COOL BOY GUS FASHAN
🌸SEASON DUA DARI USTADZ MUDA ITU SUAMIKU🌸
Seorang pria gagah, tampan, pemalu dan dingin. Sangat menyayangi keluarganya. Seorang pria berumur 25 tahun, Muhammad Fashan Ali Zainul Majdi. Si sulung dari 4 bersaudara.
Kisah cintanya tak berlangsung mulus, apalagi saat dia dituduh atas perbuatan yang tidak pernah dia lakukan. Namun, walaupun begitu. Dia adalah pria yang taat agama dan Sholeh. Menginginkan pasangan terbaik, bahkan keislamannya pun sangat berharga untuk nya. Gus Fashan adalah seorang pebisnis muda, guru dan pengurus pesantren keluarganya Al Bidayah. Karena kejadian malam itu, setelah yakin dengan sholat istikharah. Dia menikahi seorang gadis yang memiliki sifat tidak jauh-jauh darinya, dingin, cuek, galak dsn ketus. Gus Fashan berusaha menjadi sosok yang baik untuk istrinya tercinta Raihanah Sufu Embrace, 22 tahun, santriwati baru di pesantren. Gus Fashan berusaha menjadi pencair suasana, jika dia masih bersikukuh dengan sikap cueknya, entah bagaimana rumah tangga nya dengan Raihanah. Gus Fashan akan terus berusaha mendapatkan penerimaan yang ikhlas dari istrinya, walaupun sulit dan memerlukan waktu. Akankah si ketus Raihanah luluh? kita simak kisahnya..
Happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Cemburu
”Kamu merasa benar karena menghina Zaenab? sampai kamu gak merasa bersalah sama sekali?" tutur Gus Fashan dan Raihanah diam.
”Saya tahu perubahan itu gak ada yang instan, tapi tolong. Setidaknya jaga sikap kamu untuk keluarga saya, kamu gak perduli sama saya juga gak apa-apa Rai" ujar Gus Fashan kembali semakin kesal.
”Aku cuma belain diri aku sendiri, aku terus yang salah. Kamu lebih belain Zaenab, dia yang mulai duluan.” Sewot Raihanah tidak terima dengan sikap suaminya.
”Diam lebih baik, kalau kamu balas menghina. Kamu gak ada bedanya dengan Zaenab” tutur Gus Fashan penuh penekanan, di sangat marah saat ini. Raihanah diam, menatap suaminya penuh amarah." Tundukan kepala kamu, jangan tatap saya seperti itu”
”Saya capek disalahin terus, saya capek dihukum terus sama kamu. Saya menghina Zaenab gak separah Zaenab menghina saya. Ada sesuatu kan dibalik pembelaan ini? Gus masih menyimpan rasa untuk Zaenab, kenapa gak dinikahin aja sekalian. Hidup damai dengan wania Sholehah, berbeda dengan sosok seperti saya. Saya juga sadar diri” tutur Raihanah berat, rasa kesal dan cemburu merasuk, walaupun salah, perempuan tetap tidak suka perempuan lain lebih dibela oleh pasangannya.
”Jangan bicara sembarangan” lirih Gus Fashan, berusaha untuk tetap tenang.” Kemari, duduk sama saya”
”Enggak mau, jangan peluk, apalagi cium cium saya mulai sekarang, saya gak mau” sinis Raihanah dan tetap duduk ditempatnya." Gus lebih belain Zaenab daripada saya, Gus bilang sebelum menikah, gak bakal bikin saya nangis. Semuanya bohong, saya sakit hati terus setelah menikah sama kamu” ujarnya kembali begitu Frustasi, mengucapkan hal-hal diluar kendali karena marah dan cemburu. Gus Fashan bungkam mendengar keluh kesah Raihanah, dia bangkit untuk mendekat dan menenangkan Raihanah, Raihanah juga bangkit dan berlari menuju ke kamar, lalu Gus Fashan menyusulnya.
”Saya mau sendiri” imbuh Raihanah dan tidak mau membiarkan suaminya masuk, Gus Fashan terus mendorong pintu, tapi dia berhenti saat melihat uminya datang.
Brak
Pintu ditutup kasar, lalu terdengar suara dentingan kunci, Raihanah mengunci kamar dan tidak mau tidur bersama Gus Fashan.
”Ikut” ajak umi Nailah, Gus Fashan menatap pintu kamarnya sekilas dan melangkah menyusul Uminya, di kamar. Raihanah terus menangis, terisak-isak pelan sambil meringkuk berbalut selimut.
Umi Nailah dan Gus Fashan diam, duduk bersama di ruang tamu.
