NovelToon NovelToon
Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: misshel

WARNING!!!!

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN!!!


Mengisahkan dua orang pria dan wanita yang terlibat sebuah pernikahan tanpa cinta. Tetapi sama-sama saling membutuhkan pernikahan tersebut demi kepentingan masing-masing.


Menghadapi pria yang dingin dan kaku, Naja sering menahan sesak karena tindakan dan ucapan pria yang telah menjadi suaminya itu.


Sedangkan Excel, yang tidak pernah berhubungan dengan wanita selain Mikha, harus menyesuaikan diri dengan istrinya yang ceroboh dan pemarah.


Mampukah mereka mempertahankan pernikahan mereka?


Hanya cerita biasa ajah, hiburan semata!

Alur selow Yess ✌, no visual di dalamnya...visual di taro di igeh...

21+ AREA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menunggu Seribu Tahun

Langkah Naja begitu ringan saat berjalan pulang. Membayangkan esok hari dia akan mulai bekerja dan akan menjauh dari Excel, hatinya begitu lega. Meski dengan Jen gajinya berkali lipat dari pekerjaannya kini, tak masalah ... hidup bukan tentang uang. Tapi juga ketenteraman batin.

Naja berhenti sejenak saat ponselnya berdering. Matanya membola saat melihat nama Jeje muncul di panel notifikasi. Sedikit memiringkan kepala dan kening berkerut, ibu jari Naja menyentuh pemberitahuan itu.

–Ja, aku berangkat ke Jepang hari ini, jaga dirimu baik-baik ... aku tadi sempat ke kos mu tapi kosong. Doakan aku sukses dan betah tinggal di sana ya, Ja–

Setitik air mata haru menetes di sudut mata Naja. Tidak menyangka bahwa Jeje masih menganggapnya penting sampai dia membuang waktu mendatangi tempat tinggal Naja.

–Mas Je baik-baik di sana ... doa Naja selalu terlantun untukmu. Semoga sukses Mas, jangan lupa nanti ajak Naja ke sana. Sampai jumpa lagi Mas Je–

Naja menipiskan bibir, menggenggam erat ponsel miliknya setelah mengirim pesan kepada Jeje. Kini semua menapaki jalan menuju impian, menyisakan dirinya yang masih berkubang kekurangan. Naja mendongakkan wajahnya, menatap langit yang selalu membuatnya nyaman.

“Pranaja Utari?” sapa seorang pria tinggi dengan kepala plontos. Berdiri diambang pintu mobil hitam miliknya.

Naja menoleh ke arah suara, kelopak matanya menyipit memindai dengan waspada. “Anda siapa?”

“Kau Pranaja Utari?” Sam mengulangi pertanyaannya. Pria itu menutup pintu mobil dan mendekati Naja.

Naja mengambil langkah mundur saat Sam berjarak dua langkah darinya.

Sam tertawa lirih saat melihat reaksi Naja, “Kau ingat ini?” Sam melambaikan map milik Naja yang hilang kemarin.

Kening Naja berkerut, bingung, heran dan berprasangka buruk. Pikiran aneh seketika melintas. Mungkin pria ini berniat jahat, pikir Naja. “Bapak dapat itu darimana?”

“Gue seumuran dengan bos Star Media, jangan panggil bapak ...!” titah Sam ketus.

“Star Media? Bagaimana bisa ada di sana?”

“Bukannya lo ngelamar kerja di sana?” kini giliran Sam yang bingung. “Lo ngga amnesia atau pikun mendadak kan?”

“Maksudnya ...?”

Sam mengembuskan napas cepat, “Ini gue temuin di meja Excel, dan gue butuh ini ...,” Sam membuka dengan cepat lembar demi lembar tak kurang sepuluh halaman itu. “ ... bener ini punya lo kan?”

Naja masih memaku pandangannya pada lembaran kertas itu, “i-iya bener. Tapi saya tidak melamar pekerjaan di sana Mas ....”

“Lalu ...?” kening Sam berkerut hebat. Pikiran Sam menduga banyak hal yang mustahil. Apa dia punya hubungan spesial dengan Excel? pikir Sam sambil terus mengawasi Naja.

Naja bingung mau memulai ceritanya dari mana, “Panjang ceritanya Mas ...,”

“Ngga usah diceritakan kalau begitu ...,” potong Sam dengan cepat, “gue butuh banget gambar lo ini ... jadi lo mau berapa dari gambar-gambar ini?”

“Hah?”

Sam merapatkan giginya, melihat Naja yang sepertinya tidak mengerti maksud Sam. “Gue beli gambar lo ... lo mau jual berapa?”

