Di usia yang tak dikatakan muda, Amaira Husna selalu didesak untuk segera menikah. Alih-alih berkeluh-kesah kepada sahabatnya, Reynand. Menceritakan kegalauannya tentang bagaimana cara mengambil sikap sebab orangtuanya telah mencarikan jodoh untuknya, justru dia mendapati hal yang tak pernah dia sangka.
Salahnya yang bercerita atau inilah solusi satu-satunya untuk menolak jodoh dari orangtua. Sebab Reynand datang di hari yang sama bertepatan disaat tamu orangtuanya tiba. Reynand datang mengutarakan niat untuk melamarnya.
Akankah Amaira menerima tindakan konyol Reynand, yang notabenenya berstatus sahabat dengan hubungan yang jelas tanpa dilingkupi adanya cinta.
Atau terpaksa menerima dan menganggapnya sebatas solusi yang malah berbuntut frustasi akibat keputusannya?
Tpe-
20-09-2019
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Aku baru saja mendudukkan diri di kursi penumpang didalam pesawat. Terlihat ada beberapa penumpang lain yang masih sibuk mencari letak tempat duduknya dan sesekali melihat nomor yang tertera pada tiket yang dipegang. Ada juga yang langsung menanyakan pada pramugari dan ada lagi yang sedang sibuk menata barang bawaan, menaruhnya pada kabin pesawat. Ya, seperti yang Reynand lakukan sekarang.
Aku kini beralih menatap pada jendela pesawat yang terdapat titik-titik percikan air hujan. Cuaca di Jakarta saat ini memang sedang dilanda hujan.
Aku lalu mengeluarkan ponselku dari saku yang sudah ku atur dalam flight mode, mencari menu camera untuk mengabadikan objek yang kini tengah kulihat. Setelah mendapatkan hasil yang pas, aku lalu memasukkan ponsel kembali ke dalam saku blazerku.
Perjalanan yang ditempuh dari Jakarta menuju Yogyakarta yakni memakan waktu satu jam lima belas menit. Aku mengeluarkan MP3 ku dari saku blazer. Tadi sebelum berangkat, aku sengaja menyiapkan dan mengeluarkannya dari koper agar aku tak lupa. Mendengarkan lagu sepertinya cara jitu untuk menghilangkan kebosanan.
Kulihat kini pramugari mulai memberikan intruksi-intruksi pada para penumpang. Peraturan keselamatan dan memperagakan cara menggunakan sabuk pengaman bagaimana cara mengunci, mengetatkan dan melepas sabuk pengaman. Dilanjut dengan mempraktekkan menggunakan masker oksigen, menunjukkan pintu darurat juga mempraktekkan menggunakan baju pelampung. Untuk lebih jelasnya para penumpang bisa melihat dan membaca kartu intruksi mengenai cara yang sudah dipraktekkan mbak pramugari tadi yang berada pada kantung kursi dihadapan penumpang.
Pesawat sudah mulai sedikit bergerak pelan, sesekali aku merasakan sedikit guncangan. Pesawat kemudian menuju landasan pacu dengan menambah sedikit demi sedikit kecepatan. Sejurus kemudian mulai mengebut untuk take off meninggalkan landasan pacu. Posisi dudukku kini seakan miring. Karena pesawat menukik ke atas. Dan diiringi suara dengan nada tinggi yang cukup memekakkan telinga. Walau telingaku sudah tertutup headseat namun tetap saja suara itu serasa menusuk gendang telinga. Ini adalah salah satu hal yang paling tidak aku sukai saat naik pesawat.
Setahuku suara itu terjadi karena ketika pesawat terangkat dari tanah, pilot menarik roda ke tubuh pesawat dan menutup flap di belakang satu per satu. Sementara sulingan suara yang membingungkan dan memekakkan telinga itu berasal dari pilot mencabut flap sayap yang diperlukan untuk mendaratkan pesawat ke tanah. Jadi bersiaplah satu kali lagi suara memekakkan telinga itu akan terjadi yakni pada saat mendarat nanti.
Hingga kondisi mulai normal, aku mulai bernafas lega dan mulai menikmati perjalananku. Lagu sudah mengalun secara bergantian ditelinga, sesekali mulutku komat kamit mengikuti alunan bait-bait nada. Tapi tiba-tiba headseat sebelah kiri terlepas. Bukan terjatuh tapi memang ada yang sengaja menariknya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan si Reynand dan dia bilang, ikut bergabung.
Tanpa aku bilang ya atau tidak dia langsung memasang headseat pada telinga sebelah kanan. Refleks aku menoleh pada orang disampingku, diapun kini juga tengah menatapku. Tanpa berkata kini pandangan mataku berubah menjadi sinis. Tapi dia hanya berdecak dan jangan lupakan wajah menyebalkannya.
Sesaat kemudian, pletak. dia justru menjitak keningku dengan jari telunjuknya. Tanpa rasa bersalah, dia sekarang merubah posisinya bersandar pada kursi penumpang serta mengenakan penutup kepala hoodie yang dia kenakan.
"Apaan sih!" keluhku seraya mendesis sebal. Tangan kananku mengusap kening disertai menoleh pada Reynand.
Dan kini dia bersuara, "Bangunin kalau sudah sampai."
"Bodo amat!" ucapku ketus seolah tak peduli.
"Aku masih dengar," sahutnya datar tanpa merubah posisinya.
Aku mendegus, pandanganku lalu beralih menatap jendela pesawat. Terlihat awan yang menggumpal dengan langit mendung sebagai backgroundnya seakan memperjelas bila di luaran sana cuaca tak bersahabat.
Tangan kananku terulur berusaha menggapai gumpalan awan dari balik kaca jendela pesawat. Lalu sorot mataku terpaku pada cincin emas putih di jariku.
Ada rasa nyeri dalam hatiku. Inikah jalan hidupku. Aku menghela panjang napasku, menyandarkan kepala pada sandaran kursi penumpang dengan mata masih menatap arah luar jendela.
Kalau dipikir-pikir ada untungnya juga aku menikah. Aku sudah terlepas dari tuntutan dan pertanyaan 'Kapan Nikah' karena statusku kini telah berubah.
Bukankah ini sudah terjadi dan setiap awal pasti akan ada akhir. Dan yang harus aku lakukan kini adalah menjalani. Menjalani permainan, menyandang status orang yang sudah menikah.
Toh si pencetus ide adalah orang yang sudah benar-benar aku kenal. Jadi bekerjasama mungkin akan saling menguntungkan. Toh kita juga tak ada perasaan apa-apa, kecuali berteman dan bersahabat. Jadi tak ada yang perlu ditakutkan.
Bukankah aku kemarin juga meminta padanya, bila aku sudah menemukan seseorang yang aku cinta, maka tugas Reynand adalah melepas.
Kupikir ini bukan akhir, tapi sampai jumpa untuk memulai.
To be Continue