Perjodohan adalah sebuah hal yang sangat
di benci oleh Abraham, seorang pengusaha
muda penerus kerajaan bisnis keluarga nya.
Dia adalah sosok yang sangat di puja dan di
damba oleh setiap wanita, dia merupakan
calon menantu yang sangat ideal dan di
impikan oleh setiap pengusaha dan para
bangsawan yang memiliki anak gadis, jadi
baginya hanya dengan menjentikkan jari
saja, wanita manapun akan dengan senang
hati memasrahkan dirinya untuk merangkak
di bawah kakinya.
Tapi..justru kakeknya, sang pemilik dan
penguasa serta pemegang kendali penuh
dari semua kekayaan keluarganya malah
memilihkan jodoh untuknya.
Dan sialnya lagi..wanita pilihan kakeknya
bukanlah wanita dengan kriteria dan tife
yang selama ini selalu menjadi standard nya.
Abraham sangat membenci keputusan sang
kakek. Namun demi warisan dan kendali penuh
atas segala kekuasaan yang telah di janjikan
padanya. Dengan terpaksa Aham menerima
semua keputusan kakeknya tersebut..
Dan bagi wanita yang juga terpaksa menerima
perjodohan ini..bagaimana kah dia akan bisa
menjalani hidupnya bersama seorang pria yang
sama sekali tidak menginginkan kehadirannya.?
Takdir seakan menjungkir balikan kehidupan
seorang gadis biasa terpaksa yang harus
masuk ke dalam kehidupan sebuah keluarga
yang di penuhi dengan keangkuhan dan
kesombongan akan dunia yang hanya
tergenggam sementara saja..
**Tetaplah untuk selalu di jalanNya..**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan Syeera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Ulang Tahun Meline
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
♥️♥️♥️♥️♥️
Hari ini adalah hari ulang tahun Meline yang
ke 20. Pesta nya di adakan di sebuah hotel
mewah milik keluarga Mahendra. Meline sangat excited untuk hari ini. Dia mengundang semua
teman dekatnya. Dia juga mengundang Amar
dan teman-teman nya.
Amar itu ternyata senior Meline di kampus nya.
Naya kenal dengan Amar dan kawan-kawan nya
dari Yara yang merupakan saudara sepupunya
Amar.
Hari ini pekerjaan Naya di kantor cukup menyita waktunya. Naya memang sengaja menyibukkan
diri untuk sedikit melupakan ingatannya yang
entah kenapa 2 hari terakhir ini terus saja di isi
oleh bayangan Aham.
Sebenarnya dia enggan untuk datang ke pesta
ulang tahunnya Meline, mengingat hubungan
dengan adik ipar nya itu tidak lah baik. Tapi
karena Noah meminta dirinya untuk datang
dan menemaninya, akhirnya Naya terpaksa mengiyakan nya.
Saat ini Naya sedang berada di kamarnya. Rani
setia menemani Nona Mudanya itu untuk bersiap
diri. Sedikit riasan natural di wajahnya mampu
membuat Rani terkesima.
"Nona..anda benar-benar cantik.."
Rani berdecak kagum saat melihat penampakan
Naya setelah melengkapi penampilannya dengan
gaun berwarna soft pink yang kemarin di belinya
bersama Noah. Naya sedikit tersipu saat melihat
Rani melongo melihat dirinya.
"Kamu terlalu berlebihan Ran..semua perempuan
itu cantik dari sana nya."
"Tapi Nona terlalu cantik.."
Naya hanya tersenyum lembut mendengar ucapan
berlebihan Rani.
"Sudah ahh..kita harus berangkat sekarang."
"Saya berangkat bersama dengan Pak Ali Nona."
"Kenapa tidak bareng saja Ran.?"
"Tidak mungkin Nona..! Kalau begitu saya pergi
sekarang."
Rani membungkuk sedikit, setelah itu keluar dari
kamar di iringi tatapan Naya. Beberapa pelayan
terpilih sudah berangkat ke hotel sejak sore hari
untuk melakukan segala persiapan.
