Selama ribuan tahun, Kekaisaran Shen berdiri di Benua Zhanxi, melewati perang, pergantian kaisar, serta zaman yang terus berubah. Namun di balik sejarah panjang itu, terdapat satu nama yang hanya dianggap sebagai legenda.
Shen Hao Feng.
Kaisar pertama sekaligus pendiri Kekaisaran Shen—seorang Dewa Fana yang telah menghilang selama lebih dari sepuluh ribu tahun.
Ketika perang kembali menghancurkan wilayah Kekaisaran Shen dan musuh mulai menginjak tanah yang dahulu ia bangun dengan tangannya sendiri, sosok yang seharusnya hanya tinggal dalam sejarah itu akhirnya kembali.
Ia melihat bagaimana kekaisarannya berubah. Ia melihat rakyatnya menderita. Dan ia melihat tanah yang pernah ia lindungi dihancurkan oleh tangan musuh. Kini, Shen Hao Feng tidak kembali untuk merebut takhta. Ia kembali untuk mencari tahu siapa yang berani menghancurkan Kekaisaran Shen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyo Erdika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Siapa Aku? Aku Dewa Fana Benua Zhanxi!
"Infinite Blade. The Slayer!!." Sosok Shen Luo menghilang dalam kehampaan begitu mengeluarkan teknik keduanya.
"Dimana, dimana orang itu!."
Pasukan musuh kebingungan dan menggunakan indera mereka untuk bisa mencari tahu namun itu semua sia-sia saja karena Shen Luo berada di atas langit memerhatikan jumlah mereka.
"1.790." Gumamnya lalu ia jatuh dan menciptakan serangan area. Semua tatapan orang tertuju pada Shen Luo yang menancapkan pedang di tubuh teman mereka.
Shen Luo mencabut pedangnya. "The Slayer Speed." Shen Luo menghilang dengan kecepatannya.
Semua pasukan terkejut lagi namun tebasan yang tak terlihat telah membunuh beberapa dari mereka dan terus seperti itu.
"A-apa itu! S-sial!."
"Berkumpul dan bentuk formasi!."
Mereka semua berkumpul membentuk lingkaran namun hal seperti itu tidak akan hentikan Shen Luo. Shen Luo tetap memegang tangan mereka yang memegang pedang dan menebasnya lalu kepala dengan cepat dan pergi.
Fei Xuen tersenyum tipis melihat satu per satu pasukan musuh tumbang karena Shen Luo tidak dapat di lihat oleh mata telanjang.
Banyak dari mereka yang gemetar ketakutan karena tiba-tiba teman mereka tewas tanpa kepala. Hingga sampai juga ke gilirannya untuk tewas tanpa tahu apa yang menyebabkannya mati.
Serangan itu berlangsung selama beberapa menit karena kecepatan membunuh Shen Luo begitu menakutkan hingga ia membunuh satu kapten terakhir di satu formasi.
Shen Luo menebas kedua tangan dan kepalanya dalam satu detik dan menendangnya jatuh berguling dari gunung mayatnya.
"huft... Huft." Shen Luo duduk terengah-engah. Ia mengeluarkan pil dari cincin penyimpanannya untuk memulihkan energi dan luka fisik.
Fei Xuen bergegas menemui Shen Luo. "Kaisar apa anda baik-baik saja?."
Shen Luo mengangguk. "Kurasa begtu, tapi Fei Xuen kita tidak bisa berhenti sekarang." Shen Luo memaksa dirinya berdiri untuk menghadapi gelombang berikutnya.
"Hoaaaa!!."
"Bunuh Kaisar Shen!!."
Mata Fei Xuen melebar dan melihat ke belakang dimana 5 formasi dari 11 formasi awal yang tersisa kini bergerak.
"I-ini terlalu gila." Fei Xuen tidak mengira komandan di paling belakang memerintahkan 5 formasi langsung untuk membunuh Shen Luo.
"Tenang saja Kaisar, aku akan melindungimu." Fei Xuen mengangkat kelima pedang yang menancap dan melemparnya ke musuh seperti batu berat.
Kelima pedang itu tentunya menciptakan daya serang namun satu pedang terpental karena sesuatu terbang ke langit dan meninju pedangnya hingga terhempas.
