Garda Arkasa, CEO Rajasa Group. Sosok ambisius, ia selalu mendapat apa yang ia mau. Pun begitu juga dengan pasangan hidup. Garda membuat seorang gadis yang sudah memiliki kekasih untuk menikah dengannya. Bagi Sofi, lamaran dari Garda adalah nasib buruk yang harus ia hindari.
Tidak mau menjadi istri dari CEO terkaya itu, Sofi nekat kabur di hari pernikahannya.
Apa Sofi bisa menghindar dari jeratan sang CEO yang sudah terlanjur menginginkan tubuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema
Dipaksa Menikah Bagian 24
Oleh Sept
Rate 18 +
Begitu tiba di Bandara, Garda langsung berlari mencari seseorang. Sekretarisnya bilang di telpon, ia mengendus keberandaan Amelia. Sosok wanita yang tiba-tiba menghilang dalam hidupnya di masa lalu. Membuatnya terobsesi pada apapun tentang gadis tersebut.
Pria itu kini terus berlarian, matanya memindai seluruh penjuru, mencari bayang-bayang Amelia. Suami dari Sofi tersebut kemudian merogoh ponsel dari dalam saku jas yang ia kenakan. Dengan cepat ia menghubungi nomor yang ada dalam ponselnya.
"Kamu yakin dia ada di sini?" tanya Garda pada sang sekertaris.
"Pesawat beliau baru saja mendarat, Tuan. Nona Amelia pasti masih di area Bandara," terang sekretaris pribadi Garda.
Garda menghela napas panjang, kemudian memasukkan ponselnya dalam saku. Ia kembali melihat sekeliling. Mencari jejak tentang Amelia.
Beberapa tahun lalu, ketika hubungan mereka baik-baik saja, Amelia tiba-tiba saja pergi tanpa jejak. Gadis itu menghilang begitu saja. Seperti ditelan bumi, Amelia hilang tanpa jejak.
Bertahan-tahun Garda mencari, tapi tiada hasil. Sampai ia bertemu dengan Sofi. Wajah yang hampir sama, membuat ia terobsesi dengan cintanya yang telah hilang.
***
Lelah mencari tanpa hasil, Garda termenung di bangku kosong. Matanya kosong menatap orang-orang yang lalu lalang. Tangannya menggengam ponsel yang terus berbunyi. Karena mengira yang menelpon adalah sang sekertaris, maka ia malas untuk menjawabnya. Kesal pada ponsel yang terus menyala, ia pun menatap layar dengan sekilas.
"Sofi?"
Garda mendesis, antara masa lalu dan masa depan. Ia ada di antara keduanya.
Sesaat kemudian
"Ya," ucap Garda di telpon.
"Di mana?"
Bila itu adalah panggilan vidio, mungkin akan terlihat pipi Sofi yang merah seperti tomat. Ia malu mengingat kejadian semalam.
"Aku akan segera pulang!" jawab Garda dingin.
Tut tut tut
Garda pun mematikan ponselnya, ia berbalik memilih pergi tanpa mendapat apapun. Bahkan sepanjang jalan, ia hanya melamun. Pria itu berjibaku dengan perasaannya.
Di tempat lain, Sofi justru malu-malu kucing. Ia kembali teringat saat keluar ruang rahasia tadi. Saat bangun, ia hanya seorang diri. Sempat kecewa, tapi ia tepis. Garda itu orang sibuk, mungkin ada hal yang mendesak. Itulah yang ia pikir saat itu.
Tadi, setelah memakai pakaian, ia buru-buru keluar. Tak tahunya beberapa pengawal ada di depan kamar, malu karena waktu itu penampilannya sangat berantakan. Belum lagi rambutnya yang seperti terkena ombak. Sofi pun sangat malu, karena tatapan para pengawal setia itu. Pokoknya ia sangat malu.
Dengan langkah pelan, karena merasa nyeri, ia masuk dalam kamarnya sendiri. Selesai mandi, barulah ia menelpon suaminya. Tidak tahu mengapa, sejak tadi malam ia seperti terkena sihir. Ada sesuatu yang membuat hatinya bergetar.
Garda yang ia benci setiap saat, mendadak selalu muncul dalam pelupuk matanya. Dalam kepala dalam hati dan dalam angan-angan.
Berkali-kali ia memutar tubuhnya, sebentar lagi suaminya pulang. Ia ingin terlihat cantik paripurna di depan Garda.
"Ya ampun, kamu pasti sudah gila, Sof!" gumam Sofi sembari bibirnya terus mengumbar senyum.
Sudah yakin bahwa tampilannya kini sempurna, ia pun berniat turun ke bawah. Dari atas Sofi dapat melihat beberapa pengawal yang menguap. Ia jadi tidak enak hati, apa semua bergadang karena dirinya? Ingin bersikap biasa, Sofi lantas menepis rasa canggung yang kian mendera.
Kini, ia memilih jalan-jalan di taman, tidak sendiri. Ada dua pengawal yang ada di belakangnya. Satu lagi mengawasi dari kejauhan. Tidak seperti kemarin, kali ini ia berjalan ke sana ke mari tidak peduli walau sedang diawasi.
Mungkin ia sudah mulai menerima dan terbiasa dengan kondisi seperti ini. Ia malah bersenandung lirih sembari memegangi kelopak bunga yang ia lewati. Hatinya juga berbunga-bunga seperti puluhan bunga yang ia pegang.
***
Dari ujung jalan, sebuah mobil masuk pekarangan rumah. Sofi tiba-tiba salting. Ini semua efek lobak impor semalam. Membuat Sofi mudah salah tingkah.
"Ada apa dengan jantungku? Mengapa berdegup sangat kencang?" Sofi bertanya dalam hati, perihal dentuman jantung yang makin lama makin kencang. Apa lagi dari jauh terlihat pria tampa dan gagah turun dari mobil.
Begitu sang suami mendekat, Sofi tiba-tiba melempar senyum pada pria itu. Sayang, Garda malah terlihat sangat dingin. Ekspresi pria itu seperti kulkas empat pintu.
BERSAMBUNG
Saat hati Sofi mulai mencair, kini perasaan Garda yang seakan jadi beku. Kenangan dari masa lalu, membuat pria itu dilema. Antara siapa yang sebenarnya ada dalam hatinya.
Jangan lupa, nanti malam kita live IG xixixixix
IG : Sept_September2020