Ini kisah tentang masa muda, masa dimana masih mencari dan meraba cita cita, begitu menggebu jika menyoal sebuah rasa yang bernama cinta, jika ingin membaca sebuah kisah romansa yang berakhir bahagia, bukan di sini tempatnya, novel ini hanyala pembuka, sebuah awal dari kisah lima anak muda, para generasi ketiga keluarga Geraldy, tentunya dengan sedikit nostalgia, semoga penggambaran othor sesuai dengan ekspektasi pembaca.
selamat berpetualang kembali bersama Daniel, Darren, Luna, Dean, dan Danesh, di sini awal mula kisah mereka, sebelum mereka menempati buku mereka masing masing.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
#24
Seperti halnya hari hari weekend biasanya, mall begitu ramai pengunjung, para orang tua, anak anak, dan muda mudi menikmati aneka wahana, dan berbagai fasilitas hiburan yang membuat pikiran rileks, bahkan ada yang hanya sekedar cuci mata.
Ramainya pusat perbelanjaan dan pusat hiburan itu, tak bisa mengalahkan ramainya detak jantung sepasang muda mudi yang baru pertama kali berkencan tersebut, kedua tangan mereka saling terpaut, begitupun hati yang sedang hangat hangatnya dipenuhi wangi aroma cinta, padahal keduanya hanya berjalan santai sambil bergandengan tangan, sesekali pandangan mereka bertemu, malu malu sudah barang tentu, karena bingung apa yang harus mereka bicarakan.
“Mau makan, main, atau nonton?” tanya Dean pada akhirnya, pemuda tanggung itu tak mau membuang waktu dengan yang berpegangan tangan.
“Makan dan main aja bisa gak?” tanya Adhis ragu ragu, takut takut Dean tak setuju dengan permintaannya.
“Gak pengen nonton?”
Adhis menggeleng, “Waktunya gak akan cukup, ini sudah sore, aku gak boleh pulang malam.”
“Baiklah, kita makan dulu, terus main.” pungkas Dean bahagia, apapun yang ia lakukan bersama sang pujaan hati, nyatanya membuat bahagia, terlebih melihat senyum bahagia juga terpancar dari wajah Adhis.
Mereka mendatangi gerai sandwich kenamaan yang kerap muncul di drama koriyah, mereka memesan dua porsi Sandwich tuna dan daging asap serta dua gelas soda, tak perlu waktu lama bagi mereka menghabiskan sandwich masing masing, kemudian mereka mendatangi wahana bermain ternama di area indoor tersebut, berbagai wahana mereka jelajahi, tertawa lepas ketika kalah di satu permainan, kemudian tanpa sadar berpelukan ketika memenangkan salah satu permainan yang lainnya, dan begitu seterusnya, yang jelas dunia seakan milik mereka berdua.
.
.
Evan menyeret lengan panji dan membawa nya ke tempat sepi di sudut tempat pembuangan sampah.
“Kamu apa apaan sih, pagi pag udah bawa aku ke sini,” tanya Panji sambil mengibas ngibaskan tangannya di depan hidung, karena aroma tak sedap dari tempat pembuangan sampah.
Evan menoleh ke kanan dan kiri, takut takut ada yang mendengar pembicaraan mereka nantinya.
“Van serius dong, ada apa nih?” Panji semakin kesal, Karena Evan tak kunjung bicara, malah sibuk melihat ke berbagai arah.
Setelah memastikan tempat mereka aman, Evan pun kembali menghampiri Panji, keduanya tampak menyala menyiratkan amarah, “kenapa kamu lakukan semua ini?” tanya Evan to the point.
Panji terkesiap, “Bukan aku.”
Evan mencengkram kerah Baju Panji, “sebaiknya kamu punya alasan bagus agar aku percaya.”
“Sumpah Van, bukan aku pelakunya, kamu bahkan lihat sendiri, aku menghapusnya di depanmu, dan anak anak yang lain jadi saksi.”
Evan tersenyum miring, “Lalu siapa pelakunya?, hanya kamu satu satunya pemilik video itu?”
