Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.
update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Dengan langkah gontai dan pundak yang merosot turun, Yudi menaiki tangga menuju lantai dua. Suasana lorong menuju kelas 2-B terasa aneh. Terlalu sunyi. Tidak ada suara canda tawa yang biasanya terdengar dari dalam kelas tersebut.
Yudi berhenti di depan pintu kayu bergaya geser. Ia menarik napas dalam-dalam, menguatkan mentalnya, lalu mengulurkan tangannya memegang gagang pintu.
Srek!
Pintu bergeser terbuka, dan pada saat yang bersamaan, sebuah siluet melesat dari titik buta di balik pintu. Tanpa peringatan apa pun, sebuah kepalan tangan besar yang diayunkan dengan kekuatan penuh meluncur lurus membelah udara, menargetkan rahang kanan Yudi.
Refleks instingtual Yudi yang telah diperkuat oleh kebangkitan iblisnya merespons seketika. Pupil matanya mengerucut. Dalam hitungan milidetik, Yudi menekuk lututnya dan melompat ke belakang. Tubuhnya melenting menjauh, membiarkan tinju itu menyambar udara kosong hanya beberapa sentimeter di depan ujung hidungnya. Suara desingan angin akibat pukulan itu terdengar cukup keras.
Si penyerang kehilangan keseimbangan akibat momentum pukulannya sendiri yang meleset. Yudi tidak membuang waktu. Ia menumpukan berat badannya pada kaki kiri, lalu menyapukan kaki kanannya dengan gerakan memutar melintasi lantai, menghantam tepat di pergelangan kaki sang penyerang yang menjadi titik tumpu.
Brak!
Tubuh pria berkepala plontos itu berputar di udara sebelum akhirnya menghantam lantai kayu kelas dengan bunyi bedebuk yang keras.
"Sialan! Beraninya kau menghindari pukulanku yang diarahkan ke wajahmu!" erang Motohama sambil memegangi punggungnya yang berdenyut nyeri. Wajahnya meringis menahan sakit.
"Benar sekali!" Sebuah suara melengking datang dari arah meja guru. Seorang remaja laki-laki berkacamata melompat ke atas meja, lalu melesat turun dengan sapu di tangannya.
"Setidaknya kau harus berdiam diri dan dipukul karena kau sudah bertindak jauh di luar batas toleransi kami sebagai sesama pria!" sergah Matsuda dengan raut wajah penuh amarah yang berlebihan.
Yudi baru saja menegakkan tubuhnya ketika dari sudut ruangan, sesosok siswa berambut cokelat dengan tatapan mata menyala terang berlari menerjangnya. Tangannya dikepalkan tinggi-tinggi di atas kepala.
"Mati saja sana, dasar pria beruntung keparat!" teriak Issei dengan suara parau yang dipenuhi rasa iri yang membakar, melompat menerkam Yudi seperti binatang buas.
Yudi merunduk dengan cepat, membiarkan tubuh Issei terbang melewatinya dan menabrak papan tulis di belakang dengan suara berdebum keras. Kapur-kapur berjatuhan dari tempatnya.
"Kenapa kalian ini?!" teriak Yudi, menangkis pukulan sapu dari Matsuda dengan lengan kirinya. Suara benturan kayu dan daging terdengar nyaring. "Kalian lucu sekali! Aku sungguh hanya berjalan santai ke sekolah dengan Kaichou! Aku sama sekali tidak melakukan apa—"
Wuuussh!
Belum sempat Yudi menyelesaikan kalimat pembelaannya, sebuah suara desingan tajam memotong ucapannya. Refleks tubuhnya kembali menyelamatkannya. Yudi memiringkan kepalanya ke kiri secara tiba-tiba.
Sebuah sapu lidi melesat cepat seperti tombak menembus ruang tempat kepala Yudi berada sedetik yang lalu. Sapu itu terus melayang dan—
Pletak!
"Aduh! Woi Katase! Lemparanmu itu mengenai kepalaku! Sakit tahu!" jerit Motohama yang baru saja mencoba berdiri, memegangi kepalanya yang botak dengan mata berkaca-kaca.
Seorang siswi berambut merah muda sebahu berdiri di tengah ruangan dengan pose seolah baru saja melempar lembing olimpiade. Ia menurunkan tangannya perlahan. "Itu salahmu sendiri karena tertidur dan menghalangi target di sana, Motohama!" seru Katase tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Katase lalu menoleh dengan tajam ke arah Yudi. Jari telunjuknya menuding tepat ke wajah pemuda itu. "Dan kau! Dasar bajingan kotor yang tidak tahu diri! Cepat katakan apa yang sebenarnya kau lakukan dengan Kaichou semalaman hingga pagi ini dia terlihat sangat lemas?!"
"Dengar, Katase! Aku sama sekali tidak melakukan apa pun dengan Kaichou! Tolong percayalah padaku!" Yudi mengangkat kedua telapak tangannya ke depan, melangkah mundur perlahan hingga punggungnya menyentuh dinding lorong. Peluh membasahi dahinya.
Namun, argumentasi logis tidak lagi berlaku di dalam Kelas 2-B hari itu. Tidak peduli fakta apa yang Yudi katakan, rasa cemburu, amarah, dan fanatisme terhadap Ketua OSIS telah membutakan logika semua orang. Alibi kebencian dari masing-masing kubu berbeda; para pria marah karena iri Yudi bisa bergandengan tangan, sementara para wanita marah karena menganggap Yudi menodai kesucian idola sekolah mereka.
