NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Panggilan dari Bawah Tanah

Matahari pagi itu terbit dengan rona merah yang ganjil, seolah-olah dilapisi oleh lapisan tipis darah encer di ufuk timur. Namun, bagi Bintang, cahaya itu tidak membawa kehangatan. Sinar fajar yang menerobos masuk lewat ventilasi ruang tengah kediaman Rahayu justru terasa seperti hitungan mundur eksekusi mati yang kian berdetik cepat menuju malam Sabtu Kliwon.

Sisa hantaman energi hitam Kalingga semalam masih menyisakan linu yang luar biasa di tulang rusuk Bintang. Setiap kali dia menghela napas, rasa anyir darah kembali mengumpul di rongga hidungnya. Di sudut ruangan, lemari jati tua milik almarhum ayah Sekar berdiri dengan pintu hancur menjebol. Kotak kayu hitam berbalut kain kafan di dalamnya tampak statis, seolah-olah sedang mengumpulkan energi purba dari lereng Gunung Raung untuk ledakan supranatural yang lebih masif malam nanti.

"Bintang... lihat anakku, Bintang..." suara Rahayu merangkak memecah keheningan.

Wanita paruh baya itu sudah tidak menyerupai manusia sehat. Daster batik lusuhnya kotor terkena debu lantai tegel, matanya bengkak, dan kulit wajahnya memucat keabu-abuan. Sejak pintu kamar Sekar membanting menutup secara ghaib semalam, Rahayu tidak berani beranjak sepeser pun dari ruang tengah.

Bintang melangkah mendekati pintu kamar Sekar. Hawa dingin yang menguar dari balik celah kayu papan itu kini terasa berlendir dan lembap. Ketika telapak tangan Bintang menyentuh permukaan pintu, tidak ada lagi getaran penolakan berupa hantaman energi. Yang ada hanyalah sunyi yang teramat mati. Sunyi yang janggal, seolah-olah seluruh volume udara di dalam kamar tersebut telah disedot habis masuk ke dalam pori-pori bumi.

"Sekar?" panggil Bintang, suaranya berat dan dalam.

Tidak ada desisan. Tidak ada jeritan kesakitan seperti semalam.

Bintang perlahan mendorong pintu kayu yang selot besinya sudah hancur itu. Pintu terbuka tanpa suara. Begitu pandangan matanya menyapu seisi ruangan, jantung Bintang seakan berhenti berdetak sesaat.

Sekar terbaring di atas ranjangnya. Tubuhnya telentang kaku, kedua tangannya bersedekap di atas dada dengan posisi yang teramat simetris—persis seperti cara pihak keluarga membujur-tidurkan seonggok mayat di atas dipan kematian.

Gadis itu mengenakan kaus putih longgar yang kini telah robek-robek di bagian belakang akibat desakan pertumbuhan jaringan baru semalam. Matanya terpejam rapat. Namun, kelopak mata itu tampak tipis dan bergerak-gerak liar di bagian dalam, seolah-olah bola mata di baliknya sedang dipaksa menyaksikan sebuah proyeksi visual yang mengerikan di dalam tidurnya.

Bintang mendekat dengan langkah waspada. Insting spiritualnya berteriak bahwa ada sesuatu yang sangat keliru dengan kondisi biologis Sekar saat ini. Saat jaraknya tersisa dua jengkal, Bintang menyadari bahwa Sekar tidak sedang tertidur biasa.

Gadis itu tidak bernapas melalui hidung. Dada manusianya sama sekali tidak bergerak naik-turun. Sebaliknya, pangkal tenggorokan dan sela-sela tulang selangkangannya berdenyut halus dengan ritme yang lambat dan berat—sebuah mekanisme pernapasan internal yang hanya dimiliki oleh mahluk melata saat melakukan hibernasi di dalam sarang bawah tanah.

