Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.
Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?
Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?
Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?
Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01
Suhu dingin yang hadir dari jejeran puncak-puncak gunung, menyelimuti kehidupan masyarakat di koridor Kota Tiankeng. Lembut merayap turun melalui tetesan embun pagi, menyentuh setiap jengkal lembah di bawahnya.
Dicelah sempit yang menjadi pembatas antara kaya dan miskin, ada puluhan desa dengan kehidupan jauh dari layak.
Terisolasi dari kemakmuran, padahal jarak dengan jantung kota Prefektur Luoyang teramat dekat.
Salah satunya desa Huanshan.
Di huni seratus kepala keluarga yang mayoritas berprofesi sebagai petani dengan lahan tak lebih dari satu hektare, buruh serabutan serta pemburu amatiran.
Cuma ada dua rumah yang terbuat dari batu bata, genting adobe, serta ubin dingin. Selebihnya gubuk reot beratap jerami dan berdinding lumpur.
Berada di kaki gunung, desa Huanshan mengandalkan hutan belantara demi mendapatkan penghasilan dan bahan makanan tambahan.
Namun sayangnya karena keterbatasan pengetahuan, menjadikan mereka buta akan sumber daya yang sebenarnya melimpah ruah tersedia di depan mata.
Hanya tahu berburu kelinci, burung pegar, bermacam unggas liar, tupai, luak, serta ikan di sungai.
Untuk sayuran dan buah liar, semua dipanen dalam varietas terbatas, sebab trauma setelah ada warga yang demam, mual muntah, gatal ruam, bahkan tewas, akibat keracunan jamur serta bermacam tumbuhan dan buah-buahan merona.
Bisa mendapatkan babi, itu cuma angan dan berkah keajaiban yang turun setahun sekali.
"Ayah, ibu, aku pergi dulu..!" pamit Bai Anshu setelah sarapan.
Dipunggung ringkih gadis remaja sepuluh tahun itu, sudah ada keranjang bambu, cangkul kecil dan parang tumpul.
"Hati-hati, jangan masuk jauh ke dalam hutan." peringatan sang ibu, Chen Muwan.
Berjalan tertatih menggunakan tongkat kayu keambang pintu, si kepala keluarga Bai Dashan, menyahuti dengan suara bergetar.
"Jangan pulang terlambat, takut jika hujan turun sore nanti."
"Baik ayah...!"
Sang adik, Bai Jinyu, berlari kecil menyerahkan tabung bambu berisi air bening.
"Kakak, bawa ini...!"
Bai Anshu tersenyum, mengusap kepala adiknya yang berusia empat tahun itu.
"Terimakasih...!"
Derap kaki terdengar dari gubuk dapur, bocah berusia tujuh tahun muncul.
"Aku akan pergi bersama kakak, ayah dan ibu tidak perlu khawatir." Bai Hanzi bersuara, menyambar keranjang dan sabit.
Setelah kaki Bai Dashan terluka tertembus tunggak runcing bambu perangkap hewan, Bai Anshu dan Bai Hanzi, mengambil alih tugas sang ayah.
Biasanya Bai Anshu dan sang ibu berkewajiban mengurus rumah. Sesekali membantu berkebun jika pekerjaan sampingan menyulam tak ada.
Urusan ke hutan dan bertani di pekarangan belakang rumah yang luasnya empat ratus meter, serta ladang keluarga Bai adalah jatah Dashan dan Hanzi.
Matahari perlahan merangkak naik, mengiringi dua bersaudara menuju ke hutan pegunungan di belakang desa guna mencari peruntungan.
"Cerah...!" ucap Bai Hanzi, mendongak dengan mata menyipit menatap matahari yang menggantung di dirgantara biru.
Belakangan ini cuaca tak menentu.
Langit cerah tanpa awan, tetiba hujan lebat datang bersama badai guntur menyambar.
Curah hujan kali ini memang jauh lebih tinggi dari musim panas dan gugur tahun lalu.