”Jangan kasar, jangan membentak, itu pesan umi selama ini sama kamu. Kamu gak sayang sama Rai? kamu menikahi dia hanya untuk sebuah status saja begitu?” tutur umi Nailah kesal dengan sikap puteranya, Gus Fashan menggeleng kepala, membantah semua ucapan uminya.
”Fashan sayang sama Raihanah, Fashan keceplosan bentak dia tadi” jawab Gus Fashan jujur, tidak terlihat keraguan di sorot mata dan nada bicaranya.
”Faiza juga nangis kamu bentak tadi Shan, untung abi kamu gak bangun. Belajarlah memahami Raihanah, seperti yang kita tahu Raihanah seperti apa. Harusnya kamu juga tahu bersamanya gak bakal mudah, dia jodoh kamu, istri kamu, kamu gak bisa menolak itu Shan” suara umi kini berubah berat.
”Fashan tahu mi, maaf. Fashan sama Raihanah bikin ribut. Tapi sikap Raihanah keterlaluan, sudah kewajiban Fashan menegur Raihanah” ujar Gus Fashan, suaranya serak, dia takut hubungannya dengan Raihanah yang sudah mulai membaik menjadi buruk.
”Iya umi tahu, tapi pelan-pelan. Maaf ya, umi gak bermaksud nyamain kamu sama Abi tapi kamu anaknya Abi, sifatnya gak jauh beda lah pastinya, Abi juga pemarah, tapi kalau untuk menyelesaikan masalah caranya lembut banget. Kecuali uminya bandel, masalahnya beneran gede, baru lah Abi kamu teriak sama umi. Yang lembut dong sama Raihanah, dia Istri kamu” tutur umi Nailah, tangannya tidak berhenti mengelus dan mengusap bahu lebat putranya itu.” Kalau bisa jangan sampe teriak sama istri kamu apapun kondisinya” sambungnya singkat.
Gus Fashan mengangguk-anggukkan kepalanya, dia lirik lantai dua rumahnya itu, di kamarnya Raihanah masih menangis terisak-isak pelan.
”Kalau masalah ini bikin kamu sama Raihanah makin jauh gimana? kalian menikah salah satu alasannya, karena gosip itu, dia anak orang Shan. Umi juga punya anak perempuan tiga, tega kamu kalau ada adik kamu yang dibentak-bentak suaminya?” imbuh umi kembali dan Gus Fashan diam mendengarkan. Sebagai bentuk menghormati dan sopan santun kepada ibunya, Gus Fashan takut apa yang dikatakan uminya benar-benar terjadi. Setelah obrolan selesai, umi pergi untuk tidur. Gus Fashan kembali ke lantai dua dan duduk di sofa. Pintu kamarnya masih dikunci oleh Raihanah, dia alamat tidur di atas sofa malam ini.
”Fashan jahat hiks...” Raihanah berbisik.
”Aku gak mau tinggal disini lagi” tambahnya sambil terus nenangis.
Pukul 2 dini hari, Gus Fashan masih terjaga, dia menonton televisi tapi tetap saja isi pikirannya hanya Raihanah, Gus Fashan menoleh saat suara kunci pintu kamarnya di putar. Dan kini dia bisa masuk.
”Asstaghfirullah Rai, kamu belum tidur jam segini” ucap Gus Fashan berbisik. Dia meraih remote tv, dan mematikannya. Lalu dia melangkah pergi mendekati pintu kamarnya, dia tarik gagang pintu perlahan lalu masuk, dia tatap sejenak tubuh istrinya yang meringkuk seperti anak kecil, Raihanah merasa gerah dan hanya memakai tanktop dan celana pendek selutut, dia tutupi tubuhnya dengan kain tipis. Gus Fashan menutup pintu dan Raihanah berusaha tetap diam.
Aku kira dia sudah tidur di bawah, menyesal aku buka kunci pintu.
Raihanah hanya bisa bergumam, kini dia merasakan tubuh besar suaminya sudah naik ke atas kasur, tapi tidak mendekatinya.
”Saya minta maaf karena kasar sama kamu tadi, jangan begitu lagi ya, kalau ada yang menghina kamu mending kamu bilang sama saya, saya yang selesaikan. Jangan bertindak sendiri, saya sayang sama kamu Raihanah anaknya bapak Berhan” Tutur Gus Fashan sambil tersenyum, tapi dia sedikit tertawa kecil saat menyebut nama mertuanya.
Bapak gue dibawa-bawa lagi, dasar.