Fei Xuen terkejut dan segera melakukan tebasan menyilang ke sosok diam di atas. Namun tebasan itu terbelah menjadi dua karena satu tebasan bewarna merah.
"Apa-
"Fei Xuen!!." Chang Hei memanggil dari sebelah dan menangkis balik serangan itu dengan kapaknya.
"Haaa!!." Namun sekuat apapun Chang Hei berusaha tebasan itu tidak mau terhempas justru memotong tangan kanannya.
Mata Fei Xuen terbelalak saat mata kanannya terciprat darah segar Chang Hei. "Chang Hei!!."
Chang Hei jatuh setengah berlutut meringis menahan sakit tangan kanannya yang putus. Ia menatap ke sosok yang masih jauh di depan sana dan ribuan pasukan musuh yang mulai mengepung mereka.
Shen Luo merebut satu pedang dari mayat lawan untuk dua pedang. Dia bersiap melawan musuh yang kuat di atas sana.
"Chang Hei!." Fei Xuen melihat luka yang mengalirkan darah segar dengan panik.
Chang Hei tertawa kaku. "Uhgh tenang saja Fei Xu-
Cresh!...
Tebasan satu lagi memecah badan Chang Hei dan darahnya mengenai wajah Fei Xuen hingga ia terlihat syok.
"C-Chang Hei?." Fei Xuen melihat mayat Chang Hei menggunakan mata dinginnya.
Shen Luo menarik nafas dingin untuk segera menyerang sosok itu namun pedang Fei Xuen terangkat di jalurnya.
"Kaisar, biar aku saja." tegasnya. "Mohon Kaisar mundur dan bantu benteng Chang'an untuk tetap kokoh." Fei Xuen berjalan. Ia melewati semua ketakutannya menjadi kekuatan.
Shen Luo terkejut namun ia paham perasaan Fei Xuen. Akhirnya ia berbalik badan. "Fei Xuen berjanjilah untuk pulang."
Bom!... Shen Luo bergerak cepat membunuh musuh yang mengepungnya untuk kembali ke benteng Chang'an.
Fei Xuen tersenyum bersamaan tangannya yang memegang pedang perak gemetar. "Melewati rasa takut, percaya dengan diri sendiri." Fei Xuen mengucapkan kalimat yang ia selalu ingat bersama gurunya saat berlatih pedang.
Ribuan musuh yang semakin dekat namun Fei Xuen seorang diri di tengahnya tanpa gentar.
"Ketakutan berubah menjadi kekuatan, hukum menjadi ketiadaan." Fei Xuen menancapkan pedangnya ke tanah.
"Formasi Lima Pedang!."
Lima pedang jatuh dari langit dan mengepung semua pasukan ternasuk orang kuat di pihak musuh.
Shen Luo melihat semua itu dari benteng hanya bisa menghormati keputusan Fei Xuen.
Cahaya kilasan perak sesekali terlihat lalu menghilang. Shen Luo melihat keruntuhan lima pedang dan pasukan lawan kembali bergerak menuju benteng.
Shen Luo menghela nafas pelan. "Fei Xuen... Semoga engkau bisa beristirahat dengan tenang. Kau telah melaksanakan tugasmu dengan baik."
Siyut!... Duar!!...
Shen Luo tak bergeming saat mayat Fei Xuen terlempar ke benteng oleh sosok kuat itu. Justru mata Shen Luo dingin melihat pria itu kini di depannya.
"Seorang pria tua?." Kata Shen Luo merendahkan.
Memang ia adalah pria tua namun basis Kultivasinya Shen Luo perkirakan di Langit tahap 2.
"Hem... Aliansi telah menyewaku Ketua Sekte Persik untuk merebut kepalamu dan aku akan di hadihai miliaran koin emas dan harta-harta beharga yang berguna. Jadi maaf saja jika aku bersikap kasar."
"Haha." Shen Luo tertawa rendah. "Itu konyol."
Sejenak suasana menjadi canggung sebelum Shen Luo menyerang dengan pedangnya. Namun ketua sekte itu menahan dengan tangan kosong lalu meninju perut Shen Luo hingga terhempas jauh ke dalam kota.
"Ugh! Uhg! Uhak!." Shen Luo memuntahkan darah segar akibat menghantam sisi belakang benteng.
