Cerita Dewasa‼️
Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.
Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.
Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.
Apakah Bagas akan kembali?
atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Mandi Bersama?
Enggan Sarah rasakan, dimana saat ia belum menjawab tawaran Bagas, tubuhnya malah sudah di gendong paksa menuju kamar mandi yang berada satu ruang dengan kamar pria tersebut.
Entah bayaran seperti apa dan berapa besarannya, Sarah tidak dapat menduga. Tetapi hatinya kian menjadi was-was ketika kini keduanya telah memasuki kamar mandi besar disana.
Sarah langsung bisa melihat bathub yang telah penuh terisi air. Bagas pun melangkahkan kakinya, kemudian menjatuhkannya pelan untuk masuk ke dalam bathtub tersebut.
"Kamu bisa mandi disini Thalia," ujar Bagas sambil menatap tubuhnya lekat.
Sarah dengan kedua tangan yang mencoba menutupi buah dadanya agar tidak terlihat dalam jarak pandang Bagas, kemudian menanggapi. "Terimakasih tuan, saya akan mandi. Tolong tuan bisa segera pergi."
Mendengar tanggapan dari si pembantu baru, Bagas terkekeh lirih. Dalam benaknya, ia terus merasa tergelitik dengan sikap tidak sopan dari perempuan yang hanya berstatus sebagai pelayan rendahan itu.
"Kamu mengusir saya Thalia? Apa kamu lupa tentang bayaran yang sempat kita bahas?"
Mengerjapkan mata lelah, Sarah mencoba tidak gentar dengan sang tuan yang semakin mengintimidasinya, baik melalui tatapan maupun perkataan.
"Saya tadi belum mengiyakan tuan. Lagipula, buat apa saya harus membayar, disaat tuan lebih dulu berbuat salah—memperkosa, bahkan tidak mau bertanggung jawab," balas Sarah ketus.
Mendengus kesal, Bagas turut membalas. "Baru kali ini saya bertemu dengan wanita bebal seperti kamu Thalia. Bukannya sudah jelas sekali perkataan saya sebelumnya hmm? Kita saling mau, saling merasakan nikmat. Tidak etis rasanya jika kamu menuduh saya seenaknya seperti itu. Dan....Saya juga sudah bilang akan bertanggungjawab."
"Dengan tidak menikahi saya, begitu?"
Sarah langsung menyerang dan Bagas seketika menatap nyalang. Tentu, Bagas merasa dirinya tidak perlu memberikan pertanggungjawaban atas kesalahan mereka tadi malam. Ia seorang pria yang telah memiliki calon istri. Bukan pilihan bijak jika ia harus meninggalkan Farah demi seonggok sampah yang telah dengan berani menjebaknya.
"Ya! Tentu. Saya punya cara lain yang lebih pantas dengan status-mu."
Sarah menyipitkan mata tidak percaya. Memang cara seperti apa yang Bagas bisa tawarkan. Hendaknya ia harus bersikap hati-hati. Bagaimana pun ia perlu kembali memegang kendali.
"Cara lain bagaimana?" tanya Sarah penasaran.
Tidak langsung menjawab, Bagas tersenyum miring dengan seringai mencurigakan. Hingga beberapa detik setelahnya, pria itu tanpa aba-aba, layaknya melontarkan pisau tepat di wajahnya—ia berkata, "Menjadi gundik saya."
...****************...
Setelah mendapatkan informasi mengejutkan dari orang suruhannya—Raska kini hanya bisa terduduk lemas di ruang tamu kediaman Aryanaka. Si pelayan yang baru saja ia berikan banyak omelan karena lalai dalam tugasnya itu—entah dimana rimbanya karena langsung pergi dengan senantiasa membawa tangis memilukan.
Raska memilih bersikap 'bodo amat' dan tidak ingin memikirkannya. Karena saat ini yang lebih penting adalah memikirkan 'kebohongan' seperti apa yang akan ia jelaskan kepada nyonya Suratih.
Sudah pasti sebentar lagi wanita tua itu akan mencecarnya dengan beribu pertanyaan tentang keberhasilan rencana mereka. Rencana yang ternyata berakhir gagal total.
"Halah Mak, mati gue mati!" gumam Raska cemas. Rambutnya yang semula tertata rapi, saat ini telah menyerupai sarang burung karena terus-menerus ia jadikan sasaran dari gundah yang ia rasakan.
"Gue harus gimana ini," batin Raska semakin menangis tak karuan.
