NovelToon NovelToon
Dia Tak Lagi Membujuknya

Dia Tak Lagi Membujuknya

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Keiko Hartono punya rahasia.

Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.

Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.

Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.

Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.

Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.

Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.

"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."

Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33 - Cuma Mau Manggil Namamu

Folder **Langit dari Kelvin** bertambah hampir setiap hari.

Kadang isinya langit jingga dari pinggir Dago. Kadang langit abu-abu dari parkiran sekolah. Pernah juga hanya potongan awan di atas kabel listrik, buram, miring, dengan ujung spion motor masuk ke foto. Kalau orang lain melihatnya, mungkin semua foto itu tampak biasa.

Bagi Keiko, tidak ada yang biasa.

Setiap foto berarti Kelvin berhenti sebentar di suatu tempat, mengangkat ponsel bekasnya, memikirkan bahwa dia harus mengirim langit itu kepada Keiko. Di antara kelas, luka, tugas, Aji yang belum benar-benar selesai, dan hidup yang tidak pernah lembut kepada Kelvin, dia masih menyisihkan beberapa detik untuk memotret matahari turun.

Keiko menyimpan semuanya.

Dia kembali sekolah dua hari kemudian.

Begitu masuk kelas, Bagas langsung berdiri seperti panitia penyambutan.

"Akhirnya Nona Guru kembali! Peluang gue untuk lulus naik tiga puluh persen."

Dimas menatapnya. "Naik dari nol ke tiga puluh tetap belum aman."

"Dim, bisa nggak sekali aja lu dukung gue secara emosional?"

"Aku sedang mendukungmu secara realistis."

Keiko tertawa pelan, lalu duduk di sebelah Kelvin. Kursinya terasa akrab. Meja dengan goresan kecil di sudut, bekas tipis pulpen merah di samping, dan botol air hangat yang sudah menunggu.

Kelvin melihat wajahnya. "Masih pusing?"

"Sedikit."

"Makan?"

"Sudah."

"Bohong?"

Keiko menoleh. "Tidak semua jawaban pendek itu bohong."

"Kalau dari kamu, sering."

Bagas langsung menepuk meja. "Waduh, komunikasi kalian makin domestik."

Keiko tidak mengerti harus menaruh wajahnya di mana.

Kelvin melempar penghapus ke arah Bagas. Bagas menangkapnya sambil tertawa, lalu segera mengembalikan saat Dimas menatapnya seperti akan mengajukan keberatan moral.

Hari-hari setelah itu berjalan dengan cara yang aneh. Di sekolah, mereka tetap bukan apa-apa. Tidak ada pernyataan, tidak ada pegangan tangan, tidak ada kata yang bisa dipakai teman-teman untuk mengunci mereka dalam satu sebutan.

Namun jika Keiko batuk sekali, Kelvin membuka botol air.

Jika Kelvin terlalu lama menatap kosong ke jendela, Keiko menggeser soal baru ke mejanya.

Jika Bagas mulai menggoda terlalu keras, Dimas biasanya lebih dulu menendang kursinya sebelum Kelvin sempat bergerak.

Dan setiap malam, layar ponsel menyala.

Video call mereka tidak selalu penuh percakapan. Kadang Kelvin mengerjakan fisika sementara Keiko membaca ulang materi. Kadang Keiko hanya memperhatikan ujung pulpen Kelvin bergerak, mendengar suara kertas dibalik, suara Yuan Yuan mengeong, suara motor lewat di luar kontrakan. Kadang Kelvin diam-diam menatap layar ketika Keiko menunduk terlalu lama.

"Ngantuk?" tanyanya suatu malam.

Keiko menggeleng.

"Sakit?"

"Tidak."

"Kalau bohong, lampu kamar kamu kedip."

Keiko refleks menatap lampu.

Kelvin tersenyum sangat tipis di layar.

"Kelvin."

"Hmm?"

"Kamu sekarang bisa bercanda."

"Salah kamu."

"Kok aku?"