Raihanah juga ingin tertawa, tapi dia tahan. Sudah tahu dia anaknya bapak berhan, kenapa juga Gus Fashan harus bilang begitu. Raihanah menegang, saat suaminya beringsut perlahan-lahan mendekatinya. Raihanah mengigit bibir bawahnya kelu saat tangan besar suaminya melilit pinggangnya, Gus Fashan memperhatikan tali tank top berwarna putih itu dan perlahan menariknya.
”Jangan macam-macam” tegas Raihanah.
”Pura-pura tidur saja terus, cuekin saya” Gus Fashan kesal, Raihanah mengerucutkan bibirnya dan diam. Gus Fashan kini memeluk Raihanah lagi, Raihanah menghalangi tangan Gus Fashan agar tidak naik ke dadanya, dan Gus Fashan pun tidak akan melakukannya, tangannya hanya bisa sebatas di perut Raihanah, belum diberikan izin bergerilya menyentuh setiap inci tubuh indah itu.
”Lepas Gus" titah Raihanah, dia merasa takut dengan tangan di perutnya, dan bibir Gus Fashan di tengkuknya.
”Saya cuma peluk, gak bakal macam-macam” Gus Fashan berbisik. Di telinga Raihanah, dengan bibir yang menempel, sontak Raihanah merasa bulu kuduknya berdiri.
”Iya karena kamu gak normal kan?” tuding Raihanah dan mendorong tangan Gus Fashan dari perutnya.
Gus Fashan menarik bahu Raihanah, Raihanah kaget saat wajah Gus Fashan berada di atas wajahnya, sekali saja gerakan kaki pria itu, dia sudah ditindih.
”Kamu meragukan keperkasaan saya, mau coba? sekarang ya” ucap Gus Fashan, dia terusik dengan tudingan Raihanah.
”Aku bercanda doang Gus hehe, jangan ya. Ampun Gus Fashan, tidur aja ya” ucap Raihanah dengan tawa kecil yang begitu gugup, dia dorong dada suaminya agar kembali berbaring dan jangan di atas tubuhnya seperti itu, Raihanah melirik kanan-kiri, dimana tangan Gus Fashan di sebelah kepalanya Gus Fashan terus menatap Raihanah, Raihanah menarik selimut menutupi dadanya.” Jangan lihat aku begitu, aku takut Gus” ujarnya kembali.
Gus Fashan akhirnya kembali berbaring.” Biasanya tidur kamu peluk saya, sini peluk saya Rai" pinta Gus Fashan. Raihanah menggeleng kepala. Dan akhirnya Gus Fashan yang memeluknya.
”Saya minta maaf, jangan marah ya” ucap Gus Fashan dan Raihanah diam, Raihanah memiringkan tubuhnya, menghadap ke dada bidang suaminya. Gus Fashan tersenyum lebar, Raihanah mulai luluh kembali. Dia menarik selimut dan menyelimuti tubuhnya dan tubuh istrinya.” Rai saya mau tanya”
”Tanya apa?”
”Kamu menyesal menikah sama saya?”
Raihanah diam, dia tidak mau menjawab, dia menyesal mengeluarkan kata-kata tersebut kepada suaminya. Karena dia kesal dan cemburu, Gus Fashan lebih membela Zaenab.
”Jawab Rai” titah Gus Fashan.
”Aku mau tidur Gus" ucap Raihanah, dia menghindar dan dia juga sudah lelah.
”Ya sudah ayo tidur” kata Gus Fashan, dia tidak berani memaksakan kehendaknya, dia ciumi rambut Raihanah, dan Raihanah mulai mengantuk dengan sentuhan dan ciuman suaminya itu. Apalagi sekarang Gus Fashan melantunkan surah Al Mulk, begitu merdu dan indah, Raihanah semakin terbuai, dia tertidur pulas dan Gus Fashan terus melanjutkan melantunkan surah tersebut.
*****
Keesokan paginya, Raihanah diantar kuliah oleh suaminya, dia duduk di depan dan Faiza di belakang, sibuk bermain hape. Gus Fashan menyetir dengan sesekali melirik Raihanah. Dia belum mendengar suara cempreng istrinya pagi ini. Dia rindu saat-saat Raihanah ketus padanya. Sesampainya di depan kampus, Faiza turun duluan dan meninggalkan keduanya.
”Aku pergi” ujar Raihanah, mengulurkan tangannya untuk menyalami tangan Gus Fashan, bukannya mengulurkan tangannya untuk disalami Raihanah, Gus Fashan malah meraih tangan Raihanah dan mengenggamnya.” Gus” ucap Raihanah bingung, dia dan Gus Fashan saling memandang lekat.