"Dia sudah dijemput..." Rahayu yang mengintip dari balik bahu Bintang langsung histeris, menutupi mulutnya dengan tangan yang gemetar. "Jiwanya sudah tidak ada di rumah ini, Bintang! Kalingga sudah menarik rohnya sebelum malam Sabtu Kliwon tiba!"

"Belum, Bu," potong Bintang cepat, matanya terfokus pada belikat kanan Sekar yang terekspos. "Jiwanya sedang diseret secara paksa lewat jalur ghaib ari-ari. Ini adalah fase koma ghaib. Tubuh kasarnya ditinggalkan sebagai cangkang kosong, sementara rohnya dipaksa beradaptasi dengan dimensi Sendang Kalingga."

Tiba-tiba, tepat pada pukul dua siang, sebuah fenomena mengerikan mulai terjadi secara simultan.

Tanda lahir bersisik di belikat kanan Sekar mendadak berdenyut kencang. Denyutannya begitu masif, menimbulkan suara deg-deg-deg yang bergaung keras menembus keheningan kamar, seolah ada jantung kedua yang tumbuh di bawah jaringan kulitnya. Bersamaan dengan denyutan itu, sisik-sisik emas kelabu yang melingkari leher Sekar mulai memancarkan pendaran ghaib berwarna hijau neon yang redup namun pekat.

Dari balik pori-pori kulit yang tertutup sisik tersebut, keluar sejenis uap minyak yang teramat kental. Uap itu tidak mengalir ke atas menuju langit-langit, melainkan merayap turun, menyebar ke seluruh lantai kamar sebelum akhirnya melesat keluar menembus celah pintu dan jendela rumah.

Itu adalah wangi bunga kenanga busuk yang tingkat kepekatannya berada di luar batas nalar fana. Aromanya bukan lagi sekadar bau wewangian mistis yang samar, melainkan bau yang sangat korosif, manis yang memuakkan, dan bercampur dengan anyir lendir reptil yang membusuk di bawah terik matahari.

Hanya dalam hitungan menit, wangi kenanga maut itu mengular keluar dari area pekarangan rumah Rahayu. Angin siang yang berembus kencang justru membawa aroma terkutuk itu menyebar luas, merayap masuk ke dalam ventilasi-ventilasi rumah warga di seluruh area satu Rukun Tetangga (RT).

Di luar rumah, kepanikan massal mulai meletus tanpa bisa dibendung.

Bintang bisa mendengar sayup-sayup suara teriakan warga dari arah jalan perkampungan. Suara pintu-pintu rumah yang dibanting menutup, disusul oleh suara orang-orang yang muntah histeris di selokan depan karena tidak kuat menahan pekatnya aroma kenanga yang mengunci saluran pernapasan mereka.

"Bau apa ini?! Gusti Allah... bau bangkai apa ini?!" teriak salah seorang warga dari kejauhan, suaranya dipenuhi ketakutan yang teramat sangat.

"Hewan-hewan... lihat hewan-hewan itu!" sahut warga yang lain.

Bintang melongokkan kepalanya lewat jendela kamar Sekar yang retak. Di atas jalanan aspal dan halaman rumah-rumah tetangga, sebuah pemandangan gila sedang berlangsung. Puluhan kucing liar berlarian kesetanan dengan bulu-bulu yang berdiri tegak, menjerit-jerit gila sebelum akhirnya jatuh kejang dengan mulut berbusa. Burung-burung peliharaan warga di dalam sangkar mati serempak, jatuh bergelimpangan di dasar kandang dengan mata yang mendelik keluar.

Seluruh mahluk hidup berkaki di sekitar radius tiga ratus meter dari rumah Sekar merasakan kedatangan energi absolut dari penguasa bawah tanah. Mereka tahu, sang raja predator sedang menandai wilayah perburuannya.