Namun mata Shen Luo menyipit melihat 3 tebasan merah tertuju padanya. Shen Luo segera ke atas namun Ketua Sekte itu juga kesana dan membanting Shen Luo kembali ke tanah.
"Ahk!!." Zirah Shen Luo kini pecah terberai-berai dan tubuhnya sudah tidak bisa ia rasakan. Darah di dahinya mengalir serta melalui matanya.
Ketua sekte itu melihat pasukan pertahanan akan menyerangnya. Ia hanya perlu mengayunkan pedang dengan dua jari dan mereka tiada seketika.
"Sial..." Gumam Shen Luo marah.
Namun ketua sekte itu tidak peduli walau pasukan pihaknya sudah masuk dan melakukan pembunuhan dan pembakaran.
"Untuk apa kau marah Kaisar muda? Pada akhirnya yang muda dan tua juga akan kembali ke alam baka untuk menemui Dewa." Ucapnya.
---
"Hm..." Shen Hao Feng membuka matanya dan berdiri saat mendengar teriakan yang tak kunjung berhenti. "Apa perangnya sudah di mulai?."
Shen Hao Feng terbang pelan dan pupilnya sedikit gemetar melihat benteng Chang'an hancur. "Chang'an..."
Shen Hao Feng mendarat di tanah karena masih tak percaya kota yang ia dulu bangun bersama murid-muridnya terbakar.
"Chang'an!." Shen Hao Feng berteria dan teriakan itu menyebabkan angin kencang. Semua pasukan dan bangunan terlempar.
Ketua Sekte bertahan dari angin yang tiba-tiba datang itu. Namun ia merasakan firasat buruk menyerangnya. "Apa tadi?."
Shen Luo awalnya menggertakkan gigi kini menyeringai. "Itu adalah kemarahan dari Kaisar sebelumnya."
Alis Ketua Sekte berkerut tak percaya. "Apa maksudmu? Apa karena di ujung kematian kau menjadi gila?."
"Apa menurutmu aku tidak ada disini sejak tadi?." Shen Hao Feng berkata dari belakang Ketua Sekte persik.
Ketua itu terkejut dan segera melompat namun Shen Hao Feng bergerak cepat seperti teleportasi untuk memukul orang itu tanpa banyak pose.
Namun serangan itu cukup membuat pria tua itu terpental jauh dan terluka parah.
"A-apa tadi, siapa!." Ia berdiri ketakutan sekaligus marah.
"Siapa?." Suara agung Shen Hao Feng bergema di atas kota Chang'an.
Semua pasukan yang bertarung baik itu Shen Luo atau pria tua mendongak merasa bergidik ngeri.
"Groaarr!!!.." Sosok Naga Emas yang pernah dilihat Shen Luo muncul dalam dunia nyata dengan Shen Hao Feng di atas kepalanya menunjukkan tanda kepemilikan.
"Naga emas?!." Bahkan komandan musuh yang jauh pun harus berdiri karena tak percaya. "Mustahil! Yang benar saja kenapa ada naga emas!."
Mata Shen Hao Feng berubah keemasan dan tanda formasi yang tak terhitung jumlahnya. "Aku Shen Hao Feng. Kaisar Pertama Kekaisaran Shen dan Dewa Fana di Benua Zhanxi!."
Shen Luo entah harus menangis atau tertawa mendengar pengakuan itu darinya. "Akhirnya aku bisa tenang karena leluhurku bangkit." Akhirnya ia tertawa dan menangis.
Ketua Sekte Persik yang masih diam ketakutan itu di pandang oleh Shen Hao Feng. Dan pria tua itu merasa jiwanya di tarik menghadap sosok Dewa Fana Agung dengan Naga Emasnya.
"Hah! Hah! Mustahil! Aku tidak bisa melawannya!." Ia lebih memilih melarikan diri ke tempat komandan.
Namun Shen Hao Feng tidak akan biarkan itu terjadi. Ia memerintahkan Naga membuka mulut dan nafas api emas membelah langit menjadi dua dan tubuh fisik ketua sekte itu lenyap dalam sekejap.
Wajah komandan yang arogan dan wajah pasukan yang mengira mereka menang menjadi gelap dan teriakan ketakutan saat melihat Naga Emas besar berteriak di atas langit.