Hidup Mayu Ichihara benar-benar sial setelah ditipu kekasihnya. Keluar dari tempat kerjanya, diusir dari rumah kontrakan, bahkan seluruh uang tabungannya dihabiskan kekasihnya untuk membayar utang judi. Dia benar-benar tak tahu harus berbuat apa.
Berkhayal akan bertemu pangeran tampan berkuda putih yang akan menyelamatkannya dari kesengsaraan, yang ada dia malah terperangkap dalam kelompok penipu kelas kakap yang tengah mengincar sebuah batu mulia bernilai fantastis. Benda berharga tersebut, dimiliki oleh seorang penyanyi pop bernama Chiba Yamada. Berbagai skenario pun mereka susun demi mendekati penyanyi pop itu.
Ikuti kisah Mayu dan kelompok penipu handal dalam melakukan aksi penipuan terhadap sang Idola terkenal di Jepang.
Warning! Banyak adegan ciuman dan dewasa. Novel ini setting luar negeri, jadi kalau mau baca pikirannya juga harus ke luar negeri, ya 😊
SPIN OFF NOVEL DON'T FORGET (CHIBA YAMADA'S STORY)
Genre: Romantis Adult, Scamming, action
Alur: maju
setting: Japan
Catatan Penulis ✍️
Tidak menjanjikan novel bagus, baca aja dan nilai sendiri. Memilih bacaan adalah soal selera, kuharap karya-karyaku bagian dari seleramu.
Baca juga bukuku yang lainnya di sini:
Don't Say Goodbye: kisah cinta cowok berandalan pemain biola 🔚
Don't Forget: kisah pembalasan dendam ketua Yakuza terhadap seorang wanita 🔚
Gomen, Aishiteru: kisah pencuri misterius yang mencintai adik polisi. 🔚
©AotianYu, 2021
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yu aotian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 23 : Salah Tingkah
"Aaaaaaaaaaaaaa ...."
Mayu berteriak histeris di depan cermin wastafel. Wajahnya dililit tisu, hanya menampakkan mata dan bibir. Dia benar-benar mirip mumi.
Sungguh tak disangka! Benar-benar tak diduga! Dia masih belum percaya kalau beberapa menit yang lalu Chiba Yamada mencium bibirnya. Mungkin, jika yang menciumnya adalah lelaki lain, dia tidak akan bereaksi berlebihan seperti ini. Namun, yang baru saja menciumnya itu adalah seorang bintang besar, Chiba Yamada. Untuk berjabat tangan dengannya pun, fans rela berdesakan sampai terinjak-injak.
"Ini tidak mimpi, 'kan? Ini benar-benar nyata, 'kan?" Mayu menampar pipinya secara bergantian. Seakan hendak menegaskan bahwa apa yang baru saja terjadi bukan mimpi maupun khayalan semata, tapi nyata.
Mayu memundurkan ingatannya ke beberapa menit yang lalu, tepatnya saat Chiba menyudahi ciumannya.
"Mau lanjut yang lebih dari ini?" tanya pria itu dengan tatapan memesona.
Mayu tersentak. Napasnya tertahan. Bibirnya yang sedikit basah tampak terkatup rapat. Meskipun begitu, ia hanya terdiam mematung.
"Aku hanya bercanda," ucap Chiba sambil menyunggingkan senyum tipis. Ia menarik lembut kepala Mayu, lalu berbisik, "Lain kali jangan memancing amarahku lagi! Kalau kau masih melanggarnya, maka aku akan menerkammu."
Setelah berkata, pria itu menggigit telinga kiri Mayu. Mengingat hal itu, membuat wanita itu buru-buru merobek tisu yang melingkar serta menyibakkan rambut di telinga kirinya. Benar, masih ada bekas gigitan pria itu di sana.
"Oh, ternyata ini nyata! Aku harus memotretnya sebagai kenang-kenangan." Mayu mengambil ponsel dalam saku kemudian memosisikan kamera tepat di telinganya, saat hendak menekan tombol jepret, tiba-tiba suara Rai yang menyatakan cinta padanya terbesit di telinga. Dia teringat beberapa hari lalu menolak dicium oleh pria itu.
