Karena kenakalan remaja yang sudah di ambang batas wajar, sepasang suami istri memutusakan untuk mengirim anak bungsunya ke sebuah pesantren di pedesaan.
Namun, hal ini menjadi awal konflik batin terbesar untuk seorang gadis bernama Azizah. Gadis berusia 18 tahun yang masih duduk di kelas 12 itu menolak untuk dipindahkan apalagi saat kakeknya (pemilik pesantren) menyarankan Azizah untuk dinikahkan dengan seorang ustadz kebanggaan kakek Azizah dengan alasan untuk kebaikan Azizah.
Pemberontakan terjadi, awal pernikahan yang rumit membuat Azizah bersikeras untuk mendapatkan talak dari suaminya. Sejak awal, Azizah menerima perjodohan itu hanya untuk mengamankan posisinya saja. Karena, ia berpikir, pernikahan itu tidak penting, setelah dia menikah, dia bertekad untuk membuat suaminya jengkel dan akhirnya berujung perceraian. Begitulah rencana Azizah.
Satu hal yang Azizah tidak tahu, laki-laki yang menikahinya ternyata adalah ustadz dengan julukan kesabaran seluas samudra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Sangat Misterius
Azizah menggelengkan kepalanya, perempuan itu tidak membutuhkan satu atau dua bulan, dia akan tetap menerima pernikahan ini, tidak akan ada masa percobaan dan akan menjalankannya dengan harapan baru. “Azizah enggak mau kita berpisah, Ustadz. Azizah enggak mau Ustadz ninggalin Azizah, Ai akan belajar untuk menjadi istri yang baik, Ustadz enggak niat buat ninggalin Ai kan?”
Dalam, tatapan perempuan yang masih sesenggukan itu diam, menatap suaminya penuh harap, dia tidak ingin Farhan meninggalkannya, ia ingin mereka mulai semuanya dari awal lagi, pendekatan normal tanpa ada huru-hara yang dia timbulkan. Dia janji, dia akan mencoba untuk mencintai pria di depannya.
“Boleh panggilnya mas aja?” Farhan menatap mata sang istri dengan dalam.
“Maksudnya?” tanya Azizah tidak mengerti, perempuan itu agak loading padahal orang-orang di sekitar mereka sudah tersenyum penuh arti, bahkan Kiyai Juhairu memalingkan wajahnya, tidak ingin mengganggu mereka.
“Katanya mau jadi istrinya mas, kenapa masnggilnya harus ustadz? Bukankah lebih enak jika menggunakan panggilan lain?”
Azizah masih dalam posisinya. Berusaha menerka kebingungan. “Mas Farhan?”
“Dalem, Sayang.”
Semua orang dibuat memkik tertahan, antara ingin marah karena mereka menjadi obat nyamuk, tapi mereka juga meleleh melihat sepasang suami istri yang baru saja berhasil melewati ujian mereka.
Semburat merah jambu tergambar dengan sangat jelas di pipi perempuan itu, ia menunduk dan ustadz Farhan menarik punggung istrinya, meyembunyikan wajah memerah sang istri agar dia tidak malu. “I love you, ya Humaira.”
“Humaira siapa?” tanya perempuan itu lagi. Ustadz Farhan malah terkekeh, gemas rasanya karena istrinya ini benar-benar sangat awam.
“Azizah, ustadz Farhan!” Kiyai Juhairu mendekat ke arah sepasang suami istri itu, audiens mendadak diam, sepi dan kepala mereka menunduk dalam. “Saya ingin meminta maaf kalau selama ini saya banyak melakukan kesalahan. Seperti janji saya sebelumnya, Ustad boleh tinggal di luar pesantren dengan catatan kalau ustadz masih akan tetap mengajar di sini. Azizah juga tetap belajar di sini.”
Ustadz Farhan tersenyum, tapi Azizah malah semakin bingung, dia tidak mengerti ke mana mereka akan pergi padahal sudah sangat jelas kalau rumah mereka ada di sini.
“Kiyai ngusir kami?” tuduh Azizah, kedua orang itu malah tertawa, Azizah ini memang belum mengetahui apa pun karena yang ahu siapa ustadz Farhan, hanya keluarga terdekat ustadz Farhan dan Kiyai Juhairu.
“Nanti kamu juga akan tahu, selamat karena sudah menjadi istri ustad ganteng satu-satunya. Jangan nakal lagi.”
Kiyai mengusap puncak kepala cucunya gemas, ia sangat bersyukur karena meskipun awalnya mereka begitu kesulitan menjaga anak perempuan ini, tapi sekarang Azizah sudah mengerti kalau keputusan yang mereka ambil bukanlah keputusan yang salah.
** **
“Masuk, Dek!” kata ustadz Farhan menarik tangan sang istri ke dalam sebuah rumah yang sangat besar, tidak sebesar rumah kedua orangtuanya, tapi memang berkali-kali lipat lebih besar dari rumah yang mereka tempati sebelumnya.