"Kamu yang ngajarin orang ngomong terlalu banyak."

Keiko tidak bisa menahan senyum. Di bawah selimut, kakinya dingin. Di meja samping ranjang, obat anti-mual masih terbuka. Tapi di layar, Kelvin sedang duduk dengan kaus hitam, luka di wajahnya tinggal bekas samar, dan Yuan Yuan melingkar di dekat buku seperti bulan hitam kecil.

Keiko menyukai pemandangan itu dengan cara yang membuat dadanya takut.

Dia tidak menamai rasa itu.

Menamai berarti mengaku. Mengaku berarti berharap. Dan berharap, bagi seseorang yang hidup dengan jadwal kontrol dan angka lab, terasa seperti memegang benda kaca di dekat lantai batu.

Kelvin juga tidak menamainya.

Namun ada malam ketika dia selesai mengerjakan soal, lalu tidak langsung menutup buku. Dia menatap Keiko di layar cukup lama sampai Keiko pura-pura mencari pulpen.

"Besok pulang sama aku?" tanyanya.

"Bu Tuti jemput."

"Aku antar sampai mobil."

"Itu bukan pulang sama kamu."

"Setengah."

Keiko tertawa. "Ada istilah setengah pulang?"

"Sekarang ada."

Malam lain, hujan turun deras di Dago. Suara air memenuhi panggilan. Kelvin tidak bisa keluar memotret sunset, jadi dia mengirim foto jendela kontrakan yang buram oleh titik hujan.

**Kelvin**: Langit hari ini mogok.

Keiko menyimpan foto itu juga.

Nama file di kepalanya: langit yang tidak kelihatan, tapi tetap dikirim.

Semakin banyak hal kecil terkumpul, semakin sulit bagi Keiko berpura-pura semuanya hanya kebiasaan. Cara Kelvin menunggu dia menyelesaikan obat sebelum mulai belajar. Cara dia mengirim foto Yuan Yuan saat Keiko tidak menjawab lebih dari sepuluh menit. Cara dia berkata `aku di sini` bahkan ketika Keiko hanya memanggil namanya tanpa alasan.

Malam itu, tubuh Keiko lebih lelah dari biasanya.

Tidak separah hari kemo, tetapi ada rasa kosong yang menyebar dari tulang ke kulit. Dia sudah mematikan lampu utama. Hanya lampu meja kecil yang menyala, membuat dinding kamar terlihat kuning lembut. Video call dengan Kelvin masih tersambung.

Kelvin sedang menulis. Suara pulpennya pelan, teratur.

Keiko berbaring miring, ponsel disandarkan pada bantal. Dia seharusnya tidur. Bu Tuti sudah dua kali mengetuk pintu, mengingatkan jangan begadang. Tetapi menutup panggilan terasa seperti mematikan lampu terakhir.

"Tidur," kata Kelvin tanpa mengangkat kepala.

"Sebentar."

"Dari tadi sebentar."

"Kamu juga belum tidur."

"Aku masih ada dua soal."

"Kalau begitu aku tunggu dua soal."

Kelvin mengangkat wajah. "Nona Guru keras kepala."

"Muridnya juga."

Kelvin menatapnya beberapa detik. Di layar kecil itu, jarak antara mereka hanya sebatas sinyal, tetapi juga sejauh kamar Keiko dan kontrakan Dago, sejauh rahasia yang Keiko simpan di bawah bantal dan luka yang Kelvin simpan di balik kaus hitamnya.

Keiko memanggilnya sebelum dia sempat berpikir.

"Kelvin."

Pulpen Kelvin berhenti.

"Aku di sini."

Jawaban itu datang cepat, seperti sudah tinggal di lidahnya.

Keiko menatap layar. Matanya terasa panas, tetapi dia tersenyum kecil.

"Nggak ada apa-apa," katanya pelan. "Cuma mau manggil namamu."

1
Yani
yuk lanjut crita nya yuk Thorr 🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!