NovelToon NovelToon
THE TAURUS

THE TAURUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: DOLPIN

Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21. PENGAKUAN YANG TERPUTUS

Perjalanan pulang dari rumah sakit seharusnya membawa Arka dan Sara kembali ke Desa Sagara. Namun, setelah beberapa menit berkendara, Arka justru membelokkan mobilnya ke jalan lain yang dikelilingi pepohonan rindang.

Sara yang sejak tadi duduk di kursi penumpang sambil memandangi pemandangan di luar jendela akhirnya menyadari perubahan arah tersebut.

“Arka, bukankah jalan menuju desa ada di sebelah sana?”

“Ya.”

“Lalu, kenapa kau berbelok ke sini?”

Arka tidak langsung menjawab. Ia hanya melirik Sara sekilas, kemudian kembali memperhatikan jalan.

“Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu.”

Sara mengangkat alis.

“Sesuatu?”

“Anggap saja sebagai tempat untuk beristirahat sebentar.”

Sara tidak bertanya lagi. Ia kembali menatap keluar jendela, mencoba menebak tempat yang akan mereka kunjungi.

Beberapa menit kemudian, mobil Arka memasuki sebuah taman yang cukup luas di pinggir kota. Pepohonan besar menaungi jalan setapak, sementara bunga-bunga berwarna putih, merah muda, dan kuning tumbuh di sepanjang pagar rendah. Di bagian tengah taman terdapat sebuah kolam kecil dengan air mancur yang memancarkan suara gemericik menenangkan.

Tidak jauh dari sana, berdiri sebuah restoran bergaya klasik dengan dinding kaca besar dan teras yang menghadap langsung ke taman.

Sara menatap pemandangan itu dengan kagum.

“Indah sekali…”

Arka mematikan mesin mobil.

“Kau suka?”

Sara menoleh kepadanya dengan senyum tulus.

“Suka sekali. Aku bahkan tidak tahu ada taman seperti ini di kota.”

“Aku pernah melewatinya beberapa kali.”

“Dan baru sekarang kau membawaku ke sini?”

Arka terdiam sebentar.

“Baru sekarang aku punya alasan untuk berhenti.”

Sara menatapnya, mencoba memahami maksud perkataannya.

Namun, ketika Arka membuka pintu mobil dan turun, ia segera mengikuti Arka tanpa sempat bertanya lebih jauh.

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang membelah taman. Angin sore berembus lembut, menggerakkan dedaunan di atas kepala mereka. Beberapa anak kecil berlarian di dekat air mancur, sementara pasangan-pasangan lain duduk di bangku taman sambil menikmati waktu bersama.

Sara berjalan sedikit di depan Arka.

Sesekali, ia berhenti untuk memperhatikan bunga yang menarik perhatiannya atau mengamati kupu-kupu yang hinggap di antara tanaman.

Arka hanya mengikutinya dalam diam.

Ada sesuatu dalam cara Sara menikmati hal-hal sederhana yang membuatnya merasa tenang. Sara bisa tersenyum hanya karena melihat bunga yang mekar atau mendengar suara burung dari atas pohon.

Berbeda dengannya.

Sejak kecil, Arka terbiasa hidup dalam lingkungan yang dipenuhi tuntutan, rahasia, dan persaingan. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa menunjukkan kelemahan hanya akan membuat seseorang mudah disakiti.

Namun, di dekat Sara, keyakinan itu perlahan mulai goyah.

“Arka!”

Panggilan Sara membuatnya tersadar.

“Kenapa?”

“Lihat ini!”

Sara menunjuk seekor kupu-kupu berwarna biru yang hinggap di atas bunga putih.

“Cantik, bukan?”

Arka menatap kupu-kupu itu sekilas.

“Biasa saja.”

Sara langsung memelototinya.

“Kau benar-benar tidak punya perasaan terhadap keindahan!”

“Aku punya.”

“Kalau begitu, katakan bahwa kupu-kupu itu cantik.”

Arka menatapnya datar.

“Kupu-kupu itu cantik.”

Sara menyilangkan kedua tangan.

“Kau mengatakannya seperti sedang membaca laporan keuangan.”

Arka tidak dapat menahan senyum tipisnya.

“Lalu, aku harus mengatakannya seperti apa?”

“Entahlah. Lupakan saja.”

Sara kembali berjalan, tetapi Arka segera menyusulnya.

“Kalau begitu, menurutmu apa yang lebih cantik?”

Sara menoleh.

“Apa?”

Arka menatapnya selama beberapa detik sebelum menjawab dengan nada tenang.

“Pemandangan yang sedang kulihat sekarang.”

Sara membeku.

Ia menatap Arka, berharap Arka segera menjelaskan maksud perkataannya. Namun, Arka justru kembali berjalan seolah tidak baru saja mengatakan sesuatu yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

“Arka!”

Arka menoleh dengan wajah polos.

“Ya?”

Sara membuka mulut, tetapi tidak menemukan kata-kata yang tepat.

Akhirnya, ia hanya mendengus dan mempercepat langkah.

Sementara itu, Arka tersenyum kecil di belakangnya.

Untuk pertama kalinya, ia merasa menggoda seseorang bukanlah hal yang terlalu buruk.

