Juan Edward Harrison adalah seorang pria yang tak ingin terikat hubungan dengan wanita mana pun, namun ternyata dia memiliki sebuah cinta kepada wanita yang bernama Fanya Anastasia Janson.
Tetapi Fanya lebih memilih menikah dengan pria lain yang bernama Brian Janson Adkinson karena Fanya kecewa kepada Juan
Kekecewaan Fanny tak berhenti sampai disitu, karena dia mendapati suaminya telah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.
Bagaimana akhir kisah mereka? Akankah Franklin menerima kenyataan bahwa Fanny telah menikah, atau dia akan merebut Fanny dari Harry?
Lalu bagaimana dengan Fanny? akankah dia bertahan dengan Harry atau lebih memilih bercerai dan menanti sang Casanova.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navizaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melamar Mu
Happy Reading 😊
Mimy terlihat shock saat tahu Franklin benar-benar ada di dalam kamar itu.
"Ka.. kalian!!
Wanita itu menunjuk ke dua orang itu bergantian.
Fanny berusaha menjelaskan pada Mimy apa yang terjadi tapi tiba-tiba saudara sepupunya itu berucap.
"Franklin, kamu salah kamar! ini adalah kamar Fanny, kamarku ada di sini, samping kamar Fanny," Mimy menarik lengan Franklin untuk keluar dari dalam kamar itu.
Tentu saja hal itu membuat Franklin begitu terkejut.
"Eh nona Mimy, aku tidak salah kamar! memang kamar Fanny yang ku cari!" ucap Franklin melepaskan tangan Mimy dari lengannya.
"Maksudnya?" Mimy tampak bingung dengan apa yang di ucapkan Franklin itu.
Fanny menatap tajam ke arah Franklin, dia tidak mau kalau Mimy tahu yang sebenarnya tentang mereka, bisa gawat kalau sampai Mimy tahu.
"Tidak ada apa-apa Mimy, cepat bawa Franklin ke kamarmu!" Fanny mendorong tubuh Franklin ke arah Mimy.
"Eh, eh, ada apa ini?" tiba-tiba dari arah tangga Paman Paul datang dan melihat mereka bertiga.
Franklin bisa memastikan bahwa pria paruh baya itu adalah Paman Fanny.
"Maaf tuan, anda siapa? kenapa ada di rumah saya dan apa tujuan anda?" tanya paman Paul.
"Papa, ini adalah tuan Franklin, temanku," Mimy menarik lengan Franklin ke arah Papanya.
"Temanmu? sejak kapan kamu mempunyai teman pria yang gagah dan tampan seperti ini, hahahaha!" Franklin merasa tidak nyaman dengan keadaan ini.
"Halo tuan, saya adalah Paul, Papanya Mimy," Franklin menerima jabatan tangan dari Paul.
Paul merasa senang saat putrinya itu membawa seorang teman pria, apalagi pria itu begitu tampan dan macho.
"Saya Franklin tuan, sebenarnya saya ke sini juga karena mau menemui seseorang," jawab Franklin menoleh ke arah Fanny.
Fanny menggelengkan kepalanya, dia tidak mau kalau Franklin menceritakan semuanya pada keluarga pamannya.
Sedangkan Paul menatap ke arah Fanny penuh tanda tanya.
"Menemui seseorang? maksudmu keponakan ku tuan?" Paman Paul bertanya penasaran.
"Sepertinya Fanny dan tuan Frankin saling mengenal ya?" tanya Mimy.
Fanny berjalan mendekati Paul, dia harus segera mencari cara agar Franklin bisa cepat keluar dari rumah pamannya itu.
"Paman, aku dan Franklin dulu adalah partner kerja di Alvares GROUP. Jadi kami sudah mengenal lama, iya kan Franklin, dan sepertinya paman harus segera beristirahat karena malam sudah semakin larut," ucap Fanny sambil menatap Franklin seolah menyuruhnya untuk segera pulang.
"Sebenarnya tadi tuan Franklin telah menolong ku Papa, dia mengantarkan ke rumah karena mobilku mogok," ucap Mimy.
"Oh terima kasih banyak tuan Franklin, sebaiknya kita minum-minum dulu," ucap Paman Paul mengajak Franklin ke lantai bawah.