"Usta--- ekh, Mas Farhan. Ini rumah siapa?" Azizah menatap sudut-sudut rumah itu dan kembali melihat ke arah sang suami.
"Ini rumah kamu, Dek. Rumah kita, Sayang."
"Hah ... iya kah?" kaget perempuan itu. "Mas jangan bohong. Kenapa Mas punya rumah besar seperti ini? Mas yakin enggak halu?"
Gelak tawa terdengar di rumah itu. Ustadz Farhan mengusap puncak kepala sang istri, mengecup keningnya cukup lama.
"Ini memang rumah kita. Kamar utama ada di lantai atas, mau lihat?"
Azizah dengan cepat mengangguk. Perempuan itu berlari meninggalkan sang suami dan pria itu pun mengikutinya seraya membawa koper miliknya dan juga koper milik Azizah.
Untuk kesekian kalinya Azizah ternganga. Namun, kali ini bukan hanya karena kemegahan kamar itu, melainkan suasana kamar yang terlihat seperti kamar pengantin.
Bunga mawar merah bertebaran, aroma terapi membuat kamar itu menyeruakan bau wangi yang berbeda.
"Inalillahi .. kenapa jadi seperti ini?" ustad Farhan terlihat sangat terkejut, seingatnya ... "ya ampun, ini pasti kerjaannya Salma." Ia menggelengkan kepalanya, menaruh semua barang sebelum akhirnya mengikuti Azizah yang melihat area kamar mandi.
Yups, perempuan itu ternyata sedang duduk di tepian bathub, memainkan air sabun yang juga terdapat kelopak mawar merah di dalamnya.
"Ekhemmmm!" Ustadz Farhan berdehem, ia agak sedikit malu, takut kalau Azizah berpikir jika dia lah yang telah menyiapkan ini semua.
"Eummmm ... anu ... itu, sepertinya Salma membuat kesalahan. Mas akan bersihkan ini!" gugupnya membuat Azizah kebingungan.
"Memangnya kenapa? Bukannya ini hanya untuk membuat badan lebih segar?"
"Ah ...!" Ustadz Farhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia lupa kalau Azizah mungkin belum mengerti tentang hal ini.
Walau bagaimanapun, istrinya hanya anak remaja dewasa yang masih sangat suka bermain.
"Ya sudah! Kalau mau berendam silahkan. Mas siapin buat makan siang dulu ya!"
Azizah mengangguk antusias. Perempuan itu tersenyum ke arah punggung sang suami. Namun, saat ia mencoba untuk berjalan ... kakinya malah terpeleset.
"Akhhhh ... Mas Farhan!" pekiknya.
Pria itu berbalik, kelopak matanya melebar dan tangannya refleks menarik tangan Azizah yang terulur ke arahnya.
Byurrr!
Kedua orang itu saling menatap dengan mulut ternganga, kelopak mata yang sebelumnya tertutup kini mulai terbuka. Azizah menatap sang suami lekat, degup jantungnya berdebar tak karuan tat kala buliran air dari rambut sang suami mulai berjatuhan, hingga ketika salah satunya menetes di atas pipi, perempuan itu mulai merasakan desakan aneh dari tubuhnya.
"Mas Farheummm--- Mas tunggu!" Azizah mendorong dada sang suami yang mana hal tersebut membuat tautan mereka terlepas.
Hanya menatap perempuan di depannya sayu, napas yang semakin berat membuat pria itu kesulitan untuk berucap.
"Kenapa, Sayang? Mas enggak boleh nyentuh kamu?"
Azizah menggelengkan kepalanya. "Pelan-pelan! Ai takut akan sakit seperti waktu itu."
Senyum lebar tersungging di bibir ustadz Farhan. Tangannya terulur, membelai wajah sang istri sebelum akhirnya mereka kembali terhanyut dalam buaian cinta yang sudah lama mereka pendam. Rasa yang ditimbulkan memberikan sensasi aneh yang sepertinya akan mulai disukai keduanya.
** **
"Dek!" ustadz Farhan mengusap wajah sang istri penuh kelembutan. Bibirnya belum bisa berhenti mengecup ringan bibir ranum sang istri. "Kalau mau bobo siang, wudhu dulu yuk! Mas gendong ya!"
"Masih sakit ikh, katanya udah enggak."
Pria itu kembali tersenyum dan berbisik di samping telinga istrinya. "Tapi, bukannya Adek suka?"
"Mas Farhan!"
Azizah yang sudah mengantuk kehilangan rasa kantuknya karena guyonan sang suami.
"Apa ikh ... perlu mas kasih bukti, bukannya kamu yang ... eummm!"
Azizah menutup mulut suaminya dengan telapak tangan. Perempuan itu melotot tapi suaminya malah semakin terkekeh. Memang menyenangkan menggoda istrinya seperti ini.
"Mas jangan bahas ini lagi, Ai malu."
"Tapi mas suka!" sahut Farhan seraya mengedipkan mata.
"Ikhhh ... Mas Farhan genit!"