NovelToon NovelToon
Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:7.7M
Nilai: 4.5
Nama Author: ujungpena90

Hasna berusaha menerima pernikahan dengan seorang laki-laki yang tidak pernah ia kenal. Bahkan pertemuan pertama, saat keduanya melangsungkan akad nikah. Tak ada perlakuan manis dan kata romantis.

"Ingat, kita menikah hanyalah karena permintaan konyol demi membalas budi. jadi jangan pernah campuri urusan saya."
_Rama Suryanata_


"Terlepas bagaimanapun perlakuanmu kepadaku. Pernikahan ini bukanlah pernikahan untuk dipermainkan. Kamu telah mengambil tanggung jawab atas hidupku dihadapan Allah."
_Hasna Ayudia_

Mampukah Hasna mempertahankan keutuhan rumah tangganya? Atau justru menyerah dengan keadaan?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujungpena90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Jantung perempuan itu berdegup kencang, mengingat baru kali ini mereka tidur di ranjang yang sama. Selama pernikahan, mereka selalu tidur di kamar yang terpisah.

"Tidurlah, saya terlalu capek Jika harus tidur di sofa." Kata Rama tanpa merubah posisinya, terlentang dengan satu tangan yang menutupi kedua matanya.

Rupanya, laki-laki itu menyadari keterkejutan istrinya. Tapi tubuhnya terlalu lelah jika harus dipaksakan untuk tidur selain di ranjang.

Hasna pun kembali di posisinya semula, memunggungi suaminya. Namun, reflek ia memutar kepalanya menoleh ke arah Rama saat mendengar perkataan suaminya itu.

"Kamu jangan pernah berharap lebih dengan pernikahan ini. Apalagi memikirkan tentang anak. Anggap kamu tidak pernah mendengar perkataan Mama tentang anak atau semacamnya." Terdengar begitu ringan saat Rama mengatakannya.

Hasna merasakan nyeri di hatinya atas ucapan Rama. Apakah dia salah jika mengharapkan pernikahan ini akan langgeng seperti pernikahan almarhum kedua orang tua juga mertuanya? Dan bukankah tujuan pernikahan juga untuk memperoleh keturunan, agar bisa memperjuangkan agama Allah?

Sungguh Hasna tidak habis pikir dengan suaminya. Sebegitu tidak diinginkannya kah pernikahan ini serta dirinya? Atau jangan-jangan suaminya menginginkan perpisahan diantara mereka?

Hasna sungguh tak siap jika sampai semua itu terjadi. Pernikahan yang baru berusia seumur jagung harus kandas karena keegoisan suaminya. Tidak, Hasna tidak mau itu sampai terjadi.

Hasna merubah posisinya menjadi terlentang seperti Rama, menghadap langit-langit kamar. Merapatkan selimut sebatas dada, dan menghembuskan nafas perlahan, berusaha mengontrol emosi yang berkecamuk didalam dada.

"Kenapa Mas Rama ngomongnya seperti itu? Apa Mas Rama tidak ingin berusaha untuk menerima pernikahan kita ini?" Tanya Hasna. Bertutur selembut mungkin agar tidak sampai ada pertengkaran karena argumen mereka yang bertolak belakang.

"Memangnya apa yang akan kamu harapkan dari pernikahan ini? Kabahagiaan?" Terdengar tawa sumbang dari bibir lelaki itu.

"Memang apa salahnya?" Tanya Hasna dengan kening yang bertaut, menoleh ke arah Rama.

"Kebahagiaan dalam pernikahan memanglah menjadi tujuan bagi setiap pasangan yang berumah tangga." Sungguh, Hasna tidak terima dengan ucapan suaminya

"Tidak akan pernah ada kebahagian dalam pernikahan ini. Apa kamu lupa jika pernikahan ini, pernikahan yang dipaksakan? Dan sesuatu yang dipaksakan, tidaklah menjadi suatu kebaikan jika dipertahankan. Bahkan kita bertemu untuk yang pertama kalinya saat ijab qobul. Jujur saja, saya tidak pernah ada keinginan untuk menikah. Apalagi menjalani pernikahan aneh ini. Dimana kita tidak pernah saling mengenal dan mencintai satu sama lain."

