Vanessa Althea Christy Walker atau kerap di sapa Vanessa adalah seorang dokter spesialis bedah termuda berusia 22 tahun,ia terkenal dengan parasnya yang begitu cantik dan sikapnya yang ramah.
namun tidak ada satu pun lelaki yang dekat dengan mampu memenangkan hatinya.entah mengapa Vanessa begitu tertutup tentang perasaannya.
suatu hari ia bertemu dengan seorang pasien kecil yang tersesat di taman.
ia menolong anak itu dan bertemu dengan sang ayah yang di sebutkan oleh anak itu.
parahnya pria yang di sebut ayah oleh anak itu adalah mantan kekasihnya.
langit bagaikan runtuh saat tau pria yang dulu meninggalkannya tanpa kabar kini muncul di depannya dan parahnya ia malah menolong anak pria itu.
tanpa ia ketahui akar permasalahannya bukan dari sudut pandangnya tetapi dari kebenaran di masa lalu yang membuat kesalahpahaman terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R3C2YMYFMYME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
"oh ya, rencananya kalian kapan bulan madu??"ucap mommy Gianna.
"tidak usah"ucap Vanessa reflek.
"hah?"
"maksudnya tidak usah repot-repot mom, Alaric Vanessa juga belum mempunyai waktu luang, terlebih saat ini kondisi Rafa juga belum benar-benar pulih jadi kami memutuskan untuk bulan madu di lain hari"ucap Alaric.
"iya itu maksudnya hehehe"ucap Vanessa.
"ohh begitu,baiklah kami tidak memaksa. tapi nanti kalau kalian mau bulan madu kan bisa titip Rafa sama kami, biar cucu kedua cepat datang gak sih"ucap mommy Gianna.
semuanya terkekeh kecil tanpa mengetahui ada seseorang yang mimik wajahnya berubah saat mendengar cucu kedua tersebut.
setelah selesai sarapan dan berberes-beres barang-barang mereka Alaric,Rafa dan Vanessa kembali ke mansion milik Alaric.
sepanjang jalan Rafa hanya diam di pangkuan Vanessa, dia tidak sestrem dan seceria seperti biasa. Vanessa membiarkan hal itu, karena ia ingin memberikan waktu kepada Rafa dan dia yakin suatu saat kamu pasti akan mengungkapkannya kepadanya.
"kita sudah sampai"ucap Alaric.
"nanti, datanglah ke ruang kerjaku. kita membahas tentang kontrak"ucap Alaric.
"ah baiklah"ucap Vanessa.
kalau mereka masuk ke dalam mansion itu Dan disambut oleh pelayan yang bekerja di mansion itu.
"selamat pagi Tuan nyonya, selamat atas pernikahannya, selamat pagi juga untuk tuan muda"ucap mereka.
"terima kasih semuanya, tidak perlu terlalu formal. terima kasih sudah menyambut kami"ucap Vanessa ramah.
Suster Selin juga baru datang dan membungkuk memberi hormat.
"selamat buk dokter sama direktur utama,semoga cepat di beri momongan"ucap suster seline
"mommy,Rafa cape.rafa mau bobok"ucap Rafa yang berada di gendongan Vanessa.
"ah baiklah
"mommy,Rafa ngantuk"ucap Rafa.
"ah baiklah, suster Selin tolong bantu bawakan Rafa ke kamarnya, aku dan Alaric ingin membicarakan sesuatu"ucap Vanessa.
"baik Bu bos"ucap suster Selin.
Rafa ya awalnya tidak tenang jika bersama suster seline kini malah sangat tenang dan sangat nurut.
"aku ingin berbicara sesuatu denganmu, sekalian kita tanda tangan surat kontrak"ucap Vanessa.
"ah baiklah"ucap Alaric.
lalu keduanya berjalan menuju ke ruang kerja milik Alaric.
Sesampainya di sana Vanessa menatap ke arah Alaric dengan tatapan serius.
"jadi apa yang ingin kamu bicarakan?"ucap Alaric.
Vanessa menarik nafas dan menghembuskannya perlahan seolah-olah ingin meringankan beban yang ada di dadanya.
"bisa kamu beritahukan aku sekarang kapan Rafa melakukan pengobatan tentang kondisi jantungnya??"ucap Vanessa.
"huff,Rafa sejak bayi sudah mengalami kelainan jantung yang membuatnya beberapa puluh kali masuk ke rumah sakit"ucap Alaric.
"kasihan anak sekecil Rafa harus menanggung penyakit itu"ucap Vanessa.
"menurut penilaian ku Rafa pernah melakukan oprasi jantung sebanyak 3 kali bukan??"ucap Vanessa.
"huff kau benar"ucap Alaric.
"aku ingin kamu mencari pendonor jantung"ucap Vanessa.
"apa maksud mu??"ucap Alaric bingung.
"sepulang dari hotel tadi dan sepanjang perjalanan aku tidak sengaja merasakan suhu tubuh Rafa yang rendah, dan terlebih denyut nadinya tidak teratur. selain itu Rafa juga berdiam diri selalu perjalanan tadi aku rasa dia pasti mengalami pusing,dan itu gejala dari kegagalan jantung"ucap Vanessa sambil menitikkan air mata nya.
"alangkah baiknya kita mencari pendonor jantung secepatnya untuk menanggulangi hal yang mungkin saja terjadi. selebihnya kita masih mempunyai banyak waktu untuk mencari pendonor itu tidak terburu-buru dan tergesa-gesa. aku juga kamu mengupayakan bagaimana untuk menstabilkan keadaan tubuh Rafa,"ucap Vanessa.
"baik, aku akan memberitahukan Richard untuk mencari informasi"ucap Alaric.
Alaric juga ikut meneteskan air mata saat mendengar apa yang diucapkan oleh Vanessa.
Alaric mengambil dokumen yang berisi kontrak yang harus mereka tanda tangan perkara permintaan Vanessa tadi malam.
"kamu bisa tandatangan"ucap Alaric tangannya sedikit bergetar saat menyerahkan dokumen dan pulpen kepada Vanessa.
Vanessa menghapus air matanya dan mengambil pulpen dan ingin menandatangani dokumen itu.
namun sebelum tinta pulpen itu menggores kertas putih itu Alaric tiba-tiba memeluk Vanessa dari belakang.
"apa yang kau lakukan??"ucap Vanessa.
"biarkan aku sebentar memelukmu"ucap Alaric dengan suara yang sedikit gemetaran.
Vanessa yang mengingat kebiasaan Alaric saat Alaric dilanda kecemasan dia pasti membutuhkan sandaran atau pelukan dari orang yang ia sayangi.
"jangan takut, Rafa juga anak ku. aku juga pasti juga menolongnya"ucap Vanessa.
"hiks terimakasih van,aku sangat berterimakasih. Rafa hiks dia hanya satu-satunya harta yang ditinggalkan oleh orang yang kukagumi dan kusayangi"ucap Alaric.
hati Vanessa yang mendengar itu sedikit terluka namun ia masih bersikap Tegar karena ia tahu bahwa Alaric pasti sangat mencintai mendiang istrinya dan ia tidak ingin kehilangan anak yang di kandungan dari orang yang ia cintai, Vanessa tau akan hal itu.
"hum, aku paham.kau tenang saja"ucap Vanessa.
setelah cukup lama memeluk Vanessa akhirnya Alaric melepaskan pelukannya.
Vanessa lalu kembali mengambil pulpen dan menandatangani kontrak itu.
"hum, sisa kamu lagi"ucap Vanessa sambil menyerahkan pulpen kepada Alaric.
Alaric mengambil pulpen itu dan menandatangani surat kontrak itu.
"kalau begitu aku mau ke kamar Rafa dulu"ucap Vanessa.
lalu Vanessa pergi menuju kamar yang dipunyai oleh Rafa.
saat membuka kamar Vanessa melihat Rafa yang tertidur lalap di atas tempat tidurnya.
"dok,maaf aku lancang tapi aku merasa ada yang aneh dengan kondisi tuan muda Rafa"ucap suster seline menghampiri Vanessa yang baru masuk.
Vanessa hanya tersenyum lalu berjalan menghampiri Rafa yang sedang tertidur.
Vanessa mengusap lembut rambut Rafa.
"suster Selin benar,jadi aku mohon suster Utuk tetap di sini untuk membantu saya mengawasi kondisinya"ucap Vanessa.
"baik dok"ucap suster Selin.
Vanessa mengalihkan tatapannya dari suster seline dan menatap ke arah Rafa yang tertidur lelap di samping.
"huff sayang padahal baru semingguan lebih kamu selesai melalui operasi,kenapa kondisi mu memburuk sayang hiks"gumam Vanessa lirih sambil terisak.
tanpa mereka sadari, sebenarnya anak kecil itu tidak tidur. dia hanya berpura-pura tertidur. berapa mendengar semua yang mereka ucapkan dan juga suara isakan Vanessa.
"apa kondisi Rafa memburuk lagi yah?aku gak boleh begini,aku tidak ingin membuat mommy nangis" batin Rafa.
"aku harus ceria untuk mommy GK nangis lagi" batin Rafa
"tapi cucu kedua, berarti anak baru dari Daddy dan mommy kan?apakah aku akan di asingkan kalau mereka sudah punya anak yang sehat tidak seperti aku yang penyakitan?" batin Rafa.
hal tersebut membuat Rafa sedikit merasa sakit di area dadanya,namun ia tidak berani bersuara atau bangun dari tidurnya yang pura-pura takut membuat mommy nya khawatir.
TBC
ternyata komunikasi & mengerti itu
no 1 ya...
untuk menyelesaikan permasalahan...
mereka jadi bahagia
dan 2 " nya
jadi bucin
dong ke Vanesa
biar gak ada kegundahan hati lagi...
si vanessa keras kepala gak mau denger penjelasan alaric..