Arya dan Rania dipaksa menikah oleh kedua orang tua masing masing karena tidak ingin wanita lain yang merawat bayi yang dilahirkan oleh Ayumi yang tidak lain dari kakak dari Rania sendiri. Arumi meninggal dunia tak lama setelah melahirkan anak keduanya.
Ternyata menjadi ibu sambung untuk anak yang terbiasa memanggil dirinya Tante dan menjadi istri dari laki laki yang terbiasa dia panggil kakak ipar adalah hal yang paling sulit dalam hidupnya. Sofia, putri pertama Arya dan Arumi yang sudah berusia sepuluh tahun tidak menerima Rania sebagai ibu sambung. Kata kata hinaan dan kata kata tuduhan dari Sofia menjadi santapan Rania di awal pernikahannya dengan Arya. Bukan hanya Sofia yang menolak kehadirannya. Arya yang seharusnya memberikan perlindungan kepada Rania. Laki laki itu juga sangat jelas menunjukkan kebenciannya pada Rania.
Lalu, sanggupkah Rania bertahan. Apakah Rania tega meninggalkan Rio yang mengenal dirinya sebagai ibunya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Diri
Terkadang apa yang dipikirkan tidak sesuai dengan kenyataan. Begitu lah yang dialami oleh Arya selama satu Minggu sejak kepergian Rania dari rumahnya. Dia pernah berpikir jika hidupnya akan tenang. Dan bisa mengurus dua buah hatinya tanpa Rania.
Ternyata kenyataan yang terjadi. Arya merasa tidak tenang memikirkan kedua buah hatinya yang diasuh oleh bibi Nining dan Usi. Bagaimanapun, bibi Nining dan putrinya adalah orang lain bagi kedua putrinya. Berbeda dengan Rania. Seandainya pun Arya tidak menikahinya. Ada hubungan darah antara Rania dan kedua buah hatinya.
Selama satu Minggu ini. Arya merasa ditinggal oleh orang orang terdekatnya. Hanin sebagai sahabat yang selalu ada untuk keluarganya. Selama satu Minggu itu juga menghilang tanpa kabar. Bahkan Arya tidak bisa menghubungi Hanin dan suaminya ketika hendak meminta tolong memantau rumah ketika dirinya berada di luar kota seperti saat ini.
Baru kali ini. Arya tidak fokus bekerja. Biasanya jika berada di luar kota seperti saat Arya tidak merasa khawatir sedikitpun tentang keadaan rumahnya. Tapi entah mengapa. Saat ini pikirannya selalu tertuju pada dua buah hatinya. Dia sudah menghubungi bibi Nining. Jawaban dari wanita itu memuaskan tapi hal itu tidak bisa menghilangkan kekhawatiran di hatinya.
Apa yang dirasakan Arya saat ini persis seperti yang dialaminya ketika mendapatkan kabar tentang Ayumi yang masuk rumah sakit beberapa bulan yang lalu. Mengingat Ayumi. Detak jantung Arya berpacu lebih cepat.
Arya akhirnya mengambil keputusan untuk kembali ke kantor pusat hari itu juga. Untung saja penerbangan untuk sore hari masih ada sehingga Arya bisa kembali ke rumah hari itu juga.
Ternyata kekhawatiran Arya beralasan. Tiba di rumah, Arya mendapati putri kesayangannya demam tinggi.
"Mengapa bibi berbohong?. Bibi mengatakan keadaan rumah baik baik saja. Nyatanya Sofia demam tinggi," tanya Arya marah. Wajah Sofia terlihat memucat dengan pandangan yang sangat sayu.
"Non Sofia masih baru demam tadi pagi pak. Maafkan saya. Lagi pula non Sofia juga melarang untuk memberitahukan pada bapak. Iya kan, Non?"
Sorot mata Arya terlihat kecewa. Dia tidak mau berdebat dengan bibi Nining. Arya langsung mengangkat Sofia keluar dari kamar. Langkahnya terburu-buru menuju mobil. Di pikiran Arya. Sofia harus mendapatkan penanganan medis secepatnya.
"Demamnya tinggi pak. Kemungkinan besar tifus atau demam berdarah. Untuk memastikan. Perlu dilakukan test darah besok pagi," kata sang dokter setelah memeriksa keadaan Sofia. Arya semakin lemas. Dua penyakit yang membahayakan nyawa jika tidak cepat mendapatkan penanganan medis.
"Lakukan pengobatan terbaik untuk putri saya, dok," kata Arya.
"Baik pak."
Arya ikut menangis merasakan sakit yang dirasakan Sofia. Sofia menangis histeris ketika perawat menusuk pergelangan tangannya dengan jarum suntik. Tangisan dan pergerakan Sofia membuat perawat kewalahan melakukan tugasnya.
Besoknya, di tempat lain. Rania juga ikut sedih mendengar kabar Sofia. Rania sampai menitikkan air matanya. Keadaan keponakannya tidak dalam keadaan baik setelah ditinggal ibu kandungnya. Dia ingin mengabarkan keadaan keponakannya itu pada kedua orangtuanya. Tapi keinginan itu tertahan mengingat rumah tangganya dengan Arya dalam keadaan tidak baik.
