NovelToon NovelToon
Suamiku, Pelankan Suaramu!

Suamiku, Pelankan Suaramu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Antagonis
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.

Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.

Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?

Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 034: Demo Pertama

Pagi hari demo, Kevin bangun sebelum alarm.

Meilin menemukannya di meja makan, laptop terbuka, tiga tab monitoring menyala, dan segelas teh jahe dari Mama Zhu sudah tinggal setengah. Di layar, daftar email peserta demo tertata rapi. Setiap alamat diberi status: approved, pending, blocked.

Satu baris berwarna merah.

Blocked: strategy.viewer@halimgroup.co.id

"Masih mencoba?" tanya Meilin.

"Tidak lagi sejak Hendry blokir domain."

"Tapi kamu tetap menatapnya."

Kevin menutup tab itu. "Agar ingat mereka tidak berhenti hanya karena ditolak sekali."

Meilin meletakkan telapak tangan di punggungnya sebentar. "Kita juga tidak berhenti."

Kevin menoleh. Matanya masih kurang tidur, tapi kali ini tidak liar.

"Kamu sudah makan?"

"Aku baru mau ambil roti."

Kevin berdiri.

Meilin menarik lengannya. "Ko."

Dia berhenti.

"Aturan, bukan penjara."

Kevin memejamkan mata sebentar, lalu duduk kembali. "Roti di rak atas."

"Terima kasih."

Itu kemajuan kecil. Tapi bagi Meilin, pagi itu terasa seperti tanda bahwa tubuh Kevin sedang belajar mempercayai ruangan.

Demo dilakukan di ruang meeting calon klien, kali ini dengan layar lebih besar dan beberapa staf gudang ikut duduk di belakang. Hendry datang lebih awal, memastikan akses internet cadangan dan merekam daftar peserta. Meilin duduk di sisi kanan meja dengan map kontrak dan draft data protection. Kevin berdiri di depan layar.

Lima menit sebelum mulai, Meilin berdiri.

"Aku ke toilet sebentar."

Kevin hampir ikut berdiri.

Gerakan itu kecil, tapi Meilin melihatnya. Hendry juga melihat, lalu pura-pura mengecek kabel HDMI dengan keseriusan berlebihan.

Meilin menyentuh meja di dekat tangan Kevin. "Aku balik sebelum demo mulai. Ponselku aktif. Ini kantor klien, bukan parkiran Raymond."

Kevin menatapnya. Selama dua detik, rahangnya mengeras.

Lalu dia duduk kembali.

"Tiga menit."

"Lima."

"Empat."

Meilin hampir tersenyum. "Baik, empat."

Dia kembali sebelum empat menit. Kevin tidak berdiri di depan pintu. Dia tetap di ruang meeting, tapi matanya langsung menemukan Meilin begitu dia masuk. Itu belum sempurna, tapi cukup untuk membuat Meilin ingin menggenggam tangannya kalau ruangan tidak penuh orang.

Sebelum demo dimulai, direktur operasional menyampaikan sesuatu dengan wajah tidak nyaman.

"Tadi pagi ada lagi pihak yang menawarkan sistem serupa secara gratis."

Hendry menatap Kevin.

Kevin tidak langsung menjawab. Dia melihat Meilin.

Meilin mengangguk kecil.

"Boleh saya tanya, Pak," kata Meilin, "apakah penawaran itu menyertakan batas akses data, SLA, dan klausul bahwa data Bapak tidak dipakai untuk kepentingan grup lain?"

Direktur operasional membuka dokumen di tabletnya, lalu alisnya bergerak.

"Belum ada."

"Kalau begitu, gratisnya belum lengkap dihitung," kata Meilin. "Kami tidak bisa melarang Bapak membandingkan vendor. Tapi kami bisa memastikan risiko kami tertulis, bukan disembunyikan."

Kepala gudang di belakang bergumam, "Yang penting sistemnya jalan."

Kevin menyalakan demo.

Dalam lima menit pertama, ruangan masih kaku. Staf gudang saling melirik. Admin finance mencatat. Lalu Kevin memasukkan file Excel sample yang mereka kirim semalam. Sistem membaca kolom yang berantakan, menandai tiga error input, lalu menampilkan stok ayam beku yang ternyata tidak cukup untuk order dua hari ke depan.

Kepala gudang duduk lebih tegak.

"Itu kemarin yang bikin ribut."

Kevin mengangguk. "Karena order masuknya dicatat di sheet berbeda. Di sini sistem tarik dua sumber, lalu tandai benturan."

