Setan apa yang telah merasuki suamiku. Dengan teganya ia bermain dibelakangku. Terlebih didalam kamar yang sering aku dan suamiku memadu kasih.
Aku buka perlahan knop pintu itu. Dan untungnya tidak terkunci. Perlahan aku melangkah. Namun aku dikejutkan dengan dua sosok manusia yang sedang berada dalam satu selimut. Aku mendekat. Aku tarik rambut perempuan itu. Tak peduli ia merasakan kesakitan atas perlakuanku.
Dan sejak saat itu. Aku Ajeng Shafanina akan membalaskan atas luka yang mereka torehkan kedalam hatiku. Dan aku akan buktikan bahwa aku pun bisa tanpanya. Tanpa seorang Yudha Mahardika, suami yang tak tau diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faza Nihaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Hidup Yang Tak Sama
Tak terasa, tepat hari ini Qeera sudah dinyatakan lulus dari sekolahannya.
Meskipun ia sudah lama tidak hadir di sekolah, tapi Qeera selalu aktif mengikuti apa yang telah diajarkan oleh guru private nya yang merupakan wali kelasnya juga.
Ia anak yang pintar dan cerdas, sehingga tak butuh waktu lama sang guru mengajari anak itu.
Ajeng dan Qeera akan ke sekolahan untuk proses tanda tangan dan juga cap jari.
Mereka berdua berangkat menggunakan taksi online. Dan setelah memakan waktu yang hampir satu jam lebih. Ibu dan anak itu turun dan langsung masuk kedalam gerbang sekolahan.
Meski sempat ada keraguan pada Qeera, karena anak itu masih mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu yang dimana mendapat sedikit bullyan. Tapi akhirnya Ajeng bisa meyakinkan kalau sekarang tidak akan ada lagi yang membully, pun jika benar ada, harus di hadapi dan jangan takut.
Dengan mantap, keduanya masuk kedalam ruangan, antri menunggu panggilan untuk penyerahan ijazah serta piagam penghargaan dan juga piala.
Karena semua yang sekolah disana akan mendapatkan seperti yang barusan disebutkan.
Dan untungnya tidak ada lagi yang julid seperti yang sudah-sudah, baik itu teman-teman Qeera maupun para wali wurid.
Tiba nama Qeera Nakesya Mahardika di panggil. Anak itu segera masuk bersama sang bunda, dan langsung diberikan ijazah, piagam penghargaan dan juga piala.
Serta cap jari dari anak itu dan Ajeng tanda tangan diatas nya.
Setelah usai, mereka berdua bergegas keluar dan melangkah menuju keluar gerbang dan memilih istirahat terlebih dahulu sambil memesan taksi online.
Namun pada saat akan memesan. Abian tak sengaja lewat ke hadapan mereka berdua. ia pun berhenti dan turun lalu menghampiri ibu dan anak itu.
"Ajeng, Qeera." sapa Abian. Dan keduanya menatap pada lelaki yang menghampiri mereka.
"Om Abian kan?" tanya Qeera sambil tersenyum.
"Iya, ini Om. Kalian mau pulang?" tanya Abian.
"Iya Om, tapi lagi nunggu taksi datang." kata Qeera.
"Biar Om saja yang antar." ajak Abian tersenyum. Sambil sesekali melirik pada Ajeng yang tersenyum juga sebagai tanda sapaannya pada lelaki di hadapannya.
"Emang boleh Om?" tanya Qeera antusias.
"Ya boleh dong, ayo naik." titah Abian.
Sementara anak itu menoleh pada Ajeng meminta persetujuannya.
"Bunda, boleh gak?" tanya Qeera lirih.
"Sayang, Om Abian harus kerja, kita gak boleh merepotkan orang lain. Kita pesan taksi online saja ya?" kata Ajeng.
Namun ada kata yang membuat Abian sedikit perih saat Ajeng menyebutnya sebagai orang lain. Tapi memang benar kan?