Naja menelan ludahnya dengan susah payah, “Aku-aku tidak tahu Mas ... itu hanya iseng saja, aku tidak berniat menjualnya.”

Sam menggaruk pelipisnya, tampak berpikir, “Gini aja, gue bawa gambar lo dulu, nanti kalau orang gue suka lo bakal gue bayar, tapi hak milik gambar ini milik gue, dan jika gambar lo disukai pelanggan gue, lo kerja sama gue ... gimana?”

Naja mengangguk meski kurang mengerti.

Sam mengambil sepotong kertas dari sakunya. "Ini kartu nama gue, hubungin gue semau lo ... sebagai jaminan gue ngga bohongin lo ...,"

"Ta-tapi Mas ...,"

Sam menepis ucapan Naja dengan kibasan tangannya. Dia sudah sangat terlambat untuk memulai pekerjaannya, “Gue bakal kasih tahu lo semua nanti, sekarang gue buru-buru ... lo bikin beginian lebih banyak ... okey?”

Sam meninggalkan Naja begitu saja, masih ternganga dengan apa yang baru dialaminya.

“Dia bercanda ngga sih?” gumam Naja beberapa saat kemudian.

**

Usai dari bandara mengantar kepergian Jeje, Jen berpisah dengan Harris dan Kira untuk menemui Tanna. Tanna sepertinya sudah kembali pulih dari keterpurukannya. Gadis itu meminta Jen menemuinya di sebuah kafe.

“Sorry lama Tan ...,” sapa Jen. Tanna yang mengenakan celana jeans panjang dan kaos putih ketat tampak serasi dengan rambut panjangnya diikat ketat.

“Aku belum lama kok ...,” senyum Tanna merekah sempurna gadis berperawakan tinggi semampai ini mengadu pipinya dengan Jen sejenak sebelum duduk saling berhadapan. “Pesen apa?”

“Ngga usah Tan, tadi habis sarapan sama Mama dan Papa,” jawab Jen.

“Tante dan Om ada di rumah?” Tanna berbinar bahagia.

“Kan aku udah bilang kalau Mama pulang pas Jeje mau berangkat ... lupa?” sungut Jen. Kadang Jen kesal dengan sikap Tanna yang menurutnya agak lemot.

“Hehehehe ... iya aku lupa Jen ... kau tahu kan aku kurang konek saat patah hati,” Tanna nyengir lebar. Di depan Jen Tanna tak pernah bersikap seperti putri. Keseharian Tanna memang tak ubahnya seorang bangsawan. Orang tua Tanna konglomerat kelas atas dengan segudang bisnis yang digeluti.

"Kamu tuh kalau ngga ketolong sama cantik dan kaya, ngga bakal ada yang anggep teman selain aku," sinis Jen pada Tanna.

"Ih ... kamu kalau ngomong suka bener," bibir merah Tanna mengerucut, "jangan lupakan Naja. Cewek ambisius yang doyan banget sama duit, lugu bener tu bocah ya? Tapi aku suka dia ... sekalipun tahu kita bisa ngasih uang cuma-cuma tapi dia ngga mau," lanjutnya dengan riang.

Jen mengembuskan napas dengan keras, sorot matanya berubah sendu. Jen merasa bersalah sekaligus rindu pada Naja yang selalu menemaninya setiap hari.

“Naja masih belum mau kembali sama kamu, Jen?” menyadari perubahan di wajah sahabatnya, Tanna meraih tangan Jen dan menggenggam nya. "aku akan bantu bujuk Naja kembali sama kita Jen. Aku janji ...."

"Kurasa Naja takut sama Kak Excel Tan, selama ini Kakak tidak pernah ramah padanya ... jadi wajar jika Naja masih enggan kembali ...."

"Tapi apa iya sampai setakut itu? Aku aja udah ngga takut kok, dan udah lupa sama sakit hatiku sama dia ... namanya juga cinta," Tanna menggoyangkan tubuhnya dengan manja.

"Cewek aneh, kalau aku jadi kamu ... pilih cari cowok lain yang lebih baik. Ogah banget ngarep doang tapi ngga dibales perasaanku," cibir Jen. Dan memang benar, Jen tidak suka mengemis apalagi pada makhluk bernama lelaki.

"Aku yakin Excel akan luluh olehku dan bertekuk lutut membalas perasaanku Jen ...," Tanna melempar pandangannya keluar jendela, seakan di sana tergambar Excel membalas cintanya kelak.

"Mimpi saja terus, ngga inget berapa lama kamu menunggu kakak?" sengaja Jen mengeraskan suaranya agar Tanna sadar dan berhenti mengejar Excel. Mustahil Excel mau menerima Tanna setelah kejadian beberapa hari lalu.