“Beberapa hari sebelum video itu Viral, ponselku hilang,” Jawab Panji tanpa mendramatisir keadaan.
Seketika bahu Evan melorot lemas, ia hanya memejamkan mata, sambil komat kamit melepaskan sumpah serapah.
“Sori banget Van, tapi aku rasa orang yang menemukan ponsel itu, memulihkan semua data data yang sudah aku hapus, karena beberapa hari kemudian, saldo di ATM ku yang isinya tak seerapa juga jadi nol rupiah.” aku Panji.
Kepala Evan semakin pening memikirkan kelanjutan semua drama ini.
.
.
Suasana sekolah terus berjalan dinamis, biar bagaimana pun kasus Aya tak akan menghentikan kegiatan belajar mengajar yang memang seharusnya terus berlanjut.
Pagi ini Koridor sekolah mulai ramai, beberapa siswa bergurau sembari menunggu jam pelajaran dimulai, sayup sayup Luna mendengar beberapa siswa masih membicarakan video yang tengah Viral, tapi ketika melihat Luna lewat, mereka terdiam, semakin menciut nyali seorang Luna, video itu memang diburamkan, tapi ia merasa seisi sekolah tengah diam diam membicarakan dirinya, karena itulah ia lebih memilih mencari perlindungan dengan memeluk lengan Daniel sepanjang perjalanan menuju kelas.
“Kamu kenapa? tumben manja begini?” tanya Daniel penasaran, sampai sekarang si sulung ini bahkan belum menyadari video viral tersebut adalah video sang adik.
“Nggak ada Aya, jadi nggak ada yang bisa di peluk,” jawab Luna beralasan.
Daniel menatap wajah Luna yang masih bersembunyi di bahu nya, setelah beberapa hari mogok sekolah, kini Luna tampak lebih pemalu daripada biasanya, lebih aneh lagi, karena kini Luna jarang mengaktifkan ponselnya.
Dari arah berlawanan, Evan pun datang hendak menuju kelasnya, sekilas pandangan Luna dan Evan bertemu, tapi dengan cepat Luna membuang pandangannya, terlalu marah pada lelaki yang telah mencuri ciuman pertamanya tersebut, dan melihat sikap dingin Luna, membuat Evan lebih terluka, tapi kesalahan sudah terlanjur terjadi, daripada semakin terombang ambing dalam rasa yang tak pasti, akan lebih baik jika ia mulai memperjelas kemana arah hati nya, toh berdiam diri juga tak akan menyelesaikan masalah.
“Dah yah, aku ke kelas dulu.” pamit Daniel ketika mereka sampai di depan kelas Luna. “Aku lagi ada perlu sama Evan.” lanjut Daniel, yang membuat Evan sengaja menghentikan langkah nya, di samping mendengar namanya disebut oleh Daniel, ia tak akan melewatkan kesempatan mencuri pandang wajah sang gadis pujaan, dan Panji yang juga berada disana, ikut menyaksikan betapa menggemaskan interaksi Evan dan Luna, yang satu bucin setengah mati, yang satu lagi sedang mati matian menahan amarah.
Luna mengangguk, kemudian cepat cepat masuk ke kelas nya, sementara Daniel segera kembali ke kelasnya sambil berbincang dengan Evan mengenai tugas kelompok mereka.
.
.
Seperti siang siang biasanya sepulang sekolah, Danesh memang menyempatkan waktu nya memandang Renata dari kejauhan, tapi kali ini ia sengaja meninggalkan motornya di kejauhan, sengaja hendak mendekati Renata, karena beberapa hari Renata tak membalas pesannya, bahkan telepon pun tak di angkat, cenderung diabaikan.
Rombongan bidadari Dewi Sartika mulai berjalan menuju asrama mereka, termasuk Renata yang memilih berjalan di tengah, bukan di belakang barisan seperti biasa, Danesh berjalan sejajar dengan langkah Renata, tak peduli dengan tatapan ane teman teman Renata, “kamu menghindariku?”