Di musim semi yang biasanya cuma gerimis rintik sekedar untuk menyirami tanaman, hujan deras beberapa kali muncul memukul bumi.
"Belum tentu, biasanya juga terik seperti ini, tapi nyatanya hujan petir datang." balas Bai Anshu, menyibak rerumputan dengan batang kayu di tangan.
Cuma butuh lima belas menit untuk sampai di pinggiran hutan. Indera pengelihatan kedua bocah itu auto sigap memindai sekitar, begitu kaki kurus mereka memasuki pegunungan.
Tak banyak yang bisa dipanen untuk dibawa pulang. Cuma asparagus liar, rebung, lobak kaca, pakis, pucuk kacang pea, dan Jicai.
Bai Hanzi menggali cacing, Bai Anshu menangkap belalang juga capung.
Setelahnya mereka membuat jebakan dengan umpan serangga itu, sebelum kembali menjelajahi hutan.
"Kakak, lihat..!" tunjuk Bai Hanzi ke pohon tinggi yang berbuah kuning mengkilap.
"Apa itu bisa di makan..?"
Mata almond Bai Anshu memicing, buah itu bulat dengan warna kuning cerah menggiurkan. Tapi mereka tidak memiliki pengetahuan, jadi tak yakin apa bisa di konsumsi.
"Entahlah...!" kornea Bai Anshu merotasi sekitar, sebelum terhunus kejalan yang mereka lalui.
Kedua bersaudara itu meneruskan langkah guna mendaki lebih tinggi kehutan pegunungan, mengikuti energi spiritual yang menyedot insting mereka.
Sepuluh kilo meter dari pinggiran hutan, pepohonan tua berusia ratusan tahun tinggi menjulang menantang langit, dedaunan rimbun menjadi atap penghalang sinar matahari.
"Kakak----
Seru Bai Hanzi, mencekal lengan Bai Anshu. Bocah lelaki itu tersadar kalau mereka sudah jauh melanggar batas.
Di depan keduanya kini berdiri dinding batu tinggi menjulang, dengan bagian tengahnya membentuk sebuah pintu sebagian jalan menuju kearea sebelahnya.
Benteng tebing berlumut, ditumbuhi aneka macam bunga indah beragam warna.
"Woah, cantik sekali...!" ucap terkesima Bai Anshu.
Gadis remaja itu berlari kecil, membelai kuntum demi kuntum kelopak kembang yang mampu ia jangkau.
"Kakak, jangan menyentuhnya. Kalau beracun bagaimana..?"
Bai Anshu tersenyum lebar sampai menampakkan gigi rampingnya "mereka tidak akan menyakiti kita." balasnya percaya diri.
Mata lentik Bai Anshu terus menyisir dinding tebing, mengamati bunga-bunga yang menempel manja disana.
"Eh, apa ini..?" gumam gadis itu kala ia menemukan batu lima warna berbentuk bintang disela akar teratai bulan.
Jari kurus Bai Anshu mengais helai akar teratai, mengambil batu bintang itu lalu menggenggamnya erat.
"Au...!" pekik lirih Bai Anshu.
"Kakak...!" teriak cemas Hanzi, menyambar tangan Anshu yang berdarah.
"Kau itu ceroboh sekali, jadi terluka kan..?" sengit Hanzi.
"Hanya luka kecil, tak perlu cemas." balas Anshu, membersihkan permukaan batu lalu menyingkirkan duri yang menggores jarinya.
Bai Hanzi mendengus, mengambil akar berduri dari tangan sang kakak lalu membuangnya.
Kedua bersaudara kemudian mengamati batu bintang tersebut, dibolak-balik lalu ditimang.
Bai Anshu menggosok batu bintang lima warna itu, tanpa menyadari keanehan yang jelas terpampang didepan mata.
Darah yang keluar telah diserap habis, membuat permukaan batu kian berkilau bening.
