Kisah ini tentang seorang gadis polos bernama Aluna George yang terjebak dalam pernikahan bersama seorang mafia berdarah dingin. Alexandre Graham seorang pria tampan yang tidak pernaheduli soal cinta, baginya wanita mainan.
Harta, tahta dan kekuasaan membuatnya mampu memilih wanita manapun yang ia inginkan. namun semuanya berubah saat ia bertemu dengan gadis manis dari acara lelang.
Hubungan yang awalnya baik, akhirnya rusak karena sebuah kesalahan. kesalahan yang membuat keduanya harus terikat, kesalahan apakah itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menangis dalam pelukan Alex
Aluna sampai di kamar Elena, perasaannya masih sama. Tidak menerima kenyataan bahwa saat ini sedang ada bayi di dalam perutnya, hatinya berkata bahwa alat tes tadi salah.
Wanita itu membuka pintu kamar Elena, di dalam sana wanita itu sedang sibuk menyisir rambutnya.
Berbeda jauh dengan kondisi Aluna, Elena sudah mulai membaik. Ia tidak lagi meringkuk ketakutan di atas tempat tidur, atau melakukan segala hal agar selalu terlihat cantik.
Meski begitu, wanita itu masih tetap melakukan hal-hal secara berulang-ulang. Seperti mandi dan mencuci muka, seolah ia lupa bahwa ia baru saja melakukan hal-hal tersebut.
"Aluna!" ucap wanita itu saat melihat Aluna masuk ke dalam kamarnya.
Yah satu lagi perkembangan kesehatan Elena adalah ia sudah mampu mengingat nama Aluna dan juga bibi. Meski hanya dua orang tapi itu sudah jauh lebih baik, dulunya bahkan namanya saja ia tidak tau.
"Lihat ini," sambung wanita itu sambil menarik tangan Aluna ke arah meja yang di sana sudah ada banyak paper bag berisi baju.
Sepertinya Alex baru saja membelikan gadis itu pakaian baru, yah Alex memang sering membelikan Elena pakaian baru tapi menitipnya kepada bibi untuk di berikan kepada Elena.
Aluna dengan langkah malas mengikuti kemauan Elena, karna jika tidak wanita itu akan menangis.
Meski sudah sering melakukan hal seperti ini, kali ini Aluna sudah sedikit kesal. Bisa saja ini karena hormon kehamilan, tapi wanita itu masih terus menyangkal bahwa ia hamil.
"Coba buka yang ini," pinta Elena saat mereka telah duduk di sofa dekat meja tadi.
"Kau saja kak, aku sedang tidak ingin," tolak Aluna sambil meletakkan kembali paper bag yang di berikan oleh Elena.
"Buka!" paksa Elena membuat Aluna menghela nafas, kenapa ia jadi kesal dengan semua hal yang terjadi sekarang.
"Baiklah," ucap Aluna lalu membuka paper bag dengan kasar hingga tidak sengaja merobeknya.
Melihat paper bag yang sobek Elena menjadi histeris, ia bahkan langsung merebut paper bag itu dari Aluna.
"Hua... Kau merusaknya," pekik Elena membuat Aluna memutar bola matanya kesal, kenapa tingkah Elena sangat menyebalkan di matanya.
"Maaf aku tidak sengaja, lagi pula hanya bungkusnya yang rusak tidak isinya," jelas Aluna, tapi bukannya berhenti wanita bernama Elena itu malah semakin menangis.
Yah inilah yang terjadi jika yang di inginkan Elena tidak berjalan sesuai dengan keinginannya, wanita itu akan menangis. Tapi itu lebih baik, dulunya ia akan langsung menghancurkan semua yang ada di sekitarnya.
"Diamlah kak, hanya paper bagnya saja yang rusak," ucap Aluna lalu ia mengambil paper bag itu dari Elana dan mengeluarkan isinya.
"Lihat! Bajunya tidak rusak," sambung wanita itu tapi seolah tidak dianggap oleh Elena.
"Cukup kak!" Bentak Aluna kesal, bibi yang tadi mendengar keributan langsung masuk ke dalam sana.
"Ada apa ini Aluna? Kenapa kau membentaknya?" tanya bibi membuat gadis itu malah semakin kesal bahkan ia meninggalkan kamar Elena tanpa berucap apapun.
Alex yang sedari tadi menunggu di luar langsung menarik tangan gadis itu saat sudah keluar dari sana, ia membawa Aluna menjauh dari sana dan berhenti di dekat tangga.
"Kamu kenapa sih? Kalau kau sedang kesal jangan melampiaskannya pada Elena," Bentak Alex membuat Aluna tersentak.
Wajahnya yang tadi marah berubah jadi sedih, bahkan matanya sudah terlihat berkaca-kaca.
"Maaf membentakmu, tapi aku benar-benar tidak paham kenapa kau membuat Elena menangis?" tanya Alex kini dengan nada yang pelan.