"Cotto! Aku terlalu senang sampai melupakan Rai. Apakah ini termasuk menduakannya? Meskipun aku belum menyetujui ajakan untuk menjalin hubungan, tapi aku dan Rai memiliki perasaan yang sama," gumamnya sambil memegang dada,"ah, mana mungkin aku bisa menolak berciuman dengan orang terkenal. Rai, kuharap kau memaafkanku. Kita sudah satu sama, kan? Kau dicium Haru, dan aku dicium penyanyi itu," ucapnya kembali di depan cermin.
Di kamar, Arata yang berbaring di samping Chiba, menoleh ke pintu toilet lalu bertanya, "Papa, kenapa hantunya belum kelual juga dali tadi?
Mengerti yang dikatakan Arata adalah Mayu, Chiba pun menjawab, "Mungkin dia mau tidur di toilet malam ini. Cepatlah tidur! Ini sudah larut."
Di sisi lain, Rai dan kawan-kawan sibuk memikirkan rencana berikutnya. Menurut mereka, jika berlian itu tidak ada di apartemen Chiba, kemungkinan besar ada di kediaman Tuan Yamada. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya, Mayu harus masuk ke rumah tersebut dan mengeceknya secara langsung.
"Sepertinya dia harus tinggal lebih lama di sisi Chiba Yamada," ucap Rai sambil menatap kosong ke depan.
"Bagaimana caranya? Dengan adanya gosip itu, dia hanya diberi kesempatan tinggal selama seminggu, itu pun hanya sebagai tukang masak." Yuta menyela.
"Aku punya ide menarik. Kita harus membuat pria itu merasa bersalah pada Mayu agar dia makin lama tinggal di sisinya." Saat berkata, sudut bibir Rai terangkat ke atas, menciptakan senyum licik. Ia pun menjelaskan idenya pada Rio, Yuta, dan Haru.
"Oniichan, tidakkah kau merasa idemu itu terlalu menyudutkan Mayu?" protes Rio menunjukkan ketidaksetujuannya sesaat setelah Rai memaparkan idenya.
"Ini, kan, hanya gosip yang sengaja kita buat. Lagi pula, dia bukan bagian dari kita, untuk apa kau mengkhawatirkannya?" balas Rai, kemudian bertanya pada Yuta dan Haru, "bagaimana pendapat kalian?"
"Aku selalu mendukung idemu," jawab Haru.
"Kalau menurutku, ya ... dicoba saja dulu," jawab Yuta ragu-ragu.
Tak terasa, pergantian hari kembali terjadi. Pagi-pagi sekali, Mayu telah menyiapkan sarapan untuk Chiba dan Arata. Begitu menu telah dihidangkan di meja makan, Chiba dan Arata pun mulai menyantapnya.
"Kau tidak sarapan?" tegur Chiba sambil melirik ke arah Mayu.
"Tidak, aku sedang diet." Mayu menjawab cepat sambil memalingkan muka berusaha tidak menatap pria itu.
"Oh, sokka."
Kenapa aku tidak bisa bersikap santai seperti dia setelah kejadian semalam?
"Oh, iya, aku akan pergi lagi. Tolong jaga Arata," ucap Chiba kembali sambil menyuap Arata.
"Iya," jawab Mayu singkat. Ia masih memalingkan wajahnya.
"Titak mau. Dia cuma menangis telus kemalin," tolak Arata dengan wajah cemberut.
Mendengar penolakan Arata, membuat Mayu membela diri. "Itu karena kau merobek—"
Kalimat Mayu terhenti saat ia dan Chiba tak sengaja saling beradu pandang. Tak pelak, Mayu pun kembali memalingkan wajahnya.
"Merobek apa?" tanya Chiba.
Ya ampun, padahal ini kesempatanku meminta kembali ceknya. Tapi kenapa setiap melihat wajahnya, ingatanku kembali terputar pada kejadian semalam.
"Bu–bukan apa-apa." Mayu langsung berbalik dan terburu-buru masuk ke toilet. Ia menutup pintu dan kembali berdiri di depan cermin wastafel sambil menyentuh bibirnya.
"Aku masih bisa merasakan napas Yamada-kun menempel di bibirku," ucapnya sambil mengingat kembali saat bibir Chiba mendarat sempurna di bibirnya. Ia mengambil sikat giginya lalu memencet pasta gigi. Namun, detik berikutnya Mayu kembali tertegun.