"Hai..dear, are you ready.?"
Naya membalikan badannya saat mendengar
suara Noah. Dia melihat laki-laki itu sedang
berdiri santai di ambang pintu dengan senyum semanis madu dan memasukan kedua tangannya
ke saku celana. Dia terlihat memukau dengan
setelan kemeja warna navy, terlihat santai dan
fresh.
Untuk beberapa saat Noah tampak mematung
di tempat, terpukau melihat penampilan Naya.
Benar-benar cantik bagai bulan purnama yang
sedang memancarkan sinar nya dengan anggun.
Dia menelan salivanya berat saat melihat bibir
indah Naya terpoles lipstik tipis warna pink.
"Kak Noah, bikin kaget saja."
Naya berucap seraya menatap Noah yang
masih saja terdiam menatap nya terpesona.
Tapi tidak lama dia menarik pandangannya
sambil menghembuskan napas kasar.
"Apa kau sedang memikirkannya ?"
Noah mencoba menetralkan detak jantungnya
dan menguasai diri yang saat ini hampir hilang
kendali. Kenapa harus saudara angkuhnya itu
yang di jodohkan dengan wanita ini.? Kenapa
bukan dengan dirinya saja. Noah merasa kali
ini Kakeknya sudah berlaku tidak adil.
"Siapa ?"
Naya bertanya seraya merapihkan kembali
hijabnya. Noah memalingkan mukanya.
"Suamimu yang menyebalkan itu.!"
Naya terdiam. Bayangan wajah dingin Aham
kembali melintas dalam ingatannya. Dia
menggeleng mencoba menepis semua hal
yang terus berkelebat dalam pikirannya.
"Tidak ! untuk apa aku memikirkannya."
Kilah Naya sambil kemudian meraih tas kecil
dan keluar dari kamar. Dia mengunci pintu
setelah itu berdiri di hadapan Noah yang
terlihat sedikit canggung.
"Ayo Kak..kita berangkat sekarang.."
"Oke, come on.."
Keduanya berjalan beriringan melewati
halaman belakang menuju mobil Noah.
----- ------
Pesta mewah ini di adakan di sebuah ruangan
luas bergaya klasik modern dengan sentuhan
keanggunan dan eksotisme alam Indonesia.
Di tengah tempat pesta yang terlihat begitu
indah dan mewah terdapat kolam renang yang
cukup besar.
Saat ini acara sudah di mulai. Semua tamu
undangan yang rata-rata adalah teman Meline
dan juga beberapa teman sosialitanya Nyonya
Elen terlihat sudah mulai berdatangan dan
memadati seluruh tempat.
Meline tampak sangat cantik dan anggun dengan balutan gaun merah maroon model A line yang menampilkan bahu indahnya dan dada nya yang padat. Bagian bawahnya terbuka sampai sebatas paha, terlihat begitu seksi namun tetap anggun
dan elegan.
"Meline..kamu terlihat sangat cantik malam ini.
Kau pantas menjadi bintang nya malam ini."
Puji salah satu teman se gank nya.
"Yes, dia adalah primadona dalam pesta malam
ini. Semua laki-laki milikmu."
Sambung yang lain. Meline tersenyum lebar .
"Tentu lah, malam ini adalah malam ku..! Dan
aku harus pastikan Kak Amar menembakku
malam ini juga.!"
Ucap Meline. Teman-teman nya mengangguk
setuju.
Suasana sedikit riuh ketika di pintu utama muncul
Felicia yang datang hampir berbarengan dengan
Catherine. Entah kenapa sejak mereka bertemu di
loby hotel, aroma persaingan sudah mulai terasa.
Mungkin mereka merasa memiliki saingan satu
sama lain. Karena saat ini kedua wanita cantik itu
berpenampilan super wahh..dan tentunya super
seksi dengan segala pesona kecantikan yang
membuat semua mata tertuju pada mereka.