Ditengah kekalutannya, suara telepon seketika menggema cukup keras. Sontak Raska terkejut hingga membuat badannya sedikit terlonjak dari atas sofa.
Jujur Raska tidak berani untuk mengangkat-nya. Jika sesuai dugaannya, maka telepon itu bisa jadi berasal dari nyonya Suratih yang hendak menanyakan progres rencana mereka dalam menyabotase aksi Sarah tadi malam.
Terlalu takut menilik nama kontak yang tertera, Raska mencoba mengalihkan pandang dan mengabaikannya. Sayangnya, walau sudah ia diamkan cukup lama, namun dering itu tiada usai berhenti—semakin memekakan telinga dan membuat jantungnya berdegup amat kencang.
Mau tidak mau, dengan perasaan takut dan tangan gemetar, Raska perlahan mengambil handphone di dalam tas hitam yang terletak di sebelahnya. Sembari memiringkan kepala, ia melirik nama orang yang sedari tadi menelepon-nya itu.
Ketika matanya menangkap satu nama disana, refleks dirinya menghembuskan napas lega. Bukan seperti ketakutan-nya tadi, ternyata yang menelepon-nya adalah tunangan sang bos, yakni Farah Putri Diharja.
"Selamat pagi bu, ada yang bisa saya bantu?" sapa Raska sopan.
Farah yang memang terkenal santun dan lembut itu pun menjawab dengan ramah dan langsung mengutarakan alasannya menghubungi Raska.
"Selamat pagi Raska. Maaf ya saya ganggu kamu pagi-pagi gini, saya mau minta tolong, boleh?"
"Oh tidak papa bu, tidak mengganggu sama sekali. Tentu sangat boleh bu. Bu Farah mau minta tolong apa bu?"
"Syukur deh kalo begitu. Gini Raska, saya mau minta tolong bilangin Mas Bagas untuk buka handphone-nya ya. Saya sudah hubungi dari tadi malam malah, tapi gak aktif. Kamu sekarang udah di kantor sama Mas Bagas 'kan?"
"Gimana mau aktif tuh hp kalo dari tadi malem aja pasti sibuk indehoy sama mantan istri." Tentu Raska hanya berani berceloteh dalam hati.
Pada kenyataannya, ia berakhir mengatakan kebohongan pada tunangan bos-nya itu. "Baik Bu, nanti saya sampaikan ya. Iya, kami di kantor Bu, dan pak Bagas sedang ada meeting."
"Oh begitu, ya sudah. Terimakasih ya Raska atas bantuannya," ucap Farah halus. Sungguh membuat Raska semakin merasa bersalah telah membohongi putri bungsu Diharja itu.
"Sama-sama Bu Farah."
Setelah Farah menutup sambungan telepon. Raska pun dengan ragu akan mencoba memanggil atasannya yang sampai saat ini belum keluar dari kamar.
Mereka sudah sangat terlambat ke kantor dan tentu banyak pekerjaan yang menunggu.
"Semoga si bos udah selesai deh."
Tetapi, sungguh sayang sekali. Karena harapan Raska ternyata tidaklah terkabul. Karena bukannya 'sudah selesai' seperti yang Raska pinta dalam hatinya—namun malah Raska harus menjumpai adegan panas nan luar biasa disana.
Dimulai dari saat ia membuka pintu, ia langsung disuguhkan dengan pemandangan kamar yang kacau - balau. Pakaian sang bos telah berserakan di lantai kamar, bercampur dengan tumpukan bra dan celana dalam wanita yang tampak kontras dengan kamar bernuansa maskulin itu. Serta dapat ia rasakan pula, aroma percintaan yang teramat menusuk hidung suci-nya.
"Sial, ini mah semua panca indra gue udah ternodai." batin Raska bersungut kesal.
Bagaimana tidak kesal, karena bukan hanya mata dan hidung-nya yang harus menjadi saksi daripada bekas pergulatan pemilik kamar dan sang mantan istri—tetapi juga telinganya yang detik itu juga, tanpa sengaja langsung menangkap suara desah yang kian bersahutan cukup kencang dari arah kamar mandi sang tuan.
Apakah mereka mandi bersama?
"Ahh, ouhh mas Bagas eughh."
"Arghh yahh ouhh, teruslah mendesah. Saya suka, argghh."
Sungguh malang nasib Raska, hanya mampu bersikap bisu, membatu, dan menangis pasrah selagi masih harus menunggu.