Terpesona sama Abang Kuli bangunan?
Queen Zenitha Aureliand, putri semata wayang pengusaha besar di kota Chend. Bagaimana mungkin terpesona kepada pria biasa, yang hanya bekerja sebagai kuli bangunan?
Awal pertemuan, disaat Sein Nanendra bekerja untuk membangun gedung yang dimiliki keluarga Liand. Pesonanya mampu memikat sang Queen dari keluarga Liand.
Apakah akan ada cinta, di balik perbedaan kasta mereka?
cover sumber Bing
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
belajar masak
Rumah yang tidak terlalu besar, namun cukup untuk mereka bertiga. Rumah yang di hadiahkan oleh Demi untuk Shein. Hadiah atas keberhasilan dirinya menyelesaikan satu proyek yang dia rancang sejak dulu.
Bersyukur Zenitha menerima semua kesederhanaan itu. Shein menolak untuk menerima pemberian dari Liand. Segala kemewahan itu di tolak mentah-mentah olehnya. Shein, tidak akan mau menerima pemberian orang lain dengan mudahnya.
Terbiasa hidup mandiri, bekerja keras untuk melengkapi apa yang dia inginkan. Zenitha banyak belajar dari kehidupan Shein dan Aisyah. Perlahan mulai terbiasa dengan kesibukan di rumah. Merapikan kasur mereka dan kamar, bahkan memasak walau pun belum mengolahnya sendiri.
Dan kali ini, untuk pertama kalinya bagi Zenitha membuat sarapan. Aisyah yang sudah selama dua hari ke desa Chuan. Menemui orang tuanya di desa itu.
Tidak ada paksaan, tapi Zenitha akan berusaha di dapur itu. Memasak apa pun yang dia sudah bisa. Termasuk, merebus sayuran hijau. Membuat sambal pedas, dan menggoreng ikan atau ayam. Terlihat gampang, tapi nyatanya ... Di luar ekspektasi!
"Aaa ...."
Zenitha berteriak saat cipratan minyak mengenai tangannya. Ikan itu bersuara keras saat dimasukan kedalam minyak panas. Satu ikan nyemplung, membuat Zenitha lari ngibrit untuk menjauh. Sampai ikan kedua, Zenitha melakukan hal yang sama.
Menggunakan tutup panci besar untuk menghalangi minyak mengenai wajahnya. Cukup hebat Zenitha, hemm!
"Ya Allah ...."
Zenitha membalik ikan itu, maju dan mundur. Sampai akhirnya ikan menjadi gosong. Sangat luar biasa kemampuan tuan putri satu ini.
"Mengiris bawang. Aku akan membuat bawang goreng untuk rebusan sayuran hijau itu. Hemm, terlihat melezatkan."
Zenitha meletakkan ikan gosongnya ke piring. Mengambil bawang merah untuk dijadikan bawang goreng. Sayuran itu sudah matang, dia ingin menambahkan bawang goreng agar lebih lezat. Seperti yang di lakukan Aisyah.
Kletak! Kletok!
Suara pisau cukup membuat keributan di dapur. Bahkan mampu membuat Shein merasa heran di dalam kamarnya. Kesibukannya dengan tugas membuat Shein mendadak tidak mood lagi belajar.
Ini akibat gaya sok keren dari seorang Queen. Ingin membuatkan sarapan, yang padahal Shein ingin melakukan itu. Shein faham betul gimana Zenitha. Karena paksaan, Shein mencoba menghargainya.
"Huaaa ... Berdarah!" Teriaknya memandang satu jemarinya ikut teriris itu
Shein yang kaget dengan teriakan itu langsung berlari. Khawatir jika Zenitha mengalami cidera serius.
"Ada apa?"
Shein mendekati Zenitha yang sudah menangis itu. Memperlihatkan jemarinya yang berdarah.
"Ya Allah." Shein menepuk jidat, memandang jemari yang terluka sedikit itu. Pikirnya cukup menyeramkan, ternyata astaghfirullah.
"Huaaa ... Berdarah, bang." Ucapnya menangis histeris
"Gak perlu nangis kejer, Zenitha. Ini cuman luka kecil loh."
Shein mengambil plaster, membersihkan luka Zenitha di air mengalir. Lalu membungkusnya dengan perasaan heran. Cukup aneh bukan?
"Gak ada juga setengah sendok darahnya. Malah, kamu, nangisnya mau bikin kebanjiran gini." Ucap Shein
"Sakit, bang. Tega banget lah ... Huhu ...."
"Lebay-nya." Ucap Shein menggelengkan kepala. Memerhatikan tingkah Zenitha seperti anak kecil
"Masih trauma sama darah, gara-gara, Abang." Ucapnya ketus
Shein mengerutkan dahi. "Eh?"
"Pura-pura lupa, padahal dia yang menyakiti aku tadi malam." Ucapnya yang masih menangis
"Heh!" Shein melototkan matanya dan mendapatkan tatapan marah dari Zenitha. "Makanya jangan ngatai aku gak normal. Menyesal, kamu, sekarang?"
Zenitha menatap sendu wajah tampan itu. "Jahatnya ya Allah ...." Ucapnya lirih
"Mana ada jahat." Sahut Shein
"Jahat lah. Istrinya kepotong pisau tenang aja."
