Kisah Jerry, Eza dan Nilo seorang wanita 21 tahun yang sangat suka sekali berdiam diri di Rumah dan memiliki ilusi yang sangat kuat.
Bahkan Nilo bisa menceritakan bagaimana rupa suaminya itu, bagaimana mereka menikah, bagaimana mereka melewati malam pertama dengan begitu detail. Namun itu semua hanyalah khayalan Nilo.
Nilo tersesat antara kehidupan nyata dan imajinasinya.
Akankah Nilo tersadar dan bagaimana Nilo menemukan cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marimar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps. 24
Nilo berhenti membelai rambut Eza yang belum lama ia belai, karena Eza telah tertidur dengan posisi duduk di sofa dan berbantal di kaki Nilo yang duduk bersila di atas tempat tidur tepat di belakangnya.
Sepertinya Eza kelelahan setelah mengetik sendiri perjanjian pernikahannya itu. Nilo meraih bantal untuk menukar betisnya yang di tindih oleh kepala Eza.
Setelah membiarkan Eza tertidur dan mematikan televisi yang tadinya menyala, Nilo melenggang keluar, setelah beberapa hari Nilo tidak di ijinkan keluar dari kamarnya.
Nilo memandang ke seluruh ruangan, tampak bersih namun tidak ada satu pun pelayan yang terlihat.
“Kemana perginya orang-orang di rumah ini?” gumam Nilo sembari terus berjalan menuju taman belakang.
“Juga tidak ada tukang kebun.” suara Nilo pelan, ia merasa sore ini menjadi sangat sunyi, bahkan pergerakan angin pun seolah tak ia rasakan.
Nilo membuka lemari pendingin yang berada di dapur untuk mencari sesuatu yang bisa di makan. Seketika matanya membulat melihat isi kulkas itu di penuhi makanan instan, sayur mayur yang sudah tidak segar lagi.
Nilo pun beranggapan para pelayan dan koki sudah beberapa hari tidak ada di rumah ini dan tidak ada yang memasak.
Nilo mengeluarkan sayur mayur yang sudah layu itu dari lemari pendingin, dan melihat 1 lembar kertas yang tertempel di pintu kulkas berisi nomor telpon.
Saat membaca tulisan di kertas itu, Nilo segera mencabut kertas dan membuang sayur ke tempat sampah lalu mengangkat gagang telpon yang berada di dapur dan memasukkan nomor telpon yang tertulis di kertas.
“Halo, ikan segar?” ucap Nilo di telpon setelah terdengar suara dari balik telpon.
“Iya, mau ikan apa?” balas suara di balik telpon.
“Ikan Salmon ya pak, tolong di bersihkan terlebih dahulu bisa ya pak?” tanya Nilo dengan irama lambat.
“Oh iya bisa Non, tunggu sebentar akan saya antar.” seketika pria di balik telpon mengetahui bahwa yang menelpon kali ini bukanlah orang sama dengan orang yang selama ini memesan dengannya.
Nilo membunuh waktu dengan melihat majalah aneka ragam resep masakan yang beberapa hari sempat ia pelajari saat ibu mertuanya masih berada di dalam rumah mereka sembari menunggu ikan pesanannya datang.
Tak begitu lama suara Bel terdengar, Nilo keluar melalui pintu samping berjalan menuju gerbang rumahnya saat Nilo hendak membayar, pria pengantar ikan itu menolak dengan berkata ikan ini sudah di bayar di muka.
Nilo diam sejenak, berpikir untuk apa yang barusan ia dengar lalu mengucapkan terimakasih dan menundukkan sedikit kepalanya saat hendak undur diri.
“Apa Bibi Nata juga seperti ini di rumah, atau aku yang terlalu tidak peduli?” gumam Nilo seraya berjalan kembali masuk ke dalam rumah.
Nilo merasa ia telah banyak melewatkan perkembangan jaman, hingga pedagang ikan pun kini sudah di bayar di muka.
“Aku masih mengira rumah dan ruko saja yang di bayar di muka.” lanjut gumam Nilo.
Nilo mencuci ulang ikan yang baru ia terima dan membaluri ikan itu denga. bumbu yang sudah ia blender.
Saat menunggu minyak yang ia masukkan ke dalam wajan menjadi panas, Nilo terus mengecek berulang kali dengan meletakkan telapak tangannya tak jauh di atas penggorengan itu.
“Kok belum panas juga yaa?” heran Nilo sembari menyentuh wajan dengan hati-hati. Segera Nilo menunduk saat merasakan wajan itu dingin, ia pun tertawa geli melihat kompor yang belum ia nyalakan.
“Kalau Jerry di sini, pasti ini tidak akan terjadi.” seloroh Nilo yang masih menertawai kebodohannya setelah menyalakan kompor.
Akhirnya minyak untuk menggoreng ikan itu pun panas, karena tidak menggunakan begitu banyak minyak, tanpa menunggu lama Nilo langsung memasukkan ikan yang sudah meresap bumbu buatannya itu ke dalam wajan.
