NovelToon NovelToon
The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Tamat
Popularitas:4.6M
Nilai: 5
Nama Author: fitTri

Ini masih cerita tentang anggota keluarga Nikolai. Siapkan mental gaesss karena petualangan baru akan segera dimulai.

"Malyshka!!!!" Daryl selalu berteriak setiap kali dia bangun di pagi hari. Atau ketika tak menemukan Nania di dalam rumah.

Tiba-tiba saja semuanya berubah, dan mereka tak mengira akan memiliki hubungan seperti ini. Karena semuanya begitu jauh dari bayangan.

Dan bagi Nania, dialah sebaik-baiknya perlindungan.

"Lalu apalagi yang aku harapkan, jika segalanya ada pada dirimu?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nenek

💖

💖

Nania menunggu sebentar di depan pintu pagar ketika tak melihat keberadaan neneknya di teras seperti biasa. Lalu setelah beberapa saat dia menggantungkan bungkusan makanan yang dibawanya di pagar sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi.

"Nania?" Seseorang dari rumah samping memanggil.

"Ya?" Nania menghentikan langkah.

"Kamu benar Nania anaknya Bu Mirna?" tanya perempuan yang kira-kira seusia ibunya itu.

"Iya Bu."

"Sudah tidak tinggal di sini kah?"

"Umm …." Gadis itu memindai keadaan, takut kalau tiba-tiba ibunya muncul dan memergokinya berada di sana.

"Tadi pagi saya mendengar keributan dari dalam rumah. Setelah itu Sandi pergi. Sementara sejak semalam Bu Mirna tidak ada setelah ada orang yang datang. Tapi nenek kamu juga tidak kelihatan, padahal biasanya pagi-pagi suka berjemur."

"Masa Bu?"

"Ya. Tadi saya paggil-panggil mau kasih makanan juga tidak ada yang jawab. Takutnya nenek kamu sakit."

Wajah Nania memucat.

"Tolong kamu lihat dulu sana, saya nggak berani masuk karena takut ibu kamu salah sangka."

Tanpa berpikir panjang gadis itu pun berlari ke dalam lalu masuk rumah.

"Nenek?" Nania menerobos pintu yang tidak dikunci.

"Nek? Ini Nia." Dia berteriak.

Rumah tampak sepi dan tirai jendela pun masih tertutup. Namun pintu kamar sang nenek yang berada persis di bawah tangga tampak terbuka.

Gadis itu berlari ke arah sana.

"Nenek, ini …." Dan dia terkesiap ketika mendapati perempuan tua itu yang tersungkur di lantai dalam keadaan kamarnya yang berantakan.

"Nek!!" Nania segera menghampiri dan memeriksa keadaannya.

Nenek mengerang dengan mata yang terpejam. Keningnya memar dan terdapat sedikit darah yang mengering. Kemungkinan berasal dari luka kecil di permukaan.

"Nenek!!!" Nania berteriak sambil mengguncangkan tubuh rentanya.

***

Daryl berlari menerobos selasar rumah sakit begitu mendapat kabar dari orang suruhannya bahwa Nania membawa neneknya dengan ambulance.

"Ada apa Nna?" Dia menghampirinya yang berada di ruang tunggu.

Nania mendongak dan dia sedikit menjengit karena keberadaannya di tempat itu.

"Bapak ngapain di sini?" Gadis itu malah bertanya. Dia lantas menyeka kedua matanya yang basah.

"Aku … tadi … mm … ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu ada di sini?" Daryl balik bertanya. Dia tak punya jawaban masuk akal soal keberadaannya di rumah sakit itu.

"Nenek saya …."

Pintu ruang penanganan tiba-tiba terbuka dan dokter keluar setelah melakukan pemeriksaan.  

"Dokter, bagaimana Nenek saya?" Nania segera menghampirinya.

"Ada keluarga yang lain?" Dokter bertanya.

"Nggak ada dokter, hanya saya." jawab Nania yang diikuti Daryl dibelakang.

Dokter terdiam sebentar.

"Dokter, bagaimana Nenek saya?" Nania bertanya lagi.

"Nenek anda mengalami cedera cukup parah di kepala. Mungkin akibat benturan saat terjatuh. Ditambah terkena serangan jantung juga, jadi …."

"Dokter!"

"Saya mohon maaf, nenek Anda tidak selamat."

Nania merasakan jiwanya bagai tercabut dari raga. Jeritan di kepalanya berteriak lantang menyuarakan penolakan.

"Nggak!" katanya, yang segera berlari ke dalam ruangan di mana neneknya berada.

"Tadi nenek masih ada! Aku tahu kok!" Dia histeris.

