Rizar Abran Maulana seorang pria tampan dan sholeh sudah jatuh cinta kepada seorang wanita cantik yang dia temui di sebuah pesta tapi wanita itu tidak menyadarinya, hingga suatu saat sahabatnya ingin menjodohkannya dengan adik kandungnya sendiri yang ternyata adalah wanita yang selama ini Rizar cari.
Jihan Addara Puteri seorang wanita cantik yang merupakan seorang artis dan model papan atas, Jihan yang biasa dipanggil Darra tidak menyangka kalau hidupnya sangat menyedihkan, disaat pacar yang dia cintai mengkhianatinya dan selingkuh dengan sahabatnya sendiri, sekarang Darra harus menerima perjodohan dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal.
Akankah Rizar bisa membuat Darra jatuh cinta kepadanya dan menerima Rizar sebagai suami seutuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Tanpa Syarat
✈️
✈️
✈️
✈️
✈️
Darra terus saja berlari dengan deraian airmata, ia berlari keluar Bandara.
"Ra, please berhenti, Ra!" teriak Rizar.
Hingga di luar Bandara, kaki Darra tidak sengaja tersandung dan akhirnya lututnya harus mencium aspal. Darra langsung berdiri tidak memperdulikan rasa sakit dan darah yang sudah mengalir di kedua lututnya.
Tapi Rizar bisa mengejarnya dan dengan cepat menggendong Darra.
"Turunin Darra, Mas," seru Darra dengan rengekkannya bahkan saat ini airmatanya sudah mengalir dengan deras.
Rizar tidak mendengarkan rengekkan Darra, bahkan Rizar tidak memperdulikan Darra yang terus saja memukul dada dan pundaknya bertubi-tubi.
Rizar segera menghentikan taksi dan membawa Darra ke sebuah hotel. Selama dalam perjalanan, Darra tidak mau menatap wajah Rizar.
Tatapan Rizar beralih ke arah lutut Darra yang terus saja mengeluarkan darah. Rizar mengambil sapu tangan dari saku celananya dan merobeknya menjadi dua bagian, kemudian Rizar membalut kedua lutut Darra supaya darahnya berhenti sementara.
Darra hanya diam saja, hingga akhirnya taksi itu sampai di sebuah hotel. Setelah membayar ongkos taksi, Rizar segera turun dan lagi-lagi menggendong tubuh Darra tanpa bicara sedikit pun.
Rizar menuju meja resepsionis dan memesan sebuah kamar hotel, Darra hanya bisa menatap wajah Rizar yang saat ini dengan serius sedang berbicara dengan resepsionis. Setelah mendapat nomor kamarnya, Rizar segera menuju lift kebetulan di dalam lift hanya mereka berdua.
"Maaf...maafkan Mas," lirih Rizar.
Darra menatap wajah tampan itu dengan deraian airmata, begitu pun dengan Rizar yang menatap mata Darra yang saat ini sudah terlihat sembab.
Darra memalingkan wajahnya dan itu membuat Rizar menghembuskan napasnya secara kasar.
Ting....
Pintu lift terbuka, Rizar segera menuju kamarnya dan segera menempelkan kartu untuk membuka pintunya. Setelah terbuka, Rizar mendudukkan tubuh Darra di atas tempat tidur setelah itu Rizar kembali keluar kamar tanpa berbicara sepatah kata pun kepada Darra.
"Kok pergi sih? dia mau kemana?" gumam Darra.
Lima belas menit berlalu, tapi Rizar belum juga kembali membuat Darra memutuskan untuk merebahkan tubuhnya dengan kedua kaki yang menggantung. Tidak lama kemudian, Darra pun akhirnya memejamkan matanya.
Ceklek...
Rizar membuka pintu, dan di lihatnya Darra sudah terlelap. Rizar baru saja pulang dari apotek membeli obat buat Darra, Rizar berjongkok di depan kedua kaki dara yang menggantung.
Perlahan, Rizar membuka sapu tangan yang membalut luka Darra bahkan sapu tangannya sudah berubah mejadi warna merah. Perlahan Rizar mengobati lukanya, terlihat Darra bergerak tapi dia tidak membuka matanya dan tetap terlelap.
