"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas Akhir Sang Tiran
Sepanjang perjalanan keluar dari basemen hotel, Senja cuma bisa diam seribu bahasa. Dia duduk tegak di kursi penumpang dengan tangan yang masih meremas tali seatbelt erat-erat. Otaknya masih memutar ulang adegan Arsen mematahkan pergelangan tangan orang dalam waktu dua detik.
Di sebelahnya, Arsen menyetir dengan satu tangan. Wajahnya kembali lempeng, tatapannya lurus ke depan membelah jalanan Jakarta yang mulai sepi karena sudah hampir tengah malam.
"Pak Arsen..." Senja akhirnya membuka suara, memecah keheningan kabin mobil yang kedap. "Bapak beneran nggak apa-apa? Maksud saya... itu tadi tiga orang loh, Pak. Dan mereka bawa senjata."
"Saya sudah bilang, mereka cuma preman amatir. Dan saya mantan atlet," sahut Arsen datar, suaranya terdengar stabil seperti biasa. "Kamu tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting, Senja."
Senja mendengus pelan, memalingkan wajah ke jendela. Dasar robot, sombongnya nggak ilang-ilang, batinnya kesal. Tapi setidaknya, jawaban angkuh Arsen membuat rasa takut Senja sedikit mereda.
Namun, ketenangan itu nggak bertahan lama.
Saat mobil mereka baru saja melewati daerah Semanggi, Senja merasakan laju SUV hitam ini mulai tidak stabil. Mobilnya agak sedikit oleng ke kiri sebelum akhirnya Arsen meminggirkan kendaraan dengan mendadak ke bahu jalan yang sepi di bawah jembatan layang.
Ckiiit.
"Pak Arsen? Kenapa berhenti?" tanya Senja bingung.
Arsen tidak menjawab. Pria itu melepaskan kedua tangannya dari setir mobil, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan sentakan kasar. Napas Arsen yang tadinya teratur mendadak berubah menjadi pendek-pendek dan berat. Kedua matanya terpejam rapat, dan rahangnya yang tegas tampak mengatup begitu kencang sampai urat di lehernya bermunculan.
Senja otomatis panik. Dia memajukan tubuhnya, memperhatikan wajah bosnya. Di bawah remang-remang lampu jalanan yang menembus kaca mobil, wajah Arsen kelihatan sangat pucat, bahkan jauh lebih pucat daripada saat di kantor kemarin pagi. Butiran keringat dingin berukuran besar membanjiri pelipis dan lehernya.
"Pak? Pak Arsen, lo kenapa?!" Senja panik, reflek menghilangkan embel-embel formalnya.
Tangan kanan Arsen perlahan bergerak turun, memegangi pinggang kirinya sendiri. Saat tangan itu terangkat kembali, Senja seketika menahan napasnya dengan mata membelalak horor.
Telapak tangan Arsen sudah dipenuhi oleh cairan kental berwarna merah pekat yang segar.
Senja langsung mengalihkan pandangannya ke arah perut samping Arsen. Di balik jas tuxedo-nya yang terbuka, kemeja putih mahal yang dipakai Arsen malam ini sudah berubah warna. Noda darah berukuran besar merembes dengan cepat, meluas seperti tinta yang tumpah di atas kain putih.
Jahitan luka tusukan Arsen robek total akibat gerakan kasarnya saat menghajar tiga orang di basemen tadi. Pria itu memaksakan tubuhnya bekerja melewati batas normal demi melindungi Senja.
"Sialan... jahitannya lepas," desis Arsen lirih. Suaranya terdengar sangat parau, serak, dan menahan rasa sakit yang luar biasa dahsyat. Tubuh kokohnya mulai gemetaran kecil.
"Astaga, Pak Arsen!! Darahnya banyak banget!!" pekik Senja hancur lebur fokusnya. Dia buru-buru melepas seatbelt-nya, bergeser mendekati kursi Arsen tanpa peduli ruang kabin yang sempit. "Gue bilang juga apa! Sok-sokan sih lo jadi pahlawan! Sekarang kita ke rumah sakit, biar gue yang nyetir—"
"Jangan. Nggak boleh ada rumah sakit," potong Arsen cepat. Tangan kanannya yang berlumuran darah mendadak mencengkeram pergelangan tangan Senja dengan sisa tenaga yang dia punya. Tatapan mata elangnya yang mulai sayu menatap Senja dengan kilat memohon yang sangat pekat. "Jangan ke rumah sakit... atau dokter umum. Terlalu banyak... pertanyaan nanti."
"Tapi lo bisa mati kehabisan darah, bego!" bentak Senja, air matanya hampir menetes karena frustrasi dan takut setengah mati melihat kondisi Arsen yang makin melemah. "Terus kita harus ke mana?!"
Arsen mengembuskan napas berat, kepalanya terkulai lemas bersandar pada jok mobil. "Buka laci di bawah kursi kamu. Ada kotak obat... dan peralatan medis. Bawa saya... ke apartemen saya. Tempatnya privat."
Senja menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup gila-gilaan. Dia melihat tangan Arsen yang perlahan terkulai lemas di atas pangkuannya, dengan napas yang semakin lemah.
Senja tahu, menuruti perintah Arsen berarti dia akan melangkah masuk semakin dalam ke rahasia gelap cowok ini. Tapi melihat Arsen yang terluka parah demi melindunginya di basemen tadi, Senja nggak punya pilihan lain. Dia nggak bisa membiarkan tiran menyebalkan ini mati di depannya.
Dengan tangan gemetar, Senja buru-buru keluar dari pintu penumpang dan berlari memutari mobil menuju kursi pengemudi. Dia membantu menggeser tubuh lemas Arsen ke tengah kabin, lalu menyambar setir mobil.
"Tahan, Pak Arsen. Jangan berani-berani lo pingsan sekarang ya!" seru Senja sambil menginjak pedal gas dalam-dalam, membelah malam Jakarta menuju alamat apartemen Arsen.
Di dalam hatinya, Senja bersumpah, setelah malam ini kelar, dia bakal menuntut penjelasan jujur dari mulut cowok itu. Nggak ada lagi alasan olahraga anggar atau preman amatir. Arsen Malik harus jujur siapa dirinya sebenarnya.