Demi pengobatan sang ibu, Bella rela menjadi simpanan Steven, CEO PT. Graha Sanatama. Namun, jodoh dan maut di tangan Tuhan. Sang ibu tetap tak dapat diselamatkan.
Setelah ibunya meninggal, Bella melepaskan diri dari Steven. Namun, takdir kembali mempertemukan mereka ketika Bella diperkenalkan kepada keluarga Axel, kekasih barunya. Tanpa di sangka ternyata pria itu adalah adiknya Steven.
Steven cemburu melihat kemesraan Axel dan Bella. Dia nekat merebut kembali Bella dari adiknya itu.
Apakah takdir tetap mempersatukan Bella dan Steven, sedangkan ada hati lain di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Empat
Setelah dari perusahaan untuk menyelesaikan sedikit pekerjaannya, Steven akhirnya memutuskan ke rumah orang tuanya jam tiga sore. Dari tadi gawainya berdering terus dari sang mama yang memintanya cepat datang.
Dengan malas Steven akhirnya datang ke rumah orang tuanya. Dia sudah bisa menebak apa yang akan di obrolkan. Pastilah tentang gugatan cerai yang dia layangkan.
Steven keluar dari mobil dengan perasaan malas. Dia berjalan menuju pintu utama dengan langkah pelan. Membuka pintu utama itu dengan terpaksa. Dia berjalan masuk hingga tiba di ruang keluarga. Tampak Mama Marni dan istrinya yang sedang mengobrol dengan seriusnya.
"Selamat Sore, Ma," ucap Steven. Dia lalu mendekati Marni dan mengecup pipi wanita yang telah melahirkannya.
"Selamat Sore. Akhirnya kamu datang juga. Mama kira kamu tak akan mau ke rumah ini lagi!" seru Mama Marni.
"Ma, bagaimana bisa Mama berpikir begitu. Aku tak akan pernah melupakan rumah ini. Banyak kenangan manis saat masa kecil dulu!" balas Steven.
Steven memilih duduk dekat mamanya. Nicky terus memandangi suaminya itu. Selain karena uangnya, dia tak rela melepaskan pria itu karena dia tahu bagaimana perhatian dan bucin nya pria itu jika telah jatuh cinta. Rasanya tak rela jika semua itu di berikan pada wanita lain.
"Kamu pasti bisa menebak apa yang akan mama obrolkan," ucap Mama Marni memulai percakapan.
"Mana mungkin aku tau apa yang ada dalam pikiran Mama!" seru Steven. Padahal dari awal dia sudah bisa menebak apa yang akan mamanya tanyakan dan obrolkan.
Steven melirik Nicky, istrinya itu terlihat menunduk. Seolah dia wanita yang paling tersakiti. Playing victim, gumam pria itu dalam hatinya.
"Apa benar kamu telah mendaftarkan gugatan ceraimu pada Nicky?" tanya Mama Marni.
Beruntung saat ini Papa Darimi belum pulang. Jika sedang berada di rumah sudah pasti dia akan langsung marah mengetahui semua ini.
"Benar ...," jawab Steven tanpa ragu.
"Kenapa kamu ingin bercerai? Mama melihat hubungan kalian selama ini baik-baik saja," balas Mama Marni.
Steven tersenyum mendengar ucapan mamanya. Semua yang terlihat terkadang menipu mata. Yang terlihat baik, belum tentu baik, begitu sebaliknya. Yang terlihat jelek, belum tentu itu buruk.
"Aku sudah tak mencintai Nicky lagi. Rumah tangga yang kami jalani tidak sebaik yang mama lihat. Aku dan Nicky sudah tak seranjang selama enam bulan," kata Steven dengan penuh keyakinan.
Nicky tampak menarik napas. Tak percaya mendengar jawaban dari suaminya. Pria itu mengakui tidak mencintainya lagi.
"Sudah sejauh ini masalah kamu dan Nicky. Kenapa kamu tak pernah bicara jujur jika Steven tak pernah pulang, Nicky?" tanya Mama dengan menantunya itu.
Nicky menarik napasnya. Dia berusaha mengeluarkan air mata agar terlihat menyedihkan. Steven memandangi dengan tersenyum miris. Entah sandiwara apa lagi yang akan ditunjukan wanita itu.
"Aku tak mau nanti menjadi beban bagi Mama. Aku masih berusaha memperbaiki hubungan kami. Aku sangat mencintai Steven. Aku masih berharap semuanya bisa diperbaiki, Ma," jawab Nicky dengan suara lembut.
Mama Marni tampak mengangguk tanda setuju. Nicky dalam diam tersenyum. Dia yakin ibu mertuanya itu lebih percaya ucapannya.