Terutama jika orang itu adalah Sara.

Setelah berkeliling taman, mereka berhenti di sebuah bangku yang menghadap ke kolam. Matahari mulai condong ke barat, menciptakan pantulan keemasan di permukaan air.

Restoran di dekat taman mulai dipenuhi pengunjung yang datang untuk menikmati makan malam.

Sara duduk di bangku, sementara Arka berdiri beberapa langkah darinya.

Ada sesuatu yang sejak tadi ingin dikatakan Arka.

Sesuatu yang telah lama ia simpan, tetapi selalu gagal ia ungkapkan setiap kali kesempatan datang.

Ia menatap Sara yang sedang memperhatikan air mancur.

“Sara.”

“Hm?”

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”

Sara menoleh. Melihat ekspresi Arka yang lebih serius dari biasanya, ia segera duduk tegak.

“Ada apa?”

Arka menarik napas panjang.

Ia telah menghadapi banyak hal dalam hidupnya. Ia pernah berhadapan dengan orang-orang yang mengancamnya, menghadapi tekanan dari ayahnya, bahkan melihat seseorang yang dahulu ia kenal dengan baik telah pergi dari dunia ini.

Namun, berdiri di hadapan Sara dengan niat mengungkapkan perasaannya sendiri ternyata jauh lebih sulit.

“Aku tidak pandai mengatakan hal seperti ini,” ujarnya.

Sara tersenyum kecil.

“Kalau begitu, katakan saja dengan caramu sendiri.”

Arka menatapnya.

“Sejak kecil, aku terbiasa menjaga jarak dari orang lain. Aku tidak mudah percaya kepada siapa pun, bahkan kepada orang-orang yang seharusnya menjadi keluargaku sendiri.”

Sara mendengarkan tanpa menyela.

“Aku selalu berpikir bahwa selama aku tidak terlalu dekat dengan seseorang, aku tidak perlu takut kehilangan mereka.”

Arka menunduk, memperhatikan kedua tangannya.

“Tetapi kemudian, kau datang dan membuat semuanya menjadi berbeda.”

Sara merasakan dadanya menghangat.

“Arka…”

“Aku tidak tahu kapan tepatnya perasaan ini muncul. Mungkin ketika kau mulai memperlakukanku seperti orang biasa, bukan sebagai seseorang yang harus selalu terlihat kuat. Atau mungkin ketika kau tetap berada di sampingku, bahkan setelah mengetahui betapa rumitnya kehidupanku.”

Ia berhenti sejenak, mengumpulkan keberanian.

“Setiap kali sesuatu terjadi, aku selalu memikirkan keselamatanmu. Ketika kau terluka, aku merasa takut. Ketika kau tersenyum, aku merasa lega. Dan ketika kau tidak ada di dekatku, aku mendapati diriku bertanya-tanya apakah kau baik-baik saja.”

Sara tidak lagi mampu menyembunyikan kegugupannya.

Arka mengangkat wajah, menatap langsung ke matanya.

“Aku menyukaimu, Sara.”

Angin sore berembus di antara mereka.

Sara terdiam. Ia telah membayangkan banyak kemungkinan tentang apa yang ingin dikatakan Arka, tetapi tidak pernah menyangka lelaki itu akan mengatakannya dengan begitu terus terang.

Namun, sebelum Sara sempat menjawab, Arka kembali berbicara.

“Bukan hanya sebagai teman.”

Ia menarik napas berat.

“Aku ingin berada di dekatmu. Aku ingin menjadi seseorang yang bisa kau andalkan. Dan jika kau mengizinkannya, aku ingin menjadi orang yang membuatmu merasa aman.”

Arka menundukkan kepala sesaat.

“Tetapi ada satu hal yang harus kau ketahui.”

Senyum kecil di wajah Sara perlahan menghilang.

“Apa?”

“Aku tidak yakin orang sepertiku pantas berdiri di sampingmu.”

Sara mengerutkan kening.

“Kenapa kau berkata begitu?”

Arka memandang kolam di hadapan mereka.

“Lihatlah kehidupanku. Keluargaku menyimpan rahasia yang bahkan belum sepenuhnya kupahami. Orang-orang banyak menghilang dari desa, dan aku menemukan diriku terlibat dalam sesuatu yang jauh lebih gelap daripada yang pernah kubayangkan.”

Ia mengepalkan tangannya.

“Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih bisa memandang diriku sendiri dengan cara yang sama setelah malam itu.”

Suara Arka terdengar semakin pelan.

“Aku tidak ingin menyeretmu ke dalam kehidupanku yang berantakan. Kau sudah kehilangan ayahmu. Kau tidak seharusnya kehilangan lebih banyak hal hanya karena berada di dekatku.”

Sara berdiri dari bangku.

“Arka, dengarkan aku—”

“Kalau kau tidak memiliki perasaan yang sama, aku akan menerimanya.” Arka memaksakan senyum tipis. “Aku hanya ingin kau mengetahui kebenarannya.”

Sara melangkah mendekatinya.

Namun, sebelum ia sempat menjawab, sebuah suara keras memecah ketenangan taman.

“JADI, INI TEMPAT KALIAN BERDUA?”

Arka langsung menoleh.

Senyum tipis di wajahnya lenyap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!