SELAMAT MEMBACA🤗🤗🤗
Tentang perjodohan konyol yang dilakukan oleh kedua orang tua mereka membuat Raffa dan Kaila tumbuh dewasa lebih cepat
Raffa Arsenio mau tak mau menyetujui permintaan papanya untuk menikah karena terlibat janji dengan sahabatnya.
Kaila Leteshia diam-diam menyukai Raffa namun ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya kepada Raffa dan entah keberuntungan apa yang ia dapat hingga suatu hari orang tuanya menjodohkannya dengan laki-laki yang ia cintai.
Awal pernikahan mereka saling berusaha untuk terbiasa satu sama lain dan Raffa berusaha untuk mencintai Kaila dengan hatinya.
Namun apakah cinta keduanya akan berjalan mulus? apa saja masalah yang akan dihadapi oleh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Listri Amanda Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cafe
"Sorry, gue takut ada yang liat." jawab Kaila pelan.
Raffa menghela nafasnya kasar, setelah itu ia langsung menjalankan mobilnya keluar dari area sekolah.
Saat diperjalanan Raffa fokus menyetir dan Kaila sibuk dengan ponsel miliknya sendiri, membaca novel dengan tenang. Namun tiba-tiba saja, ada telepon masuk dari mamanya.
Buru-buru Kaila menjawabnya, "Halo bun..."
"Assalamualaikum...." salam Devi.
Kaila menepuk jidatnya pelan, saking tak sabarnya ia sampai lupa untuk mengucapkan salam kepada bundanya.
"Waalaikumsalam, bun.." jawab Kaila.
Raffa yang tadinya sibuk dengan jalanan yang ada didepannya ikut melirik ke arah Kaila yang tengah menerima telepon dari bundanya.
Kaila menatap kearah Raffa saat tahu Raffa seakan bertanya kepadanya.
"Bunda Devi." jawab Kaila dan Raffa menganggukkan kepalanya.
"Kalian dimana sayang?" tanya bundanya.
"Lagi dijalan mah, baru pulang dari sekolah." jawab Kaila.
Devi menganggukkan kepalanya mengerti, ia tengah membuat sebuah kue di dapur miliknya karena rindu dengan sang anak akhirnya Devi memilih untuk menghubungi Kaila sebentar.
"Kamu hari minggu kerumah ya sayang, bunda rindu dirumah sepi, bunda gak ada temen ngobrolnya disini." ucap Devi sedih.
Kaila tahu, karena biasanya ia dan bundanya sering bercerita bersama, memasak, membuat kue atau sekedar merawat tanaman ditaman bersama.
"Insyaallah bun, Kaila tanya Raffa dulu nanti." jawab Kaila.
"Iya sayang, bunda tunggu ya. Oh iya bunda juga buatin kue kacang kesukaan kamu nih."
Mata Kaila langsung berbinar senang mendengarnya, ia menelan salivanya susah payah membayangkan betapa enaknya kue kacang buatan bundanya.
"Tunggu Kaila ya bun, nanti Kaila habiskan kue buatan bunda."
Devi tertawa diseberang sana, "Iya bunda tunggu kamu ke rumah, nanti lagi ya sayang, bunda mau cetak kuenya dulu."
"Iya bum, assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam" jawab Devi, setelahnya ia langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Raffa kembali melirik setelah Kaila meletakkan ponselnya di dalam tas. "Ada apa? mau tanya apa sama gue?" tanya Raffa.
"Bunda minta kita ke rumah weekend nanti, gimana?" tanya Kaila.
Raffa menganggukkan kepalanya, "Ya udah." jawabnya singkat.
Kaila menganggukkan kepalanya senang karena Raffa setuju untuk menikmati hari minggu bersama dengan keluarganya.
Kaila dan Raffa sampai di apartement, begitu Raffa memarkirkan mobil miliknya di basement ia langsung buru-buru keluar untuk membantu Kaila walaupun Kaila tidak memintanya.
Raffa meminta Kaila untuk memegang tangan kirinya agar ia tak kesusahan untuk berjalan dengan kakinya yang masih nyeri.
Masuk ke lift, keduanya sama-sama diam sampai lift terbuka di lantai apartement mereka. Raffa mengeluarkan kartu aksesnya mendekatkan ke sensor pintu dan pintu apart otomatis terbuka.
"Mau gue masakin apa buat nanti malam?" tanya Kaila begitu mereka masuk ke kamar.
Raffa terlihat berpikir sejenak, "Terserah lo aja." jawabnya singkat.
Kaila mengernyitkan dahinya bingung, ia bertanya karena tidak tahu harus memasak apa namun Raffa malah mengatakan terserah dan itu membuat Kaila pusing.
Akhirnya Kaila mencari-cari resep masakan baru di internet, masakan simpel dan sederhana yang bisa ia masak sendiri di apart untuk dirinya dan juga Raffa.
Saking fokusnya Kaila dengan ponsel ditangannya, membaca setiap artikel dengan seksama ia sampai tidak sadar jika mereka tidak menuju ke arah apartement melainkan menuju ke tempat lain yang berbeda jalan dengan arah apartement mereka.
