Marcelo, seorang anak pengusaha terkenal jatuh cinta pada seorang gadis sederhana. Sayangnya cintanya tidak direstui oleh sang ibu, sehingga dia harus berpura-pura gila agar bisa bersatu dengan gadis itu.
Demi cintanya, Mitha rela menikah dengan laki-laki gila dan hidup menderita karena mertua yang menjadikannya seorang pembantu di rumah mewahnya.
Mampukah Mitha bertahan demi cintanya pada Celo sang suami? Yuk ikuti kisah selanjutnya dalam Cinta Gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CG# 24
Dokter Faisal dan Asep akhirnya membawa kembali Celo keluar dari perkampungan itu. Sesuai permintaan si pasien untuk bertemu dengan istrinya. Mungkin dengan bertemu, anak sahabatnya itu bisa membaik dan langsung sembuh.
Saat mereka sampai di perbatasan kota, mobil yang mereka tumpangi dihadang oleh segerombolan orang-orang suruhan Rosita. Terjadi baku hantam antara orang-orang bayaran Rosita dengan dokter Faisal dan anak buahnya. Berhubung kalah jumlah, Celo sudah dibawa kabur oleh dua orang preman bayaran Rosita, saat Asep dan teman-temannya melawan para preman itu.
Marcelo yang tubuhnya masih lemas itu berusaha melawan, tetapi kalah tenaga. Pemuda itu hanya berharap sang ayah bisa menolongnya nanti
Anak kedua Weasley itu dibawa pulang ke kediaman Weasley. Dia kembali menempati kamarnya yang lama, saat masih sekolah. Kamar itu masih tetap sama seperti tiga tahun lalu, saat sang ibu kecewa karena mengetahui dirinya gila akibat tertekan.
Di dalam kamar itu, Rosita sudah menunggu bersama seorang dokter yang akan merawat Marcelo. Sebenarnya sakit suami Mitha itu hanya gangguan lambung juga kehamilan simpatik yang membuatnya muntah-muntah tanpa mengenal waktu.
"Sakit lambungnya sudah kronis. Jika pikiran pasien tenang, keadaaan lambungnya perlahan akan membaik. Kunci dari sakit lambung, kita obati dulu pikiran dan perasaannya karena sumber penyakit ini berasal dari pikiran," jelas dokter yang dibayar oleh Rosita.
"Aku tidak mau tahu semua itu! Aku hanya mau kamu sembuhkan anakku. Berapa pun aku akan membayarnya. Mengerti?"
Dokter kembali memasangkan jarum infus yang sudah dua hari ini dilepas karena kondisi Marcelo yang mulai membaik. Dalam cairan infus itu diberi campuran obat tidur dengan dosis rendah. Hal ini ditujukan agar pasien lebih banyak istirahat dan tidak banyak pikiran.
Mendengar sang anak sudah berada di rumah, Damian segera pulang. Laki-laki paruh baya itu tidak banyak bertanya, hanya melihat ke kamar anaknya sekilas untuk mengetahui keadaan sang anak. Anak laki-laki itu tampak tidur pulas tidak gelisah seperti biasanya.
Damian memerintahkan Surti dan Tinah untuk selalu mengawasi tuan mudanya. Begitu juga dengan Zee. Gadis remaja itu dilarang pergi bersama teman-temannya karena diminta sang ayah untuk menjaga dan mengawasi sang kakak.
Kabar pulangnya anak kedua Weasley membuat Laras bahagia. Gadis itu langsung mendatangi kediaman Weasley untuk menjenguk sang pujaan hati. Gadis itu tidak tahu jika pangeran pujaan hatinya sedang sakit.
Dengan bibir yang selalu mengembangkan senyum, Laras mengetuk pintu rumah mewah itu. Saat pintu jati yang penuh dengan ukiran itu terbuka dia masuk dengan angkuhnya karena Tinah yang membuka pintu tersebut, bukan sang majikan. Wanita cantik anak tunggal Sapto Hudoyo itu berharap kedatangannya disambut oleh calon ibu mertua, tetapi itu hanya angan belaka.
Rosita bukanlah wanita yang mau bersusah payah membuka pintu untuk tamu. Baginya, jika bisa membayar orang untuk disuruh, tidak perlu melakukan hal-hal yang tidak penting menurutnya.
"Tante Rosita di mana?" tanya Laras pada sang asisten rumah tangga tuan rumah. Tidak ada keramahan sama sekali dalam nada suaranya.
"Ada di belakang, Nona," jawab Tinah seraya menunjuk ke arah halaman belakang yang dilengkapi dengan kolam, taman dan paviliun yang ditempati oleh Celo.