Setelah selesai mengobatinya, Rizar pun mengangkat tubuh Darra dan membenarkan posisi tidur Darra. Di tatapnya wajah cantik sang istri, dan Rizar pun mencium kening Darra kemudian mencium kedua mata Darra yang tampak sembab.
"Maafkan Mas, Ra. Semoga kamu mau memaafkan Mas."
Rizar beranjak dan duduk di sofa sembari memperhatikan istrinya yang sedang tertidur.
***
Sementara itu, semua artis dan para kru di giring ke sebuah hotel untuk beristirahat sampai besok mereka akan melanjutkannya lagi menuju China.
Amel saat ini sedang menghubungi ponsel Darra tapi sama sekali tidak di angkat.
"Hai Mel."
Amel pun membalikkan tubuhnya...
"Mas Galih."
"Mau ngopi bareng?" ajak Galih.
"Boleh."
Galih pun mengajak Amel ke sebuah coffe shop. Setelah mereka mendapatkan kopi, mereka pun duduk bersantai.
"Kalian kenapa menyembunyikan semuanya?" tanya Amel.
"Maaf, sebenarnya Rizar menyembunyikan identitasnya karena ada alasannya. Rizar tidak mau, wanita itu menerima Rizar karena melihat Rizar seorang Pilot. Rizar ingin wanita itu menerima apa adanya dan Rizar juga berencana kalau dia akan membuat kejutan untuk Darra."
"Tapi tetap saja, Darra pasti kecewa."
"Iya sih, tapi aku yakin Darra akan bisa menerima Rizar."
"Apa kamu tahu dimana Darra? soalnya dari tadi aku ga bisa hubungi dia?" seru Amel.
"Tahu, kamu tenang saja Darra bersama Rizar dan sekarang lebih baik kita biarkan dulu mereka berdua menyelesaikan masalah mereka."
"Mas benar juga."
Keduanya larut dalam obrolan dan mereka pun membicarakan banyak hal mengenai diri mereka masing-masing.
Berbeda dengan Eriska yang saat ini sedang kesal karena Rizar sama sekali tidak memperdulikannya.
"Dulu aja pas aku sama dia pacaran, Rizar ga kaya gitu banget tapi sekarang Rizar kayanya takut banget kehilangan tuh cewek, jangan-jangan cewek itu pakai pelet lagi," kesal Eriska.
***
Waktu pun sudah beranjak sore dan Darra baru saja bangun.
"Aw..."
Rizar yang saat itu tertidur di sofa dengan posisi duduk langsung terbangun dan menghampiri Darra.
"Kenapa Ra? mana yang sakit?" tanya Rizar dengan melihat tubuh Darra.
Darra tidak menjawab, ia malah kembali meneteskan airmatanya.
"Ya Alloh, Ra please jangan nangis lagi maafin Mas. Kamu boleh menyuruh Mas buat ngelakuin apa pun tapi Mas mohon jangan nangis lagi, Mas ga mau lihat kamu nangis."
"Kenapa Mas melakukan semua ini? kenapa Mas bohongi Darra?"
"Apa kamu mau mendengarkan cerita Mas?"
"Cerita apa?"
"Mas akan menceritakan semuanya, tapi Mas minta kamu jangan memotong cerita Mas. Dengarkan cerita Mas baik-baik."
Darra menganggukkan kepalanya...
Rizar pun menceritakan kisah dia dengan Eriska dari awal hingga akhir, sampai Ibunya meninggal. Darra menutup mulutnya karena merasa tidak percaya dengan apa yang Rizar ceritakan.
"Semenjak kejadian itu, Mas merasa sangat terpuruk bahkan kalau Mas tidak punya iman, Mas punya niat untuk mengakhiri hidup Mas. Tapi Mas tahu kalau bunuh diri itu perbuatan yang sangat di benci oleh Alloh, Mas mendatangi setiap maskapai supaya Mas bisa di aktifkan lagi dan diterima menjadi seorang Pilot karena menjadi Pilot adalah cita-cita Mas."
