Mohon diharapkan sopan dalam berkomentar.
Sebelum membaca novel ini disarankan membaca perjodohan karena hutang yang pertama dulu ya, karena ini adalah cerita lanjutan perjodohan karena hutang pertama.
Disini saya akan menceritakan tentang kehidupan anak-anak mereka, yang tentunya tidak kalah seru dengan para orang tua mereka.
Danis adalah anak dari Risa dan Denis, Danis yang terbiasa hidup mewah dan tidak pernah kekurangan tapi tiba-tiba Denis mengambil semua fasilitas yang Denis berikan pada Danis.
Dan tentunya kenapa Denis mengambil semuanya, Denis punya alasan tertentu dan ingin membuat anaknya bisa menghargai apa yang dia punya bukan menghambur-hamburkannya tidak jelas.
Sampai akhirnya Danis hidup menjadi laki-laki biasa karena hukuman dari sang papa dan bertemu dengan seorang gadis yang sangat membenci laki-laki kaya.
Dan pertemuan itu membuat Danis jatuh hati pada gadis itu. Tapi bagaimana cara Danis jujur pada gadis itu kalau dirinya adalah anak orang kaya? Sedangkan gadis itu sangat membenci laki-laki kaya. Ya tentunya sang gadis juga punya alasan kenapa dia bisa membenci laki-laki kaya.
Penasaran dengan cerita cinta mereka? Dan bagaimana nanti Danis akan mengatakan kejujuran pada sang gadis.
Baca yuk karya Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maisy Asty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23.Disidang calon mertua.
"Iya tante, Dafa juga bisa jelaskan!" Kata Dafa pada Alya dengan begitu sopan.
"Baru jadian kemarin, ini mau di sidang sama calon mertua." Hati Dafaberbicara.
"Masuklah! Jelaskan semuanya!" Panji dan Alya sama-sama menatap Alya dan Dafa dengan sorot mata penuh tanda tanya?
.
.
Sesampainya di dalam rumah Aqila, Dafa sebenarnya merasa deg-deggan apalagi ia sudah lama tidak bertemu dengan Alya dan Panji, karena selama ini keluarga Aqila tinggal diluar negeri.
Aqila hanya bisa menyimpan tawanya melihat wajah tegang Dafa dihadapan kedua orang tuanya.
"Dafa, dulu kamu ngadepin mama dan papa aku sebagai tante dan om. Dan hari ini kamu harus menghadapi mereka sebagai calon mertuamu." Aqila tertawa dalam hatinya.
"Ehem...." Panji berdehem untuk memecahkan keheningan yang ada.
"Dafa, jelaskan kenapa Aqila bisa bersamamu? Apa semalam kalian menginap diluar bersama?" Tanya Alya dengan tatapan serius, membuat Dafa semakin deg-deggan.
"Tante Alya, aku tidak seburuk apa yang kamu kira." Batin Dalam dalam hatinya.
"Mama...." Kata-kata Aqila terpotong.
"Kamu diamlah! Mama sedang bertanya pada Dafa." Sambung Alya dengan sorot mata tajam, membuat Aqila tidak jadi melanjutkan perkataannya.
Panji terus menatap Dafa dengan tatapan garang, ia duduk sambil melipat kedua tangannya ke dada.
"Kak Alan, anakmu sudah berani membawa anak gadisku tidak pulang semalaman." Batin Panji dalam hatinya.
Dalam hati Dafa, aish aku seperti dalam sidang pengadilan. Seolah-olah aku itu habis di grebek dan di tangkap basah oleh para warga.
"Dafa...." Alya melirik Dafa dengan lirikan penuh tanda tanya?
"Iya tante, aku jelaskan." Jawab Dafa dengan gugup.
Alya menganggukkan kepalanya, Dafa mulai menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada kedua orang tuanya Aqila.
"Tante, semalam aku dan Aqila memang menginap dirumah Danis tapi Aqila tidur dirumah temannya Danis namanya Anin dan Aku tidur dirumah Danis, jadi kenapa kita bisa pulang bareng karena semalam kita menginap disana." Dafa menjelaskan pada Alya dengan jujur.
"Aqila, telpon teman kamu yang namanya Anin itu!" Kata Alya dengan nada tegas.
Aqila terdiam ia berpikir bagaimana caranya ia menghubungi Anin? Ia kan tidak punya no ponsel Anin.
"Sebentar ma." Jawab Aqila dengan nada agak lemas, ia mengambil ponselnya dari dalam tasnya lalu menekan no ponsel Danis untuk menelponnya.
.
.
Danis yang sedang tidur, ia kaget mendengar ponselnya berbunyi. Ia membuka matanya lalu menggeser tombol ijo yang ada di layar ponselnya, terus menaruh ponselnya tepat di telinganya.
"Hallo..." Kata Danis dengan suara yang masih mengantuk.
"Kak Danis, tolong kerumah Kak Anin sekarang! Mama mau bicara dengan Kak Anin." Kata Aqila.
Danis yang merasa terkejut, langsung bangun dari tidurnya "Anin?" Gumamnya.
"Untuk apa kerumah Anin?" Tanya Danis.
"Cepatlah kak!" Suruh Aqila.
"Baiklah, tunggu sebentar!" Danis berjalan menuju rumah Anin.
Sesampainya di depan rumah Anin, ia mengetuk pintu rumah Anin.
"Tok...tok... gadis mesum keluarlah!" Danis mengentuk pintu rumah Anin.
Anin yang merasa terusik dengan suara pintu, langsung membuka matanya ia berjalan menuju ke depan untuk membukakan pintu rumahnya.
"Siapa sih, menganggu saja?" Gumam Anin.
.
.