"Kakak simpan saja batu ini. Nanti jika kekota, kita bawa ketoko perhiasaan atau kemenara Longyin, siapa tahu itu berharga." saran Bai Hanzi.
Bai Anshu mengangguk, menggenggam erat batu bintang sebelum ia masukkan kekantung baju didadanya.
"Ayo kembali...!"
Mereka berbalik arah, meninggalkan tebing suram yang perlahan bergetar lalu menghilang tanpa jejak.
Jebakan yang terpasang diperiksa satu per satu, sembari sesekali memetik buah liar yang mereka tahu bisa dikonsumsi.
"Woah, kita dapat burung pegar...!" pekik senang Bai Anshu, melihat satu jebakan terakhir berhasil menjerat mangsa.
Bai Hanzi gegas menangkap ayam liar itu, mengikat kaki dan moncongnya lalu dimasukkan ke keranjang.
"Peliharaan kita bertambah, lusa sudah bisa dijual kekota." ucap senang Bai Anshu.
Di rumah mereka memiliki dua kelinci dan tiga burung pegar, hasil sepuluh hari memasang perangkap di hutan.
"Akhirnya kita bisa membeli obat untuk luka ayah." bapas Bai Hanzi.
Senyum merekah dibibir pucat keduanya, ucapan syukur tersemat dalam hati mereka.
Perlahan langit berubah tanpa permisi. Awan kelabu datang menggulung, mengusir mentari yang tadi bersinar hangat.
"Ais, hujan...!" gerutu Bai Hanzi mempercepat langkah begitu gerimis turun.
"Selalu datang tiba-tiba begini." cicit Bai Anshu.
Awan hitam gelap merayap dengan cepat, mengejar langkah gesit dua bersaudara.
Sesampainya di pinggiran hutan, rinai hujan deras jatuh juga.
"Kakak, hati-hati..!" peringatan Hanzi, menyambar tangan kurus Bai Anzhu agar tidak terpeleset.
Jalan setapak yang semula setengah kering, kini basah becek berlumpur lagi.
Sret DUAR
Kilat orange menyambar, di susul petir kencang menggelegar.
Dua bersaudara kandung terjingkat, mempercepat langkah dengan nafas tersengal memburu.
Badan mereka basah kuyup, topi jerami itu tak mampu menghalau derasnya air hujan.
Sret Sret Duar
Kilat keemasan kembali datang bersahutan, membelah langit menyambar udara kosong.
Guntur meraung membahana, dari lirih lalu berteriak tajam.
Sret DUAR krak
"Ach...!"
Teriak Bai Anshu terjingkat, saat petir menyambar pohon disisi jalan, hingga mengakibatkannya tumbang setelah percikan api tercipta.
"Kita harus cepat...!" ucap Hanzi, mempererat genggaman ditangan sang kakak perempuan.
Keduanya berlari tergopoh-gopoh, melewati tanah lapang sebelum memasuki desa.
Disana mereka bertemu beberapa penduduk yang baru pulang dari ladang dan hutan pegunungan.
"Hati-hati, jangan sampai tergelincir." kakek Sun mewanti-wanti.
"Baik kak-----
Sret DUAR Cras
"Arch....!"
"Kakak....!"
"Shu-ya...!"
Belum juga dua bersaudara Bai menyelesaikan ucapannya, kilat dan petir datang, menghajar raga Bai Anshu.
Gadis remaja itu pun jatuh, tergeletak di atas rerumputan.
Bai Hanzi berteriak terperangah, begitu juga kakek Sun dan penduduk lainnya.
"Kakak, bangun...!" teriak Hanzi, mengguncang tubuh Anshu.
"Shu-ya...!"
Kakek Su dan beberapa paman serta bibi, mengerubungi raga Bai Anshu yang terpejam tanpa kesadaran.
"Cepat angkat, bawa kembali kerumah keluarga Bai...!"