Rizar menghela napasnya dan menatap wajah Darra yang saat ini berderaian airmata.
"Dua tahun semenjak berakhirnya hubungan itu, Mas memutuskan menutup hati Mas untuk seorang wanita. Bahkan entah kenapa Mas merasa trauma menginjakkan kaki di Negara itu, maka dari itu Mas selalu menolak kalau ada penerbangan menuju New Zealand. Tapi kemarin, saat kamu meminta untuk pergi ke sana, Mas berusaha mengabulkan permintaan kamu karena Mas tidak mau membuat kamu sedih."
"Mas..." lirih Darra.
"Hingga akhirnya, sahabat Mas yang sudah lama tidak berjumpa mengundang Mas supaya datang ke acara pernikahannya. Di sanalah, Mas melihat seorang gadis yang sangat cantik dengan kebaya yang tampak cocok di tubuhnya. Entah kenapa, baru melihatnya saja jantung Mas sudah berdebar-debar. Rencana Mas untuk menutup hati gagal total saat melihat gadis itu, gadis itu adalah kamu."
Rizar tersenyum dan menghapus airmata Darra..
"Mas tidak tahu kalau kamu adalah seorang artis, dan Mas juga tidak tahu kalau kamu adalah adiknya Jiyyad. Dari sana Mas mulai menyuruh orang untuk mencari tahu semua tentang kamu, di saat Mas sangat ingin kenal dengan kamu, tiba-tiba Jiyyad ingin menjodohkan Mas dengan kamu tanpa pikir panjang, Mas langsung menerimanya. Mas berpikir kalau kita memang sudah jodoh, dan Mas meminta kepada Jiyyad dan kedua orang tua kamu untuk merahasiakan identitas Mas yang sebenarnya. Mas ingin lihat, apa artis terkenal seperti kamu mau menerima Mas apa adanya yang hanya sebagai sopir."
"Iya, lebih tepatnya sopir pesawat terbang kan?" ketus Darra.
Rizar terkekeh melihat istrinya yang sangat menggemaskan itu, Rizar mencubit kedua pipi Darra dengan gemas.
"Sakit Mas, apaan sih gimana kalau pipi Darra melar, memangnya mau tanggung jawab cariin Dokter yang bisa kembaliin pipi Darra?" kesal Darra dengan memegang kedua pipinya.
"Kalau masalah cari Dokter sih gampang, tapi yang jadi masalahnya Mas tidak bisa mencarikan Dokter yang bisa merubah penampilan kamu, apalagi sampai menambahkan atau mengurangi yang sudah di ciptaan Alloh itu sangat dosa."
"Terus, nanti kalau Darra hamil terus jadi gendut gimana? nanti Darra bakalan jadi jelek dan Mas cari lagi wanita yang lebih cantik," seru Darra cemberut.
"Hai, dengarkan Mas. Kamu mau berubah segendut apa pun, Mas tidak peduli karena istri itu adalah jantungnya rumah tangga. Membahagiakan istri adalah pahala bagi suami, karena istri merupakan kesuksesan kita. Do'a istri itu sangat manjur seperti halnya do'a Ibu kita, istri yang sholeh akan membuat rezeki suami lancar. Cinta Mas itu tulus padamu, dan cinta yang tulus itu tanpa syarat apa pun."
Darra hanya terdiam, merasa terharu dengan ucapan sang suami yang menurutnya sangat so sweet banget.
Cup...
Rizar mengecup bibir Darra sekilas membuat Darra tersentak.
"Eh...."
"Makannya jangan bengong, dengerin ga barusan Mas ngomong apa?"
Darra menganggukkan kepalanya...
"Jadi, kamu mau maafin Mas kan?"
"Iya."
"Serius?"
"Iya, Masku."
Rizar tampak bahagia dan langsung memeluk istrinya itu, Rizar menciumi seluruh wajah Darra membuat Darra terkekeh.
✈️
✈️
✈️
✈️
✈️
Hayo...sudah up nih, seperti keinginan kalian jangan lupa kopinya😂😂
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU