Ketika perasaan datang di waktu yang berbeda, ketika perasaan datang di kala harapan sudah sirna. Andra Dwi Anggara, harus menelan sakitnya penyesalan ketika terlambat menyadari perasaan sahabatnya, Gabriella Tamara.
Tujuh tahun Gabriella mencintai Andra, namun lelaki itu tak pernah menyadari. Ketika Gabriella sudah pergi dan membuka hati untuk cinta yang lain, Andra baru menyadari perasaan yang ada dalam dirinya, yang ternyata adalah rasa cinta.
Gabriella dihadapkan pada pilihan yang sulit, mempertahankan Kairi Da Vinci, lelaki yang sudah menjadi keksihnya.
Ataukah kembali pada Andra, sahabat lama yang pernah mencuri hatinya?
Disaat Gabriella sudah yakin pada satu pilihan, lagi-lagi kenyataan mempermainkan jalan hidupnya. Satu fakta pahit menggoyahkan cinta yang telah ia jalin.
Sanggupkah Gabriella melewati ujian yang menderanya?
Kepada siapakah ia melabuhkan hatinya?
Temukan jawabannya hanya dalam novel TENTANG RASA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Welcome To London
"Itu bukan kesalahan Kak Dimas.
Itu musibah, Kak Dimas jangan terus marasa bersalah."
Dimas menatap Ella lekat-lekat.
"Maka dari itu tolong jangan menolak bantuan dariku.
Aku tidak ingin melihat kamu kesulitan sendirian. Aku sudah berjanji pada ayah kamu, untuk selalu menjaga kamu." kata Dimas.
"Kak Dimas sudah banyak membantuku." ucap Ella.
"Itu belum seberapa. Tinggallah di rumahku, agar aku bisa memastikan kamu selalu baik-baik saja." kata Dimas.
"Aku tidak bisa Kak." jawab Ella.
Dimas menghela nafas panjang.
Sungguh keras kepala gadis di hadapannya ini.
"Kenapa? Sudah ku bilang berkali-kali, jangan terlalu sungkan." ucap Dimas.
"Kita memang seperti keluarga.
Tapi bagaimanapun juga tidak ada hubungan darah diantara kita.
Aku merasa tidak enak sama Mbak Yura kalau tinggal satu atap dengan Kak Dimas.
Mbak Yura terlalu baik, aku tidak mau dia salah paham dan kecewa." jawab Ella menjelaskan maksudnya.
"Aku sudah bercerita banyak pada Yura. Dia tidak akan salah paham." kata Dimas.
Ella terdiam. Tidak tahu lagi harus menjawab apa. Semua alasan yang dia utarakan, dapat dipatahkan dengan mudah oleh Dimas.
"Kamu benar-benar ingin tinggal sendiri?" tanya Dimas kemudian.
Dia melihat raut keresahan di wajah Ella.
Ella hanya mengangguk, sambil terus menunduk.
"Kamu yakin?" tanya Dimas.
"Iya." jawab Ella dengan pelan, nyaris tidak terdengar.
"Kalau kamu tinggal sendiri, butuh banyak biaya. Uang untuk sewa, uang transport, dan juga untuk kebutuhan sehari-hari.
Kalau kamu tinggal sama aku, kamu berangkat kuliah bareng aku, letak Universitas Imperium itu searah dengan kantorku.
Jadi kamu gak perlu mengeluarkan banyak biaya, uangnya bisa kamu simpan untuk kebutuhan nanti." ucap Dimas menjelaskan dengan pelan.
Dia mencoba memahami sifat Ella.
Ella tidak bisa menerima bantuan dari orang lain begitu saja. Dan Ella juga termasuk orang yang sedikit keras kepala.
"Aku akan mencari tempat kos yang murah, dan juga dekat dengan kampus Kak." jawab Ella.
Lagi-lagi Dimas menghela nafasnya dengan kasar. Kali ini sambil memijit pelipisnya. Ada yang mudah, kanapa harus mencari yang sulit.
Ella Ella!
"Sebenarnya aku tahu tempat yang cukup dekat dengan kampus, tapi tempat itu sangat sederhana." kata Dimas.
"Benarkah? Aku mau Kak." jawab Ella antusias.
Dimas terheran melihat Ella yang begitu girang. Kok bisa ya, ditawari tempat tinggal mewah malah murung, giliran ditawari yang sederhana saja malah begitu senang. Aneh!
"Kamu yakin? Tempat itu sederhana banget El, kecil, dan fasilitasnya juga tidak lengkap."
"Aku yakin Kak." jawab Ella dengan mantap.
Untuk sekian detik Dimas masih terdiam. Masih memilih kata yang tepat untuk mengawali penjelasannya.
"Sebenarnya itu tempat tinggalku dulu, waktu pertama kali aku merintis karir di sini, aku membeli apartemen itu dan tinggal di sana.
Kalau kamu memang mau tinggal sendiri, tinggallah di sana, nanti aku akan menyuruh salah satu pelayanku untuk menemanimu." kata Dimas.
Ella belum menjawab, dia masih bingung.
"Bu Halimah sudah mempercayakan kamu padaku El, jadi tidak mungkin aku membiarkan kamu sendirian diluar sana." lanjut Dimas.
"Baiklah." jawab Ella pasrah.
"Perjalanan kita masih lama, tidurlah jika kamu lelah."
"Aku belum lelah Kak." jawab Ella.
"Terserah kalau begitu."
***
Setelah hampir 24 jam perjalanan dengan dua kali transit.
Kini Dimas dan Ella sudah sampai di Bandara Heathrow, bandara terbesar di Inggris. Ella menatap kagum saat pertama kali melangkahkan kakinya keluar dari pesawat.
"Kita sudah sampai di London Kak. bagus banget." kata Ella dengan tawa renyahnya.
"Kamu lucu ya El, waktu di Juanda saja kamu nangis-nangis, sekarang kamu kegirangan banget." ucap Dimas sambil mencubit pipi Ella.
"Ihh Kak Dimas kok gitu sih." Ella cemberut.
Dimas hanya terkekeh.
"Kak, nanti kita naik apa?" tanya Ella.
"Jalan kaki El." jawab Dimas.
"Memang dekat ya?" tanya Ella.
"22 Km kira-kira." jawab Dimas.
"Hah. Kak Dimas yang benar dong."
"Ya bener El." jawab Dimas dengan tertawa.
Mereka berdua masih berjalan pelan.
Sesekali berpapasan dengan orang yang berlalu lalang.
Ella terpaku, menatap kagum setiap bangunan-bangunan mewah yang ada di sana. Sampai ia tak sadar jika Dimas sudah berjalan jauh di depan.
Ella mempercepat langkahnya untuk menyusul Dimas.
Namun tiba-tiba, dia menabrak seseorang hingga terjatuh.
Kakinya terasa sakit sepertinya terkilir. Saat ia meringis dan mencoba untuk berdiri, seseorang yang ia tabrak telah membungkuk di depannya.
Seorang laki-laki yang sangat tampan. Kulitnya putih, hidungnya mancung, dengan mata biru yang menawan, sangat serasi dengan rambutnya yang berwarna kecoklatan. Benar-benar sempurna.
Mungkin dia adalah laki-laki tertampan yang pernah Ella temui. Ella terpukau dengan sosok di hadapannya, mata birunya sangat teduh, membuat Ella ingin berlama-lama menatapnya.
"Are you okey?" tanya laki-laki itu.
"Yeach." jawab Ella tergagap.
"I'm sorry." ucapnya kemudian.
Ella hanya tersenyum, dan mengangguk.
"Dia meminta maaf, padahal jelas-jelas aku yang menabraknya.
Ah baik sekali dia." batin Ella.
Lalu pria itu mengulurkan tangannya. Meraih tangan Ella, dan membantunya berdiri. Pria itu menatap Ella sambil tersenyum manis.
"A cute neklace (kalung yang manis)" kata pria itu sambil memandang leher Ella.
"Thank you." jawab Ella dengan senyuman.
"I have to go. See you. (Aku harus pergi. Sampai jumpa)" ucap pria itu sambil tersenyum, lalu ia melambaikan tangannya, dan pergi berlalu.
Ella memegangi liontinnya. Hatinya berdebar. Ada seseorang yang memuji kalung pemberian Andra.
"El." panggil Dimas sambil menghampiri Ella.
"Iya Kak." jawab Ella sambil menoleh.
"Kamu kenapa? Maaf tadi aku tidak tahu kalau kamu masih di belakang." kata Dimas.
"Aku tidak apa-apa Kak.
Hanya kakiku sedikit sakit, tadi menabrak orang ganteng terus jatuh." ucap Ella.
"Hahhhh." Dimas tersentak kaget.
"Menabrak orang ganteng El, mata kamu jeli juga ya." sambung Dimas dengan tertawa.
"Eehhh maksudku gak begitu.
Tadi itu aku menabrak orang gitu lo Kak." jawab Ella.
"Tapi orangnya ganteng." ucap Dimas menggoda Ella.
"Tau ah." jawab Ella cemberut.
Dimas tertawa. Lalu ia menuntun lengan Ella, saat dilihatnya gadis itu berjalan dengan sedikit tertatih.
"Kaki kamu sakit?"
"Sedikit."
"Bertahanlah, sebentar lagi kita sampai."
"Rumah Kak Dimas disekitar sini?"
"Enggak El, masih jauh, rumahku dipusat kota."
"Terus kita naik apa, tidak ada angkot Kak ."
"Memang kamu pernah melihat ya El, ada angkot masuk bandara."
Ella tidak menjawab.
Dia hanya tertawa sambil menatap Dimas.
"Terus kita naik apa.
Mobil-mobil itu boleh disewa gak sih?" tanya Ella dengan polos.
"Kamu bawel juga ya El.
Berubah 180 derajat dari waktu berangkat kemarin." ucap Dimas.
"Ya gak gitu Kak."
"Terus?"
"Aku kan cuma tanya. Apa susahnya sih langsung dijawab saja."
"Ya tidak susah sih, cuma tidak pengen saja." jawab Dimas sambil tertawa.
"Kak Dimas." teriak Ella.
"Kita dijemput Johan Ella."
"Siapa Johan?"
"Tuh kan bawel."
"Kan pengen tahu."
"Johan itu tangan kanan aku, tuh mobilnya sudah dekat." jawab Dimas sambil menunjuk kedepan.
Akhirnya mereka berdua masuk mobil, dan melaju ke pusat kota, menuju rumah Dimas.
Bersambung.....