulkannya. Bukankah cinta itu buta, yang terpenting adalah melihat wanita yang ia cintai bahagia itu sudah cukupkan. Mungkin Febri memang tidak pernah bahagia bersamanya, ini juga salahnya bukankah ia sudah memutuskan untuk pergi jauh dari kehidupan Febri semenjak peristiwa itu lalu kenapa ia malah mengusik Febri kembali.
telah ku akhiri semua
hanya dapat memendam rasa yang telah bersinggah
dan tiada arti aku berdiri menantimu
rasa kecewa dihati mengiris kalbu didalam batinku
teruntai sebuah kata pahit menggelora jiwa
membungkam satu kisah kelam yang teramat singkat
haruskah ku menepikan bayangmu disisiku
yang telah bernaung didalam takdirku
Arkan membalikkan badannya meninggalkan kedua orang tersebut. Arkan menangis di balik kaca mata hitamnya. Hatinya masih terasa sakit dan perih, akankah ia menyerah dengan semua ini dan membiarkan wanita berstatus istrinya mencari kebahagiaan lain. Febri tidak pernah mencintainya.
"Selamat tinggal Febri, mungkin saya bukan bahagiamu. Pergilah dan carilah bahagiamu walau itu bukan saya..." Arkan tahu ia sudah kalah. Ia tidak bisa melakukan apapun lagi. Jika itu adalah yang Febri inginkan maka Arkan akan mundur. Rasanya menyakitkan sekali melihat semua ini. Arkan tidak sanggup melihat lagi. Tubuhnya lemah akan cinta. Airmatanya tumpah karena cinta. Dan hatinya terluka karena cinta. Bodohnya dia yang begitu menggilai cinta. Padahal ia tidak dicintai sama sekali oleh cinta-nya. Apa cuma seperti ini akhir dari perjuangan kisah cintanya?
telah ku akhiri semua
hanya dapat memendam rasa yang telah bersinggah
dan tiada arti aku berdiri menantimu
rasa kecewa dihati mengiris kalbu didalam batinku
telah ku akhiri semua
hanya dapat memendam rasa yang telah bersinggah
dan tiada arti aku berdiri menantimu
rasa kecewa dihati mengiris kalbu didalam batinku
mohon maaf kak author cantik
batuk nih dudanya meresahkan