“Syukurlah jika kamu tahu, sekarang Pergilah …”
“Kalau aku tak mau?” tanya Danesh tak ingin mengalah.
Rena menghela nafas. “Aku tak ingin kamu bermasalah,” Jawab Rena dingin.
“Hahaha … apa kamu tahu, teman temanku memberiku julukan si pencari masalah, karena kebiasaanku adalah mencari masalah.” jawab Danesh santai.
“Aku serius Danesh, tolong jangan dekat dekat denganku lagi, kamu bahkan bisa celaka.” lanjut Rena.
“Tak mau, dan jangan khawatir, karena aku bisa menjaga diriku sendiri.”
“Mereka bukan orang orang yang bisa kamu lawan,”
“Kenapa aku harus melawan, dan lagi mereka itu siapa?”
Benar saja, sebentar kemudian Rena sudah dikelilingi beberapa pria berpakaian serba hitam, Danesh terdiam, sedikit mundur, karena memang tak memiliki hubungan apa apa dengan Rena selain teman.
Tapi tidak dengan para anak buah Hans, setelah Daniel melaporkan bahwa mereka sedang dimata matai, maka dengan sigap pula, Hans memerintahkan anak buah nya untuk mengawal Ketujuh cucu Alexander Geraldy, seperti saat ini, merasa sang tuan muda dalam bahaya, beberapa pengawal Danesh pun mendekat. “Anda tidak apa apa tuan muda?” tanya salah seorang pengawal pada Danesh.
“Hmmm …” jawab Danesh pelan.
“Jangan sekali kali kamu coba mendekati nona muda kami.” para pengawal Rena pun memberi peringatan.
Karena belum mengerti dengan situasi, Danesh lebih pilih mengalah, ia pun mundur diikuti para pengawalnya.
Sementara Rena kembali melanjutkan langkah nya, masih dengan ekspresi wajah tak terbaca.
“Haruskah kalian bersikap begini?” Tanya Danesh dalam perjalanan kembali ke motor nya.
“Maaf tuan muda. Kami hanya menjalankan perintah.”
“Apakah opa yang memerintahkan semua ini?”
“Benar tuan,”
“Memangnya siapa mereka, sampai sampai aku harus diawasi?.”
“Kalau soal itu, silahkan tanyakan langsung pada tuan Hans dan tuan Alex.”
Danesh hanya menghembuskan nafas kesal, bukan kesal pada para pengawalnya, melainkan kesal dengan perubahan sikap Rena yang tiba tiba.
.
.
Sore itu seperti janji Luna pada Aya, ia mendatangi rumah Aya bersama Daniel, tentunya Daniel sudah memakai masker sebelumnya, karena jika tidak, ia bisa di sangka Darren adik kembar nya.
“Nyaaak … aku datang.” Sapa Luna riang seperti biasa.
Nyak Leha segera meletakkan baju basah yang hendak ia jemur. “Udah pada datang … ayo masuk, Aya sudah masak banyak buat kalian.
“Ahhh senangnya punya adik ipar pandai masak.” seru Daniel, tetap jahil seperti hari hari biasa. “Nyak … aye masuk ye?” izin Daniel sebelum masuk ke rumah.
“Adik ipaarr .. aku datang, mana makananku?”
“Dasar tak tahu malu, maaf ya nyak.” Luna nyengir kuda, sungguh tak enak pada nyak Leha, karena kelakuan kakak kembarnya ternyata sungguh memalukan.
“Nggak papa, nyak seneng … malah aneh karena beberapa hari ini, gak bisa lihat tingkah lucu anak anak yang jajan di kantin.” Jawab nyak Leha apa adanya, “udah sana masuk, nyak mau beresin jemuran dulu.”
itu namanya menyerahkan nyawa dengan sia sia👻
Evan noh👍🏼😆👻
biar inisial D semuanya 😁
senjata makan tuan Alex 👻😆
barusan dari lapak Dean
seharusnya baca ini dulu ya👻
trus lanjut kemana ini awak bacanya 😁