"Kau tanya aku kenapa? Memangnya apa pedulimu? Semua ini salahmu, yang terjadi di dalam hidupku karena salahmu," ucap Aluna marah membuat Alex menatapnya tidak mengerti.
"Memangnya apa salahku?" Tanya Alex membuat Aluna menatapnya tajam.
"Kau tanya apa kesalahanmu, kesalanmu adalah mengajakku ke pesta itu! Seandainya kau tidak mengajakku maka aku tidak akan mengalami ini semua," bentak Aluna membuat Alex lagi-lagi menatapnya, jadi karena masalah ini.
"Tapi bukannya kau bilang tidak ingin menikah denganku? Lalu masalahnya apa lagi?" tanya Alex membuat gadis itu beranjak dari sana, dengan cepat ia masuk kedalam kamar lalu mengambil alat tes kehamilan yang ada di laci.
Wanita itu berjalan kembali ke arah Alex, menunjukkan alat yang ada di tangannya.
"Aku hamil," ucap wanita itu lantang dan berhasil membuat tubuh Alex menegang.
Tubuh pria itu Seakan mati, tidak bergerak sama sekali. kata yang keluar dari mulut Aluna berhasil membuatnya tidak mampu untuk mengatakan apa lagi, seolah bibirnya terkunci.
Aluna mulai menangis, "Aku tidak mau hamil," lirih wanita itu sambil menunduk.
Baru saja ia membuat mimpi setinggi langit kini harus tubuh hanya karena satu kata itu, kenapa dari hal yang tidak di sengaja atau karena penjebakan itu ia harus hamil.
"Apa kau yakin alat ini akurat?" tanya Alex, untuk menikahi Aluna memang ia setuju karena meski sudah menikah ia tidak akan mengubah apapun di hidupnya. Tapi soal memiliki anak ia tidak pernah berfikir sampai di sana, baginya dirinya belum ingin memiliki anak.
"Tentu saja ini akurat, dan semua ini salahmu! Salahmu!" ujar Aluna sambil terus menangis.
"Aku tidak mau anak ini," teriak Aluna dengan keras ia memukul perutnya membuat Alex membulatkan matanya, dengan cepat ia menahan tangan Aluna.
"Aluna tenanglah, semua pasti ada jalannya. Jangan melakukan hal bodoh seperti ini," ucap Alex sambil terus menjauhkan tangan aluna dari perutnya.
"Tidak ada jalan keluarnya Alex, semua mimpiku yang baru aku bangun harua ku kuburkan lagi," lirih wanita itu dengan tubuh yang melemah di dalam pelukan Alex.
"Aku masih ingin belajar, tapi kampus tidak akan menerima wanita hamil seperti diriku," sambung wanita itu dengan mata yang menatap kosong ke arah depan.
"Aku tidak mau Alex, aku tidak mau menjadi wanita hamil, Stella akan membenciku padahal dia satu-satunya temanku," kali ini suara Aluna semakin melemah.
Tidak ada yang bisa di lakukan pria itu selain mengelus pelan rambut milik Aluna, biarlah wanita itu mengeluarkan semua kekesalan di hatinya. Mungkin dengan begitu ia akan merasa sedikit lebih tenang.
"St..., Iya aku tau," ucap Alex sambil terus memberikan Aluna menangis di dalam pelukannya.
"Aku ingin bebas, sama seperti mereka tapi kenapa Tuhan seolah tidak bisa mengabulkan permintaan kecilku ini," lirih Aluna lagi.
"Bisa saja Tuhan sedang menyiapkan hal indah nantinya, apa menurutmu memiliki bayi yang imut bukan sebuah kebahagiaan," jelas Alex membuat Aluna melepaskan pelukannya lalu menatap mata Alex.
"Tapi aku tidak mau sekarang," ucap Aluna sambil mengusap air matanya.
"Tapi Tuhan sudah memberimu sekarang, bukannya lebih cepat lebih baik," kata Alex membuat Aluna langsung mengusap perutnya yang masih rata.
"Tapi... bagaimana dengan kuliahku?" lirih wanita itu dengan mata yang berkaca-kaca
Alex menarik tubuh itu ke dalam pelukannya, melihat Aluna menangis ia jadi ikut sedih. Rupanya sekuat apapun seorang wanita, mereka pasti menangis saat sudah tidak mampu lagi mengungkapkannya dengan kata.
"Kau lupa siapa aku, jangankan kampus kecil itu! kampus terbesar di kota ini saja pasti akan menuruti perkataan ku," ucap Alex membuat Aluna menatapnya lagi.
"Apa kau yakin?" tanya Aluna memastikan, wajahnya kali ini ia buat seimut mungkin.
"Tentu saja, sekarang kita ke rumah sakit untuk memeriksa kandunganmu."
Aluna mengangguk lalu beridiri di bantu oleh Alex, Dalam hati ia sungguh minta maaf karena sempat ingin menghilangkan anak ini. Tapi sungguh ia melakukan semua itu karena takut, cemas dan juga sedih.
TBC