Kami menikah demi warisan milik Mbah Rangga.
Nama kami sama-sama Ariel. Kami sama-sama telah memiliki kekasih. Kami sama-sama saling membenci.
Setelah Mbah meninggal, aku mengajukan perceraian, toh uang sudah didapat. Tapi Ariel baru akan menceraikanku, kalau aku jadi jelek. Jadi aku berusaha tampil kusam, tapi Pacarku malah memutuskanku gara-gara hal itu!!
Di lain pihak pacarnya Ariel cemburu. Dia mengancam akan melaporkan kami berdua ke Yayasan. Posisi Ariel sebagai penerima beasiswa Univ. Negeri terancam kandas, Aku terancam dipecat atas karier yang sudah kuperjuangkan bertahun-tahun.
Kesialanku jadi Double Kill!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baper
Aku melahap steakku, potongan besar sekali, dan memasukkannya sekaligus ke dalam mulutku.
“Enak hehehe,” desisku ke Arka dengan mulut masih penuh daging.
Arka hanya menatapku sambil mengernyit.
Tapi aku tak hiraukan.
Dulu, saat kami sama-sama masih berkuliah, kami bahkan makan nasi padang angkat kaki di teras rumah. Makan pakai tangan sambil bercanda.
Membicarakan mengenai masa depan.
Jadi menurutku Arka menerima apa adanya diriku. Apa pun tingkahku.
Ariel saja bisa, kenapa Arka tidak? Begitu pikiranku.
“Kenapa kamu?” tanyanya.
“Hm, aku dalam suatu misi,”
“Dan apakah itu?”
“Menjadi tidak menarik di mata Ariel,”
Dia diam sesaat.
Aku menyesap sup creamku.
“Coba ulangi?” tanyanya, dia bahkan sampai menaikkan kacamatanya.
“Ariel bilang dia akan menceraikanku, kalau aku jadi jelek.” Desisku.
“Hm, dan jeleknya kamu dengan berusaha jadi gemuk?”
“Salah satunya.”
“Tapi kamu tidak jadi dirimu sendiri,”
“Aku malah merasa enjoy dengan keadaanku sekarang,”
“Mungkin kamu lagi stress makanya makan banyak,”
“Makan banyak itu ternyata enak ya, asal hitung saja kalorinya jangan sampai kena penyakit,”
Terdengar Arka menghela nafas.
“Di kala aku berusaha jaga tubuhku, kamu malah seenaknya begini,”
Aku berhenti mengunyah. Jujur saja aku kaget dengan kalimatnya.
“Kamu bahkan tidak memakai make up, rambut kamu acak-cakan, baju kamu... daster? Kenapa warnanya nggak nyambung gitu atas bawah? Ini bukan diri kamu, Ariel.”
“Ini gamis, bukan daster.” Jawabku.
“Gamis? Pakaian dari tahun berapa gamis itu?!”
“Gamis ya gamis, Arka. Pakaian tertutup dari atas ke bawah yang modelnya longgar,”
“Ya tahu, ibuku sering pakai ke pengajian. Terus kenapa kamu pakai juga?”
“Biar nggak menarik,”
“Nggak menarik di mata Ariel, terus aku juga kena imbasnya, gitu?”
Aku lagi-lagi hanya bisa diam mendengarnya.
“Kita sudah lama tidak bertemu, sekalinya bertemu selalu mengenai Ariel lagi?” ia berujar lagi.
Aku tetap diam.
Arka sedang kesal.
Kalau aku bicara malah akan membuatnya tambah kesal.
Dan kami sedang di restoran, kalau bertengkar malah akan memalukan.
Aku menarik nafas panjang, dan kuletakkan sendokku.
“Aku melakukan ini juga untuk kebaikan kita agar kita bisa cepat menikah,” kataku berusaha memberinya pengertian.
“Kamu sudah menikah. Dengan orang lain. Aku merasa seperti sedang jadi selingkuhan!”
Aku minum air untuk menenangkan hatiku sesaat.
Tidak boleh ada pertengkaran lagi, karena kami baru saja bertemu setelah lama tidak berjumpa.
“Kamu benar, maaf ya.” Desisku. “Kalau boleh, aku mau ke toilet memperbaiki dandananku sebentar, boleh?”
“Nggak usah,” desis Arka sambil menekan tombol waitress.
“Eh?”
“Aku udah ilfil. Mau pulang saja.” Desisnya. Ia menyambar ponselnya, “Aku sudah pesankan taksi online untuk kamu. Pulang sendiri aja ya, aku mau main game di rumah,”
“Arka, tolong dooong...” rajukku.
“Kalau kamu benar-benar sayang aku, kamu pasti akan mengutamakanku. Paling tidak, terlihat cantik untukku, atau mengajakku mengobrol tentang hal-hal yang menyenangkan. Tentang kita.”
Ia lalu beranjak dan berdiri untuk berjalan ke arah kasir.
Aku hanya bisa duduk di kursiku sambil tertegun.
Dadaku terasa sakit.
Perutku bagai dihantam godam.
Dan... mataku berkaca-kaca. Aku benar-benar merasa sesak.