Sesekali Raffa juga melirik ke arah Kaila yang terlihat fokus dengan ponselnya sendiri, ia juga sedikit mengintip apa yang tengah dibaca oleh Kaila hingga ia begitu fokus dengan dirinya sendiri dan mengabaikan sekitarnya.
Raffa menghentikan mobilnya begitu sampai diparkiran cafe miliknya, pemberian dari papanya untuk memenuhi kebutuhannya dan juga Kaila kedepannya.
"La, udah sampai." ucap Raffa.
Kaila mendongakkan kepalanya, ia mengernyitkan dahinya bingung lalu menatap Raffa penuh tanya.
"Kita kok berhenti di cafe Raff?" tanya Kaila heran.
Raffa tidak menjawab pertanyaan Kaila, ia langsung melepaskan seatbeltnya lalu turun dari mobil.
Kaila langsung menyimpan ponselnya di dalam saku rok dan menyusul Raffa yang sudah berdiri di depan mobil menunggu dirinya.
"Raff, kita kenapa ke cafe?" tanya Kaila lagi.
"Jangan banyak tanya." jawab Raffa.
Kaila langsung menutup mulutnya, mereka masuk ke dalam cafe bersama-sama. Kaila memang belum mengetahui dimana dan seperti apa cafe yang dikelola langsung oleh suaminya itu, jadi wajar saja jika Kaila bingung saat ini.
Raffa berjalan naik ke lantai atas, lantai tiga dari gedung cafe miliknya, dimana lantai tsb diubah menjadi seperti kantor miliknya.
"Ini cafe pemberian papa, ada beberapa hal yang harus ditinjau jadi gue ajak lo kesini." ucap Raffa menghapus segala rasa penasaran di kepala Kaila.
Kaila tampak terkejut dan melihat sekelilingnya, ruangan yang terlihat minimalis dengan sedikit barang terasa sangat nyaman saat berada didalamnya.
"Jadi ini cafe pemberian papa?" tanya Kaila lagi dan Raffa menganggukkan kepalanya.
"Gue harus turun sebentar, ada hal yang perlu didiskusikan sama pegawai disini. Lo bisa duduk disana aja, kalo laper lo bisa minta sesuatu ke bawah." jelas Raffa.
Kaila menganggukkan kepalanya mengerti, Raffa langsung keluar setelah meletakkan tas miliknya.
Kaila duduk di salah satu sofa yang ada diruangan tersebut yang tepat berada disamping kaca besar yang menampilkan langsung keindahan kota dari atas.
Kaila melirik jam dan ternyata sudah menunjukkan pukul 3 sore, pantas saja Kaila merasa lapar. Ia turun ke bawah berniat untuk mengganjal perutnya dengan beberapa makanan ringan yang ada dicafe milik suaminya itu.
"Ada yang bisa saya bantu bu?" tanya salah satu pegawai yang berjaga di depan.
Tadi Raffa sudah memberi tahu dirinya jika ia datang bersama dengan istrinya dan memintanya untuk memberikan apapun yang diinginkan oleh istrinya itu.
"Saya lapar jadi saya ingin memakan sesuatu, dan panggil saja Kaila, jangan panggil ibu." jawab Kaila, ia masih berusia 17 tahun mengapa harus dipanggil ibu pikirnya.
"Baiklah, nona Kaila. Nona bisa melihat cake dan es krim yang ada disini, dan ini daftar minuman yang ada nona." ucapnya.
Pegawai tersebut memberikan beberapa buku menu di cafe milik suaminya itu, bukan hanya cake, es krim ataupun minuman saja namun ada juga makanan ringan lainnya seperti wafle, pancake dan beberapa jenis jajanan jepang dan korea yang banyak digemari oleh para remaja.
Kaila langsung melirik, melihat beragam jenis cake cantik beragam varian yang ada didalam etalase, mulai dari cake paling populer yaitu cokelat dan berbagai varian lain seperti red velvet, greentea, tiramisu, taro, banana, strawberry, anggur dan beragam varian lainnya.
Kaila melihat satu cake unik, varian lemon membuat Kaila ingin sekali mencicipi bagaimana rasanya.
"Mbak, saya mau cake lemon ini ya, trus es krim greentea dan satu lemon tea ya." ucap Kaila.
Pegawai tersebut mengangguk dan langsung menyiapkan apa yang Kaila inginkan, Kaila menunggu di depan etalase cake sembari kembali melihat-lihat.
Begitu pesanannya selesai dibuat Kaila langsung mengambil pesanannya, membawa nampan tersebut dan memilih duduk di salah satu kursi kosong yang ada di dalam cafe, berbaur dengan pengunjung lain yang rata-rata merupakan anak sekolah dan juga mahasiswa karena letak cafe yang berada di dekat universitas swasta disana.
Kaila memasukkan sepotong cake lemon miliknya, merasakan perpaduan antara manisnya cake dan cream yang berpadu dengan asamnya lemon.
Kaila merasa dirinya akan menyukai lemon cake setelah ini, dan akan meminta Raffa untuk membawa pulang sepotong lemon cake jika ia pergi ke cafe lagi.
btw siapa yg d'pesan raffa TF uang yyyy 🤔
moga aja celine g'ada niatan n rencana jahat buat misah'in kaila n raffa 😏