NovelToon NovelToon
Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.

Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.

Tapi Nana tahu yang sebenarnya.

Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.

Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.

*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Dompet kulit itu setengah masuk ke balik lengan jaket Nana ketika pemiliknya berbalik.

Nana menahan napas.

Di depannya, seorang pria berjas abu-abu sedang menawar jeruk mandarin di lapak Pecinan Surabaya. Bau kulit jeruk, dupa, minyak panas, dan knalpot motor bercampur di udara pagi.

Jari Nana berhenti di tempat.

Pria itu hanya menggaruk tengkuknya, lalu kembali membungkuk ke arah tumpukan jeruk.

Nana menarik dompet itu tanpa mengubah irama langkahnya. Begitu dompet menyentuh telapak tangan, dia langsung menyelipkannya ke kantong kain lusuh yang tergantung di bahu.

"Eh!"

Teriakan itu bukan dari si pemilik dompet.

Nana menoleh.

Seorang satpam dari toko perhiasan di seberang jalan menunjuk ke arahnya. Di atas pintu toko, kamera CCTV kecil berwarna hitam mengarah tepat ke kerumunan.

"Pencuri!"

Kerumunan pecah seperti air disiram ke lantai panas.

Nana tidak menunggu teriakan kedua. Kakinya langsung berlari, menyelip di antara pembeli, gerobak, dan sepeda motor yang parkir miring. Seseorang mengumpat ketika bahunya tersenggol. Seorang ibu hampir menjatuhkan kantong belanjaannya.

"Minggir!"

"Tangkap dia!"

Nana menunduk rendah. Sandal jepitnya hampir lepas, tapi dia menekan jempol kakinya kuat-kuat. Ia hafal jalan ini seperti hafal garis di telapak tangannya sendiri. Tiga langkah ke kiri ada kios obat. Lima langkah lagi ada gang sempit yang selalu bau air cucian ikan. Di ujung gang, ada pagar besi yang engselnya rusak.

Kalau sampai pagar itu, dia selamat.

Sebuah tangan nyaris meraih ujung jaketnya.

Nana memutar tubuh, menyenggol tumpukan kardus kosong sampai jatuh berhamburan. Satpam yang mengejarnya tersandung dan mengumpat keras.

"Anak kurang ajar!"

Nana tidak menoleh.

Jantungnya memukul keras. Napasnya panas sampai tenggorokan. Tapi rasa takut bukan hal baru baginya. Sejak kecil, rasa takut sudah mengajarinya bahwa orang miskin tidak boleh lambat.

Ia melompat melewati genangan hitam.

Gang itu sudah di depan mata.

Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di mulut gang.

Nana mengerem langkahnya terlalu mendadak. Telapak kakinya tergelincir, bahunya menghantam dinding lembap. Mobil itu terlalu bersih untuk berada di tempat ini. Kaca jendelanya gelap, bodinya mengilap, bannya masih menyimpan sisa air dari jalan raya besar.

Pintu belakang terbuka.

"Masuk."

Suara perempuan.

Nana membeku.

Di dalam mobil, seorang gadis muda menatapnya. Rambutnya terikat rapi, blus putihnya sederhana tapi jelas mahal, dan pergelangan tangannya memakai gelang giok tipis.

Nana mundur setengah langkah.

"Kalau kau mau tertangkap, silakan berdiri di situ," kata gadis itu lagi. "Mereka tinggal beberapa meter."

Teriakan satpam mendekat.

Nana menatap pintu mobil, lalu gang di belakang mobil yang sudah tertutup. Pilihannya tinggal dua, masuk ke kandang orang kaya yang tidak ia kenal, atau kembali ke tangan orang-orang yang pasti akan memukulnya.

Ia masuk.

Pintu tertutup tepat saat satpam muncul di ujung jalan.

"Jalan, Pak," ujar gadis itu kepada sopir.

Mobil bergerak mulus, meninggalkan pasar yang masih ribut di belakang.

Nana menempelkan punggung ke pintu. Tangannya masih mencengkeram kantong kain. Ia menatap gadis di depannya seperti menatap pisau yang dibungkus kain sutra.

"Dompetnya," kata gadis itu.

Nana diam.

"Aku tidak bilang akan menyerahkanmu ke satpam." Gadis itu mengulurkan tangan. Kukunya pendek, bersih, tanpa cat. "Aku bilang dompetnya."

"Bukan punya Cici," jawab Nana pelan.

Alis gadis itu naik sedikit. "Tapi juga bukan punyamu."

Nana menggigit bagian dalam pipinya. Di luar jendela, deretan toko tua bergerak mundur. Lampion merah yang mulai pudar, kabel listrik kusut, dan wajah-wajah orang yang tak pernah benar-benar melihatnya lewat begitu saja.

Ia mengeluarkan dompet itu dan meletakkannya di telapak tangan gadis itu.

Gadis itu membukanya, memeriksa kartu identitas, lalu mengambil ponsel dari tas kecilnya.

