Gadis cantik berpenampilan culun bernama Diana sarasvati, dia sudah beberapa kali pindah sekolah karena ada sesuatu yang tidak menyenangkan. Banyak sekali siswa laki-laki di sekolah lamanya yang menyukainya karena kecantikannya, dan membuat dia dimusuhi oleh teman wanitanya. Untuk menghindari hal tersebut dia merubah penampilannya menjadi culun, dan menjadi siswa baru di SMA Nusa Bangsa. Ternyata di sekolah baru bukan menyelesaikan masalah justru karena penampilannya yang seperti orang culun, banyak teman yang membullynya.
Ada seseorang teman laki-laki tampan namanya Galen Ray Suhendra. Dia salah satu siswa yang mau berteman dengan Diana, dan membela Diana saat dibully.
Untung saja Diana siswa yang pandai, dan karena kecerdasannya itu mengharumkan nama sekolah. Dan semenjak itu dia mulai mempunyai teman banyak, walaupun masih ada yang tidak suka dan membully.
Mari kita simak bagaimana perjuangan Diana menghadapi teman- temannya, apakah Diana akan merubah penampilannya lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisa Keluar Kelas
Diana berteriak minta tolong, sampai suaranya habis tidak ada orang yang mendengar sama sekali. Kemudian Diana hendak berusaha memecahkan kaca kelas itu, tetapi takut dikeluarkan oleh pihak sekolah. Aturan di sekolah, bagi siswa yang telah merusak sesuatu milik sekolah akan segera dikeluarkan tanpa alasan apapun kecuali dalam keadaan darurat. Padahal Diana bisa memukul kaca jendela, tetapi takut dengan aturan sekolah walaupun posisinya saat ini dia dalam keadaan berbahaya dan susah. Kemudian Diana berjalan ke arah pintu, dia gerak- gerakan ganggang pintu hingga menimbulkan suara. Sekarang dia hanya bisa pasrah dan berdoa agar ada keajaiban, seseorang datang menolongnya untuk membuka pintu. Diana tidak bisa membayangkan apa jadinya nanti, jika tidur bermalam di sekolah dengan keadaan kelas yang gelap. Yang dia bayangkan sudah membuatnya merinding, dan ketakutan sendiri.
"Tolong... tolong... !"
Diana berteriak lebih keras lagi, agar ada orang yang membantunya. Baru saja ia mendengar seperti ada orang menendang bola, dari luar ruangan kelas itu.
"Seperti ada yang teriak minta tolong," ucap seorang guru olahraga kebetulan melewati kelas itu, hendak mengembalikan bola ke ruang peralatan olahraga.
"Iya, Pak! suaranya kencang sekali dari kelas yang ujung," ucap seorang siswa yang membantunya membawa peralatan olahraga.
Pak guru lalu mengajak murid itu untuk membuka pintu, mereka juga takut kalau terjadi kejadian yang tidak diinginkan di sekolah mereka.
"Apa ada orang di dalam?" tanya Pak guru ketika berada di depan kelas yang digunakan untuk mengurung Diana, beliau juga berusaha untuk membuka pintu dan menyuruh siswa yang bersamanya tadi mengambil kunci cadangan.
Diana menyahut dari dalam kelas itu, rasanya begitu bahagia walaupun sudah hampir beberapa jam dia terkurung di dalam kelas.
Akhirnya Diana bisa bernafas lega, sekarang dia sudah bebas karena pintu sudah dibuka. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih pada Pak guru tadi dan juga siswa yang tadi mengambilkan kunci cadangan.
Pak guru menyuruh Diana untuk segera pulang ke rumah, karena sudah sore. Dia juga harus mempersiapkan untuk lomba besok, beliau juga berpesan pada Diana agar belajar agar tidak mengecewakan.
Mungkin hari ini memang apes buat Diana, dia harus pulang dengan jalan kaki sembari mendorong sepedanya yang kempes. Jarak antara sekolah dan rumahnya lumayan jauh, tetapi dia berusaha menahan rasa capek dan lelah.
Sampai di depan rumah Diana melihat Mamah Airin, dengan menggunakan pakaian rapi dan membawa tas. Beliau seperti sedang buru-buru hendak pergi, ketika melihat Diana baru pulang langsung berkacak pinggang melihat ke arah Diana.
Melihat putrinya yang tampak lesu bukannya bertanya dengan baik, tetapi langsung menjewer telinga Diana.
"Ampun, Mah! lepasin... sakit!" teriak Diana.
"Dari mana saja kamu? kenapa pulang telat, tidak kasih kabar? mana ponsel kamu, biar Mamah sita," kata Mamah Airin.
"Mamah, gak lihat Diana masih pakai seragam sekolah! gak lihat juga ban sepeda Diana kempes," kata Diana langsung masuk ke dalam rumah.
