Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Pengakuan yang Tertunda
Pagi itu, suasana rumah kecil Aluna terasa lebih sunyi dari biasanya. Sejak kejadian di taman kota, Ratih tampak sering melamun. Beberapa kali wanita tua itu menatap Aluna dengan mata berkaca-kaca, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi selalu mengurungkannya.
Aluna yang sedang membantu menata sayuran akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Nek, sejak surat itu datang, Nenek berubah."
Ratih menghentikan pekerjaannya.
"Nenek hanya sedang banyak pikiran."
"Apakah semua ini ada hubungannya dengan Aluna?"
Ratih tersenyum tipis.
"Ada beberapa rahasia yang belum bisa Nenek ceritakan."
"Kenapa?"
"Karena Nenek takut."
"Tidak ada yang perlu ditakuti. Aluna tidak akan meninggalkan Nenek."
Ratih menggenggam tangan cucunya erat.
"Justru itu yang Nenek takutkan."
Aluna semakin bingung. Namun, ia memilih tidak memaksa. Ia tahu Ratih akan bercerita jika waktunya sudah tepat.
Di kantor Mahardika Group, Arsen dan Rangga sedang meneliti rekaman CCTV yang berhasil mereka dapatkan.
Pria yang menemui Aluna di taman terlihat jelas memasuki sebuah rumah tua di pinggiran kota sebelum menghilang.
"Lokasi ini sudah diperiksa?" tanya Arsen.
"Sudah, Pak."
"Hasilnya?"
"Rumah itu kosong. Tetangga mengatakan pemiliknya hanya datang sesekali."
Arsen menghela napas.
"Dia pasti tahu sesuatu tentang masa lalu Aluna."
Rangga mengangguk.
"Saya akan terus mencarinya."
"Tidak. Kali ini aku ikut."
Di sekolah, Aluna berusaha kembali menjalani kehidupan normal. Namun, Keisha belum menyerah.
Saat jam istirahat, Keisha sengaja menabrak Aluna hingga buku-bukunya jatuh berserakan.
"Maaf," ucap Keisha tanpa sedikit pun merasa bersalah.
Beberapa siswa tertawa kecil.
Aluna berjongkok mengambil buku-bukunya.
Siska yang melihat kejadian itu langsung menghampiri.
"Keisha! Kamu sengaja, kan?"
Keisha mengangkat bahu.
"Kalau memang sengaja, kenapa?"
Siska hampir membalas, tetapi Aluna menahan lengannya.
"Sudahlah."
"Luna, kamu terus saja mengalah."
"Membalas kebencian dengan kebencian tidak akan menyelesaikan apa pun."
Keisha mendengus kesal lalu pergi.
Namun, dalam hatinya ia semakin iri melihat Aluna yang tetap tenang dalam keadaan apa pun.
Sore harinya, saat Aluna dan Ratih hendak menutup lapak, sebuah mobil mewah berhenti di depan mereka.
Arsen turun sambil membawa beberapa kotak.
"Selamat sore, Nek."
"Selamat sore, Nak Arsen."
"Ada sedikit buah dan vitamin. Semoga Nenek berkenan menerimanya."
Ratih tersenyum hangat.
"Kamu terlalu baik."
Arsen lalu menoleh kepada Aluna.
"Boleh bicara sebentar?"
Aluna mengangguk.
Mereka berjalan beberapa langkah menjauh dari lapak.
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa itu?"
"Kalung yang kamu pakai... apakah kamu pernah melepasnya?"
Aluna menggeleng.
"Tidak pernah. Kata Nenek, kalung ini sudah ada sejak Aluna masih bayi."
Arsen menghela napas pelan.
"Kalau suatu hari nanti kamu mengetahui siapa keluarga kandungmu, apa yang akan kamu lakukan?"
Aluna terdiam cukup lama.
"Aku tidak tahu."
"Kenapa?"
"Karena bagiku keluarga adalah orang yang membesarkanku. Itu Nenek Ratih."
Jawaban itu membuat Arsen tersenyum.
Ia semakin yakin bahwa Aluna adalah gadis berhati tulus.
Namun, sebelum sempat mengatakan sesuatu lagi, sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan.
Seorang pria turun sambil menatap Aluna tanpa berkedip.
Begitu pandangan mereka bertemu, pria itu terlihat sangat terkejut.
"Itu... kalung itu..."
Pria tersebut langsung masuk kembali ke mobil dan pergi dengan tergesa-gesa.
Arsen sempat mengejar beberapa langkah, tetapi mobil itu sudah menghilang di tikungan.
"Ada apa, Pak?" tanya Aluna.
Arsen menatap ke arah jalan yang mulai sepi.
"Tidak ada."
Meski begitu, firasatnya mengatakan bahwa pria tadi mengenali kalung Aluna.
Dan mungkin... pria itu adalah salah satu kunci yang akan membuka rahasia besar tentang masa lalu gadis yang kini mulai mengisi hatinya.