Setelah akhirnya memasuki masa pensiun, Raya memutusakan menghabiskan hari tuanya seorang diri di sebuah vila mewah yang telah ia beli dengan hasil kerja keras selama puluhan tahun.
Namun, nasib seolah mempermainkannya. Baru sehari menikmati kehidupan sebagai pensiunan kaya, keesokan paginya ia terbangun di dunia yang sama sekali asing.
Bukan hanya itu, ia kini menghuni tubuh seorang wanita berusia tiga puluhan yang terkenal genit dan mesum.
Beruntung, ia mengetahui satu rahasia besar.
Halaman belakang rumah reyot yang tak diinginkan siapa pun itu ternyata terhubung dengan zaman lain.
Dalam ruangan penghubung dimensi, ternyata menyimpan kekuatan yang mengubah nya selangkah demi selangkah menjadi abadi.
2 Agustus 2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Tidak Bisa Tidur Karena Tiga Pelayan Bujang
Di bawah ranjang, mendengar suara Shen Yuzhi dan melihat nya memeluk nyonya mereka langsung membuat kedua pemuda yang bersembunyi itu melotot terkejut.
Tanpa pikir lagi mereka langsung keluar dari bawah ranjang.
"Shen Yuzhi, lancang sekali memeluk nyonya!"
"Shen Yuzhi, lepaskan nyonya!"
Hu Zheng dan Bai Rongxin langsung maju, memegang tangan Shen Yuzhi dan menarik nya untuk menjauhi Su Wanwan.
"Kalian, kenapa ada di dalam kamar nyonya? Apa yang kalian lakukan, lepaskan!"
"Huh, berani sekali kamu. Langsung masuk sudah memeluk nyonya." Sungut Bai Rongxin, merasa panas dan tak terima.
"Tentu saja berani, memang nya kalian yang hanya bisa sembunyi-sembunyi di bawah ranjang?"
"Dengar ya, nyonya dari dulu menyukai ku. Sekarang aku sudah menerimanya dan siap menjadi selir nya, hak apa kalian melarang ku?" Shen Yuzhi berbicara dengan cukup sombong dan bangga, utamanya ingin mereka sadar jika ia lah yang paling di inginkan nyonya.
"Lantam! Aku yang selir nyonya!!"
"Cukup!!"
Melihat mereka terus berdebat tanpa hasil, kepala Su Wanwan rasanya begitu pusing dan dengan kesabaran yang sudah habis ia berseru lantang. Gelombang aura kekuatan keluar dari tubuhnya, menghantam area sekitar, membuat ketiga pemuda itu langsung terdorong mundur.
Ketiganya tentu terkejut dan segera tersadar, jika mereka telah benar-benar lancang pada nyonya mereka. Dan mereka melupakan fakta jika nyonya mereka adalah seorang abadi/kultivator.
"Nyonya, maaf Hu Zheng lancang..."
"Nyonya, maaf..."
"Nyonya..."
Su Wanwan mengangkat tangan nya meminta mereka tidak berbicara. "Kembali ke kamar kalian, aku ingin istirahat."
"Baik nyonya..."
Tanpa daya, mereka bertiga segera pergi dengan lesu. Setelah ketiga nya keluar, Su Wanwan langsung menutup pintu kamarnya.
Ketiganya mendengar suara pintu di tutup dan menghela napas.
"Shen Yuzhi, kenapa kau memeluk nyonya? Kau berani bersikap lancang!" Bai Rongxin melotot ke arah Shen Yuzhi.
"Sudahlah, tidak ada yang perlu di ributkan. Kau juga sama, hanya cara kita berbeda." Ucap Shen Yuzhi lalu pergi ke halaman bangunan kamar nya.
"Sudahlah, sekarang kita sama-sama menginginkan nyonya. Jika bisa, lakukan saja dengan kemampuan masing-masing. Namun ingat, jangan gunakan cara curang dan kotor." ucap Hu Zheng lalu pergi.
Bai Rongxin mengerucut bibirnya, sedikit merasa kesal, siapa yang menyangka ternyata Hu Zheng juga mengincar nyonya. Apalagi dia yang pertama bertindak, saingan nya bukan hanya Shen Yuzhi.
***
Tengah malam, Su Wanwan keluar kamarnya. Menggunakan jurus langkah angin ia melesat naik ke atap rumahnya.
Dia benar-benar tidak bisa tidur karena ulah tiga pelayan bujang nya. Meskipun dia tahu kemungkinan perasaan ketiganya hanya perasaan sesaat, bukan benar-benar cinta. Namun jiwa bebas nya dari dunia modern benar sulit menahan godaan, bagaimanapun dia bukan lagi nenek-nenek tua.