Sungguh, perkataan Rama sungguh menusuk jantungnya. Nyeri, itu yang Hasna Rasakan saat mendengar kata demi kata yang terucap dari bibir laki-laki yang berstatus suaminya itu.

"Apa Mas Rama tidak ingin mencoba menerima pernikahan ini? Pernikahan itu ibadah terpanjang dalam hidup manusia, Mas. Apalagi_"

"Hentikan omong kosong mu itu. Pernikahan ini tidak ada artinya sama sekali. Jadi sekali lagi saya katakan, jangan pernah berharap lebih." Tukas Rama sebelum Hasna menyelesaikan kalimatnya.

Hasna mencoba menahan gejolak yang memenuhi dadanya saat ini. Terdengar hembusan nafas yang begitu berat.

"Terlepas bagaimana Mas Rama menganggap pernikahan ini. Pernikahan bukanlah hal yang sepatutnya untuk dipermainkan. Dan Mas Rama sudah mengambil tanggung jawab besar dihadapan Allah, saat mengucapkan ijab qobul." Ucap Hasna dengan suara yang mulai terdengar bergetar.

Rasa sesak memenuhi dada perempuan cantik itu. Kalimat demi kalimat yang diucapkan suaminya sungguh sangat melukai hatinya.

Rama tak menjawab lagi perkataan istrinya. Apa yang dikatakan Hasna semuanya tidak ada yang salah. Hanya saja laki-laki itu tidak pernah memikirkan sejauh itu tentang pernikahan yang dijalaninya bersama Hasna.

Buliran bening mulai menerobos tanpa permisi dikedua sudut mata Hasna. Gegas ia membalikkan tubuhnya memunggungi Rama. Menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangan, Hasna berusaha meredam suara isakan. Tangannya meremas selimut kuat-kuat, sedikit menyalurkan emosi.

Rama memperhatikan pergerakan Hasna yang memunggunginya. Sepertinya perempuan itu tengah menangis, terlihat dari bahu yang sedikit berguncang. Tak ada yang bisa dilakukan Rama. Ia hanya diam dan memperhatikan.

Sejujurnya dia pun merasa jika perkataannya terdengar sedikit kasar, mungkin bahkan menyakitkan. Namun apa yang bisa dilakukannya sekarang? Ia hanya ingin membentengi hatinya, agar jangan sampai terperosok ke dalam jurang yang sama. Cukup sekali ia merasakan jatuh cinta dan sakitnya penghianatan, dan rasa itu terpatri kuat dalam hatinya.

***

Rama sedikit menggeliat saat tubuhnya terasa sedikit berguncang. Sayup-sayup ia mendengar suara lembut memanggil namanya.

"Mas, Mas Rama bangun. Sholat shubuh dulu, Mas."

Rama mencoba membuka matanya yang masih terasa berat. Namun sedetik kemudian, justru ia kembali bergelung dibawah selimut tebal miliknya.

"Mas, sholat dulu. Nanti dilanjutin lagi tidurnya."

Kembali Hasna mencoba membangunkan suaminya. Digoyangkannya sedikit pundak yang berbalut selimut itu. Kali ini berhasil membuat Rama membuka matanya. Dan hal yang pertama kali Rama lihat adalah senyuman sang istri.

Tak dipungkiri, Hasna sangatlah cantik, walau tanpa bantuan make up diwajahnya. Mata yang begitu teduh, senyuman yang selalu menghiasi kedua sudut bibirnya, juga tutur kata yang selalu lembut menyapa pendengaran. Terkadang itu yang membuat Rama sedikit merasa bersalah jika berkata kasar padanya.

"Shubuhan dulu, Mas. Nanti dilanjut lagi tidurnya." Hasna mengulang perkataannya kembali, karena Rama masih terdiam ditempatnya.