Yang paling mengerikan adalah pergerakan di atas tanah pekarangan. Dari balik sela-sela rumput dan parit-parit pembuangan, ratusan ekor ular tanah berukuran kecil dan sedang mulai bermunculan. Mahluk-mahluk melata itu tidak berjalan acak; mereka semua bergerak lurus, merayap beriringan membentuk barisan panjang menuju satu titik pusat yang sama: pondasi rumah Rahayu.

Mereka datang untuk menyambut prosesi turunnya sang calon permaisuri.

Hawa sedingin es kian pekat melingkupi kamar Sekar. Bintang menarik langkah mundur dari dekat jendela. Paru-parunya terasa menyempit akibat gempuran wangi kenanga busuk yang kini berwujud uap tipis keperakan di udara. Di luar, desisan ribuan ular tanah yang mengepung pondasi rumah terdengar seperti suara gesekan ribuan sapu lidi di atas semen, berisik dan menggetarkan batin.

"Bintang... mereka mulai masuk! Lewat bawah pintu!" Rahayu menjerit histeris dari ruang tengah.

Bintang bergegas memeriksa. Dari celah bawah pintu depan dan sela-sela lantai tegel yang retak, belasan ekor ular tanah berukuran sejengkal mulai melusup masuk. Anehnya, mahluk-mahluk melata itu tidak agresif menyerang manusia. Mereka bergerak kaku, merayap searah menuju kamar Sekar, lalu melingkar diam di sekeliling ranjang tempat gadis itu terbujur koma. Mereka seolah sedang membentuk pagar hidup, menjaga kepompong ghaib sang calon permaisuri.

Bintang menggeram pelan. Genggamannya pada butiran tasbih gaharu kian erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia tahu, menyerang ular-ular fisik ini tidak akan menyelesaikan masalah. Ini adalah Sengkolo—kutukan yang digerakkan langsung oleh jangkar metafisik dari lereng Gunung Raung.

Pemuda itu melangkah kembali ke dalam kamar Sekar, lalu menghantamkan telapak tangannya yang terbalut energi zikir ke atas permukaan kotak kayu hitam di bawah kaki ranjang.

DUAARRR!

Sebuah benturan ghaib bergema di frekuensi sunyi. Gelombang kejut itu membuat ular-ular yang melingkar di lantai tegel mendesis serempak dan menggeliat kesakitan. Denyutan di belikat Sekar sempat melambat sesaat, namun uap minyak berbau kenanga dari lehernya justru menyembur lebih pekat, mencoba membutakan pandangan spiritual Bintang.

"Mbak Sekar, bertahan..." bisik Bintang, napasnya memburu di tengah kepungan bau busuk yang kian mengunci kewarasan. Dia terus bertahan di sisi ranjang, memperkuat benteng batinnya untuk menjaga cangkang fisik Sekar dari kerusakan total sebelum malam puncak Sabtu Kliwon tiba beberapa jam lagi.

Di dimensi yang sepenuhnya terpisah dari realitas fana, kesadaran Sekar terbangun dengan rasa pening yang luar biasa hebat.

Gadis itu tidak lagi merasakan hawa pengap kamarnya atau mendengar riuh kepanikan warga RT di luar rumah. Saat kelopak matanya terbuka, dia mendapati dirinya sedang duduk di atas sebuah singgasana yang dipahat dari batu kali hitam legam berukuran raksasa. Tempat itu adalah sebuah aula megah nan masif yang terletak di rongga perut bumi yang teramat dalam—inti dari Kerajaan Siluman Ular Kalingga.

Tidak ada langit di atas sana; yang ada hanyalah atap gua batu purba yang menggantung tinggi, dipenuhi oleh stalaktit yang meneteskan cairan kental berwarna keperakan yang berbau anyir bunga kenanga. Di sekeliling singgasana batu tempatnya berada, sejauh mata memandang, hamparan lantai gua dipenuhi oleh pemandangan yang sanggup merontokkan iman manusia.