Aku memejamkan mata, lalu menarik nafas, berusaha tenang.
Tak berapa lama, seorang waitress datang dan memberikan resi pembayaran.
Aku hanya melirik resi itu, ada tulisan sudah dibayar lunas.
Kini aku hanya mencoba menghabiskan makananku.
“Mbak...”
Aku mendengar sang Waitress berbisik padaku.
Kuangkat wajahku dan kutatap dia.
Seorang wanita muda yang cantik, tubuhnya langsing dan tinggi. Rambutnya digelung rapi dengan apron kecil di pinggangnya.
“Maaf mbak kalau saya boleh ikut campur,” desisnya.
“Eh?” aku mengangkat alisku.
“Dari tadi saya memperhatikan Mbak dan Masnya...”
“Oh gitu? Aduh maaf ya malu-maluin banget saya,” ujarku tak enak hati. Sampai waitress saja memperhatikanku, jadi pertengkaran kami sudah menarik perhatian banyak orang di restoran ya? Bikin ribut saja sih...
“bukan, Mbak. Maaf tapi saya lancang karena merasa kejadian yang mbaknya alami mirip sekali dengan masa lalu saya. Saya ditinggalkan pacar saya karena dulu saya dianggap gemuk Mbak. Padahal saat saya tanya ke teman-teman, saya tidak gemuk...”
Aku diam mendengarkannya.
“Jadi ternyata mantan saya itu hanya cari-cari alasan supaya bisa putus sama saya karena dia ada cewek lain. Intinya selingkuh Mbak. Hati-hati ya mbak.”
Lagi-lagi lidahku terasa kelu.
“Kalau benar-benar sayang ke kita, kondisi apa pun pasti akan ia anggap cantik mbak. Penampilan nomor sekian. Yang penting menarik saat diajak bicara. Lagi pula, menurut saya, Mbaknya sangat cantik kok. Justru gamis yang mbaknya pakai terlihat elegan dan sopan...”
“Ah... makasih banyak mbak...”
Tapi itulah kalimat terakhirku di restoran itu.
Karena berikutnya... saat aku sadar aku sudah menangis sesenggukan di pelukan Mbak-Mbak waitress.
**
“Kamu nggak papa?!”
Iya,
Aku akhirnya menghubungi Ariel.
Bukannya tanpa sebab, karena aku terlalu lama di dalam restoran, taksi onlineku akhirnya membatalkan orderan. Dan sekarang dalam posisi lemas aku takut sendirian masuk mobil asing.
Sebenarnya aku ingin minta papah menjemputku, walau pun akan menyulitkannya. Makanya aku tak ingin mengabarinya sendiri karena keegoisanku.
Jadi aku minta Ariel untuk memberitahu ke Papah kalau aku butuh dijemput.
Malah anaknya yang datang sendiri...
Mana masih pucat pula mukanya.
Dan lagi, naik apa dia ke sini? Motor? Dalam kondisi sedang sakit begini?!
“Papah mana?” tanyaku.
“Papah lagi di salon ibu, mau bantu masalah pindah ruko. Aku nggak enak gangguin mereka,” kata Ariel. “Kamu kenapa? Sakit? Kebanyakan ayam kemarin kolesterol kali nih ya? Kamu bilang aku nekat, kamu-nya sendiri nekat!”
“Semua gara-gara kamu! Mikir dong!” aku menyabet serbet di depanku ke arahnya.
Ariel hanya duduk di depanku dengan pandangan menerawang.
“Kenapa kamu ngeliatin aku begitu?”
“Bu Guru... aku barusan dengan mata kepalaku sendiri melihat pacarmu di cafe depan ujung sana sama cewek lain, bukannya seharusnya dia ada acara date sama kamu ya?”
“Eh...?”
Apa pula ini?
“Dia barusan memang dari sini, tapi kami sedikit berdebat.”
“Arka ada di cafe depan sana,”
Dadaku jadi semakin sesak.
Haruskah aku percaya dengan Ariel?
Apakah aku harus ke sana dan membuktikannya sendiri?
Tapi untuk apa pula dia berbohong?!
Walau pun aku putus dengan Arka, belum tentu aku mau jadi istrinya juga.
“Kata Arka dia capek mau pulang, mungkin kamu salah lihat,” kataku.
“Tidak mungkin aku salah lihat, coba kamu minta dia shareloc,”
Kalau begitu caranya aku cari masalah namanya.
“Mungkin dia dengan sepupunya...” desisku sambil mengusap wajahku.
“Pegangan tangan dengan sepupu?”
“Atau adik yang tidak kuketahui,”
“Pegangan tangannya sampai cium tangan loh?”
“Ariel!” bentakku.
Ariel langsung diam.
Dan mendadak di sekitarku berubah hening.
Aku sadar aku keluar batas.
Kami sedang berada di tempat umum.
“Tolong... jangan menambah masalahku. Aku belum bisa berpikir jernih. Maaf aku tidak mencintai kamu. Jangan berdebat lagi. Tolong jangan berdebat lagi...”
Aku tak kuat menahan emosi yang bergejolak di dadaku. Jadi aku hanya menelungkupkan wajahku di meja, dan diam di sana.