"Kalau aku menyikat gigi, bukankah bekas ciumannya akan hilang?" gumam Mayu sambil kembali memerhatikan bibirnya di cermin.
Ia meletakkan telapak tangannya di depan mulut, lalu mengembuskan napasnya. "Sepertinya aroma mulutku masih harum," ucapnya seraya meletakkan kembali sikat gigi.
Mayu keluar dari toilet, lalu kembali berpapasan dengan Chiba. Ia berjalan menunduk sambil bergegas pergi menghindari bertatapan langsung dengan pria itu.
Kenapa aku selalu membayangkan adegan ciuman semalam setiap melihatnya? Wajah santainya membuatku merasa semalam itu hanya imajinasi semata.
Mayu berbalik, mencoba mengintip apa yang tengah dilakukan Chiba. Rupanya, pria itu sedang berbicara pada Arata.
"Arata-chan, kau tidak boleh nakal dan menyusahkan bibi itu. Kau harus mendengarkan bibi selama Papa tidak ada di rumah. Jangan membuatnya menangis lagi, oke?" ucap Chiba sambil memegang kedua pundak bocah itu.
Arata mengangguk-anggukkan kepalanya.
Mayu memandang haru ke arah pria itu. Bahkan, sepasang matanya sampai tak mengerjap.
Dia terlihat seperti tak mau tahu segala hal yang bukan urusannya, tapi sebenarnya dia sangat peka dengan apa yang terjadi di sekitarnya.
Chiba menemui manajernya di kantor agensi. Ini terkait info yang baru saja manajer Thao sampaikan. Hari ini, foto-foto Mayu tersebar di akun fanbase-nya. Sebuah akun anonim mengatakan jika wanita yang bersama Chiba tempo hari bukanlah kekasih atau pun penggemarnya. Tetapi, hanyalah seorang wanita penghibur dari agen prostitusi online yang sengaja menjebak sang artis. Tak ayal, wanita itu menjadi sasaran amukan fans militan. Foto-fotonya yang beredar diedit seburuk mungkin sebagai ungkapan kebencian karena dianggap telah menjebak idola mereka.
"Bagaimana bisa media mengunggah foto orang yang bukan publik figur tanpa sensor?" erang Chiba yang melihat foto-foto Mayu tersebar di akun fanbase-nya.
"Itu bukan dari media, tapi dari sebuah akun anonim. Tapi, kurasa pemberitaan itu menguntungkan dirimu karena dengan begitu—"
"Dia bukan wanita penghibur!" potong Chiba dengan nada suara meninggi hingga membuat manajer Thao tersentak. "Suruh pihak agensi berikan klarifikasi sekarang, katakan kalau berita yang tersebar di akun fanbase itu hoax semata."
Manajer Thao menatap mata Chiba dalam-dalam dengan tatapan heran. "Saat wartawan mengabarkan berita yang merugikan dirimu, kau hanya bungkam dan tetap santai. Tapi, kenapa saat ada yang menggosipkan wanita itu kau langsung bertindak?"
Bukannya menjawab pertanyaan manajernya, Chiba malah memutuskan keluar dari ruangan tersebut. Ia melangkah cepat dan masuk ke lift yang akan membawanya menuju lantai dasar.
Berdiri termenung, ucapan seorang wanita yang pernah hadir di kehidupannya mendadak terlintas di benaknya.
"Meskipun kau diidolakan banyak gadis di luar sana, tapi aku sama sekali tak mau dicintai atau jatuh cinta padamu."
Bersamaan dengan itu, ia juga kembali mengingat ucapan Mayu saat pertama kali menginjak apartemennya.
"Seorang superstar tidak bisa dicintai oleh seseorang, karena dia adalah milik penggemarnya."
Mengingat kata-kata dari orang yang berbeda, membuatnya tersenyum getir seraya menunduk. Aneh, dua wanita yang datang menghangatkan apartemennya di waktu yang berbeda seakan memiliki pemikiran yang sama.
"Chiba-kun, aku harap, setelah kita berpisah kau mendapatkan wanita yang bisa mencintaimu, menerima segala kekuranganmu, dan bisa menjadi penerang di hidupmu."