"Ceklek..." Suara gagang pintu, melihat Danis yang datang ia bingung.
"Ini jam berapa? Bukannya dia mengajak makannya nanti malam. Tapi jam segini sudah mengganggu orang tidur." Gerutu Anin dalam hatinya.
"Ada apa?" Tanya Anin dengan jutek.
"Ini Aqila, mau bicara padamu!" Kata Danis, sambil memberikan ponsel yang ada di genggaman tangannya pada Anin, Anin menerima ponsel tersebut lalu menaruhnya tepat di telinganya.
"Hallo Aqila." Sapa Anin dengan nada lembut.
"Kak Anin, maaf menganggu ini mama aku mau bicara sama kakak." Kata Aqila.
"Iya Qila." Jawab Anin dengan nada lembut.
Aqila memberikan ponsel miliknya pada mamanya.
"Hallo Nak Anin, ini mamanya Aqila." Kata Alya dengan nada lembut.
"Iya tante, maaf ada apa ya tan?" Tanya Anin dengan sopan.
"Tante mau tanya, apa benar semalam Aqila menginap dirumah kamu nak?" Tanya Alya.
"Iya tan, semalam Qila menginap di rumahku. Soalnya dirumah Danis ada Dafa jadi dia tidur dirumah aku tan." Jawab Anin.
"Baiklah nak, terimakasih!" Kata Alya.
"Sama-sama tan." Jawab Anin.
Alya mematikan saluran teleponnya, lalu ia kembali melihat Dafa dan Aqila.
Anin memberikan kembali ponselnya pada Danis, lalu ia kembali masuk ke dalam rumahnya. Danis juga kembali masuk ke dalam rumahnya.
"Baiklah mama percaya dengan kalian." Kata Alya, yang membuat Dafa dan Aqila saling melempar senyum bahagia mereka.
Dalam hati Dafa, akhirnya berakhir juga menghadapi sidang dari calon mertuanya. Setelah selesai sidang Dafa berpamitan pulang pada kedua orang tua Aqila.
Dafa melajukan mobilnya menuju kerumahnya dan melihat ada paper bag di jok belakang.
"Punya Anin ketinggalan." Gumam Dafa.
.
.
.
Malam menunjukkan pukul 7 malam. Danis sudah berdandan rapi, kini ia merapikan rambutnya serapi mungkin.
"Anin, aku akan mulai mendekatimu dan aku juga tidak akan membiarkan bos Rifki mendekatimu." Kata Danis sambil menyisir rambutnya, ia bercermin sambil menyanyi tidak jelas.
Setelah selesai, ia langsung pergi menuju ke rumah Anin. Untuk jarak rumah mereka sangat dekat tidak ada satu langkah karena berdempetan.
"Anin gadis mesum, tok....tok.." Danis memanggil Anin sambil mengetuk pintu rumah Anin.
"Iya sebentar!" Anin berjalan menuju ke depan, ia juga sudah rapi dengan dress warna biru dongker yang begitu anggun. Malam ini Anindiya terlihat begitu cantik.
"Ceklek..." Anin membuka pintu rumahnya, ia melihat Danis sudah rapi dan menunggunya sambil menyandarkan tubuhnya ditembok.
Mata Danis langsung tertujuh pada Anin, ia menatap Anin tanpa berkedip sedikitpun.
"Sungguh dia cantik sekali." Batin Danis dalam hatinya.
Anin melihat Danis dengan tatapan kesal, Siapa yang tidak kesal tadi ia terus mengetuk pintu rumahnya. Nah sekarang dia malah terus melihatnya tanpa berkedip sama sekali.
"Sudahlah, ayo berangkat!" Anin tiba-tiba menarik tangan Danis, membuat Danis tidak percaya.
"Dia menarik tanganku, sekarang tangan dia memegang tanganku." Hati Danis mulai meronta-ronta.
.
.
Mereka berjalan menuju ke taman untuk makan malam bersama.
"Kita mau makan apa?" Tanya Danis, yang masih terpaku dengan kecantikan Anin.
"Bubur ayam, ditempat Fandi." Jawab Anin penuh semangat.
Danis merasa kesal, dalam hatinya apa di otak gadis mesum itu hanya sih tukang bubur itu. Anin lihatlah aku, aku juga tampan jauh lebih tampan dari tukang bubur itu.
"Aku, tidak mau!" Tolak Danis dengan tegas.
"Lalu, kita mau makan apa?" Tanya Anin.
"Kita makan sate ayam saja!" Jawab Danis.
"Daripada makan bubur, bukannya kenyang malah kesal." Danis merasa kesal dalam hatinya.
Anin menganggukan kepalanya, ia menuruti apa mau Danis untuk memakan sate ayam.
.
.
Sesampainya ditukang sate, Anin dan Danis sudah duduk disebuah tikar mereka makan dengan tempat duduk lesehan.
Danis memesan dua porsi sate untuk dirinya dan juga Anin, ia juga memesan dua jus jeruk untuk mereka.
Kini mereka sedang menunggu pesanan mereka datang.
"Anin, kenapa kamu tadi doyan diajak makan di restauran?" Tanya Danis pada Anin.
"Lidahku, lebih cocok dengan makanan pinggir jalan." Jawab Anin dengan santai.
Mereka asik mengobrol, tiba-tiba ada suara yang tidak asing memanggil Anin.
"Aninnn...." Panggilnya.
Anin dan Danis sama-sama menoleh ke sumber suara.
"Aish sial, mau apa dia kesini?" Danis berdecak kesal.
Ntah siapa yang datang?
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
bukannya suara bayi oek.....oek...oek
dasar fani
kasian si rifki
kok sama denisnya namanya...