"Pak, putar balik sebentar. Dompet ini harus dikembalikan ke pemiliknya." Setelah memberi instruksi, ia kembali menatap Nana. "Namaku Stella Sie."

Sie.

Nama itu membuat punggung Nana menegang.

Di Surabaya, ada nama yang tidak perlu dijelaskan. Orang pasar menyebut keluarga Sie dengan suara pelan, seperti menyebut harga barang yang tidak sanggup mereka beli.

"Aku tidak tahu siapa Cici," kata Nana.

"Sekarang tahu."

"Kalau mau lapor polisi, lapor saja."

Stella memiringkan kepala. "Kau selalu bicara seperti sedang menantang orang menusukmu?"

Nana menutup mulut.

Mobil berputar sebentar. Sopir turun, mengembalikan dompet lewat seorang penjaga toko, lalu kembali masuk tanpa bertanya apa pun.

Nana melihatnya dengan dada sesak yang aneh.

Di dunianya, kalau jatuh, ia bangun sendiri. Kalau lapar, ia mencari sendiri. Kalau tertangkap, ia menanggung sendiri.

"Kau tinggal di mana?" tanya Stella.

"Dekat sini."

"Dekat sini sebelah mana?"

"Dekat sini."

Stella menatap sandal jepit Nana yang basah dan hampir putus, lalu kantong kain yang jahitannya menganga. Tatapannya tidak jijik, tidak geli, tidak juga pura-pura kasihan. Justru karena itu, Nana merasa lebih tidak aman.

"Keluargamu?"

"Tidak ada."

Hening sebentar.

Sopir melirik dari kaca tengah, lalu cepat-cepat menunduk lagi.

Stella menyandarkan tubuh ke kursi. Di wajahnya, sesuatu yang cerah tadi meredup sedikit, seperti lampu terkena angin.

"Usiamu berapa?"

"Tujuh belas." Nana menjawab asal. Ia tidak yakin. Tidak ada yang pernah merayakan tanggal lahirnya.

"Namamu?"

Nana menimbang apakah harus berbohong. Tapi untuk apa? Gadis ini sudah menyelamatkannya, dan itu justru membuat Nana semakin curiga.

"Nana."

"Nana apa?"

"Nana saja."

Stella mengangguk pelan. "Baik. Nana saja."

Jawaban itu membuat Nana menoleh. Biasanya orang akan memaksa. Orang yang punya rumah besar suka memaksa hal-hal kecil agar terasa berkuasa.

"Kenapa menolongku?" tanya Nana akhirnya.

Stella melihat keluar jendela. Mobil meninggalkan Pecinan lama. Toko-toko rapat berganti gedung kantor, pagar tinggi, dan pohon palem rapi.

"Karena kau berlari seperti orang yang sudah terlalu sering dikejar."

Nana tidak punya jawaban untuk itu.

"Dan karena kau tidak mencuri untuk bersenang-senang," lanjut Stella. "Orang yang mencuri untuk gaya tidak memakai sandal yang hampir putus."

Panas naik ke wajah Nana. Ia menarik kakinya ke bawah kursi.

"Aku tidak minta dikasihani."

"Bagus. Aku juga tidak sedang mengasihanimu."

"Lalu?"

Stella tersenyum, kali ini tipis sekali. "Aku sedang menawarkan pekerjaan."

Nana menatapnya tajam. "Pekerjaan apa?"

"Tinggal di rumahku. Bantu hal-hal kecil. Makan teratur. Tidur di tempat yang pintunya bisa dikunci dari dalam."

Tawaran itu terdengar terlalu bersih.

"Orang seperti Cici tidak memberi begitu saja."

"Benar," jawab Stella tanpa tersinggung. "Aku juga butuh sesuatu."

"Apa?"

Stella tidak langsung menjawab. Mobil berbelok melewati gerbang tinggi dengan dua penjaga berseragam. Di baliknya, jalan masuk memanjang di antara taman rapi, kolam kecil, dan pohon kamboja putih.

Nana lupa bernapas.

Rumah di ujung jalan itu seperti dunia lain yang diletakkan di tengah kota, besar, sunyi, dan terlalu terang. Tiang-tiang tinggi menopang teras depan. Jendela-jendelanya berkilau.

Stella membuka pintu mobil.

Angin dari taman membawa wangi bunga dan lantai yang baru dipel.

"Selamat datang di Rumah Besar Sie," katanya.

Nana turun perlahan. Sandalnya yang hampir putus menyentuh batu alam yang dingin.

Di belakang pintu besar itu, beberapa pelayan menoleh. Dua penjaga saling pandang. Dari lantai atas, tirai tipis bergerak lalu diam lagi.

Stella berdiri di samping Nana, masih tersenyum.

"Yang kubutuhkan sederhana," ucapnya pelan. "Di rumah ini, aku perlu seseorang yang tahu cara bertahan hidup."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!