sekuel dari novel KEPEDIHAN
Tere Anderson, adik sepupu dari Ziko Anderson, karena kekejamannya di masalalu, Tere dikirim ketempat terpencil, dimana tempat anak buah Ziko tinggal, dia diberi hukuman atas segala perbuatannya, Agar tidak pernah melakukan kekejaman dimasa yang akan datang, namun siapa sangka ditempat yang baru Tere di dampingi oleh pria yang selama ini menyiksanya, bahkan orang yang dengan tega menghancurkan hidupnya, namun karena kebencian dan ketakutan Tere padanya, Tere lebih memilih bungkam.
Jay Kusuma, dia sejujurnya sangat tidak suka diperintah untuk merubah perilaku Tere yang menurutnya tidak punya etika sama sekali, namun ketika Jay mengingat perbuatan Tere, dia bersemangat untuk memberi pelajaran pada wanita tidak punya sopan santun itu.
bagaimana kisah keduanya, yuk kita simak bersama
happy reading 💞💞💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia pakes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS-24
Tere beranjak, dia menarik pergelangan tangan Riska, agar mengikuti dirinya, keduanya berjalan memasuki kantin khusus petinggi prusahaan disana, lebih tepatnya Tere yang menarik Riska.
Riska mulai ketakutan, ini kali pertamanya dia memasuki tempat ini, dan ingin rasanya dia tenggelam saja, setelah dia berdiri dihadapan Ricky bersama Tere, sungguh dia malu, dia hanya mengagumi dari jauh, "Ayo kita keluar dari sini, apa kamu sudah gila," bisik Riska begitu pelan, sebab banya mata yang melihat aneh keduanya, apa lagi ada Ricky yang terus menatap keduanya dalam diam.
Tere tidak menghiraukan bisikan Riska, dia menarik kursi dan duduk dihadap Ricky dengan percaya diri, karena mereka adalah teman, jadi tidak mungkin jika Ricky akan mempermalukan mereka tentunya, dan mau tidak mau Riska ikut duduk.
"Apa kamu masih mengingatku?" Tanya Tere dengan senyum mengembang, dia yakin jika Pria didepannya ini tidak akan melupakananya.
Ricky menatap bingung, dia melihat penampilan Tere dengan baju kedodoran dan rok pendek yang berbetuk balon, Ricky ingin tertawa, namun dia berusaha menahanya, dan tatapannya berpindah pada Riska, ada tatapan marah disana, namun Riska berusaha untuk tidak menatap mata tajam itu, entah kenapa dia merasa merinding merasakan tatapan Ricky yang begitu menusuk, bukan kali ini saja dia melihat tatapan itu, namun sudah sejak lama.
"Hey! Kenapa kamu diam saja, apa kamu mengingatku?" Kesal Tere, dia sudah tersenyum sejak tadi, sehingga merasa giginya kering, namun yang diberi senyuman justru menatapnya aneh.
Ricky terlonjak, dia mengalihkan tatapannya kearah lain, setelahnya dia kembali menatap Tere, alisnya bertaut, tidak lama dia justru menggeleng hingga membuat Tere kesal.
Ck.... Tere berdecak, dia melotot menatap Ricky, "Aku Tere, apa kamu masih lupa padaku setelah tahu namaku!" sungut Tere, dia sudah sangat percaya diri tadi, jika Ricky akan mengingatnya, namun lihatlah teman didepannya ini, sedangkan Riska hanya diam dan menyimak percakapan keduanya, lebih tepat hanya mendengarkan seorang Tere yang terus bicara seorang diri, sedangkan dirinya tidak berani ikut bicara, karena sadar akan posisinya, apa lagi dia dulu juga tidak dekat dengan Tere, hanya Ricky saja yang selalu menjahilinya, namun semua itu berubah ketika mereka betemu kembali tiga tahun lalu, dan selalu mendapat tatapan yang tajam dari Ricky, sehingga Riska sadar, kalau status mereka sangat berbeda jauh sekarang, OB dengan Manager, mungkin itu alasan Ricky, pikir Riska.
Ricky melongo, apa benar yang dia dengar, Tere putri konglongmerat menjadi culun, sejak kapan, pikir Ricky, namun tidak lama dia tertawa, bahkan tawanya sampai didengar beberapa orang disekitar, "Apa kamu yakin? Tere wanita modis dulu itu?" Tanya Ricky ulang, dia masih belum percaya, sungguh bukan masih belum percaya, tapi memang tidak percaya.
"Tentu saja! Kamu pikir aku siapa."
"Benarkah? Sejak kapan menjadi wanita culun sepertinya," tunjuk Ricky pada Riska yang sejak tadi hanya diam saja, bahkan Riska tidak protes akan ucapan Ricky yang mengatainya culun, dia sudah biasa mendengar perkataan itu semasa sekolah dulu.
"Sialan!" Tere melipat tangannya didepan dada, pertemuan pertama bukannya membahagiakan, ini justru malah mengoloknya, namun Tere tidak sakit hati, karena dia sadar akan penampilannya, namun dia masa bodo akan hal itu, dia sudah tidak peduli sudut pandang orang padanya sekarang, yang dia lakukan hanya memperbaiki diri, itu saja, agar segera pergi dari kehidupan seseorang.
sedangkan tidak jauh dari mereka, ada tatapan dan aura membunuh yang diberikan seseorang.