Dewina gadis dari keluarga biasa memiliki kepekaan yang luar biasa terhadap lingkungan sekitar , sampai tetangganya bahkan orang lain melihatnya aneh , dengan kemampuannya ia bisa merasakan apa yang orang lain raskan , dan Ia bisa merasakan kehadiran makhluk astral meskipun tidak bisa melihat makhluk tersebut .
Kedua orang tuanya berpisah karena takdir ,ayahnya meninggal ketika Dewina sekolah menengah pertama .
Bagaimana Dewina menjalani kehidupannya yang tidak biasa ,mampukah ia melewati itu semua ?
Ikuti kisahnya dan beri tanggapan kalian dikomentar , terimakasih .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keduapuluh Tiga Dini Hari
Hari itu Lastri merasa tidak enak seolah mempunyai firasat buruk ,menjelang malam ia tidak melihat Dewina pulang ia duduk di teras rumah menunggu Dewina pulang . Seseorang lewat depan rumah melihat Lastri menyapa ."Nunggu siapa mak ?" tanya orang tersebut merasa heran tidak biasanya Lastri duduk di teras seorang diri .
"Nunggu Wina lah masa nunggu kamu ," canda Lastri tersenyum . "Loh ,bukannya Wina sudah pulang dari tadi siang naik gojek ," balas Orang tersebut karena siang itu ia melihat Dewina naik gojek .
"Masa si ,wan kok aku tidak lihat dia pulang soalnya aku di rumah terus tidak keluar rumah ," balas Lastri merasa ada yang aneh . "Coba kamu cari dia di kamar ," suruh orang bernama Iwan pada Lastri .
Lastri membuka pintu kamar Dewina yang ternyata tidak di kunci , melihat tempat tidur mendekat . Lastri terkejut melihat Dewina sudah tidur menyentuh keningnya terasa hangat tersenyum namun hatinya bertanya-tanya .
Lastri ke luar kamar Dewina mengambil air hangat untuk mengompres Dewina . "Sebenarnya apa yang sudah terjadi sama kamu ,nak kenapa semakin hari banyak sekali cobaanmu ," gumam Lastri melihat tubuh Dewina yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya .
Ersa berada disamping Lastri ikut merasa sedih melihat Dewina yang malang . Lastri merasa bulu kuduknya merinding menoleh ke kiri dan ke kanan curiga . Dewina membuka mata mendengar gumam Lastri .
"Win , kenapa bangun , kamu butuh sesuatu ?" Lastri membantu Dewina duduk . "Aku tidak apa-apa kok ,bu kenapa ibu belum tidur ?" Dewina melihat ibunya masih melek .
"Ibu menunggumu pulang di teras depan , ternyata sudah tidur nyenyak memangnya pulang jam berapa ?" lastri memijat tangan Dewina. "Aku pulang ketika masih siang ," Dewina seadanya .
Lastri merasa ada yang disembunyikan Dewina . "Kalau kamu percaya sama ibu katakan apa yang terjadi padamu hari ini ," Lastri mendesak agar Dewina cerita .
Dewina menceritakan dari awal ia berangkat sampai pulang , Lastri terkejut mendengar cerita Dewina sedih "Sudahlah yang penting sekarang kamu sudah pulang lain kali hati-hati jangan sampai kejadian tadi terulang kembali ," Lastri mengingatkan .
"Iya bu ," Dewina melanjutkan tidurnya karena tubuhnya sangat lelah .
Keesokan harinya Dewina bangun sebelum matahari terbit , ia mendengar suara orang berbicara di luar samping kamarnya . Dewina turun dari tempat tidur berjalan mengendap tepat di samping jendela kamar menempelkan telinganya agar mendengar lebih jelas .
"Cepat buka jangan lama-lama nanti keburu bangun orangnya ," orang itu sedikit keras karena temannya sedang mencongkel jendela kamar Dewina . Begitu berhasil jendela satu terbuka orang tersebut naik namun naas ia melihat Dewina berdiri tepat di jendela membuatnya terkejut dan diam dengan ketakutan akhirnya jatuh menimpa temannya yang ada di bawah .
Orang yang jatuh berdiri lalu berlari kocar kacir sedangkan temannya melihatnya heran lalu melihat ke arah jendela , alangkah terkejut sampai tubuhnya bergetar langsung berlari tak tentu arah .
Dewina tertawa melihat mereka ketakutan sambil berlari , rasain tuh siapa suruh mau maling rumah orang gumamnya sambil menutup jendela dan menguncinya .
Dewina ke luar kamar menuju dapur melihat ibunya sedang memasak membantunya . "Sudah merasa baikkan ?" Lastri melihat Dewina berada di dekatnya membantu meracik bumbu dan menggoreng di tempat penggorengan yang sudah di siapkan ibunya.
"Sudah lebih enteng ," jawabnya tersenyum , kemudian memasukkan sayuran ke dalam bumbu tadi .