"Nggak mungkin nenek juga!" Nania membingkai wajah pucat sang nenek.

"Nenek! Jangan tinggalin aku! Aku sama siapa?" Lalu dia mengguncangkan tubuhnya.

"Nenek! Sebentar lagi aku dapat kosan! Nenek bilang mau tunggu aku! Nek, jangan begini. Aku sendirian!" Gadis itu meracau, dan tangisnya seketika pecah saat menyadari perempuan tua itu sudah tak bernyawa.

"Nenek!! Aku sendirian!" Nania jatuh terduduk di lantai dengan tangan masih menggenggam tubuh neneknya.

Raungan kepiluan memecah keheningan ruang penanganan pada hampir sore itu dan tak ada yang mampu menenangkannya.

Bahkan Daryl yang segera mendekatpun tidak bisa menghentikan tangis kehilangannya. Dia berjongkok di dekat Nania lalu menarik dan mendekapnya dalam pelukan.

***

Proses pemakaman segera dilakukan begitu administrasi selesai. Mereka mengurus segalanya di rumah sakit karena waktunya tidak memungkinkan untuk dibawa ke rumah terlebih dahulu. Dan Nania pasrah saja ketika Daryl mengatur segalanya.

Dia tak tahu apa saja yang harus dilakukan dan bagaimana menyelesaikan urusannya dengan pihak rumah sakit. Jadi, Nania hanya menurut saja ketika seorang pesuruhnmengurus segalanya untuk mereka.

"Nia, apa yang terjadi?" Teriakan Mirna memecah ke khidmatan pemakaman pada sore itu.

Sang ibu berlari ke arah pusara yang sudah tertutup tanah dan bertabur bunga.

"Nania, apa yang terjadi?" ulang Mirna yang tangisnya segera pecah saat menatap peristirahatan terakhir ibunya.

Nania bungkam.

"Nania!" Mirna hampir meraih tangan putrinya, namun Daryl segera menghalangi. Pria itu kembali menarik Nania dan menyembunyikannya dalam dekapan.

"Nia, apa ya …."

"Ibu tanya Bang Sandi. Apa yang sudah dia lakukan sehingga nenek seperti ini?" gadis itu melirik kepada Kakak tirinya yang berdiri di belakang Mirna.

"Aku datang untuk mengantar makanan dan Nenek sudah jatuh di lantai. Apa yang anak ibu lakukan kepada Nenek?" Nania setengah membentak.

"Aku keluar dari rumah untuk menyelamatkan diri tapi lihat apa yang ibu lakukan kepada Nenek? Aku aja nggak cukup, Bu?"

Mirna terdiam.

"Kenapa Nenek juga Bu? Nenek cuma orang tua yang nggak bisa apa-apa." tangis Nania kembali pecah.

"Tidak mungkin! Kamu jangan sembarangan! Jangan membuat fitnah seperti itu! Kamu tidak tahu …."

"Aku memang nggak tahu, tapi kenyataannya begitu. Kalian selalu begitu, bukan hanya kepadaku, tapi kepada nenek juga!" Tangis dan kemarahan bercampur menjadi satu dan tak ada yang bisa meredamnya.

Orang-orang yang mengikuti pemakaman saling pandang, namun mereka tak bisa berbuat apa-apa.

"Nania, Bu Mirna. Tidak baik ribut di pemakaman, kasihan kepada almarhumah. Kalau ada masalah sebaiknya selesaikan saja di rumah." Pemimpin doa akhirnya memberanikan diri untuk buka suara.

Lalu kedua perempuan beda usia itu akhirnya terdiam. Dan Nania lagi-lagi menangis ketika di saat yang bersamaan Daryl kembali memeluknya.

***

"Kita pulang?" Daryl membujuknya setelah cukup lama mereka berdiam diri.

Area makam sudah sepi dan hanya tinggal mereka saja yang berada di sana. Namun isakan Nania belum hilang sepenuhnya meski jasad sang nenek sudah berkalang tanah.

"Tidak mungkin kamu mau bermalam di sini kan?" ucap pria itu, membuat Nania mendongak kepadanya.

"Kalau itu bisa bikin nenek hidup lagi, nggak apa-apa." Gadis itu dengan suara parau. Dan air mata kembali mengalir dari netranya.

"Nggak mungkin." 

"Terus habis ini saya harus apa? Semua yang saya usahakan biar bisa bawa nenek keluar dari rumah. Kami tinggal bersama, dan nggak harus mengalami tekanan yang sama setiap hari. Tapi sekarang neneknya malah meninggal. Saya harus gimana?" Gadis itu menangis lagi.

Dia bahkan membenamkan wajahnya di dada Daryl dan meremat sisi jasnya dengan kencang sehingga meninggalkan bekas kerutan yang kentara di sana.