Dia telah mengenal wanita itu hampir delapan tahun. Dia tahu kelemahan Mama Marni. Dengan sedikit menjual kesedihan, wanita itu pasti percaya.
"Kamu dengar sendiri apa yang Nicky katakan. Dia masih saja menutupi kesalahanmu. Apa lagi kurangnya Nicky? Jika ada sedikit saja kesalahpahaman seharusnya di selesaikan dengan kepala dingin, bukan langsung menggugat cerai. Apa mungkin kamu punya wanita lain, seperti yang istrimu takutkan?" tanya Mama Marni.
Steven kembali tersenyum miris, bahkan dia tertawa sumbang mendengar ucapan sang istri. Wanita itu pandai membalikan fakta. Dan bodohnya sang mama percaya dengan ucapan busuk wanita itu.
"Mama benar. Aku memang memiliki wanita lain yang aku cintai. Bahkan saat ini dia sedang mengandung anakku!" jawab Steven jujur.
Jawaban Steven bukan saja mengejutkan bagi Nicky, tapi juga bagi Mama Marni. Dia tak mengira jika putranya sudah melangkah jauh. Dia tak suka dengan wanita simpanan.
Mama Marni jadi teringat suaminya. Dia juga memiliki wanita lain, tapi Darimi tak menggugat cerai dirinya. Pria itu memilih untuk tetap mempertahankan rumah tangga mereka. Seperti saat ini, Marni bisa menebak jika suaminya sedang berada dalam pelukan madunya.
Wanita itu bisa merasakan bagaimana perasaan Nicky saat ini. Rasanya bumi ini runtuh saat mengetahui pengkhianatan sang suami.
Tanpa di duga tangan Mama Marni terangkat dan menampar sang putra. Dia tak suka pengkhianat.
"Dengan tanpa perasaan kamu mengatakan jika ada wanita lain. Apa kamu tak memikirkan hati istrimu yang terluka karena pengkhianat yang kamu lakukan itu? Apa kamu tak memikirkan bagaimana hancurnya hati Nicky saat ini? Apa karena dia belum hamil juga sehingga kamu berselingkuh?" tanya Mama Marni dengan suara lantang.
Steven memegang pipinya yang terasa panas, belas tamparan mamanya. Wanita itu sepertinya sangat marah sehingga tega menamparnya. Dari kecil baru kali ini sang mama melakukan kekerasan. Jika sang papa bagi Steven sudah biasa.
Papa Darimi selalu memukulnya dengan ikat pinggang jika dia dan Axel berkelahi. Tak peduli jika kesalahan itu dilakukan Axel bukan dirinya. Tapi yang menjadi sasaran kemarahannya pastilah Steven.
"Aku melakukan ini juga agar kami tak saling menyakiti lagi. Dengan kami berpisah, tak ada lagi luka. Apa mama tahu jika pengkhianat dalam rumah tanggaku, berawal dari Nicky. Dia yang memiliki pria lain dari awal pernikahan kami!" ucap Steven dengan suara lantang.
Nicky tentu saja tak mau terima dengan ucapan suaminya. Dia tak boleh diam. Harus mencoba membela diri agar di mata mertuanya dia tetap menantu terbaik.
"Stev, harus berapa kali aku katakan. Aku tak pernah mengkhianati kamu. Hubunganku dengan pria itu hanya sebatas teman!" seru Nicky.
"Teman ranjang atau teman tidur!" balas Steven.
'Cukup Steven! Kamu yang berkhianat kenapa jadi istrimu yang jadi tertuduh. Tidak kah kamu ingat pengorbanan yang Nicky lakukan. Jika dia memiliki pria lain tak mungkin mau berkorban dengan mendonorkan darahnya untukmu!" ucap Mama Marni.
"Aku tak akan mengkhianati Nicky jika memang dia seperti yang mama katakan. Dia mengkhianati ku dari sebelum pernikahan. Tanyakan saja pada dirinya, apa tujuannya menikah denganku jika tubuhnya juga diberikan pada pria lain!" seru Steven dengan geram.
"Jika kamu memiliki wanita lain, jangan kau balikan fakta dengan menuduh istrimu yang bersalah. Jikapun memang bersalah, seharusnya cari jalan keluar bukan dengan menikah lagi!"
Steven merasa tak perlu lagi bicara dengan Mama Marni dan Nicky. Dia lalu berdiri. Merogoh sesuatu di saku celana.
"Aku rasa tak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Ma. Kesalahanku saja yang tampak di mata Mama. Aku tak akan mengkhianati Nicky jika dia setia. Coba Mama lihat ini, setelah itu baru kita bicara lagi!" seru Steven dengan memberikan beberapa lembar foto.. Setelah itu dia melangkah pergi meninggalkan kedua wanita itu.