NovelToon NovelToon
Pengasuh Hebat Kesayangan CEO Dingin

Pengasuh Hebat Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / Pengasuh / Penyesalan Keluarga
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Stellune

Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16

Naura tidak tidur nyenyak malam itu.

Pesan dari ibunya seperti batu kecil di sepatu. Tidak cukup besar untuk membuatnya jatuh, tetapi setiap langkah terasa sakit.

`Jangan sampai Ibu harus mempermalukan kamu lagi supaya kamu ingat diri.`

Kalimat itu terus berputar di kepala.

Dulu ancaman seperti itu selalu berhasil. Naura akan panik, menelepon, meminta maaf meski tidak salah, lalu mengirim uang agar mereka tidak datang ke kantor.

Sekarang ia tidak ingin tunduk.

Tapi tubuhnya masih mengingat rasa takut lama.

Pukul lima pagi, ia sudah bangun. Ia duduk di tepi tempat tidur, membuka ponsel, lalu memeriksa pesan baru.

Tidak ada.

Sunyi dari keluarga tidak membuatnya tenang. Sunyi seperti itu biasanya berarti mereka sedang menyusun cara lain.

Naura mandi, memakai pakaian kerja, lalu turun ke dapur utama rumah Bu Marini. Hari itu ia harus menyiapkan sarapan untuk kakek-nenek lebih dulu sebelum ke rumah Arkan.

Bu Marini muncul lebih pagi dari biasanya.

"Kamu kurang tidur."

Naura sedang mencuci beras. Tangannya berhenti.

"Kelihatan, Bu?"

"Mata kamu tidak bisa bohong. Ada masalah?"

Naura ingin menjawab tidak.

Kalimat itu sudah naik ke lidah.

Tetapi ia teringat ucapan Arkan: `Kamu terlalu bisa diam.`

Diam memang pernah membantunya bertahan. Tapi diam juga membuat orang lain bebas menyakitinya berkali-kali.

"Keluarga saya ingin datang ke kantor lama," kata Naura akhirnya. "Mereka belum tahu saya sudah keluar."

Bu Marini duduk di kursi dapur.

"Mereka mau apa?"

"Uang. Bagas ingin motor baru. Saya menolak."

"Bagas adikmu?"

"Iya."

"Dia kerja?"

Naura tersenyum tipis. "Tidak benar-benar."

Bu Marini mendengus. "Laki-laki yang terlalu dimanja biasanya tumbuh jadi beban dengan suara keras."

Naura hampir tertawa.

"Bu..."

"Apa? Saya sudah tua, boleh jujur."

Naura menunduk.

Bu Marini melembut. "Mereka pernah mempermalukan kamu di kantor?"

Pertanyaan itu membuat tangan Naura dingin.

"Pernah."

"Itu sebabnya kamu takut."

Naura tidak menyangkal.

Bu Marini tidak bertanya detail. Ia hanya berkata, "Kamu sekarang bekerja di rumah ini juga. Kalau mereka datang mengganggu, itu bukan hanya urusanmu. Itu urusan rumah yang mempekerjakanmu."

Kalimatnya mirip Arkan.

Mungkin darah Pradipta memang begitu. Kalau sudah menganggap seseorang berada di bawah tanggung jawab mereka, nada bicaranya berubah.

"Saya tidak mau merepotkan Bapak dan Ibu."

"Kamu ini selalu begitu." Bu Marini mengetuk meja pelan. "Orang yang terbiasa diperas sering merasa meminta bantuan itu merepotkan."

Naura terdiam.

Pak Aditya masuk sambil memakai jaket tipis.

"Ada apa pagi-pagi serius?"

Bu Marini menjawab sebelum Naura sempat bicara. "Keluarga Naura mau membuat keributan."

Naura menutup mata.

Pak Aditya langsung menatapnya. "Butuh pengacara?"

Sederhana sekali.

Seolah orang lain menawarkan teh.

"Belum, Pak."

"Butuh security?"

"Pak..."

"Kalau orang datang mengancam, kita siapkan sebelum terjadi. Itu bukan berlebihan. Itu manajemen risiko."

Naura menatap Pak Aditya.

Mantan pengusaha tetaplah pengusaha. Bahkan drama keluarga pun masuk kategori risiko.

Bu Marini mengangguk setuju. "Nanti bilang Arkan."

"Tidak perlu sampai Pak Arkan."

Keduanya menatap Naura.

Naura langsung merasa kalah.

Bu Marini berkata, "Kamu bekerja juga di rumahnya. Kalau keluargamu mencari sampai ke sana, bagaimana?"

Itu yang paling Naura takutkan.

Ia menarik napas.

"Saya akan beri tahu secukupnya."

"Bagus."

Setelah sarapan, Naura pergi ke rumah Arkan.

Ia mengirim pesan lebih dulu.