"Kalau nama barang beda sedikit?"

"Saya buatkan mapping. Misalnya 'ayam fillet', 'fillet ayam', dan kode internal bisa dibaca sebagai item yang sama setelah dikonfirmasi sekali."

Staf gudang yang tadi bersandar mulai maju ke meja.

Meilin memperhatikan perubahan kecil itu. Orang yang awalnya datang karena diminta atasan, sekarang mulai melihat masalah harian mereka muncul di layar tanpa perlu dimarahi.

Lalu koneksi internet ruang meeting putus.

Satu detik.

Dua detik.

Admin finance langsung melihat modem.

Meilin merasakan tubuh Kevin menegang. Bukan panik. Lebih seperti mesin yang menunggu perintah.

Kevin menekan satu tombol.

Layar berubah ke mode offline.

"Data terakhir tetap bisa dilihat," katanya. "Input baru masuk antrean lokal. Begitu koneksi kembali, sinkronisasi jalan otomatis. Untuk gudang, ini penting karena koneksi tidak selalu stabil."

Kepala gudang tertawa pendek. "Nah, itu baru benar."

Ketegangan ruangan pecah.

Tiga puluh menit kemudian, demo selesai bukan dengan tepuk tangan, tapi dengan jenis keheningan yang lebih berharga. Keheningan orang menghitung manfaat.

Direktur operasional menatap timnya. "Kita mulai pilot satu bulan."

Meilin menahan napas.

"Berbayar," tambahnya. "Tidak besar dulu. Tapi kalau hasilnya sesuai, kita perluas ke dua gudang lain."

Hendry menunduk singkat, profesional. "Kami siapkan revisi kontrak hari ini."

"DP berapa?" tanya admin finance.

Hendry sudah membuka file. "Tiga puluh persen dari biaya pilot, setelah kontrak dan invoice diterima. Sisanya setelah minggu kedua jika sistem berjalan sesuai checklist."

Admin finance mengangguk. "Kirim invoice hari ini. Pakai rekening perusahaan, bukan pribadi."

Meilin menjawab sebelum Hendry. "Tentu. Rekening atas nama YunMei Tech. Semua pembayaran masuk lewat rekening perusahaan."

Hendry langsung mencatat batas waktu invoice, PIC pembayaran, dan tanggal evaluasi minggu kedua.

Direktur operasional menambahkan, "Kami juga ingin klausul penghentian kalau data bocor."

"Wajar," kata Meilin. "Kami masukkan. Dan kalau dari pihak Bapak ada akses yang dibagikan ke luar daftar, itu juga tercatat sebagai pelanggaran."

Kepala gudang tertawa kecil. "Bu Direktur ini galak juga."

Meilin merasakan wajahnya panas, tapi dia tidak menunduk. "Soal data memang harus galak, Pak."

Kali ini, beberapa orang di ruangan benar-benar tertawa. Bukan menertawakan dia. Lebih seperti menerima bahwa orang kecil bernama YunMei Tech ternyata datang dengan aturan yang jelas.

Kevin hanya berkata, "Baik."

Tapi Meilin melihat tangan Kevin di sisi meja. Jari-jarinya tidak mengepal. Untuk pertama kalinya sejak Raymond muncul, tubuhnya terlihat sedikit lebih longgar.

Setelah keluar dari ruang meeting, Hendry berhenti di koridor.

"Dengan paid pilot pertama, posisi kita berubah," katanya pelan. "Belum besar. Tapi sudah bukan ide di atas kertas."

Meilin menatap map di tangannya.

YunMei Tech tidak hanya bertahan dari rumor pagi itu.

Ia mendapatkan uang pertamanya.

Kevin berdiri di sampingnya, lalu menatap Meilin. "Direktur?"

Meilin hampir tersenyum. "Founder produk?"

"Pulang?"

"Makan dulu."

Kevin mengangguk seolah itu keputusan strategis paling masuk akal hari itu.

Mereka baru turun ke lobby ketika ponsel Kevin bergetar.

Nama Bryan muncul.

Kevin membuka pesan itu. Wajahnya yang baru saja sedikit longgar kembali mengeras.

Bryan: Ko, demo kalian sampai ke telinga Opa.

Pesan kedua masuk.

Bryan: Besok malam. Menteng. Kali ini Opa minta Ci Meilin ikut.

Meilin membaca kalimat itu bersama Kevin.

Kemenangan pertama YunMei baru saja masuk ke rekening mereka.

Dan Menteng sudah membuka pintunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!