Lagi-lagi, suara yang datang dari masa lalu kembali terngiang di pendengarannya. Tepatnya, ketika ia merelakan wanita yang dicintainya itu pergi ke pelukan pria lain.
Saat ini, Mayu tengah sibuk menulis resep masakan yang ia masak selama berada di apartemen itu. Tak terasa, sudah enam hari ia berada di kediaman Chiba. Artinya, besok dia harus segera angkat kaki meskipun belum mampu menemukan Red Diamond.
Mayu menoleh ke samping dan mendapati Arata berjalan mendekatinya.
"Kenapa?" tanya Mayu melihat keponakan Chiba menatap penuh ke arahnya.
Bocah itu malah menyodorkan jari kelingkingnya saat Mayu hendak mencubit kedua pipinya.
"Apa ini?" tanya Mayu heran melihat kelingking imut bocah itu.
"Belteman, yuk!" ucap Arata.
Mayu melebarkan matanya seketika. "Kau mau berteman denganku?"
Arata mengangguk polos.
"Tapi kau harus berjanji dulu tidak boleh nakal."
Arata kembali mengangguk.
"Kau juga tidak boleh menggangguku dan merusak barang-barangku lagi!"
Lagi-lagi Arata hanya mengangguk. Mayu terdiam beberapa saat sambil melirik wajah imut bocah laki-laki itu. Sambil tersenyum, ia pun turut mengulurkan jari kelingkingnya. Mereka saling menautkan jari kelingking sebagai ikrar pertemanan.
"Anak pintar!" puji Mayu sambil mengelus kepala Arata.
Tepat saat itu juga, Arata malah memukul kepala Mayu dengan tutup panci seperti yang ia lakukan kemarin.
"Ittai!" jerit Mayu kesakitan sambil memegang kepalanya, "kenapa kau masih juga nakal?!" geramnya menunjukkan wajah memerah.
"Kata ottousan, pendamping papa halus olang yang kuat, tidak mudah malah dan mengeluh," ucap Arata tanpa melarikan diri lagi.
"Ottousan?" (ayah?)
Arata kembali mengangguk sambil tersenyum.
Dia memanggil Yamada-kun dengan sebutan Papa, artinya itu adalah ayah dari anak ini.
Tak lama kemudian, pintu apartemen terbuka. Mayu terperanjat melihat kedatangan Chiba yang sebenarnya baru pergi sejam lalu.
"Kenapa pulang lagi?" tanya Mayu.
"Ada sesuatu yang kulupakan," jawab Chiba singkat. Matanya tertuju pada catatan Mayu di atas meja sofa. "Apa itu?" tanyanya sambil menunjuk kertas tersebut.
"Oh, ini catatan resep makanan yang aku masak selama berada di sini. Selama dua hari ini kau sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk belajar memasak. Jadi, aku berinisiatif menulis resep-resep itu agar kau bisa praktekkan langsung selepas kepergianku," ucap Mayu penuh semangat sambil menyerahkan buku kecil itu pada Chiba.
Chiba mengambil buku tersebut, lalu mulai membukanya. Ia bisa mengetahui kalau resep itu ditulis berurutan. Dimulai dari hari pertama Mayu memasak di apartemennya sampai pada menu sarapan pagi tadi.
"Astaga, aku lupa masih ada satu catatan yang tertinggal di kamar. Tunggu, aku ambil dulu!" Mayu berdiri dari sofa dan hendak beranjak ke kamar.
"Hei," tegur Chiba sesaat.
Mayu kembali berbalik dan menoleh ke arahnya. "Ya ... kenapa?"
"Jadilah kekasihku!"
.
.
.
Catatan author ✍️✍️✍️
Hola! Saya Aotian Yu. Terima kasih sudah membaca sampai di bab ini, aktif beri like, komen, dan vote. chapter ini berisi dua chapter yang disatukan.
Novel ini belum aku kontrak di applikasi ini. masih ragu sih sebenarnya. sebelumnya mau nanya dulu ma kalian, suka enggak sih ma nih novel?? 😂😂😂
maaf kalo novelnya rada absurd dari novel-novel sebelumnya, tapi jangan dibanding-bandingin, ya. aku selalu menghargai setiap buah pikiranku yang tertuang dalam karya. 🙏🤣