`Pak, saya perlu memberi tahu sesuatu terkait kemungkinan gangguan dari keluarga saya. Tidak mendesak, tapi mungkin berhubungan dengan pekerjaan.`

Balasan Arkan datang kurang dari satu menit.

`Saya di rumah. Kita bicara saat kamu datang.`

Naura menatap layar.

Ia tidak tahu kenapa kalimat itu membuatnya lebih gugup daripada ancaman ibunya.

Di rumah Arkan, laki-laki itu sudah duduk di meja makan. Tidak membuka laptop. Tidak memegang ponsel. Hanya menunggu.

Naura meletakkan tas.

"Sarapan dulu, Pak?"

"Bicara dulu."

Nada itu tidak keras, tetapi tidak memberi ruang menghindar.

Naura duduk di seberang, menjaga jarak profesional.

Ia menceritakan singkat. Orang tua yang menuntut uang. Adik laki-laki yang selalu dimanjakan. Keributan di kantor lama. Ancaman datang lagi.

Ia tidak menceritakan semuanya.

Tidak tentang kematian di kehidupan lalu.

Tidak tentang rumah yang dibangun dari uangnya tapi tidak memberinya kamar.

Tidak tentang rasa sakit yang terlalu panjang untuk dibuka di meja makan klien.

Namun cukup.

Wajah Arkan semakin dingin.

"Mereka pernah datang ke kantor dan membuat keributan?"

"Iya."

"Security kantor membiarkan?"

"Mereka menahan di lobi. Tapi videonya sudah cukup menyebar."

"Kantor menyalahkanmu?"

Naura tersenyum tipis. "Mereka menyebutnya saya harus mengatur urusan keluarga."

Arkan tidak bicara selama beberapa detik.

Ketika ia bicara lagi, suaranya rendah.

"Kalau mereka datang ke Mahardika, biarkan. Kamu sudah tidak di sana."

"Nama saya tetap bisa..."

"Saya bisa minta orang memantau."

Naura langsung menegang.

Arkan melihatnya.

"Bukan mengendalikanmu. Memantau situasi. Kalau mereka membuat fitnah atau menyebarkan video, kita punya bukti lebih awal."

Naura menatap tangannya sendiri.

"Saya tidak ingin masalah pribadi saya masuk ke rumah ini."

"Masalah pribadi yang mengancam pekerjaan dan keselamatanmu sudah bukan sekadar pribadi."

"Pak Arkan..."

"Naura."

Ia memanggil tanpa `Mbak`.

Naura mengangkat mata.

Arkan tampak menyadarinya, tetapi tidak menarik kembali.

"Kamu tidak perlu membayar hak untuk bekerja dengan tenang."

Kalimat itu membuat dada Naura sesak.

Ia menahan diri agar matanya tidak panas.

"Saya akan urus sendiri dulu," katanya pelan. "Tapi kalau mereka mengganggu rumah ini, saya beri tahu."

Arkan menatapnya lama.

"Baik."

Ia tidak puas.

Tapi ia berhenti.

Dan justru karena ia berhenti, Naura merasa lebih aman.

Setelah itu ia menyiapkan sarapan. Arkan makan tanpa banyak bicara. Namun ketika Rafi datang menjemput, Arkan memberi instruksi pendek di foyer.

"Rafi, hubungi legal. Minta template somasi ringan untuk gangguan dan pencemaran nama baik. Simpan dulu."

Naura yang sedang membawa teh dari dapur berhenti.

Rafi mengangguk. "Baik, Pak."

Arkan menoleh pada Naura.

"Disimpan. Tidak dikirim."

Naura tidak bisa marah.

Ia hanya menghela napas.

"Pak Arkan selalu begini?"

"Begini bagaimana?"

"Menyiapkan meriam untuk membunuh nyamuk."

Rafi menunduk cepat, bahunya bergetar.

Arkan menjawab datar, "Kalau nyamuknya membawa penyakit, meriam masuk akal."

Naura menatapnya.

Lalu, entah kenapa, ia tertawa.

Ketegangan pagi itu pecah sedikit.

Arkan melihatnya tertawa, dan wajahnya melunak tanpa ia sadari.

Rafi melihat keduanya, lalu buru-buru membuka pintu mobil.

Ia bekerja pada Arkan sudah lama.

Ia tahu bosnya bisa memenangkan negosiasi bernilai triliunan tanpa mengubah ekspresi.

Tapi pagi itu, hanya karena Naura tertawa, Arkan Pradipta berdiri dua detik lebih lama di foyer.

Seolah lupa bahwa ia punya rapat pukul delapan.

1
Rahman Hayati
mantul lanjut terus
jgn setengah 2 ya
Lili Inggrid
ceritanya bagus
Yusar bin ajo
cerita yg sangat bagus sekali
Yusar bin ajo
semangat ya author ceritanya sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!