”Saya gak suka kamu diem, saya minta maaf” ujar Gus Fashan, Raihanah diam dan melepaskan genggaman tangan suaminya, sontak Gus Fashan terlihat sedih dan Raihanah berpaling. Gus Fashan menjatuhkan telapak tangannya di pucuk kepala Raihanah, dan Raihanah menoleh.” Saya minta, jangan tinggalin saya ya, jangan berniat kabur” ujarnya lirih.
Deg...
Raihanah langsung menunduk, dia memang ada rencana kabur ke rumah nenek, tapi kenapa Gus Fashan tahu? Raihanah tidak tahu, jika neneknya yang mengirimkan pesan kepada Gus Fashan bahwa Raihanah mau pulang, dan bertanya ada apa dengan keduanya.
”Enggak gus” ucap Raihanah sambil menggelengkan kepalanya, dia tatap kedua mata gus Fashan yang nampak memerah dan berair.
”Kamu bohong” ucap Gus Fashan. Dan Raihanah menunduk.” Nanti pulang saya jemput seperti biasa ya, tunggu saya, kalau bisa pulang sama Faiza kasih kabar ke saya.”
Raihanah mengangguk pelan. Dia tidak bisa kabur jika melihat wajah sedih suaminya seperti itu, Gus Fashan tersenyum dan mengulurkan tangannya, Raihanah lekas meraih lalu mencium punggung tangan Gus Fashan lembut. Gus Fashan keluar, memutari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Raihanah. Raihanah pun keluar dan menggendong tas nya.
”Assalamu'alaikum”
”Wa'alaikumus Salaam”
Gus Fashan diam, memperhatikan Raihanah yang terus melangkah masuk melewati pintu gerbang universitas tersebut. Setelah memastikan istrinya itu masuk, Gus Fashan pun pergi untuk segera ke sekolah.
****
Abi Farhan sedang menikmati kue, dengan secangkir teh hangat. Ditemani istrinya tercinta, Habibati nya, Umi Nailah. siapa lagi?
”Fashan bertengkar sama Raihanah mi?” tanya Abi tiba-tiba, dia mendengar kabar percekcokan antara menantunya dengan Zaenab dari pengurus pesantren yang lain. Umi Nailah tersentak, akhirnya kabar tersebut sampai juga pada suaminya, hal yang sangat dia takutkan.
”Sudah lah bi, kita jangan ikut campur urusan rumah tangga anak kita” ujar umi Nailah, abi Farhan diam, tidak lama ia mengangguk.
”Ya gak bakal, itu tanggung jawab mereka. Tapi tolonglah umi ngobrol sama Raihanah, untuk lebih sabar tinggal dilingkungan pesantren ini. Dia sudah menjadi anak kita, Raihanah belum lama menjadi santriwati, lalu tiba-tiba dinikahi anak kita Fashan secara mendadak, jelas latar belakangnya menjadi sorotan, silsilah keluarga nya seperti apa, apalagi dia yang dilahirkan atas sebuah hubungan yang haram. Tapi itu semua bukan kesalahan Rai, dia anak baik, cuma dia keras karena dilingkungan sekitarnya seperti itu. Minta dia untuk lebih bijak dalam bergaul, dalam mengolah kata dan ucapan, karena itu untuk kebaikannya sendiri, umi dekati seperti sosok ibu kandung, teman mungkin, dari pada Raihanah cerita sama orang luar. Mending sama orang yang masih satu rumah, kita gak bisa membiarkan semua aib yang kita miliki di dalam keluarga kita keluar dan didengar oleh semua orang” tutur abi Farhan dan umi Nailah mendengarkan dengan baik, ada benarnya juga dengan apa yang dikatakan abi Farhan, Raihanah sudah harus berubah perlahan-lahan, karena dia harus bisa menyesuaikan diri dengan status barunya, istri dari seorang Gus Fashan. Nama baik keluarga yang harus dijaga bersama-sama.
”Iya nanti umi coba ngomong sama Rai, tapi lebih baik Faiza aja gak sih bi? Faiza deket sama Rai. Umi yakin dia bisa ngomong baik-baik sama Raihanah” imbuh umi Nailah.
”Boleh, umi bilang aja sama Faiza, bantu Raihanah belajar pelan-pelan, bukan bermaksud untuk supaya sempurna, hanya saja untuk menjadi seorang muslimah yang baik, apalagi seorang istri itu gak mudah. Minta Faiza dekati Rai, Faiza pinter. Abi juga yakin dia bisa jagain Rai sama bantuin Raihanah” Abi setuju dan umi Nailah tersenyum.
”Iya bi, kita gak bisa membebankan semuanya sama Fashan, kita juga harus perlahan-lahan bantuin Raihanah” ucap umi Nailah dan abi Farhan mengangguk sambil tersenyum.