Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.
Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.
Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.
Alden.
Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.
BRAAKK!
Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:
"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: ROMANSA BERACUN
Malam merayap makin sunyi di puncak perbukitan, membungkus kediaman megah itu dengan udara dingin yang menusuk tulang.
Di dalam kamar tidur utama, lampu-lampu kristal dipadamkan, menyisakan keremangan hangat dari nyala api di perapian batu alam yang menari-nari memantulkan bayangan di dinding marmer.
Di atas ranjang berbalut selimut beludru gelap, Alden berbaring terlentang dengan kemeja sutra hitamnya yang terbuka separuh di bagian dada. Di sampingnya, Sesil menyandarkan kepala di dada lapang sosiopat itu, mendengarkan ritme detak jantung pria yang telah menghancurkan seluruh kehidupannya.
Satu tangan Alden melingkar erat di pinggang Sesil, sementara jemari tangannya yang lain sibuk membelai lembut helai-helai rambut panjang Sesil. Tatapan mata Alden yang biasa memancarkan keangkuhan dan kalkulasi dingin kini tampak redup, tergenang oleh rasa puas dan kepemilikan yang teramat sangat dalam.
"Kamu terasa begitu hangat malam ini, Sesil," bisik Alden, suaranya berat dan bergetar oleh kepuasan emosional. Ia menundukkan kepala, menempelkan bibirnya di puncak kepala Sesil, menghirup aroma sampo lavender yang menyeruak dari rambut wanita itu.
"Melihatmu tenang dan bersandar padaku seperti ini... membuatku merasa seluruh perjuanganku tidak sia-sia."
Sesil tidak bergerak. Ia membiarkan tubuhnya tetap lemas di dalam dekapan pria itu. Di balik wajahnya yang tertunduk di dada Alden, mata Sesil terbuka lebar—dingin, tajam, dan penuh intrik yang tak terduga.
Setiap detik berada di dalam pelukan Alden terasa bagaikan meminum racun yang membakar tenggorokan.
Rasa jijik dan mual berkecamuk di dalam perutnya. Pria yang sedang mengecup keningnya ini adalah monster yang sama yang memerintahkan truk kontainer menghantam mobilnya, yang mencuri jurnal hitamnya, yang meracuni otaknya dengan Mandaroba Compound-9, dan yang menyekapnya di neraka perbukitan ini.
Namun, Sesil tahu persis bahwa untuk memenangkan peperangan ini, ia harus menyelami bagian terdalam dari kegilaan Alden.
Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap mata Alden di bawah temaram cahaya perapian. Sesil mengulurkan tangan kanannya, menyentuh rahang kokoh Alden dengan jemarinya yang halus, membelainya dengan kelembutan yang telah dilatihnya hingga sempurna.
"Perjuangan apa, Alden?" bisik Sesil dengan nada suara yang teramat sangat manja dan rapuh. Matanya dibuat berbinar penuh rasa ingin tahu yang polos. "Apakah... menyelamatkanku dari orang-orang jahat di luar sana?"
Senyuman manis melintas di bibir Alden—sebuah senyuman yang terlahir dari ego psikopat yang melambung tinggi.
Pria itu menangkup tangan Sesil yang berada di rahangnya, mencium telapak tangan wanita itu dengan kehangatan yang obsesif.
"Ya, Sayang," sahut Alden lembut. "Dunia di luar sana sangat kotor, penuh dengan orang-orang yang hanya ingin memanfaatkanmu dan menghancurkan integritasmu. Hanya di sini, di sisiku, kamu bisa aman. Kamu milikku, dan aku adalah pelindungmu."
"Aku tahu..." desis Sesil, merapatkan tubuhnya makin dekat, menyandarkan dagunya di dada Alden sehingga matanya terkunci tepat pada mata sang sosiopat. "Kadang-kadang aku takut, Alden... Aku takut jika suatu hari nanti ingatan masa laluku kembali sepenuhnya, dan aku tidak bisa menjadi wanita yang kamu inginkan lagi."
Itu adalah umpan yang sangat beracun, dan Alden langsung menyambarnya tanpa ragu.
Mata Alden berkilat oleh kecemasan terselubung—sebuah celah emosional yang selama ini berhasil disembunyikan sang pria di balik topeng kepemimpinannya. Sosiopat seperti Alden mungkin bisa mengendalikan polisi, menyogok pejabat kementerian, dan memanipulasi hukum, namun ia memiliki satu kelemahan fatal:
ketakutan yang teramat sangat akan kehilangan kendali atas objek obsesi tertingginya. Alden membutuhkan kepatuhan Sesil bukan hanya secara fisik, melainkan kepatuhan jiwa yang memvalidasi egonya sebagai sang penyelamat.
"Tidak akan ada yang berubah, Sesil," ujar Alden cepat, cengkeramannya pada pinggang Sesil merapat dengan kepanikan halus yang tertutup. "Masa lalumu tidak penting lagi. Yang penting adalah masa depan kita. Kamu mencintaiku, bukan?"