Keduanya berjalan dengan anggun menuju ke
area utama pesta tempat Meline berada.
Melihat kedatangan dua wanita nya Aham
tersebut, Meline tampak berdiri bingung.
Senyum cerah menawan tersungging dari bibir
indah kedua wanita cantik itu yang kini sudah
semakin dekat pada Meline yang berdiri kaku
dengan senyum canggung nya.
"Selamat ulang tahun Meline sayang.."
Mereka berucap bersamaan dengan kata-kata
yang sama pula membuat keduanya sontak
saling melirik. Mata mereka bertemu dengan
aura panas langsung keluar dari tatapan tajam
keduanya. Meline menepuk jidat nya bingung.
"Terimakasih Kak Feli..Kak Catherine..aku
senang kalian bisa datang."
Meline berucap dengan mimik muka yang
sebisa mungkin membuat mereka mendapat
respon yang baik dari dirinya. Kedua gadis
cantik itu melengos, dan merangkul Meline
secara bersamaan pula membuat mereka
kembali saling melihat dan menatap tajam.
"Maaf Nona..saya adalah calon kakak ipar nya
Meline, jadi sebaiknya berikan waktu untukku
terlebih dahulu..!"
Catherine berucap seraya menepis rangkulan
Feli di tangan Meline. Kening Feli tampak
bertaut dengan raut wajah tidak suka.
"Ohh..saya sudah biasa kok melihat wanita
semacam anda, yang selalu mengakui dirinya
adalah calon istri Aham.."
"Hehh..aku tidak mengaku-ngaku ya..Aku ini
kekasihnya Aham.."
"Maaf ya Nona..semua wanita lain juga bilang
nya seperti itu. Silahkan saja anda bermimpi
sepuas nya, yang jelas..hanya akulah satu-satu
nya wanita yang ada di hati Aham.."
"Hehh..aku yakin justru kamulah disini yang
sedang bermimpi.!"
"Ohh..sorry ya saya tidak suka bermimpi yang
tidak mungkin jadi kenyataan.."
"Oyaa.? Apa kamu tahu siapa saya.?"
Mata mereka bertemu dan bertarung di udara.
Meline sedikit tegang melihat reaksi berlebihan
dari kedua wanita itu.
"Saya tidak peduli siapa kamu.!"
Ketus Feli dengan wajah angkuhnya.
"Aham dan aku saling mencintai, dan aku
pastikan dia akan segera melamarku.."
"Hoohh.. benarkah? Aku bahkan sudah
berencana untuk menikah..bukan lagi soal
lamaran !"
Catherine menggertakan giginya, wajahnya
juga terlihat memerah menahan emosi yang
kini mulai naik ke permukaan.
"Kamu.! siapa sih kamu ini sebenarnya.?"
"Feli.. Catherine..!!"
Kedua gadis itu menolehkan kepalanya ke
asal suara. Nyonya Elen berdiri tidak jauh dari
tempat mereka dengan senyum manis namun
sedikit canggung saat melihat kehadiran kedua
gadis yang dekat dengan dirinya itu.
"Mami.."
Feli segera menghampiri Nyonya Elen dan
merangkulnya hangat. Catherine terlihat
semakin geram mendengar panggilan Feli
terhadap Nyonya Elen yang terlihat sudah
sangat akrab itu.
"Hai.. Tante, gimana kabar nya.?
Catherine segera menyusul merangkul
Nyonya Elen setengah menyingkirkan tubuh
Feli yang masih memeluk nya hingga dia
mundur terdorong.
"Tante baik Cath, Oya.. terimakasih ya kalian
sudah datang ke pesta ini. Kalian berdua
terlihat sangat cantik malam ini.."
Nyonya Elen melihat penampilan kedua gadis itu
yang kini kembali saling pandang satu sama lain
dengan suasana panas.
"Ayo sayang..nikmati pestanya ya."