Seketika itu juga, seluruh siswa di kelas bangkit dari tempat duduk mereka. Suara gesekan kaki kursi dan meja bergema serentak. Penghapus papan tulis, buku catatan tebal, penggaris kayu, kotak pensil, hingga sepatu berterbangan melintasi udara menuju satu target: Yudi.
Yudi menunduk, berguling ke lantai, melompat, dan menangkis berbagai macam proyektil yang menghujaninya tanpa henti. Gerakannya gesit berkat insting iblisnya, namun jumlah serangan terlalu masif. Ia menepis sebuah kotak bekal yang melayang ke arahnya, lalu melompat ke atas meja untuk menghindari tekel dari dua orang siswa sekaligus.
Napasnya memburu keras. Di sela-sela serangan yang tiada henti, Yudi menggertakkan giginya dan bergumam pelan di tengah kekacauan, "Astaga... apa Sona Kaichou-sama sengaja merencanakan dan melakukan semua ini di depan gerbang agar aku terjebak di dalam situasi medan perang seperti ini setiap harinya...?"
Suara barang-barang pecah, debu kapur yang mengepul, dan teriakan amarah dari Kelas 2-B terus berlangsung tanpa tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat. Berbeda jauh dengan atmosfer kacau balau di lantai dua, lorong lantai tiga yang merupakan jalan menuju ke kelas 3-A
Seorang gadis dengan rambut merah menyala menjuntai hingga sebatas pinggang berdiri bersandar di dinding dekat tangga. Rias Gremory, sang Putri Kehancuran, melipat kedua tangannya di depan dada. Seragamnya tampak sempurna.
Di wajahnya terukir sebuah senyuman lembut yang elegan saat ia menatap sosok sahabat masa kecilnya yang sedang berjalan santai menaiki tangga ke arahnya. Sona menapakkan kakinya di lantai tiga, menyesuaikan posisi kacamata di pangkal hidungnya sebelum berjalan mendekati Rias.
"Tidak kusangka, kau bisa bersikap seberani itu, Sona," sapa Rias ketika Sona berada dalam jarak lima langkah. Suaranya mengalun merdu namun penuh dengan rasa penasaran. "Kau begitu bersemangat memperkenalkan anggota peerage barumu dengan cara yang sangat frontal dan provokatif pagi ini. Apa sebenarnya yang membuatmu begitu bersemangat sampai mengundang kehebohan yang sebegitu besarnya di seluruh area sekolah?"
Sona berhenti berjalan. Ia tidak langsung menjawab. Matanya menatap lurus ke arah jendela di sebelah kiri Rias, mengamati dahan pohon sakura yang bergerak tertiup angin.
"Yah... setidaknya dia adalah sesuatu yang sangat sulit untuk kutebak pergerakan dan pola pikirnya," balas Sona perlahan. Ia mengalihkan pandangannya, menatap langsung ke mata biru-kehijauan milik Rias. "Mungkin... faktor ketidakterdugaan itulah yang membuat diriku sedikit merasa tertarik padanya."
Mendengar pengakuan yang begitu jujur dan di luar dugaan itu, mata green emerald milik Rias seketika melebar. Selama sepersekian detik, postur Rias yang elegan sedikit menegang karena terkejut. Namun sedetik kemudian, kelopak matanya kembali rileks dan ia kembali memfokuskan tatapannya pada Sona, mengamati wajah sahabatnya itu lebih dalam.
"Kupikir kau adalah tipe orang yang berhati dingin dan kaku seperti bongkahan es abadi, Sona," ucap Rias, senyumannya kini sedikit melebar, memancarkan aura persaingan persahabatan yang kental. "Ternyata, masih ada hal-hal atau sosok di dunia ini yang mampu membuatmu merasa bersemangat dan keluar dari rutinitas perhitunganmu ya."
Ekspresi Sona sama sekali tidak berubah. Ia menurunkan tangannya ke sisi tubuh. "Kalau aku benar-benar berhati dingin dan sekaku bongkahan es seperti yang kau bayangkan, anggota keluargaku pasti sudah berganti-ganti sejak lama karena tidak tahan dengan sifatku," balas Sona dengan nada datar yang menjadi ciri khasnya, mematahkan asumsi Rias dengan logika praktis.
Rias tertawa kecil, suara tawanya renyah dan halus, memecah keheningan lorong. "Ya, ya, apa pun itu alasannya. Aku hanya bisa mengucapkan selamat atas keberhasilanmu menemukan anggota keluarga baru untuk melengkapi bidak caturmu," ucap Rias. Ia mendorong bahunya menjauh dari dinding, berdiri tegak di samping Sona. "Semoga dia bisa membantumu di garis depan dan melayani segala keperluanmu dengan baik, Sona."
"Terima kasih banyak atas perhatian dan ucapan selamatnya, Rias," Sona menundukkan kepalanya sedikit sebagai bentuk balasan formalitas. "Nanti, jika waktunya sudah tepat, aku akan memperkenalkannya secara resmi padamu dan anggota klubmu."
Rias mengangguk setuju. Ia memutar tubuhnya menghadap ke arah koridor. Tanpa membutuhkan aba-aba, kedua ahli waris dari pilar iblis teratas itu mulai melangkahkan kaki secara bersamaan. Pundak mereka saling berdampingan, ritme langkah sepatu mereka berpadu menghasilkan harmoni ketukan yang solid di atas lantai. Mereka berjalan bersisian menyusuri lorong panjang, menuju ke ruang kelas yang sama di ujung koridor, meninggalkan semua kehebohan yang terjadi di lantai bawah.