Tapi justru bagi Abian, ia menganggap Ajeng lebih dari sekedar teman biasa.
"Aku maunya sama Om Abian. Titik." rengek anak itu.
"Saya gak di repotkan kok, kebetulan sedang tidak ada kerjaan yang serius di kantor. Ayo sekarang kita naik." ajak Abian sambil meraih tangan Qeera.
"Yeeayy makasih Om baik." kata Qeera dengan ekspresi wajah yang menggemaskan. Membuat Abian mengulum senyum mendengar kata 'om baik'
Ajeng pun terpaksa mengikuti mereka, kemudian masuk dan duduk di belakang Qeera. Sementara Qeera di samping Abian.
Sepanjang jalan, ada saja obrolan lucu dari anak berusia yang hampir enam tahun itu. Dari mulai saat bersama teman-temannya, kegiatan sekolah juga saat libur sekolah, anak itu menceritakan dengan sangat ceria. Membuat Ajeng di belakangnya ikutan tertawa, dan itu pun tak luput dari pandangan Abian karena terlihat dari kaca mobil yang ada diatas.
Tapi, saat ditengah obrolan itu, tiba-tiba Qeera berceletuk.
"Om, tau gak? Kata temanku, aku sekarang gak punya ayah. Tarus Om mau tidak untuk jadi ayahku?" tanya Qeera menoleh. Membuat Abian dan juga Ajeng terkejut. Untung Abian tidak ngrem mendadak, ia tetap stabil dalam berkendara.
"Sayang, kamu ngomong apa sih Nak? Gak boleh kayak gitu ya Nak?" kata Ajeng.
Sedangkan Abian berharap memang demikian.
"Maaf bunda, tapi ... Aku juga mau punya ayah yang selalu di sisi aku kayak dulu." desisnya sambil menundukkan kepalanya.
"Iya Nak. Maafin bunda ya? Tapi tidak untuk sekarang."
"Iya bunda." tiba-tiba anak itu jadi pendiam. Tak ada lagi celotehan dari bibirnya sepanjang jalan.
Mobil pun tiba di depan rumah mereka, kemudian turun. Dan Qeera berlari dan langsung masuk kedalam rumah meninggalkan mereka berdua disana.
"Tolong jangan ambil serius soal Qeera tadi ya? Dan makasih atas tumpangannya." kata Ajeng mengangguk sopan.
"Iya gak papa. Tapi jika ada lelaki yang beneran suka sama kamu terus lelaki itu langsung melamar? Apa kamu akan menerimanya?" tanya Abian memberanikan diri bertanya hal seperti itu.
"Soal itu ... Aku belum memikirkannya sama sekali. Aku ingin fokus dulu pada usahaku dan juga anakku." jawab Ajeng.
"Tapi Qeera juga butuh sosok ayah. Kamu gak kasian?" tanya Abian memancing.
"Kamu benar. Hanya saja ... Sampai saat ini aku memang benar-benar belum memikirkan hal itu."
"Apa itu artinya kamu belum bisa move on dari mantan suami kamu?" tanya Abian penasaran.
"Soal itu ... Aku sudah sangat bahagia hidup tanpanya, tanpa harus berbagi ranjang dengan perempuan lain." jawab Ajeng serius.
'Ajeng, asal kamu tau, aku ingin sekali menggantikan posisi Yudha di hati kamu. Tapi ... Apa aku bisa? Bahkan lidahku saja tak berani mengucapkan kalau aku suka sama kamu.' gumamnya dalam hati.
"Kalau begitu aku masuk dulu ya? Sekali lagi makasih." kata Ajeng lalu melangkah masuk kedalam rumah.
"Apa sebegitu tak pentingkah aku dimata kamu, sehingga aku pun tak di persilakan untuk masuk." gumam Abian menatap punggung yang hilang dibalik pintu.