Nyonya Elen mengelus bahu telanjang kedua
gadis itu, kemudian dia berlalu pergi dari hadapan
mereka yang masih saling melihat dan meneliti
penampilan masing-masing. Setelah itu keduanya
saling melengos dan berjalan menjauh mencoba
berbaur dengan tamu undangan lain yang tadi
sempat terfokus pada mereka berdua.
Suasana kembali pada kemeriahan pesta.
Semakin malam pestanya semakin meriah
karena di isi oleh hiburan dari beberapa
penyanyi ternama yang sedang populer saat ini.
Mata Meline terlihat berbinar saat melihat sosok
Amar muncul di pintu utama. Pria itu terlihat
sangat tampan dengan kesan maskulin yang
kental karena pakaian rapi yang di kenakannya.
"Hai Mel..selamat ulang tahun ya.."
Amar tersenyum manis saat sudah berada di
hadapan Meline yang terus saja menatap nya
dengan sorot mata di penuhi bunga-bunga cinta.
"Terimakasih Kak Amar sudah mau datang. Aku
sangat bahagia sekali.."
Amar menautkan alis nya dan menatap wajah
cantik Meline yang tampak tersipu.
"Benarkah.? padahal tadinya aku tidak akan
datang loh."
"Iiihh..kak Amar jahat deh.!"
Meline mengerucutkan bibirnya membuat Amar
kembali tersenyum. Gibran dan Abrar menyusul
menyalami Meline.
"Hai..kak Amar, Kak Gibran..kak Abrar..seneng
banget deh bisa ketemu kalian di sini.!"
Sambut teman- teman Meline sambil berjabat
tangan dengan ketiga pria tampan itu.
"Wahh..Mel, kayaknya ini moment yang pas deh
untuk meminta Kak Amar dan grup musiknya
untuk menghibur kita.."
"Ahh..jangan ngaco kamu.!"
Ketus Meline sambil melirik malu pada Amar .
"Beneran Mel ! Kanaya juga ikut datang bersama
dengan Kak Amar kan..? Tapi..kenapa dia datang
bareng Kak Noah ya.."
Ucapan teman Meline tadi tiba-tiba terhenti
dengan tatapan mata yang bergulir bengong
kearah pintu utama ruang pesta. Di mana semua
mata pun saat ini sedang terfokus kesana.
Semua orang tampak berdiri terpaku di tempat
saat melihat kedatangan Noah dan Naya yang
berjalan berdampingan dengan aura kehadiran
yang sangat kuat terpancar dari keduanya.
Mereka berdua terlihat begitu serasi dan memukau.
Pesona kecantikan Naya dan ketampanan Noah
seakan membuat semua mata begitu terpukau
dan tidak bisa berpaling. Beberapa pelayan di
istana Mahendra pun terlihat mematung dengan
mata melongo dan mulut menganga. Kenapa
Kanaya bisa datang bareng Tuan Muda Noah?
Dengan penampilan yang begitu..Wooww..
menakjubkan..! Mata mereka mengerjap tidak
percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Naya..kenapa dia bisa datang ke pesta ini..?"
Bisik Gibran di dekat Amar yang sedang terdiam
dengan mata tiada henti menatap kearah Naya
yang kini semakin mendekat kearahnya.
Setelah dekat, Naya tampak terkejut melihat
keberadaan Amar dan teman-teman nya.
"Kak Amar..kalian ada di sini juga.?"
Bibir Naya berucap sedikit gemetar. Tatapan
Amar tampak bergulir kearah Noah dengan
sorot mata tidak nyaman.
"Hei Nay.. justru kami yang ingin bertanya,
kenapa kamu bisa datang kesini.?"
Gibran menatap penuh selidik pada Naya dan
Noah. Naya tampak sedikit kikuk dan bingung.
"Dia datang bersama ku..!"
Noah menyela sambil kemudian berjalan
santai melewati mereka menghampiri Meline
yang terlihat berdiri dengan wajah datar ke
arah Naya.
"Hai bocah.. selamat ulang tahun ya.."