Shein menepuk jidat. "Astaghfirullah. Gak tahu lagi mau ngomong apa aku, Zent." Sahutnya
"Tenangi gitu aku-nya, coba di peluk di manjain. Belum pernah aku kena pisau nih, usaha buat nyenengin, Abang, loh ini." Ucapnya
Shein kehabisan kata-kata, menuruti kemauan Zenitha mungkin akan selesai. Memeluknya mengelus rambut panjangnya, mengecup kepalanya berulang kali. Sampai Zenitha berhenti menangis. Sungguh dramatis istrimu Shein!
"Udah cukup." Zenitha mendorong Shein untuk menjauh
Kembali melanjutkan tugasnya untuk memasak. Shein duduk manis memerhatikan kesusahan istrinya dalam memasak itu. Bahkan, ingin rasanya Shein mengambil alih pekerjaan itu. Rasanya sangat aneh dan terlalu dramatis.
"Sarapan ya, bang." Ucapnya tersenyum nyengir
Shein mengerutkan dahinya memandang ikan goreng di atas meja itu. "Kamu, apakan ikan ini, Zent?" Shein meraih piring berisi ikan. "Sungguh malang nasibmu ikan." Ucapnya lirih
"Lebay-nya. Gosong dikit gak ngaruh." Sahut Zenitha yang sudah meletakkan nasi yang terlalu lembek itu
"Waduh, di kasih bubur aku." Shein kembali menatap kasihan nasi malang itu
"Maaf, bang. Kebanyakan air, habisnya lupa takarannya gimana. Itung-itung makan bubur ikan gosong pagi ini." Ucapnya nyengir
Shein menepuk jidat, tau begini dia yang masak. Malah dapurnya berantakan akibat ulah Zenitha. Minyak nyiprat kemana-mana. Belum lagi sampah sayuran yang masih berantakan di meja dapur.
"Astaghfirullah. Sholat tobat aku habis ini." Ucap Shein
"Cukup, bang?" Zenitha mengisi piring itu dengan nasi lembeknya. Mencoba mengikuti cara Aisyah yang sering melayani abangnya
"Sudah." Sahutnya yang lebih dulu menelan ludah. Bukannya ngiler, tapi tak terbayang dengan rasanya
Zenitha mengambil sayuran yang dia rebus, mengisi piring Shein dengan sayuran itu. Cukup sempurna sayuran itu, tapi tidak dengan rasanya.
"Jangan di tuang." Ucap Shein yang menahan tangannya
"Loh ... Bukannya, Abang, suka makan sedikit berkuah?" Zenitha memegang mangkuk sayur rebusan itu
"Nasinya sudah cukup berair, gak perlu lagi air dari sayur. Begini ucap cukup." Ucap Shein yang mencoba tersenyum
"Oh, oke." Zenitha beralih ke sambal pedas kesukaan Shein. Sepertinya terlihat lezat. "Mau banyak, bang?" Tanyanya
"Sedikit dulu, nanti bisa nambah." Sahutnya
Zenitha melayani Shein seperti Aisyah. Menyiapkan sarapan dan mengisi piring kosong itu menjadi penuh dengan nasi dan lauk. Hanya saja, olahannya sangat aneh bukan?
Shein memandang sendu piringnya itu. Melihat bentuk nasi selayaknya bubur. Ikan gosong seperti kayu terbakar api menjadi arang. Hanya sayur dan sambal itu yang terlihat sempurna.
Shein mencicipi hidangan yang di buat untuknya. Mencoba menghargai segala usaha sang Queen. Shein membaca bismillah, menahan ekspresi aneh dari wajahnya.
Bersyukur kuah itu tidak berenang di piringnya. Jika tidak, sudah menjadi lautan nasi asin piring Shein. Mencoba dengan sayur itu, ternyata lumayan asin juga. Cukup membuat naik tensi kaum bapak-bapak.
"Enak, bang?" Tanya Zenitha
"Kamu, makan lah. Keburu siang, nanti telat kuliah." Sahut Shein
Zenitha memerhatikan lahapnya Shein memakan semua itu. Zenitha tersenyum puas, merasa telah berhasil menguasai lambung Shein. Tanpa dia sadari, jika Shein terbiasa memakan apa yang bisa dia makan. Kasihan Shein!
"Ya Allah ... Asin banget." Teriak Zenitha yang langsung memuntahkan makanannya
Shein memandang santai sikap Zenitha itu. Mencoba menahan tawa atas kelucuan yang dialami istrinya sendiri. "Kenapa di muntahkan? Lumayan enak kok." Ucapnya
Zenitha mengusap bibirnya, merasa aneh dengan setiap rasa masakan itu. Sayuran yang terasa asin, sambal yang terlalu manis karena tidak di kasih garam olehnya. Dan tentunya ikan gosong yang tidak berasa ikan lagi. Dengan nasi selayaknya bubur bayi. Astaghfirullah!
"Bang, jangan di paksain deh. Gak enak banget rasanya." Ucap Zenitha yang menarik piring Shein
"Gak apa-apa, namanya belajar." Shein menarik kembali piringnya. Harus bisa menghabisi semuanya pikir Shein
Zenitha terus memandanginya sampai Shein selesai. Sungguh kagak tega juga Zenitha melihat Shein seperti itu. Melihatnya makan mie instan aja gak tega. Apa lagi memakan makanan yang aneh rasanya.
tp LBH enak..." nyonya meminta untuk makan bersama di meja makan Queen"