Diana melepas sepatu lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian santai, yang biasa dia gunakan di rumah. Cacing dalam perut Diana sudah mulai memberontak, rasa lapar sudah tidak tertahankan lagi. Padahal Mamahnya masih marah, dia takut hendak pergi ke ruang makan. Berjalan dengan mengendap-endap Diana menuju ke ruang makan, kebetulan Mamah Airin berada di dalam kamar jadi tidak melihatnya.
Diana mengambil piring, lalu mengisinya dengan lauk, sayur dan nasi kemudian membawanya ke dalam kamar. Dia memakan habis makanannya, kemudian menyimpan piring yang sudah kosong di kolong tempat tidur agar tidak ketahuan.
Tiga jam berlalu, Papah Edo sudah pulang dan saat ini mereka hendak makan malam. Papah Edo dan Mamah Airin sudah berada di ruang makan, tinggal Diana yang belum.
"Mah, Diana mana? kenapa belum kesini," ucap Papah Edo.
Mamah Airin kemudian pergi ke kamar Diana untuk mengajaknya makan malam, tetapi Diana sudah tertidur. Beliau mendekati Diana yang menutupi sekujur tubuhnya dalam selimut, ada rasa menyesal sudah memarahinya.
"Maafkan Mamah, Sayang! semua demi kebaikan mu juga," ucap Mamah Airin sembari mengusap tubuh Diana yang terbalut selimut.
Setelah Mamah Airin keluar dari kamarnya, Diana membuka selimutnya. Dia sangat bersyukur ternyata Mamahnya masih peduli dengannya, walaupun setiap hari selalu marah. Diana kemudian membuka buku untuk belajar, karena besok harus mengikuti lomba.
Mamah Airin mengatakan kalau Diana sudah tidur, mungkin karena kelelahan tadi sudah mendorong sepedanya dari sekolah.
Papah Edo lalu pergi ke kamar Diana, dia merasa khawatir dengan keadaan setelah mendengar ucapan istrinya.
Dengan pelan Papah Edo membuka kamar Diana, dia lihat putrinya sedang belajar. Beliau tersenyum, kemudian beliau menutup pintu lalu melanjutkan makan malamnya.
Selesai makan malam beliau menasehati Mamah Airin agar tidak terlalu kasar dengan Diana, beliau takut Diana akan berbuat nekat dan berbohong kepada mereka karena rasa takut.
"Pah, Mamah tidak melarang Diana pergi atau kemana! tapi, yang Mamah mau dia memberikan kabar agar tidak membuat khawatir," jelas Mamah Airin.
"Tapi Mamah terlalu keras pada Diana! Papah tidak terima, Mah," ucap Papah.
Mamah Airin melakukan semua demi kebaikan Diana, apalagi dia seorang anak perempuan. Sebagai seorang Ibu, beliau merasa khawatir dengan anaknya jika belum pulang ke rumah.
"Kenapa Mamah yang Papah omelin," protes Mamah Airin.
Mamah Airin kemudian tidur dengan membelakangi suaminya, sedangkan Papah Edo menggelengkan kepalanya.
Pagi ini Diana sudah bersiap hendak berangkat sekolah, tetapi bingung hendak berangkat bagaimana karena Papah Edo masih tidur.
"Mah, uang saku aku mana?" tanya Diana ketika hendak berangkat.
"Ada di meja makan, Diana. Tumben minta saku," kata Mamah Airin.
Diana tidak mau rugi, walaupun sudah diberi oleh Papahnya dia tetap meminta pada Mamah Airin. Karena hendak digunakan untuk naik angkot, atau ojol agar cepat sampai di sekolah.
Ray tidak menjemput Diana, karena Diana melarangnya. Diana tidak mau dibully lagi oleh teman-temannya, terutama Siska dan kedua temannya.
Diana langsung mengambil uang itu, kemudian berpamitan untuk segera berangkat. Matahari juga sudah mulai menampakan wajahnya, untuk menyinari seluruh alam.
Hampir tiga puluh menit Diana belum juga mendapatkan angkutan umum, kemudian dia memutuskan untuk berjalan kaki dengan tergesa-gesa.
"Tunggu, Pak!" teriak Diana ketika melihat penjaga sekolah hendak menutup pintu gerbang.
"Cepetan!" teriak penjaga sekolah.
Diana langsung masuk dan hendak menuju ke ruang lomba, dia takut gilirannya sudah dimulai untuk mengerjakan tugas.
Brrruuuukkkkk.
Diana tiba-tiba terjatuh, lalu berusaha untuk berdiri. Kali ini dia sampai terluka, karena ada seorang siswa yang membawanya. Lutut Diana berdarah, tetapi Diana menahan rasa sakitnya demi ikut Olimpiade matematika.
jangan ngancam donk ray
jangan di sembunyikan dan di zholimi mulu ....