"Kakak..! Aku bukan anak kecil lagi..!"
Sungut Meline sambil memukul lengan Noah
yang langsung terkekeh dan memeluk erat
adik angkatnya itu. Amar dan kawan-kawannya
semakin di buat terkejut. Jadi Naya datang
bersama dengan Kakak nya Meline?
"Meline..maaf ! mungkin kamu tidak suka
atas kedatangan ku. Tapi aku hanya ingin
memberikan doa yang tulus untukmu,
selamat ulang tahun ya.."
Naya berucap saat sudah ada di hadapan Meline
yang terlihat masih saja bersikap datar. Menatap
tidak berminat pada Naya.
"Aku tidak punya hadiah yang bagus, mungkin
ini tidak berharga bagimu.."
Naya memberikan kado kecil pada tangan
Meline yang menerimanya dengan malas.
"Terimakasih.."
Ucap Meline di sambut senyum lembut Naya
yang sedikit membuat hati Meline tergerak.
Iihh..tapi mana mungkin dia mau berpelukan
dengan gadis itu, bukan level nya ! tapi..
bukankah kenyataan nya wanita itu adalah
kakak iparnya.? Hati Meline terus berperang.
Melihat Kemunculan Naya yang datang bersama
dengan Noah, wajah Feli dan Catharine tampak
memerah menahan emosi dan rasa kesal yang
tiba-tiba saja menyeruak, apalagi perhatian
semua orang jadi tertuju kepada pasangan itu.
"Iya.. mereka berdua cukup serasi, itu adalah
hal yang bagus untukku."
Gumam Feli sambil kemudian meneguk
minumannya dengan mata yang terus tertuju
pada Naya dan Noah yang saat ini berjalan
menuju area pribadi keluarga.
Susana pesta kembali seperti semula. Semua
tamu semakin terlihat larut dalam kemeriahan
dan kemewahan pesta itu.
Beberapa pelayan mendorong kue ulang tahun
yang bersusun seperti piramid dengan warna
pink dan putih yang sangat indah. Wajah Meline
semakin berbinar. Tapi ada kegelisahan yang
dia rasakan saat ini karena sosok Aham belum
juga muncul di tempat itu. Walaupun Aham
tidak pernah bersikap hangat layaknya seorang
kakak pada adiknya, tapi bagi Meline Aham
adalah idola nya, pahlawannya dan sosok yang
selalu di banggakan nya.
MC sudah berbicara panjang lebar saat acara
potong kue akan segera di mulai. Nyonya Elen,
Feli, dan juga Catharine sudah berdiri di dekat
Meline. Aura persaingan yang sengit tetap
terasa di antara Feli dan Catharine hingga
membuat mereka sedikit menjaga jarak
dengan sesekali saling lirik kesal.
"Ayo sayang..potong kue nya.."
Bisik Nyonya Elen di telinga Meline.
"Kak Aham belum datang Mam.."
Tapi sesaat kemudian mata Meline membulat
sempurna saat para tamu memekik pelan
dengan mata terkesima melihat kemunculan seseorang dari arah pintu utama dengan
penjagaan yang sangat ketat dari 4 orang
bodyguard nya.
"Tuan Tampan...Ya Tuhan..dia datang.."
Pekik beberapa gadis sambil menutup mulut
dan berjingkrak kegirangan. Mata mereka
seakan terhipnotis dan terbius melihat
kehadiran pria gagah itu yang kini sedang
berjalan tenang menuju ke area utama.
Semua orang seakan menahan napas saat
Aham melintas dengan menyebarkan aroma
khas semerbak wangi yang membius kontrol
diri setiap gadis.
"Tuhan..dia begitu sempurna..!!"
Jerit hati para tamu undangan wanita dengan memejamkan mata dan langsung berfantasi liar.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Bersambung.....
ditunggu karya yg lainnya othor ku sayang...love sekebonnn😍
rindu juga ceritanya sherinda sma mayra thor..nnt mampir lg aaah💪💪💪