Walaupun semua berawal tanpa didasari oleh rasa Cinta dan hanya sebuah perwujudan rasa berbaktinya kepada sang ayah, Cinta terpaksa harus menerima perjodohan dari orang tuanya.
Namun keterkaitan ia dengan lelaki itu membuat sedikit demi sedikit terkuaknya masa lalu yang kelam dan juga sebuah kenyataan yang mulai terbongkar.
Apakah Cinta mampu menghadapi itu semua dan menerimanya?
Ataukah ia memilih untuk mundur dan menyerah begitu saja akan takdir yang mempermainkannya.
Ikuti terus "Takdir Cinta," novel romance dengan cerita yang akan menguras emosi kalian!
Np : Mungkin, "Takdir Cinta" akan terus berlanjut akan tetapi kemungkinan besar slow update dikarenakan Author pindah lapak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bungaspt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Saat masuk ke pusat perbelanjaan Cinta langsung berjalan ke salah satu toko yang menjual makanan khas Bali, sedangkan Iqbal hanya mengikuti kemana gadis itu pergi berjalan. Terlihat beberapa di antaranya ada pia kukus, pie susu, bakpia Bali, kacang disko, dan kopi kintamani pun juga ada.
Cinta terlihat sibuk memperhatikan beberapa keranjang-keranjang makanan di toko itu, seperti sedang mencari sesuatu.
"Mau beli apa Geg?" tanya seorang wanita paruh baya yang sepertinya ia pemilik toko.
"Maaf Mbah ada jual heavenly chocolate?" tanya Cinta.
Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya beberapa kali tanda ia tak memiliki makanan yang sedang dicari oleh Cinta, "Maaf Geg tidak ada, biasanya heavenly chocolate Bali di jual di toko khusus."
Iqbal menyadari perubahan raut wajah Cinta yang awalnya begitu ceria saat memasuki kawasan pusat perbelanjaan ini mendadak luntur dan sedikit murung.
"Ya sudah tak apa. Beli pie susu 2 kotak sama kacang disko 3 bungkus saja ya Mbah," ucap Cinta pada penjual itu.
Penjualnya pun langsung membungkuskan 2 kotak pie susu dan kacang disko yang diinginkan Cinta. Baru saja ia akan menyerahkan kantong belanjaan yang sudah berisi makanan itu, namun Cinta kembali bersuara, "Em..., maaf Mbah. Sepertinya saya menginginkan yang lainnya juga, tolong bungkuskan pia kukus itu juga 2 kotak, dan 1 kotak lagi pie susunya." Cinta tersenyum malu-malu.
Iqbal bergeleng kecil, padahal ia yang mengajak Cinta ke pusat perbelanjaan ini tapi malah Cinta yang memborong lebih dulu.
"Apa kau bisa menghabiskan semua itu?" celetuk Iqbal bertanya, berdiri di sampingnya.
"Tentu saja."
"Kau akan gemuk jika memakan itu semua."
"Biar saja." Cinta menjelirkan lidahnya ke arah Iqbal.
"Ini Geg," ucap sang penjual memberikan kantong bungkusan.
"Berapa Mbah harganya?" tanya Cinta setelah menerima kantong berisi pia kukus, pie susu, dan kacang disko itu.
"3 kotak pie susu, 2 kotak pia kukus, dan 2 bungkus kacang disko, jadi semuanya Rp. 357.000 Geg," jawab wanita tua itu setelah selesai menghitung di kalkulator miliknya.
"Sebentar ya Mbah," ujar Cinta yang menaruh kantong belanjaannya ke lantai agar memudahnya mengambil uang di dompet.
"Salaknya 2 kilo sama kopi kintamaninya yang 250g itu Mbah," selagi Cinta mengambil uang di dompetnya Iqbal juga ikut membeli sesuatu.
Ibu penjual itu mengangguk dan sama seperti Cinta tadi beliau membungkuskan salak juga kopi yang diinginkan Iqbal.
"Ini Mbah," ujar Cinta sambil menyerahkan empat lembar uang ratusan.
Namun tangannya ditahan oleh Iqbal, "Biar aku saja yang bayar," kata Iqbal.
"Tidak bisa begitu, tadi kau sudah mentraktirku makan siang," tolak Cinta.
"Apa kau ingin aku meninggalkanmu di sini?" ucap Iqbal masih dengan menahan tangan Cinta.
"Kau mengancamku?" Cinta menarik tangannya kembali ke samping tubuhnya.
"Jadi semuanya berapa dengan punya saya Mbah?" tanya Iqbal pada sang penjual yang masih memegangi kantong belanjaannya.
"Hei, aku bahkan belum menyetujuinya." Cinta memprotes.
"Sudahlah diam, nanti Mbah penjualnya tidak fokus menghitungnya," tegur Iqbal.
Sedangkan wanita tua itu hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucu kedua pembelinya.
Cinta memilih mengalah, walau sebenarnya ia merasa sangat tidak enak hati. Ini sudah kedua kalinya Iqbal yang membayar, pertama makan siang dan kedua belanjaannya.