Jutaan mahluk melata—mulai dari ular sanca raksasa dengan diameter setebal batang pohon kelapa, ular tanah berbisa, hingga makhluk-makhluk setengah manusia berkulit sisik kelabu—merayap berimpitan. Suara gesekan sisik kering mereka bergaung memenuhi ruangan seumpama deru ombak laut selatan yang kelam. Namun, mahluk-mahluk itu tidak menyerang. Mereka semua menundukkan kepala sejajar dengan lantai batu, mendesis dengan ritme yang teratur seolah-olah sedang memberikan penghormatan tertinggi kepada sosok yang duduk di atas singgasana.

Sekar mencoba bangkit berdiri, namun tubuhnya terasa lumpuh total, melekat kaku pada dinginnya batu kali hitam. Saat dia melirik ke bawah, rasa ngeri yang teramat murni mencengkeram jantungnya. Pakaian manusianya telah lenyap, digantikan oleh jalinan sisik emas murni yang melekat erat di sepanjang kulit tubuhnya, berkilau memantulkan pendaran cahaya kelabu dari dasar sendang ghaib yang statis di ujung aula.

Sreeet... sssss...

Dari balik pilar batu hitam di samping singgasana, sosok Kalingga perlahan memunculkan wujud utuhnya. Di dalam dimensi kekuasaannya sendiri, wujud sang siluman ular purba tampak berkali-kali lipat lebih masif, megah, sekaligus mengerikan. Tubuh ularnya yang bersisik emas kelabu meliuk kaku, menegakkan separuh tubuh bagian atasnya yang berwujud anatomi pria perkasa berkulit pucat tanpa helai rambut. Di atas kepalanya, sebuah mahkota emas purba yang berkarat oleh noda darah mengering memancarkan aura magis yang menindas batin.

Kalingga mendekatkan wajahnya yang dingin tanpa pori-pori ke arah Sekar. Sepasang matanya yang berupa silet vertikal berwarna emas menatap lekat-lekat ke dalam manik mata gadis itu, mengunci seluruh kehendak bebasnya. Ada seulas senyum dingin yang sarat akan otoritas mutlak di bibirnya yang pucat saat dia mengulurkan tangan manusianya yang memiliki kuku-kuku hitam panjang.

Dengan gerakan yang teramat lembut namun dominan, jemari dingin Kalingga yang sedingin es kutub perlahan mengelus pipi Sekar. Sentuhan itu menyusuri garis rahang gadis itu hingga ke lehernya yang kini telah dipenuhi oleh sisik ghaib kepemilikan yang kembang kempis mengikuti irama napas ghaibnya.

"Dua puluh dua tahun aku meminjamkan napasku untuk menghidupkan rahim ibumu yang telah mati, Nduk..." suara bariton Kalingga menggema langsung di dalam rongga dada Sekar, meruntuhkan sisa-sisa ego manusianya. "Siklus seratus tahun ini telah genap. Kontrak darah yang diikat oleh kakekmu di lereng Gunung Raung tidak bisa ditawar lagi oleh doa-doa kaum fana."

Sekar merasakan air mata ghaibnya meleleh bebas, membasahi sisik-sisik baru di pipinya. Dia ingin menjerit, memanggil nama ibunya, memanggil Bintang yang dia tahu sedang berjuang di dunia atas, namun pita suaranya hanya mampu mengeluarkan desisan lirih yang pasrah seumpama anak ular yang patuh pada induknya.

Kalingga kembali tersenyum, wajahnya kian mendekat hingga lidahnya yang bercabang sempat menjulur tipis menyentuh kening Sekar yang mulai mendingin.

"Selamat datang di istanamu, Ratu-ku... Di sini, kau akan hidup abadi di bawah air sendang yang hitam, mengabdi pada keabadian yang terkutuk bersamaku."

Di atas singgasana batu itu, kesadaran Sekar perlahan mulai ditelan oleh kegelapan yang pekat, sementara di dunia nyata, jarum jam dinding di ruang tengah rumah Rahayu perlahan bergerak mendekati Sabtu Kliwon.

1
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!