"Celo?" tanya Laras lagi sambil mengikuti langkah sang asisten rumah tangga.
"Mmm, a-anu ...."
"Anu apa? Ngomong yang jelas! Kek orang gagu aja," bentak gadis yang bernama lengkap Cantika Laras Hudoyo.
Suara teriakan Laras yang membentak asisten rumah tangga itu terdengar oleh Rosita di belakang dan Damian yang kebetulan masuk ke dalam rumah. Laki-laki separuh abad itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan wanita pilihan sang istri. Sementara, Rosita langsung mendatangi tamunya yang baru datang.
"Laras, apa kabar, Sayang?" sapa Rosita dengan ramahnya.
"Baik, Tante," sahut Laras sambil mendekati Rosita, lalu keduanya cipika-cipiki.
"Jangan panggil Tante lagi! Kamu itu akan menjadi bagian di keluarga di sini. Kamu akan jadi anak Mami. Jadi, panggil mami saja sama seperti anak-anak mami yang lain," pinta Rosita sembari mengajak tamunya duduk.
Sementara itu, Damian langsung menuju ke kamar sang anak begitu tahu ada Laras di rumahnya. Dia tidak ingin wanita itu mengusik waktu istirahat Celo karena bisa mempengaruhi kondisi anaknya saat ini. Ayah tiga anak itu langsung mengunci kamar begitu sudah berada di dalamnya.
Celo masih lelap dalam tidurnya. Obat itu efektif membuat dia tidak memikirkan sang istri, hanya saja badannya akan terasa lebih lemas saat terbangun nanti karena tidak ada pergerakan anggota tubuh yang bisa melancarkan peredaran darah. Pemuda itu hanya telentang dengan tangan tertancap jarum infus di atas perut.
"Kasihan sekali kamu, Nak. Menjadi korban keegoisan ibumu sendiri, padahal kalian bertiga sama-sama terlahir dari rahim yang sama. Papi akan usahakan kamu keluar dari sangkar emas ini," ucap Damian menggenggam tangan sang anak.
Hatinya hancur karena dia selalu kalah dari sang istri. Jika bukan karena pernah memiliki hutang budi pada sang istri, sudah tentu dia akan memilih berpisah dan hidup bersama anak-anak. Namun, hutang budi yang begitu besar membuatnya tidak bisa berbuat sesuatu yang bisa menyakiti perasaan istri dan anaknya.
Di ruang keluarga, Laras sedang ngobrol dengan Rosita. Mereka membicarakan acar pertunangan yang akan dilaksanakan lima hari lagi. Persiapan sudah matang, yang tinggal menunggu baju yang akan digunakan saat acara berlangsung.
"Tante, bagaimana dong ini? Aku belum fitting baju loh, padahal sudah memesan baju di butik RJ. Kapan Celo akan menemani Laras?" rengek Laras dengan tangan berada di atas punggung tangan sang calon mertua.
"Sabar, Laras. Marcelo masih kelelahan setelah pulang dari luar kota. Banyak pekerjaan yang harus dia lakukan di perusahaan cabang sehingga dia kelelahan. Jadi, biarkan dia istirahat dulu," jawab Rosita menenangkan sang calon mantu.
"Terus, Sayangnya Aku sekarang lagi ngapain, Mi?" tanya Laras semakin penasaran ingin bertemu dengan sang calon suami.
"Celo masih istirahat, tadi mami lihat dia masih tidur. Jadi, mami mohon jangan ganggu dia dulu. Nanti kalau sudah bangun dan badannya segar lagi, mami kabarin kamu. Bagaimana?" jawab Rosita mengalihkan pembicaraan.
Wajah cantik itu tampak kecewa karena lagi-lagi dia tidak diperbolehkan bertemu dengan sang pujaan hati. Gadis itu pun mulai curiga ada yang tidak beres dengan keluarga pengusaha besar itu. Laras pun menerka-nerka apa yang sedang disembunyikan oleh calon ibu mertuanya itu.
Anak tunggal pasangan Sapto Hudoyo dan Ratnasari itu akan mengikuti alur permainan yang diciptakan oleh Rosita. Namun, jika dirinya dicurangi maka dia akan membalas lebih dari yang diterimanya.
"Mami, kalau misalnya Celo tidak mau dijodohin sama aku. Sebaiknya tidak usah dilanjutkan. Masak pengen bertemu saja tidak bisa," ujar Laras setelah tuan rumah dan tamu itu terdiam beberapa saat.
***
sukses selalu Thor
Laras baik untungnya
meski banyak rintangan yang selama ini menghalangi,akhirnya semua bisa bahagia.
semau sendiri.