Sedangkan pria itu memejamkan mata sebentar. Ini hal baru baginya. Menghadapi kematian seseorang bukanlah yang pertama karena beberapa kali terjadi juga pada anggota keluarganya, tapi tidak se menyedihkan ini.

Dia masih memiliki keluarga yang lain yang bisa saling mendukung dan menjaga. Tapi gadis ini? 

Kepada ibunya saja dia berani bereaksi keras yang menjadi tanda bahwa hubungan keluarga di antara mereka mungkin saja tidak terjalin dengan baik.

Nania menarik diri seraya mengusap wajahnya. Dia tersadar bahwa hal itu hanya khayalan semata, dan tidak mungkin kematian dapat digantikan dengan apa pun.

Lalu dia mundur dan memutar tubuh, memutuskan untuk meninggalkan pemakaman tersebut, dan Daryl segera mengekorinya dari belakang.

Orang-orang di Amara's Love menyambutnya dengan penuh kesedihan. Amara bahkan memutuskan untuk menunggu hingga malam saat satu pegawainya itu kembali, dan mereka memeluknya bergantian.

"Kak Daryl larang waktu aku nyuruh Ardi sama Nindy ke sana." ucap Amara.

Mereka duduk bersama di tengah kedai yang sengaja ditutup sejak sore. Sementara Daryl dan Galang duduk bersisian di dekat kasir.

"Nggak apa-apa Kak." Nania menjawab dengan nada sendu. Kesedihan nampak jelas di wajahnya.

"Kamu kalau mau bisa ikut tinggal di rumahku aja. Biar nggak sendirian." tawar Amara kepadanya.

"Nggak usah." Namun Nania menolaknya.

"Serius."

"Aku nggak apa-apa. Ini juga bukan pertama kalinya kan? Sebelumnya ayah meninggal, tapi aku baik-baik aja. Sekarang juga pasti begitu. Kedai ini aja udah cukup." Nania berusaha menegarkan diri, meski pada kenyataannya, dia tak sekuat itu.

Tapi orang-orang ini terus berusaha membesarkan hatinya sehingga dia tidak terlalu merasa terpuruk.

"Kamu nggak sendirian, Nna. Telfon aja kalau ada apa-apa." Ardi bersiap untuk pulang, begitu juga yang lainnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan mereka harus istirahat. Seperti halnya Amara yang sudah pulang terlebih dahulu.

Nania menganggukkan kepala.

"Bapak … masih di sini kan?'' Lalu pemuda itu beralih kepada Daryl yang masih duduk bersedekap di belakang.

Dia tak menjawab, namun raut wajahnya mengisyaratkan sesuatu.

"Baiklah kalau begitu." Ardi, Raka dan Nindy saling pandang. Kemudian mereka memutuskan untuk pergi.

💖

💖

💖

Bersambung ...

Waktunya vote gaess 😉😉

1
Prihesti Setiasih
bagus kak ditunggu cerita selanjutnya
Ilda Yenti
ceritanya bagus 🥰🥰🥰
Ruwi Yah
mampir lagi mak fit sugar dan turunannya benar2 bikin candu untuk membaca lagi dan lagi
Ruwi Yah
luar biasa
Susi Lestari
Luar biasa
Dwi puji
bagus bangettt KA fitt
Ahmad Alfasih
Buruk
yetiku86
cerita kak Fitri kl lagi part menyebalkan bikin geram abis, dan kl lagi part sedih bikin nangis Bombay 👍👍👍👍🔥🔥🔥🔥🔥
semangat terus kak Fit, tambah sukses dan selalu bahagia 🤲
yetiku86
tiada maaf bagimu 😌
yetiku86
karma di bayar tunai 😏
yetiku86
definisi dungu yg sebenar-benarnya 🤦🏻‍♀️
yetiku86
hadiah yg indah buat Darren karena tdk suka celap celup sembarangan, tdk seperti yg ono. good job Thor 👍👍👍👍
yetiku86
blm pensiun balapan Rania?
yetiku86
ish .. bodohnya....kenapa ngga dibawa sedikit2 saat berangkat kerja. 🤦🏻‍♀️
aroem
Luar biasa
permatasari
q kangenn kry mu kak , makanya q mmpir ksini , baru smpett /Facepalm/
Kanaya Havidza
🤣🤣🤣🤣🤣😆😆😆😆😆
Kanaya Havidza
hahaha 🤭 itu mirip usiaku sama suami perbedaannya 8 tahun 😁
Kanaya Havidza
😭😭😭😭😭😭😭
Kanaya Havidza
/Sob//Sob//Sob/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!