Ia pun naik kedalam mobil. Dan melaju meninggalkan rumah sang pujaan hati.
Didalam rumah, terjadi pertengkaran antara pasangan suami istri. Ya, mereka adalah Yudha dan juga Fiona.
"Semua gara-gara kamu Fiona." bentak Yudha. "Kalau saja kamu jaga ucapan kamu, semua tak akan menjadi seperti ini." Yudha berteriak dengan rahang mengeras dan sorot mata yang begitu tajam.
Hari ini Yudha tak di bolehkan masuk, sebagai pelajaran atas kejadian kemarin.
"Maafin aku Mas, aku gak tau kalau dia pemilik perusahaan itu." ujar Fiona sambil memegang tangan Yudha, namun di tepis.
"Tapi tak seharusnya kamu bersikap arogan seperti itu. Bahkan Pak Rasyid, beliau lebih tua dari kamu, seharusnya kamu hormati beliau. Tapi kamu seperti bukan manusia karena tak punya hati." bentak Yudha.
"Apa kamu bilang? Hanya kesalahanku yang sepele lantas kamu berucap demikian? Lantas sebutan apa yang pantas untukmu yang telah berselingkuh dari Ajeng dan menikah diam-diam denganku? Hah? Apa itu hal sepele juga? Kalau ngomong mikir dulu pakai otak. Gak tau posisi otak dimana? Disini Mas disini." kata Fiona sambil menunjuk kepalanya.
"Berani macam-macam sama suami kamu sendiri hah?" Yudha mendekat. Dan tangan kanannya reflek mencengkram leher Fiona yang memekik karena hampir kehabisan napas.
"Le .. Lepasin, awww sah... sakiitt. Ak aku ... Sangat sul sulit untuk ber... Nah napas." kata Fiona dengan napas terengah-engah.
"Masalah sepele kamu bilang? kamu tau? Karena ulahmu yang kamu sebut sepele itu, aku akan terancam dipecat dari kantor itu." teriak Yudha di akhir kalimat.
"Le ... Lepasin." pekik Fiona. Dan Yudha pun melepas cengkaraman itu.
Fiona ngos-ngosan sambil memegang lehernya yang terasa sakit.
"Kamu jahat Mas. Kenapa kamu jadi kasar begini?" kata Fiona dengan mata berembun.
"Itu pelajaran karena kamu telah berani sama aku."
"Aku sudah minta maaf, apa itu tidak cukup?" lirihnya.
"Tidak. Sebelum keadaan seperti semula." jawab Yudha serius.
"Tapi itu tak mungkin Mas. Karena kamu pun tengah di curigai oleh Abian atas kasus yang entah aku pun tak tau maksudnya. Tapi terdengar dari kata-katanya. Seperti kamu melakukan tindak ..... Korupsi." papar Fiona.
"Diam kamu! Jangan ikut campur urusanku." bentak Yudha.
"Kamu kenapa sih? Kenapa kamu bertindak sebodoh itu?"
"Mau tau? Kenapa aku melakukan itu?" tanya Yudha yang dibalas anggukkan kepala oleh Fiona.
"Itu karena kamu sendiri sampai aku berani melakukan itu." jelas Yudha.
"Kenapa harus aku?" sentak Fiona.
"Kenapa? Kenapa kamu bilang? Kamu sadar gak sih? kamu tuh selalu menuntut ingin di turuti semua keinginan kamu. Sementara keuanganku mulai tak stabil. Tapi kamu seperti tak mau tau dengan keadaanku."
"Dan sekarang, mumpung kita belum meresmikan status pernikahan kita terlebih belum ada anak diantara kita. Maka ... Lebih baik kita berpisah." ujar Yudha membuat Fiona terkesiap dan membelalakan matanya.
y nma jua lg kesel y bu..
nasib yudha jd apes setelah pisah sma
istri ...
kmu lambat..quien jua suka sma kmu ..
bersukur sdh lepas dri suami mu...