"Cinta itu ngga perhitungan Jen ... meski harus menunggu seribu tahun lamanya," ucapan Tanna semakin melantur seiring matanya yang menyipit. Wanita yang benar tergila-gila pada Excel itu seakan tak peduli pada rasa sakit yang telah ditorehkan Excel.

Jen hanya memutar bola matanya malas. "Jadi apa tujuanmu memintaku menemuimu hari ini?"

Terperanjat, Tanna baru ingat tujuan mengajak Jen bertemu kali ini. "Oh itu ... ada salah seorang influencer yang ajak kolaborasi. Tapi ...,"

Tanna menjelaskan secara rinci apa yang saja yang telah influencer tersebut inginkan. Tanpa terlewat satupun, hingga akhirnya Jen setuju dengan rencana orang tersebut.

"Sudah siang Tan ... aku balik ya. Ortu lagi di rumah ngga enak kalau keluar lama-lama. Lagian aku belum puas melepas rindu sama mama," Jen meraih tas dan beranjak dari duduknya.

"Nanti malem aku ke rumahmu ya ... kangen sama Kak Excel mu ...," Tanna tersenyum lebar dengan pupil mata membulat sempurna.

"Terserah ... asal kamu jangan cari masalah sama kakak," Jen mewanti-wanti. Ia sendiri takut jika sampai Excel mengadu yang pada orang tuanya tentang kejadian beberapa hari lalu.

Tanna menjawab dengan jemarinya yang membentuk huruf V.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

1
Jessica
Luar biasa
Darmi Hana
Kecewa
Surati
Bagus
Raghiel Phoetra
Luar biasa
Diana Afra
mantap jayaa
jumirah slavina
sial'y bakal bikin km k'canduan
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rini Astria
Kecewa
Rini Astria
Buruk
futurewife
👍
watini fitrah
kmu lebih bodoh ganteng kaya culun😀
citra ucit
jgn2 mikha lagi kekasihnya tristan
El aisya
akhirnya🤣🤣
Widhi Labonee
syukaaaaaakkk
Asha Zhafira
🥰🥰🥰
Dewi Chusnual
😆😆😆biasanya sepanjang... tp ini sependek ,bisa aja Thor😁
Nurwana
berikan kebahagiaan untuk Ai Thor.....
JandaQueen
𝚒𝚝𝚞 𝚜𝚒 𝚖𝚒𝚔𝚑𝚊 𝚐𝚊 𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚍𝚒 𝚙𝚎𝚗𝚓𝚊𝚛𝚊 𝚔𝚛 𝚗𝚒𝚔𝚊𝚖 𝚋𝚊𝚙𝚊𝚔 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊...
JandaQueen
𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚐𝚊𝚐𝚊𝚕 𝚏𝚊𝚑𝚊𝚖, 𝚔𝚎𝚜𝚊𝚕𝚊𝚑𝚊𝚗 𝚗𝚊𝚓𝚊 𝚗𝚢𝚊 𝚊𝚙𝚊 𝚢𝚊, 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚎 𝚍𝚒𝚜𝚞𝚛𝚞𝚑 𝚋𝚊𝚕𝚒𝚔 𝚋𝚊𝚍𝚊𝚗. 𝚋𝚒𝚜𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚒 𝚝𝚎𝚕𝚒𝚗𝚐𝚊 𝚢𝚐 𝚋𝚒𝚔𝚒𝚗 𝚎𝚡𝚌𝚎𝚕 𝚖𝚛𝚒𝚗𝚍𝚒𝚗𝚐 𝚍𝚒𝚜𝚌𝚘 𝚔𝚊𝚕𝚒 𝚢𝚊... 🤔
Suka Baca
Sungguh Thor karyamu bagus.. kata2 nya warrbiasa. 👍🏻 tetangga aku pinjem, jempolku cuma 2, kurang buat njempoli karyamu
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
JandaQueen
𝚍𝚞𝚑 𝚎𝚡𝚌𝚎𝚕, 𝚔𝚊𝚕𝚘 𝚗𝚐𝚘𝚖𝚘𝚗𝚐 𝚜𝚊𝚗𝚐𝚎𝚞𝚗𝚊𝚑𝚗𝚊 𝚠𝚊𝚎. 𝚜𝚎𝚋𝚎𝚕 𝚐𝚞𝚎 𝚖𝚊 𝚔𝚎𝚕𝚊𝚔𝚞𝚊𝚗 𝚕𝚘. 𝚐𝚞𝚎 𝚔𝚞𝚝𝚞𝚔 𝚕𝚘 𝚋𝚞𝚌𝚒𝚗 𝚜𝚎 𝚋𝚞𝚌𝚒𝚗2 𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚎 𝚗𝚊𝚓𝚊...😣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!