Segera disibakkannya selimut yang sedari tadi memeluknya hangat. Dan berlalu menuju kamar mandi. Tak lama ia pun segera menunaikan kewajibannya kepada Sang Pencipta.

Rama merasa sedikit aneh dengan perasaanya. Tenang, nyaman, dan sedikit merasakan adanya desiran dihatinya. Disaat ia menunaikan kewajibannya, istrinya tengah melantunkan ayat suci yang begitu merdu di telinga. Bukan pertama kalinya ia mendengar istrinya itu mengaji. Tapi entahlah, justru ia merasakan kedamaian saat ini.

Kedua telinganya masih tetap setia menyimak ayat demi ayat yang istrinya baca. Pun tak ada keinginan untuk beranjak dari tempatnya. Rama tersentak tatkala tangan kanannya Hasna raih untuk diciumnya. Tak ada kesempatan untuk menolak, karena Hasna lebih dulu mencium tangannya dengan takzim.

Sekali lagi, ia merasakan desiran lembut menjalar dihatinya. Untuk beberapa saat, ia menatap lekat perempuan yang telah ia nikahi. Dengan jarak yang begitu dekat, dapat dilihatnya dengan jelas mata yang sedikit sembab, sisa tangisan semalam. Namun tak mengurangi indahnya mata jernih itu.

Hasna merasakan kebahagiaan tatkala ia bisa mencium tangan suaminya. Selama satu bulan lebih menikah, tak pernah sekalipun Rama memberinya kesempatan itu. Namun kali ini, ia mendapatkannya. Seulas senyuman manis terbit diwajahnya. Menatap wajah suami sedekat ini, membuat debaran jantungnya lebih cepat.

"Mas Rama, mau Hasna buatkan sesuatu?" Tanya Hasna.

Rama tersadar akan lamunannya, dan melihat istrinya telah merapikan mukena yang baru saja ia pakai.

"Ehemmm....tidak perlu." Jawab Rama.

Entah mengapa ia merasa sedikit gugup saat mengatakannya. Ia pun segera merapikan peralatan sholatnya kemudian berlalu meninggalkan kamar.

"Semoga ini menjadi awal yang baik untuk pernikahan kami. Hamba pasrahkan semuanya kepada Engkau, Ya Allah. Hamba yakin jika takdir yang Engkau siapkan, jauh lebih indah dari apa yang hamba angankan."

***

1
Inooy
makasih ka author,,cerita nya bagus bgt tanpa menguras emosi begitu dalam..d sini hanya berkisah tokoh wanita dn tokoh pria nya tanpa masalah yg berlarut larut yg terkadang bikin emosi qta yg baca nya...
Sri Susilowati
jodohin kevin sn Nayla aja
Sri Susilowati
kayaknya calin suaminya pasangannya si baju seksi nih
Fitriatul Ilmi
dia bos. jadi bebas😀
Fitriatul Ilmi
bukan hanya meneger. tapi juga pemilik resto
Fitriatul Ilmi
malahan nyalahin. padahal tinggal bilang klo km butuh bantuan
Fitriatul Ilmi
hati hati ntar ditikung loh😁
Fitriatul Ilmi
kebakaran kebakaran😂
Fitriatul Ilmi
pd banget. padahal bkn km yg diajak😀
Sugi Yanto
Rama mulai klepek"...
Sugi Yanto
Rama mulai terpesona....
Sugi Yanto
Hasna itu wanita solehah...
Sugi Yanto
lanjuuuut lg seru
Sugi Yanto
Rama
Napoleon
Rama liat ada yg ngasih hadiah ke Hasna aja panas mendidih gitu , ini dikasih tau ada yg lamar Hasna apa nggak kebakaran
Napoleon
comblangin teros nay , Brian Ama Hasna biar makin mendidih itu Rama
Napoleon
panas nih duel nih bentar lagi
Napoleon
info chpter pas Rama nyesel dong , kesel banget gua
Napoleon
pray for mas Kevin , blm berjuang sudah kalah duluan
Eka Novi
Kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!