Su Wanwan mengedarkan pandangannya ke sekeliling, melihat dengan indra spiritualnya untuk melihat sekeliling sebentar hingga akhirnya melompat dari pohon ke pohon menggunakan jurus langkah angin.
Ia melangkah dari atas pohon, memijak dahan demi dahan hingga akhirnya sampai di rumah terbesar desa-- ralat rumah terbesar kedua di desa. Karena rumah terbesar di desa sekarang adalah rumahnya.
Alasan ia keluar saat ini bukan hanya tidak bisa tidur karena ketiga pelayan bujang nya. Namun juga karena suatu alasan utama, ia akhirnya berhenti di sebuah pohon paling tinggi yang dekat dengan rumah Su Weiwei.
Ia melihat dengan indra spiritualnya ke arah rumah Su Weiwei, melihat perempuan itu sudah tertidur dengan anak-anaknya.
"Dalam cerita, ia bekerja keras sampai selalu tidur malam. Dan malam itu kebetulan tiga orang laki-laki memasuki desa, karena hanya rumah nya yang bercahaya ia mengetuk pintu rumah Su Weiwei..."
"Yah, mana ada yang kebetulan. Semua ini tentu saja sudah di rencanakan penulis, pertemuan Su Weiwei dan Jendral Huo."
"Melihat Su Weiwei mendapatkan barang-barang ajaib dan makanan instan yang berharga, ikatan pun terjalin..."
"Jika aku tidak salah seharusnya alur itu terjadi malam ini, apakah malam ini Jendral Huo akan datang dan tetap bertemu Su Weiwei?"
Su Wanwan mengeluarkan bantal dari ruang nya dan mulai memejamkan mata dengan santai di atas pohon. Satu setengah Sichen kemudian, telinganya mulai menangkap suara langkah kaki yang berat dari arah hutan gunung.
Mata Su Wanwan seketika terbuka lebar, ia melirik gunung dengan waspada dan memasukkan bantal ke dalam ruang nya. Setelah itu ia langsung melesat pergi.
"Hiyyaahh..."
"Wushh!!"
Ayunan pedang menusuk ke bawah dari seorang berpakaian hitam seperti ninja, hampir saja menusuk tubuh salah satu dari tiga orang itu.
Di belakang mereka, ada sekitar tujuh orang berpakaian hitam ninja yang memburu mereka dengan beringas nya.
Laki-laki yang di gendong di punggung pria yang lari paling depan itu sepertinya hampir tak tertolong, darah di tubuhnya keluar banyak. Membuat kedua orang tersebut harus kelabakan.
"Heyu, terus berlari lah. Aku akan menahan mereka!" Seru satu rekan yang membawa pedang itu, yang dari awal tugasnya menahan mereka agar tidak menyentuh orang yang di bawa rekannya.
Heyu menatap rekan nya dengan sedikit kesedihan, meskipun Huyu sudah berada di tahap transisi. Namun pihak lawan juga 2 di antaranya di tingkat transisi dan sisanya berada di tingkat Xiantian. Dari perkiraan ini, sudah di pastikan teman nya tidak akan bisa mengalahkan mereka.
Untuk menghargai kematian rekannya, ia berlari semakin cepat dan tak lagi memperdulikan rasa lelahnya.
Trang!
Sring!
Tring!!
Swush!!
Suara pedang beradu dengan mantap, Huyu mencoba menahan mereka, namun sepertinya ia terlalu meninggikan dirinya atau terlalu meremehkan dua orang tahap transisi itu. Satu di antara tahap transisi dan dua orang tahap Xiantian ternyata berhasil lolos, dan dia masih kesulitan melawan empat orang lainnya.
Saat serangan-serangan kecil mulai melemahkan kemampuan bertarung nya, sebulan pedang menusuk nya dari belakang. Matanya melotot dan tubuhnya seketika tumbang, ia pikir inilah ajalnya. Namun untungnya dia berhasil membunuh dua tahap Xiantian dan melukai tahap transisi.
"Aghh... T-tuan, maafkan saya."
Saat Huyu melihat pedang itu akan menebas kepalanya, ia sudah pasrah. Namun hingga lima detik lamanya pedang itu tidak kunjung datang pada lehernya.
Ia seketika mendongak, dan terkejut melihat dua orang yang tersisa itu ternyata tidak bisa bergerak maupun bersuara. Dua buah bola air menutupi kepala mereka, tangan dan tubuh mereka telilit akar-akar aneh secara tiba-tiba. Membuat mereka kesulitan bernapas dan tidak bisa memberontak lepas.
Su Wanwan turun dari atas pohon, tangan nya terangkat dan mulai melakukan gerakan menggenggam. Bersamaan dengan itu dua bola air itu juga mulai bergejolak dan akhirnya air itu berubah merah, keduanya segera jatuh ke tanah tanpa nyawa.