DILARANG PROMOSI DI KOLOM KOMENTAR!!
Ana, gadis yang baru berusia 18 tahun harus tinggal bersama pria asing yang telah menggelontorkan banyak uang demi biaya operasi sang adik yang terluka cukup parah karena penyerangan sedang kedua orang tuanya telah tiada.
Judul lama "Penjara Cinta"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadis_Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Sosok Wanita Yang Paling Dibenci
Si pria tersenyum sinis. "Wah, wah kau benar-benar hebat Tuan Samuel. Kau sudah ditipu oleh Martha dengan mengaku kalau janin di dalam kandungannya adalah milikmu tapi kau masih mau mencariku untuk bertanggung jawab? Itu gila sekali."
"Katakan cepat, kalau kau mau bertanggung jawab akan aku lepaskan jika tidak kau akan lebih menderita ketimbang sekarang." ancam Samuel dengan nada serius.
"Kau pikir aku takut? Tidak sama sekali, ayo pukul aku saja. Lebih baik aku mati ketimbang harus bertanggung jawab." Samuel pun memunculkan senyuman misterius.
"Baiklah jika itu maumu. Dariel antar pria ini pada pemangsa, aku yakin dia akan senang menerima hadiah yang kita kirimkan sekarang." Dariel melebarkan matanya.
"Apa anda serius Tuan? Anda ingin membawanya pada pemangsa?" Ada ketakutan dalam mata Dariel begitu mengucapkan "pemangsa".
"Kau pikir aku pernah bercanda? Bawa dia!" Samuel pun meninggalkan tempat itu sedang Dariel segera menyeret si pria ke mobil.
"Siapa pemangsa itu? Apa dia akan mencabut nyawaku?"
"Lebih buruk lagi," sergah Dariel. Pria yang sibuk menyetir itu mengangkat salah satu sudut bibirnya.
"Dia gay."
*****
Mobil Samuel berhenti tepat di kampus DAMAWASA hendak menjemput Ana. Kebetulan saat itu juga Ana telah menunggunya. Dia langsung masuk dan mobil pun menuju kediaman Samuel.
"Apa kau sudah menunggu lama?" Ana menggeleng.
"Aku pikir aku akan terlambat menjemputmu, bagaimana kita ke warung mie itu lagi. Aku lapar sekarang."
"Boleh juga kebetulan aku ingin juga makan di sana." Berhentilah mobil Samuel tepat di sebuah gang sempit yang membuat mereka berjalan lebih agak dalam.
Begitu mereka sampai Ana dan Samuel langsung memesan mie favorit mereka. "Kalian datang lagi, wah ini berarti Tuan ini suka ya sama mie saya?" Samuel hanya menjawab dengan anggukan pelan dan senyuman tipis.
"Asyik dapat satu pelanggan tetap lagi," ucap si pemilik warung bernama Pak Tarno. Baik Ana dan juga Samuel hanya bisa tergelak kecil. Beberapa menit kemudian mereka menghabiskan satu mangkok mie dan Samuel menambah dua mangkok lagi.
Perut telah terisi dan mereka pulang. Tak ada pembicaraan antara mereka bahkan sampai ke kediaman Samuel hingga malam menjelang. Ana lebih tertarik pada tugas kampusnya sedang Samuel tentu saja pekerjaannya.
Ana merenggangkan tubuhnya setelah seharian mengetik di laptop. Dilihatnya jam di dinding yang menunjukkan jam 10 malam. Dia lantas menggerutu kesal, saking asyiknya dia lupa makan. Dari pada terkena maag Ana keluar dari kamar menuju dapur.
Didapatinya lampu ruang tamu telah mati jadi gelap gulita tapi anehnya lampu dapur tetap menyala. Sepasang mata Ana melebar melihat sosok pria tinggi yang membelakanginya. Tentu saja dia sangat mengenal siapa pria itu.
"Tuan Samuel," Si pria menoleh dan benar saja itu adalah Samuel. Dia tengah makan sekarang apa Samuel juga melupakan makan malam.
"Ana, kenapa kau ada di sini?"
"Makan malam. Apa Tuan juga makan malam?" Samuel mengangguk pelan.
"Ayo makan malam denganku."
Ana sebenarnya enggan tapi karena Samuel memintanya, dia lalu duduk di samping. Ana menatap lama Samuel yang kini mengambilkan dia lauk pauk kemudian memberikannya pada Ana.
"Terima kasih Tuan." Samuel kembali menyantap begitu juga dengan Ana yang kini makan dengan lahap.
"Apa Tuan sering seperti ini?" tanya Ana tiba-tiba.
"Ya, tapi sekarang kau ada di sini meski mungkin kau tak akan selalu menemaniku makan. Aku merasa sangat bahagia," kata Samuel. Ana hanya melempar senyuman tapi tubuhnya mematung saat tangan Samuel menyentuh tangannya.
Entah itu sengaja atau tidak, tapi keduanya diam dan saling memandang. "Ana, jawab pertanyaanku yang jujur? Sebenarnya bagimu aku ini siapa?"
Ana mengerjapkan matanya. Jantung berdebar dengan keras. "Ke-kenapa anda menanyakan hal itu?"
"Cukup jawab pertanyaanku,"
"Itu pertanyaan yang cukup sulit dan aku tak tahu bagaimana menjawabnya." kata Ana dengan kecanggungan yang luar biasa. Setelah mengatur napasnya, Ana mencoba untuk menatap muka Samuel.
"Samuel, aku---"
Suara bel rumah terdengar tepat saat ponsel Samuel juga berbunyi. "Biar aku saja," Ana berlari kecil menggapai pintu sedang Samuel berdecak kesal karena ponselnya mengganggu suasana.
Dari : bukan siapa-siapa
Untuk : Samuel
Samuel, aku titip adek dan Ibu Tirimu ya.
Mata Samuel membulat dan mendengar suara cemprang seseorang. "Kamu siapa? Mana Kakakku?" Samuel segera berjalan ke ruang tamu dan yang dia dapati adalah Mira, anak dari Ayah kandung dan Ibu Tirinya tengah menatap Ana dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Mira," Panggilan Samuel membuat gadis belia itu melihat pada Samuel. Senyuman ditorehkan pada Samuel dan langsung memeluk pria itu.
"Kakak, Mira rindu sama Kakak." Samuel membalas pelukan sang adik tiri.
"Kakak juga rindu sama Mira. Bagaimana kabarmu?"
"Baik. Kakak juga sehat?"
"Iya." Pelukan dilepaskan lalu mata Mira beralih pada Ana.
"Dia siapa?" Samuel mengembangkan senyuman melihat Mira menunjuk Ana yang berusaha membuka mulut.
"Dia Ana ... kekasihku." Baik Ana dan Mira, keduanya sama-sama terkejut termasuk seorang wanita yang baru saja datang.
"Dia kekasihmu?!" Suaranya setengah berteriak. Wanita itu melihat dari ujung kepala hingga ujung kaki penampilan Ana lalu mendecak.
"Katakan apa yang baik dari dia hingga kamu suka sama dia?!" Kelembutan di mata Samuel berganti menjadi tajam.
"Bukan urusanmu. Kau ini bukan siapa-siapa, mengerti?"
"Bukan siapa-siapa? Samuel, aku istri Ayahmu itu berarti aku adalah Ibumu!" seru wanita itu dengan suara nyaring.