Fanny merasa hampir putus asa karena kedatangan Franklin yang tiba-tiba ke rumah pamannya, dia tidak menyangka akan dapat di temukan mudau oleh Franklin.
Fanny tidak mau mengikuti mereka, dia langsung masuk ke dalam kamar dan langsung mengunci pintunya.
"Bagaimana ini, sepertinya Franklin serius dengan ucapannya, jangan sampai dia mengatakan pada paman bahwa aku telah mengandung anaknya, ini tidak bisa di biarkan!" Fanny benar-benar merasa bingung.
Dia harus memikirkan cara agar Franklin tidak menggangunya lagi.
Sedangkan di sisi lain.
"Tuan Paul, kebetulan sekali saya bisa bertemu dengan anda, saya akan menyampaikan sesuatu," ucap Franklin.
Dia tidak akan berbasa basi lagi kali ini, Franklin tidak akan melepaskan Fanny lagi, dia harus mengutarakan keinginannya pada paman Paul bahwa akan menikahi Fanny.
"Apa yang ingin kamu katakan tuan Franklin?" Paman Paul menatap Franklin sambil tersenyum.
Mimy ikut duduk di samping sang Papa mendengarkan apa yang akan di ucapkan oleh Franklin.
Sepertinya sepupu Fanny yang satu ini memang selalu ingin tahu.
"Saya ke sini mau mengutarakan keinginan saya, Tuan Paul saya ingin melamar Fanny dan menikahinya," ucap Franklin mantap.
JEDERR!!
Mimy langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, sedangkan tuan Paul merasa sangat terkejut.
"Kenapa tiba-tiba kamu mau menikahi keponakan ku tuan Franklin?"
"Karena sudah lama saya mencintai Fanny tuan Paul, tolong restui kami!" ucap Franklin.
"Tapi saat ini Fanny tengah hamil anak mantan suaminya yang bernama Harry, bukankah sebaiknya kita tanyakan dulu pada Fanny?" Mimy ikut bicara.
Padahal Mimy berniat memberitahu soal kehamilan Fanny pada Harry.
"Mimy kamu tidak usah ikut campur urusan orang lain," ucap tuan Paul kepada putrinya.
"Tuan Franklin, apakah kamu tahu bahwa Fanny baru saja bercerai? setidaknya beri waktu dia setelah trauma perceraian sembuh, aku tidak ingin Fanny sakit hati untuk kedua kalinya, apalagi dia harus mengandung tanpa di dampingi oleh sosok Papa dari bayinya, Harry belum tahu masalah ini," tuan Paul mengusap wajahnya.
Dia tahu niat baik Franklin untuk menikahi Fanny memang terlihat sangat tulus. Tapi dia tidak ingin tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.
Franklin tidak suka kalau semua orang menganggap bayi yang di kandung oleh Fanny adalah milik Harry.
Tapi dia juga tidak bisa langsung mengatakan pada semua orang, Frank ingin bahwa Fanny sendiri yang mengatakannya.
"Tapi aku tidak bisa menunda lebih lama tuan Paul, aku ingin segera menikahi Fanny, kalau bisa aku akan membawanya ke USA saat aku pulang lusa," jawab Franklin.
"Tidak bisa, kamu tidak bisa seenaknya tuan, kita harus bertanya kepada Fanny dulu, apakah dia mau ikut bersamamu atau tidak!" seru Mimy.
"Aku tidak mau ikut bersamamu!" tiba-tiba Fanny datang dengan mata yang sudah memerah.
"Fanny, ku mohon jangan egois! pikirkan bayi itu, dia membutuhkan sosok Papa!" Franklin menatap Fanny dan berjalan mendekatinya.
"Kenapa kamu egois! kalau kamu menikah denganku, lalu bagaimana dengan kekasihmu?" Franklin terkejut mendengar ucapan Fanny.
"Siapq yang memiliki kekasih? aku hanya mencintai mu Fanny!"
Mimy dan tuan Paul saling memandang, sedangkan Fanny tidak bisa mendengar dengan baik karena tiba-tiba pandangannya menjadi gelap.
BRUKK!!
"Fanny!!!"
Bersambung
maaf baru bisa up