”Aaaaaw” Jerit Nilo. cipratan kecil minyak mengenai tangan Nilo saat baru saja memasukkan ikan tersebut ke dalam wajan.
“Beebb....” Suara Eza memanggil istrinya itu sembari berlari ke arah Nilo, jeritan Nilo telah membangunkannya.
Eza langsung mematikan kompor dan meraih tangan Nilo sesampainya di dapur.
“Kau pasti terkena cipratan minyak!” Eza menarik Nilo menjauh dari kompor dan mendudukkan istrinya itu di meja makan.
“Apa masih sakit?”
“Sudah, jangan lakukan lagi ! kau bisa memesan apa pun yang ingin kau makan.”
“Panas?” Eza meniup tangan Nilo yang terkena minyak setelah nyerocos tanpa memberikan Nilo kesempatan untuk menjawab.
“Tidak, ini tidak sakit ! aku hanya terkejut saja.” jawab Nilo sembari ingin berdiri dari tempat duduknya.
Tiba-tiba hujan turun seiring dengan matahari yang sudah terbenam.
Di Apartemen Jerry, ia melihat hujan turun dengan rasa yang pedih. Rasanya baru saja ia menikmati hujan bersama Nilo dengan menikmati mie ayam, makanan kesukaan Nilo. Namun kini hujan yang turun terasa mengintimidasi dirinya.
Makan mie ayam menjadi agenda Jerry dan Nilo saat turun hujan.
Jerry meraih sweater rajut tebal miliknya berjalan keluar dari apartemennya, masuk ke dalam lift dan pergi menggunakan mobil.
Hujan yang turun seakan sangat besar hingga Jerry mendengar setiap tetes yang membentur mobil yang ia kendarai.
Dadanya semakin sesak saat mengingat Nilo bersandar di lengannya ketika dirinya sedang mengemudikan mobil.
Jerry memukul stir mobilnya menyesali pengakuan yang telah ia lakukan, andai saja ia tidak mengakui bahwa dirinya bukanlah J, ia bisa kapan saja menemui Nilo dengan pura-pura bodoh dan benar-benar menjadi orang ketiga. Jerry tersenyum sinis, mengingat pertanyaan yang pernah ia lontarkan pada Ben.
Hah, apa aku benar akan menjadi orang ketiga.
Mobil Jerry berhenti di seberang rumah yang tampak tidak berpenghuni. Jerry turun dari mobilnya dengan mengenakan payung hitam melihat ke rumah yang tampak kosong itu dengan senyum sarkas.
Tidak begitu lama Jerry menunggu di depan rumah, Bibi Nata sudah membuka pintu untuk Jerry.
Bibi Nata tersenyum melihat Jerry di depannya namun jelas sekali ada kesedihan di wajah Bibi Nata.
“Bi apa aku bisa makan mie ayam di sini? tenang aku juga akan membuatkannya untuk Bibi.” Jerry menyunggingkan senyumnya lalu terus berjalan ke arah Dapur tanpa memberikan kesempatan Bibi Nata menjawabnya.
Bibi Nata yang sedang memegang telpon kembali menaikkan gagang telpon itu ke telinganya.
“Ya Ndok, maaf tadi ada," ucap Bibi Nata terhenti karena Nilo langsung menginterupsinya.
“Baiklah bi, aku sudah mngerti aku tutup dulu, daaa Bibi.” suara Nilo di balik telpon.
Saat kedatangan Jerry, ternyata Bibi Nata sedang menerima telpon dari Nilo, Nilo pun mendengar suara Jerry saat mengatakan ingin makan mie ayam di rumahnya bersama Bibi Nata.
Danau bening telah membentuk di pelupuk mata Nilo, teringat saat-saat mereka bersama.
“Sudah Beb, gak usah di terusin.”
Nilo mengusap air bening yang hampir jatuh membasahi kulit putihnya saat mendengar suara Eza.
“Aku mau makan bakso, cuacanya mendukung, kamu mau juga Beb?” tanya Eza dari meja makan.
“Gak !”
“Kamu kenapa? kok jadi ketus begitu?” tanya Eza merasakan perubahan emosi pada Nilo sembari menghampiri Nilo dan memeluknya dari belakang.
“Ih kamu apaan sih? lepasin gak!” Nilo meronta agar suaminya itu melepaskannya.
“Semua istri itu suka seperti ini lho, saat istri memasak suami memeluknya dari belakang.” goda Eza yang terus memeluk Nilo tidak menghiraukan penolakan Nilo.
Itu istri yang lain, aku tidak. Batin Nilo, padahal Nilo sering berkhayal romantisnya kehidupan suami istri, namun ia tidak pernah berkhayal keromantisan apa yang bisa terjadi di dapur.
kangen banget aku Ama Nilo
penasaran aku gak ilang² lho Thor Ama novelmu ini
setiap up adaaaa aja misterinya😁
Jan lama² ya Thor up nya aku setia nunggu lho😚
kelakuan Evan... jadi suka akunya sama doi🤭
Jerry kemana Thor? kangen juga ama cerita si Deddy satu ini😁