"Jadi bagaimana, kamu tidak ingin menjenguk Sofia?" tanya Hanin.
Keadaan Sofia diketahui Rania dari Hanin. Hanin mendapatkan berita itu juga dari guru Sofia. Niatnya ingin menemui Sofia di sekolah yang ada mendapatkan kabar kurang enak. Hanin mengkonfirmasi berita itu pada Arya. Dan ternyata benar. Hanin langsung meminta Rania bertemu di kafe.
"Belum tahu mbak," jawab Rania sedih. Dalam hati, keinginan Rania sebenarnya ingin ke rumah sakit secepatnya. Tapi mengingat sikap suaminya. Rania menahan keinginan itu.
"Apapun yang terjadi dengan pernikahan mu. Sofia tetaplah keponakanmu. Menurut mbak, ada baiknya kamu kembali ke rumah. Sofia dan Rio benar benar membutuhkanmu. Apalagi saat Sofia di rumah sakit saat ini."
Hanin memberikan nasehat pada adik sahabatnya. Dia ingin yang terbaik untuk rumah tangga Arya dan Rania. Apalagi setelah Rania pergi. Sofia sakit. Itu artinya peran seorang Rania sangat dibutuhkan di kehidupan Arya.
"Aku mengerti, mbak. Tapi aku punya harga diri. Aku pergi dari rumah itu karena seijin kak Arya."
Mengingat ijin Arya. Entah mengapa hati Rania sangat sesak. Saat itu, dia sedang marah dan tersinggung. Saat itu, dia ingin Arya percaya pada dirinya. Dan menahan dirinya supaya tidak pergi. Tapi apa yang terjadi. Arya membiarkan Rania pergi seakan itu yang diinginkan oleh Arya.
Kembali ke rumah itu tanpa ada permintaan dari Arya sendiri. Sampai matipun. Rania tidak akan melakukan itu. Jika Arya tidak menurunkan egonya. Maka Rania siap menghadapi hal terburuk dalam rumah tangganya. Termasuk bercerai. Tentang Sofia yang saat ini berada di rumah sakit. Rania sangat yakin. Tanpa kehadirannya, Sofia pasti akan sembuh.
"Mbak berencana ke rumah sakit. Apa kamu tidak ingin ikut?" tawar Hanin.
Mendengar perkataan Hanin, seketika Rania merasa lega. Sofia pasti akan mendengar Hanin. Keponakannya itu akan cepat sembuh jika dikunjungi apalagi ditemani oleh Hanin.
"Terima kasih mbak. Mbak duluan saja ya. Kalau ada waktu, aku pasti menjenguk Sofia," jawab Rania.
"Sofia keponakan mu loh, Ran," bujuk Hanin sekaligus mengingatkan Rania.
"Aku tahu mbak."
Rania menyembunyikan wajah sedihnya. Andaikan Sofia menginginkan dirinya. Rania pasti mengutamakan keponakannya dari pada wawancara kerja hari ini dan besok. Ada kerinduan di hati wanita itu untuk dua keponakannya.
Selama satu Minggu ini. Rania aktif melamar pekerjaan. Dan hasilnya, dua jam lagi. Dia akan wawancara kerja dan besok juga ada jadwal wawancara.
Hanin mengerti apa yang dirasakan oleh Rania. Menghadapi sikap Arya. Memang perlu menjaga harga diri. Jika Rania kembali ke rumah Arya tanpa permintaan laki laki itu. Bukan tidak mungkin, Arya semakin menilai Rania rendah. Dan bisa saja semakin tidak menganggap Rania.
"Kamu sudah memberitahu Rania tentang keadaan Sofia?" tanya Hanin pada Arya di kamar perawatan Sofia. Ternyata Sofia positif tifus.
Hanin bertanya itu meskipun kenyataannya Rania sudah mengetahui keadaan Sofia.
"Belum."
"Kenapa?"
Arya tidak menjawab melainkan tangannya sudah bermain di layar ponsel.
"Aku sudah memberitahunya," kata Arya.
"Jika kamu merasa membutuhkan sosok ibu untuk kedua anakmu. Sebaiknya secepatnya kamu menjemput Rania di kostnya sebelum dia pergi jauh," kata Hanin. Hanin punya alasan untuk mengatakan hal itu. Rania menjalani wawancara kerja bukan untuk bekerja di kota itu melainkan di luar kota provinsi.
"Seharusnya mengetahui Sofia sakit seperti ini. Sebagai seorang Tante. Dia kembali ke rumah."
"Rania adalah wanita yang menjunjung tinggi harga dirinya. Dia pergi karena ijinmu. Maka dia tidak akan kembali tanpa permintaanmu. Ingat itu Arya. Jangan sampai kamu menyesal karena sikap kekanakan mu itu."
pantes dr kmrn cek riceknko gk update 😁