Sesil menyunggingkan senyuman tipis yang sangat memikat—sebuah mahakarya akting dari seorang mangsa yang sedang membelit leher sang pemangsa.
Ia memajukan wajahnya, menyentuhkan bibirnya di bibir Alden, memberikan sebuah kecupan lembut namun sarat akan manipulasi emosional yang intens.
Sensasi bibir Sesil membuat Alden terkesiap. Pria itu memejamkan matanya, menikmati ilusi kemenangan sempurna yang baru saja didapatkannya.
Di mata Alden, wanita jurnalis yang dulu menjadi musuh besarnya kini telah sepenuhnya takluk, menjadi tanah liat yang berhasil dibentuknya menjadi pasangan ideal.
"Tentu saja aku mencintaimu, Alden," bisik Sesil tepat di depan bibir Alden, suaranya bagaikan bisikan siren yang mematikan. "Kamu adalah satu-satunya alasanku untuk bernapas saat ini. Tapi... jika kamu memang mempercayaiku sepenuhnya..."
Sesil menggantung kalimatnya, meraba kancing kemeja Alden dan memainkannya dengan gerakan lambat yang memikat.
"Tapi apa, Sayang?" tanya Alden dengan suara parau, pikirannya telah sepenuhnya terbuai oleh intimasi palsu yang diciptakan Sesil.
"Acara besar lusa di Grand Hyatt..." ujar Sesil pelan, matanya menatap Alden dengan binar kepasrahan yang memohon. "Kamu bilang kamu akan membawaku ke sana. Tapi... aku takut orang-orang di sana akan menatapku aneh. Aku takut membuatmu malu di depan para pejabat dan wartawan."
Alden tertawa kecil, sebuah tawa penuh kebanggaan yang membutakan akal sehatnya. Ia mengusap pipi Sesil dengan kasih sayang yang beracun.
"Kamu tidak akan pernah membuatku malu, Sesil," kata Alden mantap. "Malam itu adalah malam kejayaanku, dan kamu adalah permata terindah yang akan kupamerkan kepada dunia. Kamu akan berdiri di sampingku saat aku mengumumkan formula Mandaroba-9 kepada publik. Kamu adalah bukti hidup dari keberhasilanku."
"Apakah aku boleh berdiri di dekat panggung utama bersamamu?" tanya Sesil dengan mata membulat polos. "Aku tidak ingin dipisahkan oleh pengawalmu di belakang ruangan... Aku merasa panik jika jauh darimu, Alden."
Mendengar pernyataan bahwa Sesil merasa panik jika jauh darinya, ego Alden melambung ke puncak tertinggi. Rasa percaya dirinya yang berlebihan telah melumpuhkan seluruh kehati-hatian profesionalnya sebagai pemimpin konspirasi.
"Tentu saja, Sayang," janji Alden tanpa keraguan sedikit pun. "Kamu akan berada di panggung utama bersamaku, tepat di samping konsol master control presentasi. Tidak ada pengawal yang akan membatasi pergerakanmu. Aku sendiri yang akan memegang tanganmu di depan semua kamera."
Perangkap telah terkunci sempurna.
Di dalam kegelapan batinnya Sesil bersorak dingin.
Kelemahan emosional Alden padanya—obsesi pria itu untuk diakui dan dicintai oleh korban penyiksaannya sendiri—telah membukakan pintu akses paling krusial bagi rencana penghancurannya.
Alden sendiri yang baru saja memberikan akses tanpa batas bagi Sesil menuju panggung utama dan konsol kontrol presentasi pada hari peluncuran nanti.
relationship mereka telah berubah menjadi sebuah romansa beracun yang amat sangat mematikan. Bagi Alden, ini adalah puncak dari kepemilikan dan cinta sejati yang berhasil dipaksakannya. Namun bagi Sesil, setiap belaian, setiap kecupan, dan setiap kata manis adalah racun balasan yang sedang disuntikkannya perlahan-lahan ke dalam nadi sang sosiopat.
Alden merengkuh Sesil lebih erat lagi, menarik selimut beludru untuk menutupi tubuh mereka berdua dari dinginnya malam. Pria itu memejamkan matanya dengan senyuman puas, tertidur lelap dalam ilusi kemenangan.
Di dalam dekapannya, Sesil tetap terjaga. Ia menatap nyala api perapian yang perlahan-lahan meredup menjadi bara merah.
Tidurlah dengan tenang malam ini, Alden, batin Sesil, matanya memancarkan kejamnya dendam yang siap meledak.
Nikmatilah intimasi palsu ini selagi kamu bisa. Karena lusa, di atas panggung megah yang kamu siapkan sendiri, aku akan memastikan cinta beracunmu ini menjadi tali gantungan yang memutus seluruh jalan hidupmu.