"Aku kan jadi tidak enak." Cinta bergumam sambil mengangkat kantong belanjaannya tadi dan menatap benda mati itu.
"Kalau dihitung dengan punya Geg ini semua jadinya Rp. 584.000 Gus," jawab wanita paruh baya itu menyerahkan kantong belanjaannya pada Iqbal.
"Ini, ambil saja kembaliannya Mbah."
"Terima kasih," senyum penjual.
Setelah selesai membeli beberapa makanan Cinta berpikir Iqbal akan langsung mengajaknya pulang, tapi Iqbal malah berhenti di salah satu toko penjual batik.
Tanpa memberitahu terlebih dahulu pada Cinta, Iqbal langsung masuk ke dalam toko, mau tidak mau Cinta juga ikut masuk ke dalam toko itu. Sama seperti Iqbal, Cinta pun ikut melihat-lihat kain batik yang tergantung rapi di dinding-dinding toko, juga beberapa kain batik yang sudah disulap menjadi sebuah baju.
Pandangan Cinta tertarik ke arah kain batik yang tergantung di samping kanannya. Batik bermotif merak yang menggambarkan keindahan burung tersebut sebagai titik fokus kain, yang semakin diperindah dengan hiasan kelopak bunga yang lembut menyerupai bunga sakura.
"Mbok suka dengan batik ini?" tanya salah seorang penjaga toko.
Iqbal yang berdiri tak jauh dari Cinta dan juga sedang melihat-lihat beberapa kain batik, langsung memalingkan wajahnya ke arah Cinta saat mendengar seseorang bertanya pada Cinta.
"Iya, kain batik ini menarik perhatian saya. Begitu indah dilihat." Cinta menjawab pertanyaan gadis muda penjaga toko itu.
"Memang begitu indah Mbok. Batik motif ini namanya Merak Abyorhokokai, burung merak sebagai corak utamanya dan dihiasi taburan bunga-bunga krisan yang memang mirip seperti bunga sakura. Dan menariknya memang motif ini terinspirasi dari jepang lho Mbok," jelas gadis penjaga toko batik itu panjang lebar.
"Benarkah?" tanya Cinta yang merasa tak percaya.
Gadis muda penjaga toko itu mengangguk dengan semangat.
"Kau menginginkannya?" tanya Iqbal yang sudah berada di sampingnya.
"Huh! Kau mengagetkan aku saja,"—kaget, Cinta menyentuh dadanya—"sejak kapan kau berada di sampingku?" heran Cinta.
Lelaki itu tak menggubrisnya, dan memilih menatap sang gadis muda penjaga toko, "Maaf, tolong bungkuskan kain batik ini," ujarnya.
"Baik Bli," diambil olehnya kain batik bermotif burung merak di tengahnya dari gantungan, pergi ke arah kasir membungkusnya dan memasukkannya ke dalam paperbag yang juga bermotif batik.
Iqbal berjalan ke kasir dengan Cinta yang membuntutinya dari belakang, "Kau membelikannya untuk siapa? Tante Fitri ya?" tanya Cinta saat Iqbal memberikan uang kepada penjaga kasir.
"Ini, ambillah." Iqbal memberikan paperbag itu pada Cinta.
"Apa?"
"Ku bilang ambil," sekali lagi Iqbal berucap, sebenarnya lebih seperti sebuah perintah di telinga Cinta.
"Untukku?" tanya Cinta saat setelah menerima paperbag itu.
Iqbal tak menjawab dan berjalan lebih dulu keluar toko batik itu meninggalkan Cinta.
"Tu–tunggu!" teriak Cinta kecil.
"Te–terima kasih," gagap Cinta berkata saat sudah dapat mengejar Iqbal yang berjalan lebih dahulu darinya.
"Hm," hanya sebuah gumaman kecil dari Iqbal sebagai jawaban.
To Be Continue...
Catatan :
G**eg**
Geg juga bisa digunakan kalau anda ingin menyapa remaja perempuan di Bali. Geg yang artinya cantik atau ayu.
Gus
Asal kata "gus" berasal dari bahasa Bali "bagus" yang artinya ganteng atau tampan. Mungkin kalau bahasa jawa itu panggilan "cah bagus", digunakan untuk laki-laki yang lebih muda dari kita berapapun umurnya.
Mbah
Yang berarti nenek
Mbok
Mbok merupakan kata sapaan yang setara "bli", dipakai untuk memanggil orang yang dianggap sebagai kakak atau lebih senior.
Bli
Bli adalah panggilan orang Bali yang paling populer diketahui banyak orang. Panggilan "bli (bukan beli)" biasanya digunakan untuk laki-laki yang lebih tua tapi tidak terlalu tua atau bisa juga kepada orang yang sebaya yang belum anda kenal.
Mohon maaf jikalau ada kesalahan dalam kata sapaan Bali yang aku jelaskan, karena aku bukan orang Bali soalnya hehe, mohon kritik dan sarannya.
Jika diantara readers aku ada yang orang Bali atau tau istilah-istilah kata sapaan Bali tolong bantuannya ya kalau salah, terima kasih.